Selasa, 12 Februari 2013

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2013 Keuskupan Agung Makassar

"MENGHARGAI KERJA "

Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam sejahtera dalam Kristus Yesus Tuhan kita, yang “sama dengan kita, telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Hari Rabu Abu, yang menandai awal Masa Prapaskah, jatuh pada tanggal 13 Februari 2013 yang akan datang. 

Tahun ini kita sudah berada di tahun ke-2 lingkarang 5 tahunan (2012-2016). Dengan tema pokok penggarapan pastoral APP: “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Adapun sub-tema APP Nasional tahun 2013 ini ialah “ MENGHARGAI KERJA”. Memang untuk mewujudkan hidup sejahtera, manusia tidak dapat tidak harus bekerja. 

Bagaimana sesungguhnya ajaran Kitab Suci mengenai KERJA? Syahadat Gereja yang singkat (Syahadat Para Rasul) berbunyi: “ Aku percaya akan Allah… pencipta langit dan bumi”. Sedangkan Syahadat panjang (Syahadat Nikea-Konstantinopel) mengaku: “Aku percaya akan satu Allah… Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan”. Kitab Kejadian dimulai dengan kisah allah menciptakan langit dan bumi serta isinya (1:102:7). Setiap satu tahap tertentu penciptaan selesai, ditegaskan: Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (1:10.12.18.21.25.31). kemudian ditegaskan: “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu” (2:2). Tradisi Imam atau tradisi P (=Priester Codex) menggambarkan Allah bekerja melalui sabda-Nya (Kej. 1:1-2: 4a). sedangkan tradisi Yahwis, disingkat Y (Kej. 2:4b-3:24)menampilkan Allah berkarya dengan tangan-nya: Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah…” (Kej. 2:7). 

Bagaimanapun juga, Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah-lah mengadakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada. Dialah Pencipta segala sesuatu. Sebagai Pencipta, dia bekerja melalui sabda dan tangan-Nya. Sedemikian itu, jelas Kitab Suci menampilkan Allah sebagai “Pekerja” atau “Karyawan” asal-mula dan utama. Tetapi jangan dilupakan Allah tetap bekerja sampai sekarang: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang ini, maka Aku pun bekerja juga”, sabda Yesus (Yoh. 5:17). Selanjutnya dikatakan: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya …; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Kalau salah satu ciri utama Allah ialah ‘Dia yang bekarya’, maka manusia sebagai gambaran-Nya juga tidak dapat lain dari ‘manusia yang bekerja’. Selanjutnya, sebagai gambar atau cermin Allah, maka semakin maju manusia itu seharusnya semakin dia menampakan keagungan dan kemuliaan Allah. Seperti ditegaskan Ireneus, “Gloria Dei, vivi homo” (“Manusia yang hidup adalah kemuliaan Allah”). Menurut pandangan Kitab Suci, aslinya tidak ada persaingan atau pertentangan antar Allah dan manusia, seakan-akan semakin maju manusia semakin Allah tidak dibutuhkan dan disingkirkan saja. Perintah untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya (Kej. 1:28), juga harus ditafsirkan dalam konteks ‘manusia sebagai gambar Allah’ itu. Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dalam keadaan baik. Maka sebagai gambar Allah, manusia tidak boleh menaklukkan bumi secara semena-mena, sehingga merusak tata ciptaan yang baik itu. Ini jelas dalam kisah taman Eden (Kej. 2:8-25): “Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkannya manusia yang dibentukknya itu” (2:8), “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (2:15). Jadi, manusia sebagai gambar Allah berkewajiban mengolah bumi bagai sebuah taman, dan bukan sebagai lahan tambang yangboleh dikuras demi kepentingan ekonomis belaka. 

Tetapi kemudian manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:1-24). Kisah kejatuhan manusia intinya ialah bahwa manusia tidak tunduk kepada Allah. Ia meninggalkan jatidirinya sebagai citra Allah. Ia ,elepaskan ketergantungannya pada Allah, dan mau menjadi Allah Sendiri. Manusia tertipu godaan ular: “Sekali-kali kamu tidak kamu tidak akan mati, tetapi … kamu akan menjadi seperti Allah” (3:4-5). Sebagai akibatnya, rencana asil penciptanya ditunggangbalikkan. Tidak terkecuali dalam hal ini soal KERJA. 

Kerja yang aslinya merupakan salah satu ciri hakiki manusia sebagai gambar Allah kini berubah menjadi hikiki manusia sebagai gambar Allah kini berubah menjadi hukuman: “Terkutuklah tana karena engkau; dengan susah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” (3:27); “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (3:19). Akibat dosa, maka KERJA yang semua merupakan aktualisasi jatidiri manusia sebagai gambar Allah, berubah menjadi beban berat untuk mempertahankan hidupnya. Kerja membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Kecuali itu, pekerjaan juga menjadi ajang eksplotasi manusia atas sesamanya. 

Namun Allah tidak pernah meninggalkan manusia sama sekali. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal … bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:16-17). Tetapi jalan yang dipilih Allah untuk menyelamatkan duni ini ialah fengan cara solider sepenuhnya dengan manusia, menuju misteri Paskah (Kebangkitan). Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (lih Yoh. 1:1-18), turut merasakan kelemahan-kelemahan kita; Ia menjadi sama seperti kita dalam segalah hl, kecuali dalam hal dosa (Lih. Ibr. 4:15). Ia menjadi manusia pekerja, anak tukang kayu. Dan dengan cara itu, Sang Sabda yang menjelma itu memulihkan kembali nilai asli KERJA, mengangkatnya dan menyusikannya. Bagi-Nya taka da pekerjaan yang hina. Ia rela membasuh kaki murid-murid-Nya yang dalam tradisi Yahudi merupakanpekerjaan seorang hamba. Dan setelah itu, ia menegaskan: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15). Ia mengajarkan para murid: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk. 10:43; Mat 20:26; 23:11). Secara menyeluruh, Konsili Vatikan II merumuskan halnya dengan ringkas sebagai berikut: “Hendaklah umat kristiani bergembira, bahwa mereka mengikut teladan Kristus yang hidup bertukang, dan dapat menjalankan segala kegiatan duniawi, sambil memperpadukan sema usaha manusiawi, kerumahtanggaan, kejuruan, usaha di bidang ilmu pengetahuan maupun teknik dalam suatu sintesa yang hidup-hidup dengan nilai-nilai keagamaan, yang menjadi norma tertinggi untuk mengarahkan segala sesuatu kepada kemuliaan Allah” (GS.43). 

Pernyataan Konsili tersebuat menegaskan, bahwa dalam Kristus segala pekerjaan manusiawi, apapun jenisnya, mempunyai nilai luruh, sepanjang diarahkan kepada kemuliaan Allah. Dengan menempatkan KERJA dalam konteks kemuliaan 

Allah dalam Kristus, manusia kristiani kembali ke jatidiri aslinya sebagai citra Allah, Sang Pencipta, sang ‘Pekerja’ pertama dan utama. Kalau demikian kerja tak lagi membuat manusia terasing dari dirinya sendiri; kerja kembali menjadi aktualisasi atau pengejawantahan jatidiri aslinya sebagai gambar Sang Pencipta. 

Namu segera harus ditambahkan bahwa di dunia ini penebusan dalam Kristus belum selesai, masih dalam proses menuju pemenuhannya. Itulah misteri Paskah: Kehidupan – salib (penderitaan-kematian)- dan kebangkitan. Di dunia ini efek dosa tetap membayangi hidup manusia. Dalam Kristus, Sang Sabda yang menjelma dama mengambil jalan solider hingga akhir dengan manusia, juga mengalaminya. Tetapi dalam Kristus, salib atau penderitaan bukanlah semata-mata merupakan akibat dosa. Dalam Kristus salib pertama-tama adalah ungkapan ketaatan penuh kepada kehendak Allah, Bapa-Nya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Jangan dilupakan inti dosa asal, dosa Adam, ialah melawan kehendak/perintah Allah. Di Taman Getsemani Yesus pun mengalami godaan yang sama: “Ya Abba, Ya Bapa, ambillah cawan ini daripada-Ku. Tetapi kemudian Dia menegaskan ketaat-Nya secara penuh: “Janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan secara penuh: Engkau kehendaki” (Mrk. 14:36). 

Selain merupakan ungkapan ketaatan penuh kepada kehendak Allah, salib Kristus juga merupakan ungkapan kasih-Nya tanpa batas kepada manusia. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Dan kasih sejati menuntut pengorbanan: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia kana menghasilkan buah yang banyak” (Yoh. 12:24). 

Dalam salib Kristus juga dipulihkan hubungan harmonis dengan seluruh alam semesta. Oleh Kristus, yang “adalah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol. 1:15), Allah “memperdamaikan segala sesuatu deangan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surge, sesudah ia mengadakan perdamaian oleh darah salib Kristus “Kol. 1:20). 

Namun, misteri Paskah Tidak tutup dengan kematian Kristus. Misteri Paskah memuncak pada KEBANGKITAN. Dalam misteri Paskah Kristus, manusia yang pecaya dijadikan ciptaan baru, dipulihkan jatidiri aslinya sebagai gambar Allah. “Kristus telah mati untuk kita semua, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitan untuk mereka… . Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yanglama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:15-17). 

Demikianlah, dalam misteri Paskah Kristus, dipulihkan kembali keutuhab ciptaan, menjadi ciptaan baru. Dan dengan demikian ditegaskan lagi refrain kisah penciptaan: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Dipulihkan jatidiri asli manusia sebagai gambar atau citra Allah. Dalam identitas sebagi “Ciri Allah” inilah ditemukan nilai KERJA manusia. Sifat umat Allah ialah ‘Pekerja’ (Pencipta), yang membuat segala sesuatu dalam keadaaan baik. Dengan kerja manusia mencermintakan sifat utama Allah itu. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya bukanlah ancaman yang semakin maengasingkan Allah dari dunia manusia. Sebaliknya, semakin maju manusia seharusnya semakin ia mencerminkan keagungan dan kemulian Allah. Manusia bertugas mengolah bumi demi kesejahteraannya memalui kerja. Kerja manusia atas bumi tidak boleh semena-mena; ia harus mengolah bumi bagai sebuah taman (dimensi ekologis). Sang Pencipta memperuntukkan bumi bagi kesejahteraan semua orang sepanjang zaman. Maka pekerjaan setiap orang harus dihargai menurut prinsip keadilan dan cinta kasih. Dalam Kristus Yesus, gambar Allah yang sempurna (2 Kor. 4:4; Kol. 1:15; 3:10; Ibr. 1:3), setiap pekerjaan manusiawi itu terhormat, taka da yang hina. 

Selamat menjalankan Masa Prapaskah dalam ‘Tahun Iman’! Tuhan memberkati. 


Makassar, Penghujung Januari 2013 



+John Liku-Ada’ 
Uskup Agung Makassar 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini