Kamis, 23 Januari 2014

DI MANAKAH DIA RAJA ORANG YAHUDI YANG BARU DILAHIRKAN ITU ?

UBI EST QUI NATUS EST REX IUDAEORUM


Oleh:  P. Fransiskus Nipa, Pr
Pesta Penampakan Tuhan
Inspirasi Bacaan: Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a.5-6; Mat. 2:1-12


SESUNGGUHNYA pertanyaan itu merupakan pertanyaan setiap manusia, siapapun dia, yang membutuhkan dan merindukan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Dan inilah fokus dari liturgi kita pada hari raya ini, HR EPIFANI (Penampakan Tuhan). Yesus datang dan lahir sebagai Sang Raja Damai bagi semua yang percaya kepadaNya, tanpa kecuali. Melalui mazmur tanggapan hari ini kita deraskan “Kiranya semua raja sujud menyembah kepadaNya dan segala bangsa menjadi hambaNya” (Mzm. 72:11). Hari Minggu ini juga merupakan Hari Anak dan Remaja Misioner Sedunia Ke-171; melalui perayaan ini Gereja Katolik mengajak anak dan remaja missioner serta umat seluruhnya untuk berdoa dan mengumpulkan dana bagi perkembangan misi lewat Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian (2D2K). 

  Apa itu Epifani ? Kata “epifani” artinya penampakan, tampilnya di hadapan umum sesuatu yang sebelumnya tersembunyi atau dirahasiakan. Dan apa yang tersembunyi, apa yang dirahasiakan ? Apa yang dibuka untuk pertama kalinya dibuka kepada umum melalui kisah kunjungan Tiga Raja dari Timur kepada Kanak-Kanak Yesus ?  Dalam tradisi Gereja Katolik, HR Epifani dirayakan pada Hari Minggu antara tgl 2 – 8 Januari setiap tahun. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh  Gereja Timur setiap tgl 6 Januari. Dalam perjalanan waktu, perayaan ini kemudian masuk dalam kalender liturgi Gereja Barat (Katolik) dan seringkali juga disebut Pesta Tiga Raja (Gaspar, Melkior dan Baltazar). 


Dalam Bacaan I hari ini, Nabi Yesaya bernubuat dan meramalkan bahwa terang Tuhan bukan hanya bersinar atas Yerusalem, melainkan juga atas bangsa-bangsa lain, yang dating berduyun-duyun kepada terang itu. Bangsa-bangsa itu bukan ditarik oleh Kota Yerusalem sendiri, melainkan oleh terang yang terbit di atasnya, yaitu oleh Tuhan yang menyatakan diri di kota milikNya. Tuhan bukan monopoli oleh satu bangsa, melainkan milik segala bangsa !
Dan apa yang dinubuatkan nabi 500 tahun sebelumnya, kini menjadi kenyataan dan tergenapi dalam diri Yesus Kristus. Dia datang untuk menyatukan semuanya; segala bangsa, tanpa diskriminasi, dipanggil untuk menggabungkan diri pada umat Allah. Dalam Kristus, bukan hanya orang-orang Yahudi yang dipanggil kepada keselamatan, melainkan juga segala bangsa sejagat turut menjadi ahli waris dan anggota Tubuh Kristus (Bacaan II). Sejak kelahiran Sang Raja Damai, sampai dengan saat ini, kemuliaan Allah dalam Kristus sudah bergema ke seluruh penjuru bumi, menjangkau semua benua dan pulau (Mzm. Tanggapan). 

Perikopa Injil hari ini menampilkan dinamika dan suka-duka sebuah peziarahan rohani dalam rangka pencarian dan penemuan Yesus dalam kehidupan harian kita. Dikisahkan bahwa Tiga Raja dari Timur sedang mencari Yesus yang adalah  jalan, kebenaran dan hidup ! Memang upaya pencarian mereka ditandai banyak masalah yang harus mereka hadapi. Pengalaman mereka mengingatkan kita pada pengalaman Abraham yang tidak menyerah kalah terhadap segala macam cobaan. Ujung, muara dan buah dari sebuah jerih-payah yang “tekun mencari” adalah perjumpaan dengan Sang Raja Damai, Sang Raja dari hidup ini. Penginjil Matius melanjutkan, sesudah menemukan Kanak-Kanak Yesus bersama Maria, ibuNya, Tiga Raja dari Timur sujud menyembah Dia. “Merekapun membuka tempat hartabendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur”. Dengan sikap dasar tsb, percayalah mereka bahwa Yesus-lah, Raja dari segala raja, Sang Raja kehidupan ini; Dia-lah Imam Agung yang melebihi imam Melkizedek dalamPerjanjian Lama karena mempersembahkan nyawaNya sendiri di atas salib demi penebusan dan keselamatan kita manusia pendosa. 

Lalu apa pesan dari HR Epifani bagi kita manusia modern hari ini, yang baru saja merayakan HR Natal ? Apakah di dalam hidup ini, sebagaimana Tiga Raja dari Timur, kita-pun mempunyai hasrat yang besar untuk mencari Yesus ? Yesus-lah “bintang Betlehem” yang bersinar cemerlang atas diri dan keluarga kita, pekerjaan dan usaha, masyarakat dan bangsa kita malahan atas seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Namun perlulah kita memohonkan rahmat kebijaksanaan sebagaimana yang dimiliki Tiga Raja dari Timur. Sesudah menjumpai, mengenali dan sujud menyembah Kanak-Kanak Yesus, mereka kembali ke negerinya “melalui jalan lain” (Mat. 2:12). Mereka berubah menjadi manusia baru, semakin bijaksana karena sudah bertemu dengan Tuhan. Mereka kini menjadi terang bagi sesamanya. Maka setiap perjumpaan kita dengan Tuhan, khususnya dalam Ekaristi, hendaknya mengubah orientasi kita, dari manusia lama menjadi manusia baru. Ayo mari kita terus benahi kesaksian hidup kita, sebab di sanalah rahasia kasih Tuhan menjadi sungguh nyata; dengan demikian kita berperan aktif mengemban misi Kristus sebagai Lumen Gentium, terang bagi bangsa-bangsa. Tuhan memberkati ! 
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini