Cari Blog Ini

Jumat, 11 Oktober 2013

Kagum - takjub - bersyukur

Oleh : RD. Paulus Tongli
Hari Minggu Biasa ke XXVIII
Inspirasi Bacaan dari : 
Bacaan: 2Raj. 5:14-17; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19

Suatu hari datanglah seorang pastor ke sebuah restoran yang sangat padat dengan pengunjung untuk makan siang. Ketika ia ingin memulai makan, datanglah seorang lain dan duduk di meja yang sama dengan pastor itu. Lalu pastor itu, seperti kebiasaannya, menunduk, menutup matanya dan membuat tanda salib pada dirinya dan berdoa dalam keheningan. Ketika ia membuka kembali matanya bertanyalah orang yang ada di hadapannya itu: “anda sakit kepala?” “Tidak”, jawab pastor itu. Lalu orang itu bertanya lebih lanjut “atau ada yang tidak beres dengan makanannya?” “Tidak apa-apa”, jawab pastor itu. “Saya berterima kasih kepada Tuhan, sebagaimana biasanya bila saya mau makan”. Orang itu berkata “Oh anda termasuk dari mereka, orang-orang aneh itu? Saya hanya ingin mengatakan pendapat saya. Saya bekerja keras, mengucurkan keringat untuk mendapatkan uangku. Karena itu saya tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada siapa pun. Saya makan begitu saja”. Pastor itu menimpali, „Oh tidak apa-apa. Anjingku juga selalu begitu.” 




Ada begitu banyak orang saat ini di dalam masyarakat kita, yang juga memiliki pendapat yang sama dengan orang yang ada dalam ceritera kita. Orang yang demikian percaya bahwa segala yang mereka miliki, telah mereka usahakan lewat jerih payah mereka dan karena itu mereka tidak perlu berterima kasih kepada Allah atau kepada siapa pun. Banyak orang lupa bahwa semua yang kita terima di dalam hidup ini, berasal dari Allah. Semuanya kita terima sebagai hadiah pemberian Allah. Apa jasa seseorang sehingga ia dapat dilahirkan dengan selamat dan normal, sementara ada begitu banyak orang yang tidak dapat diselamatkan ketika dilahirkan? Apa jasa anak-anak yang memiliki orang tua yang mencintai mereka, sementara banyak anak yang bahkan tidak mengenal orangtuanya? Atau apa salah dari begitu banyak orang di negara-negara dunia ketiga, sehingga mereka miskin, sehingga banyak anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah, sementara ada orang sudah lahir di dalam kekayaan? Apa jasa kita sehingga kita memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk berbicara, kaki untuk berjalan, sementara beberapa orang di antara kita tidak memiliki apa yang kita miliki? Adakah kita memiliki hak atas semua itu? 

Seandainya bintang itu hanya menunjukkan diri sekali dalam setahun, pastilah semua orang akan berjaga sepanjang malam untuk menyaksikan bintang”. Kita begitu sering melihat bintang, sehingga kita menganggapnya biasa saja. Kita terbiasa menerima segalanya, sehingga kita lupa untuk mensyukurinya. 




Kutipan injil hari ini berceritera tentang sepuluh orang kusta, orang yang disingkirkan dari pergaulan sehari-hari. Mereka adalah orang yang berada di dalam situasi yang sulit tanpa jalan keluar. Yesus telah merubah situasi itu, sehingga mereka seketika itu juga dapat kembali hidup normal. Ke-9 orang yang lain kembali tenggelam ke dalam situasi harian yang biasa. Hanya satu orang yang mengalami segalanya sungguh berubah. Dengan penuh kegembiraan ia kembali kepada Yesus untuk berterima kasih. Mengapa kesembilan yang lain tidak kembali? Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan jawaban, mengapa mereka tidak kembali: 

Yang pertama mengatakan: kita masih harus menunggu dan melihat, apakah kita sungguh sembuh, dan apakah penyembuhan itu bersifat tetap. 

Yang kedua mengatakan: kita toh masih memiliki banyak waktu untuk menjumpai Yesus. Kapan-kapan saja bila bertemu baru berterima kasih. 

Yang ketiga mengatakan: apakah saya sungguh telah sakit kusta? Lepra itu tak tersembuhkan, tetapi buktinya saya sembuh. Mungkin juga kusta itu tidak seberbahaya 

yang diceriterakan orang. 

Yang keempat mengatakan: tentu saja saya akan berterima kasih, tetapi belum waktunya. 

Yang kelima berkata: tentu saja kita sembuh kembali, hal biasa, bukan mukjijat. 

Yang keenam berkata: Yesus tidaklah istimewa, banyak orang dapat melakukan yang sama. 

Yang ketujuk berkata: kini kita sembuh, untuk apa kita mencari Dia lagi? 

Yang kedelapan berkata: satu-satunya yang akan kita lakukan adalah pergi kepada imam, menunjukkan diri, agar ia dapat menyatakan kita tahir. 

Yang kesembilan berkata: „Yesus menyuruh kita untuk pergi kepada imam. Ia pasti marah, bila kembali kepada-Nya. 

Di dalam alasan-alasan ini dapatlah kita lihat bahwa sikap tidak tahu berterima kasih seringkali bersumber dari egoisme yang berbuah dalam rasionalisasi dan kepicikan pandangan. Untunglah masih ada orang kusta yang kesepuluh, yang tidak mengatakan apa-apa melainkan langsung kembali kepada Yesus, bersujud di hadapannya dan mengucap syukur. 




Banyak orang Katolik dewasa ini yang tidak lagi tertarik untuk ke gereja pada hari Minggu, kepada perayaan Ekaristi. Gejala ini merupakan salah satu indikasi bahwa banyak orang menjadi sulit untuk bersyukur. Bukankah tujuan utama para orang kristen berkumpul dan merayakan Ekaristi adalah untuk bersyukur kepada Allah? Kata „eucharist” berasal dari kata Yunani yang berarti „syukur”. Bila kita menghitung rahmat, bila kita menyadari bahwa semua berasal dari atas, maka kita seharusnya berlaku seperti orang Samaria itu. Ketika ia menyadari bahwa ia telah disembuhkan, ia langsung kembali dengan sukacita dan memuliakan serta bersyukur kepada Allah. Bagi Naaman (dalam ceritera bacaan pertama) proses penyembuhannya merupakan suatu proses belajar, belajar untuk bersyukur. Ia telah belajar, bahwa semua yang telah dialaminya bukanlah suatu proses alamiah, yang pasti akan terjadi begitu seiring dengan waktu atau tindakan tertentu. Semua yang dialaminya terjadi bukanlah karena jasa atau usahanya. Ia sadar bahwa ia telah berjumpa dengan Allah yang telah menampakkan diri-Nya kepadanya di dalam situasi dan tempat yang tak terduga. Orang hanya bisa bersyukur bila orang bisa takjub dan mengagumi apa yang dialami atau yang diperolehnya dan meluangkan waktu untuk menyatakan rasa takjub dan rasa kagum itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar