Cari Blog Ini

Minggu, 27 Oktober 2013

SIMPLE PRAY

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. 
Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaan Inggrisnya). Miskin, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik 
toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief executive officer) atau penanggungjawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.
Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani. Tetapi, di tengah kesibukannya,setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun. 
Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang Romo memuncak! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di gerejanya. A Cong datang di pintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda 
salib, lalu segera bablas lagi. Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan2 ..... 
Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi. "Maaf, Cek panggilan menghormat bagi laki2 Cina), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman bediri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2 pergi?" 
Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki (sedikit maksudnya), tapi owe seneng dateng kemali." 
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: "Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?" Jawab  A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel. Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah." Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya. 
Pada suatu hari A Cong sakit parah. Super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa. Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2 pasiennya itu, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2.
Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi. Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek 'kan serius?" Acong tercenung dan mau menjawab juga: Saben ali yam lua welas (setiap hari jam 12),yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang wo punya kaki, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus. Gimana owe nggak seneng, coba..." 

(Tuhan mendengar setiap doa kita, sesederhana apapun doa kita, Tuhan pasti mendengar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar