Cari Blog Ini

Jumat, 15 November 2013

Untuk Apa Kamu yang Sadar dan Pintar Ikut-ikutan Menjadi Bodoh

Dahululu di sebuah kota di Tiongkok hidup seorang hakim yang sangat dihormati, karena dia bijaksana saat memutuskan perkara, hatinya jujur, dan sikapnya tegas.  Suatu hari, datanglah dua orang laki-laki menghadap hakim itu.  Mereka bertengkar hebat, bahkan nyaris beradu fisik di depan hakim itu, kalau tidak dicegah oleh para petugas keamanan.  Apa yang membuat mereka bertengkar?  Keduanya berdebat tentang berapa hasil hitungan 3 x 7.  Si A mengatakan hasilnya 21, sedangkan si B bersikukuh mengatakan bahwa hasilnya 37.   Setelah mendengarkan pangkal persoalannya, hakim itu menjatuhkan hukuman cambuk 10 x bagi si A, orang yang menjawab 3 x 7 sama dengan 21.  Spontan si A memprotes. Dia mengatakan bahwa jawabannya benar dan bertanya mengapa dia yang dihukum.  Seharusnya si B yang dihukum karena dia menjawab salah.
Sang hakim menjawab, "Aku memang menjatuhkan hukuman kepadamu.  Hukuman ini bukan karena hasil hitunganmu, tetapi untuk kebodohanmu.  Mengapa engkau mau berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3 x 7 adalah 21?  Dia (sambil menunjuk ke si B) salah dan diingatkan, tetapi dia masih ngotot dengan pendapatnya sendiri.  Untuk apa kamu yang sadar & pintar ikut-ikutan menjadi bodoh?"
Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita mau berdebat tentang sesuatu yang tidak berguna, berarti kita juga ikut bersalah, bahkan sebenarnya lebih bersalah daripada mitra bertengkarnya.  Itu berarti dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Apakah Anda juga pernah mengalaminya?  Mungkin mitra bicara/bertengkar Anda adalah pasangan hidup Anda, saudara, kerabat, sahabat, teman, atau tetangga sebelah rumah.  Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi dengan percuma.  Anda kehilangan waktu (yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja yang menghasilkan), kehabisan energi, lelah, stres, dan ada risiko pertengkaran itu berkembang menjadi hal yang lebih serius.  Semoga kita, Anda dan saya, mau menjadi orang yang lebih bijaksana.

"SING WARAS YO NGALAH"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar