Kamis, 23 Januari 2014

INILAH ANAK DOMBA ALLAH YANG MENGHAPUS DOSA DUNIA

ECCE AGNUS DEI, QUI TOLLIT PECCATUM MUNDI
Oleh : Pastor Fransiskus Nipa, Pr
HARI MINGGU BIASA II
Inspirasi Bacaan:Yes. 49:3.5-6; 1 Kor.1: 1-3; Yoh. 1: 29-34

Pada masa sekarang ini, kata MISA sudah umum kita gunakan untuk menunjukkan Perayaan Ekaristi, bahkan oleh bahasa pers, juga sudah banyak kali dipakai untuk menunjukkan ibadah dari denominasi Kristen misalnya “misa natal” untuk menunjuk kepada kebaktian/ibadah natal. Sekitar 3 (tiga) dekade yang lalu, memang istilah “kurban misa” lebih sering kita gunakan dan rasanya waktu itu sangat akrab dengan telinga kita. Ketika pada Hari Minggu kita meninggalkan rumah menuju gereja untuk “ikut misa” mengandung makna bahwa kita ke gereja untuk merayakan liturgi kudus di mana Kristus memberikan hidupNya sebagai “kurban” demi penghapusan/penebusan dosa agar kita manusia selamat.  

Dalam bacaan Injil pada hari ini, kita mendengar bagaimana Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus: ecce agnus Dei, qui tollit peccatum mundi, inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yesus disebut sebagai “anak domba Allah”, yang mengambil dan memikul dosa manusia. Latar-belakang terminologi “anak domba” dalam Kitab Suci, perlulah dilihat dalam Kitab Imamat pasal 16 yang mengisahkan suatu pesta bangsa Yahudi yakni Pesta Perdamaian. Dalam pesta itu, antara lain harus disediakan 2 (dua) ekor domba; satu dipersembahkan untuk Tuhan, untuk silih dosa dan satu lainnya dilepas ke padang gurun untuk setan/roh jahat. Domba tsb dipercaya membawa serta semua sial dan dosa dari umat.

Gambaran dan makna “anak domba” tsb dikenakan pada diri Yesus dalam rangka penebusan dan penyelamatan umat manusia. Yesus dikisahkan sebagai Anak Domba Allah yang dengan rela dan tulus memikul, memanggul dosa kita manusia. Ia mau menanggung kesalahan dan kejahatan kita. Dan ini dibuktikan dengan pengorbananNya di atas kayu salib. Jauh-jauh hari sebelumnya, Nabi Yesaya sudah meramalkan: Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadaNya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulutnya. … Sungguh, Ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu, Ia kena tulah (Yes. 53:6-8). 

Hamba Allah yang dinubuatkan Nabi Yesaya tsb tergenapi secara paripurna dalam diri Yesus yang sangat berkenan di hati Bapa. Pada Pesta Pembaptisan Tuhan pada Hari Minggu yang lalu kita merenungkan suara dari surga yang mengatakan: Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan !  Yesus sangat dicintai oleh Bapa. Dan terhadap kasih tsb, Yesus setia melaksanakan kehendak BapaNya, melalui seluruh hidup dan karyaNya, yang berpuncak ketika Dia mengurbankan segalanya di atas kayu salib. Dengan jalan tsb, Yesus menjadi cahaya penghalau kegelapan dosa bagi bangsa-bangsa, yang menjangkau dan meluas sampai ke seluruh bumi (Yes. 49: 6, bacaan I). 

Demikianlah Yesus menjadi Anak Domba Allah. Dengan wafat di atas kayu salib, Dia menjadi kurban  penghapusan/penebusan dosa kita manusia. Pengurbanan Yesus di atas kayu salib, itulah yang sekarang kita rayakan dan kenangkan melalui setiap “Kurban Misa” atau Ekaristi Kudus. Pada saat menjelang komuni kudus, seruan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini, selalu diulang kembali oleh imam untuk kita camkan: inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah yang diundang ke Perjamuan Tuhan. Memang kita manusia berbahagia, karena karya penebusan Allah melalui Yesus, Sang Anak Domba Allah. Namun hendaknya misteri kurban ini sekaligus memotivasi dan mendorong kita semua, tanpa kecuali, mengikuti jejak Yesus untuk siap-sedia berkurban, tanpa hitung-hitungan,  demi kesejahteraan dan kebahagiaan semakin banyak orang.

Uskup John Yoseph adalah Uskup Pakistan dan dalam Konferensi Waligereja Pakistan beliau menjadi Ketua Komisi Justice and Peace (Komisi Keadilan dan Perdamaian). Beliau berjuang mati-matian, dengan segala cara untuk meminta perhatian pemerintah dan masyarakat bagi kepentingan golongan minoritas, termasuk umat Katolik, yang sering diperlakukan secara tidak adil. Beberapa kasus terjadi, warga Katolik  dituduh menghujat dan dihukum mati, padahal tidak ada niat sama sekali dari warga Katolik itu untuk menghujat.
Beberapa saat berselang terjadi lagi seorang warga Katolik dituduh menghujat dan diputuskan oleh pengadilan dengan hukuman mati. Uskup John Yoseph memprotes pengadilan yang tidak adil itu. Rupanya segala cara telah ditempuhnya tetapi sia-sia. Akhirnya ia menempuh cara yang membuat Pakistan dan dunia terkejut dan terbuka matanya.

Pada suatu hari, sesudah lama ia merenung dan berdoa, ia pergi ke gedung pengadilan yang sering memutuskan perkara secara tidak adil itu. Di pelataran gedung pengadilan itu ia menembak kepalanya  dengan peluru. Ketika ia rubuh bersimbah darah di pelataran gedung pengadilan itu, baru Pakistan dan dunia terkejut melihat dan tahu tentang ketidakadilan yang sering terjadi di gedung pengadilan itu. Mgr. John Yoseph telah rela menjadi kurban, menjadi tumbal, demi keadilan dan kebaikan untuk banyak orang lainnya.

Kita sendiri: sejauh mana anda memaknai nilai pengurbanan Tuhan di atas kayu salib bagi kesaksian hidup harian kita ?  Dan dalam semangat dasar ini, marilah kita ambil bagian dalam gerakan Pekan Doa Sedunia Untuk Persatuan Umat Kristiani, yang sudah dimulai kemarin tgl 18 Januari dan berlangsung hingga tgl 25 Januari 2014, teks doa Puji Syukur no. 177.  Selamat berdoa !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini