Selasa, 30 Oktober 2012

Mewujudkan diri dalam Kristus


HARI MINGGU BIASA XXX
Oleh: Pastor Paulus Tongli,Pr
Inpirasi Bacaan:  (Markus 10:46-52)

Konon dahulu hiduplah seekor bebek bersama seekor ayam di pinggir laut. Mereka bertumbuh bersama-sama. Setiap hari mereka dapat menikmati anak-anak ikan mati yang dibuang oleh para nelayan. Namun bebek itu selalu punya kerinduan untuk berenang dan menangkap ikan segar. Ia mulai iri melihat burung belibis yang bisa terbang dan dengan enteng hinggap di air, berenang dan sesekali menyelam untuk menangkap ikan dan memangsanya. Suatu kali bebek itu berseru, “ah… alangkah inginnya saya ikut berenang dan menangkap ikan!”. Tetapi ayam temannya itu menjawabnya, “ah kau bermimpi. 

Kau kan juga ayam, yang memang hidup di darat; apalagi badanmu gemuk, gampang tenggelam. Puaskanlah dirimu dengan berlari ke sana ke mari dan makanlah biji-bijian. Kita toh harus bersyukur kepada para nelayan yang masih menyisakan ikan-ikan kecil untuk kita.” Suatu hari yang panas sekali, bebek itu duduk murung, karena ikan-ikan kecil yang dibuang oleh para nelayan tidak bisa dimakan. Ikan-ikan itu cepat sekali membusuk, dan baunya tak tertahankan. Burung belibis menghampirinya dan bertanya, mengapa ia murung. Lalu bebek berkata, “burung Belibis, saya iri melihatmu. 

Bagaimana engkau dengan enteng bisa berenang di atas air, dan bisa sesukamu menangkap ikan segar menjadi santapanmu?” Burung Belibis pun menimpalinya, “bebek yang malang, mengapa engkau tidak mau mencoba turun ke air dan berenang? Saya pun dulu mengira saya tidak bisa berenang. Tetapi pernah suatu kali saya melihat ikan berenang, dan karena saya ingin sekali memangsanya, saya melompat ke dalam air, dan …. saya tidak tenggelam. Saya ternyata bisa berenang seperti sekarang ini. Engkau pun dapat mencobanya. Lihat saja kakimu lebar-lebar, mestinya itu bisa digunakan untuk mengayuh, jadi mestinya engkau bisa berenang.” Burung Belibis itu mengajak bebek turun ke air, dan betapa terkejutnya bebek itu, karena ternyata ia bisa tidak tenggelam, ia mengapung. 


Dari waktu ke waktu bebek itu belajar berenang yang baik, dapat menangkap ikan dan memakan ikan segar sebanyak yang ia mau. 

Ternyata bebek tidak sekedar burung darat. Ia juga sama dengan burung Belibis, yang bisa di darat, bisa di air, bahkan sedikit bisa terbang. Tetapi selama ia percaya bahwa ia hanyalah burung darat, ia akan tetap tinggal di darat dan hanya dapat berangan-angan untuk dapat menikmati ikan segar. 

Ceritera ini mau menunjukkan cara bebek menemukan dan menyadari kemampuan yang Allah anugerahkan kepadanya serta menyadari bahwa ia memiliki potensi untuk dapat berenang. Atau seperti bagaimana kuncup bunga berkembang menjadi bunga yang indah sebagaimana bunga itu dicipta sejak semula. Demikian pun ceritera tentang Bartimeus di dalam injil hari ini. 

Ceritera ini adalah kisah bagaimana seorang pengemis yang tidak dikenal di pinggir jalan dapat menyadari hakekat yang Tuhan berikan sebagai manusia dan anak Allah; bagaimana ia berkembang.

Ceritera dalam injil Markus ini sangat unik, dan membangkitkan banyak diskusi, mengingat teks ini adalah satu-satunya tempat di dalam injil sinoptik, di mana nama orang yang disembuhkan Yesus disebutkan dengan jelas. Markus bahkan menyebut nama di sini sampai dua kali “Bartimeus, anak Timeus”. Ini di luar kebiasaan, maka tentu Markus punya maksud khusus, dan pasti nama itu punya arti tertentu untuk dapat memahami ceritera ini. 

Di dalam budaya Semit kuno, nama bukan sekedar menunjuk kepada orang. Nama menunjukkan kepribadian bahkan nasib seseorang. Maka apa arti Bartimeus? Dalam bahasa Aram Bartimeus berarti “anak najis (tame’)”. Maka boleh jadi ini adalah nama julukan yang diberikan kepadanya karena ia adalah seorang pengemis yang buta. Faham teologis yang lazim di kalangan orang Ibrani adalah bahwa kebutaan itu merupakan sebuah hukuman dari Allah atas dosa atau kenajisan (bdk Yoh. 9:34). Tetapi dalam bahasa Yunani, nama ini dapat berarti “anak terhormat (timE’). Maka boleh jadi nama ini digunakan untuk menunjukkan hati atau martabat orang itu. 

Dengan menyebutkan nama Bartimeus dengan makna ganda seperti itu, Markus mungkin mau mengungkapkan kepada kita bahwa orang ini diharapkan menjadi seorang yang terhormat/bermartabat namun hidup di dalam situasi yang najis. Oleh karena itu apa yang Yesus lakukan kepadanya bukanlah sekedar memulihkan penglihatan fisiknya, tetapi lebih dari itu, dan bahkan yang paling utama adalah memulihkan martabat kemanusiaannya, sebagaimana yang Allah anugerahkan kepadanya. Hal ini dapat kita bandingkan dengan apa yang dibuat oleh burung Belibis dalam ceritera kita tadi terhadap bebek, membuka pikirannya dan memberdayakannya untuk menyadari potensi dan martabatnya sebagaimana yang Allah anugerahkan. 

Seperti bebek di pinggir laut atau seperti Bartimeus di pinggir jalan, mungkin kita pun sering bosan, merasa bahwa seharusnya kita hidup lebih baik daripada apa yang saat ini kita alami. Seperti bebek yang diciptakan untuk hidup di air, tetapi mendapati dirinya hanya hidup di darat dan hanya bisa memuaskan dirinya dengan ikan yang dibuang oleh nelayan. Mungkin kita kadang merasa seperti Bartimeus, yang seharusnya mengikuti Yesus dalam pengajarannya untuk menyelamatkan dunia, namun mendapati diri sepanjang hari tidak melakukan apa-apa selain daripada sepanjang saat mencoba untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Kabar gembira adalah ketika Yesus lewat. 

Ia dapat menyembuhkan dan melepaskan apapun bentuk kelemahan atau hambatan yang membelenggu kita. tidak usah peduli kepada teman yang mungkin seperti ayam, yang akan menganggapmu tukang mimpi. Bartimeus tidak mempedulikan orang-orang yang berusaha untuk menahannya dan menyuruhnya diam. Yesus ada di sini untuk menyembuhkan kebutaan yang melumpuhkan kita, untuk memberdayakan dan mengubah kita dari penonton pasif menjadi pengikutNya yang aktif dan antusias. Hanya dengan demikianlah hidup akan menjadi lebih hidup, bersemangat dan menarik.

Refleksi: Bagaimana saya harus bersikap agar aku menjadi pengikutNya yang aktif dan antusias? Apa yang akan aku lakukan?

Kebangkitan Dibalik Kehilangan


Mungkin Anda pernah menonton America's Most Wanted, program televisi yang melakukan reka ulang kisah-kisah kejahatan dan memotivasi para pemirsanya untuk menolong pihak yang berwajib mencari dan menangkap para pelaku kejahatan, yang sering kali merupakan penjahat sadis. Pembawa acara program ini adalah John Wals. Mungkin Anda mengira John Wals adalah seorang jurnalis atau aktor - seorang yang professional dalam dunia pertelevisian - tetapi sebenarnya tidak demikian. Ini adalah kisah yang dialami John Wals.
John awalnya memiliki usaha sendiri bersama tiga orang mitranya, mereka melakukan pembangunan berbagai hotel mewah. Tetapi suatu hari putra John diculik, tetapi karena tidak ada bukti tentang kejahatan tersebut, pihak berwenang lambat untuk menolong John dan istrinya dalam menemukan putra mereka. Mereka mencari selama enam belas hari, dan tragisnya anak laki-laki tersebut ditemukan dalam keadaan tewas.
Kehidupan John hancur sebagaimana keadaan hatinya karena kehilangan buah hati yang dikasihinya. Berat badannya turun drastis, rumahnya disita, bahkan bisnisnya hancur. Ia telah kehilangan semua harapan.
Hingga suatu hari John bertemu dengan Dr.Ronald Wright, seorang ahli koroner didaerahnya yang bertanya padanya, "Anda sedang berpikir tentang bunuh diri, bukan?"
"Untuk apa lagi saya harus hidup," jawab John. "Saya tidak mempunyai apa-apa. Anak saya satu-satunya telah dibunuh. Saya bahkan tidak bisa bicara dengan istri saya. Saya tidak mempunyai pekerjaan, rumah saya disita, seluruh hidup saya berakhir."
"Tidak, tidak demikian," jawab Dr.Ronald. "Anda fasih berbicara. Anda bisa menyusun sebuah kampanye terbesar untuk anak hilang dalam sejarah Florida. Pergilah dan berusahalah untuk mengubah segala sesuatu."
John berkata bahwa itu adalah nasihat terbaik yang ia pernah dapatkan dari siapapun. Itu memberikannya sebuah tujuan hidup. Dan tujuan hidup itu memberikannya lebih dari sebuah alasan untuk tidak bunuh diri. Itu memberinya kekuatan untuk melayani dan menolong orang lain. Pada tahun 1988, ia memulai acara America's Most Wanted yang masih terus berlanjut hingga saat ini. Acara itu telah berjasa atas penangkapan 1050 penjahat dan juga empat belas nama yang terdaftar dalam FBI's Most Wanted, dan juga menyelamatkan puluhan anak-anak yang hilang.
John menemukan tujuan hidupnya saat dia berada di lembah terdalam kehidupannya, dan dia berhasil bangkit dan bahkan menjadi berkat bagi banyak orang. Hal yang sama juga dapat Anda lakukan, ketika Anda menemukan tujuan hidup Anda, maka Anda akan mencapai potensi maksimal Anda.

Pengumuman Paroki Katedral Makassar; Sabtu-Minggu 27-28 Oktober 2012


Sabtu-Minggu  27-28 Oktober  2012

Mohon perhatian umat untuk beberapa pengumuman Paroki berikut ini.

1.     Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

* Alexander Sakka & Yuliana Dianasari                   
( Pengumuman III)
* Obastri Herdo  &  Juliana Charlotte Maria Abadi   
( Pengumuman III)
* Ariel Rafael Singara &  Dessy Natalia                   
( Pengumuman III)
* Edwin Mogi &  Reiny Pinarto                                   
( Pengumuman II)
* Rimba Matulatan & Beatrix Olivia                            (Pengumuman I)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.


2.     Pendalaman  Kitab Suci dilaksanakan setiap Hari Selasa, Pkl 18.00 WITA.  Umat sekalian diajak untuk bergabung dalam acara ini.

3.     Setiap Hari Rabu, jam 6 sore, diadakan kegiatan Lectio Divina   di Ruang Doa Katedral. Marilah kita berdoa dan merenungkan Sabda Allah Bersama-sama. Umat Sekalian diundang untuk bergabung

4.     Rapat DEPAS Biadang Liturgi akan dilaksanakan pada Selasa, 30 Oktober 2012, pukul 19.30 WITA. Semua anggota DEPAS bidang Liturgi di mohon kehadiriannya.

5.     Misa Penutupan Bulan Rosario Akan dilaksanakan pada Rabu, 31 Oktober 2012, pukul 18.30 WITA.

6.     Bulan November adalah Bulan Purgatorium, sehubungan dengan itu, maka akan diadakan beberapa perayaan Ekaristi yaitu:
1.     Misa Hari Raya Semua Orang Kudus;
Kamis, 01 November 2012, pukul 18.30.
2.     Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman;
Jumat, 02 November 2012, pukul 18.30 WITA.
7.     Hadirilah Seminar Keluarga dengan tema: “KELURGA YANG MELAYANI”, dengan pembicara: Mgr. FX. Prajasuta MSF yang dilaksanakan pada, Rabu, 31 Oktober 2012, Pukul 19.30 WITA.(setelah Misa Penutupan Bulan Rosario).


Novena & Adorasi Sakramen Mahakudus


Misa Hari Raya Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman


ALTAR DALAM GEREJA KATOLIK (1)


ASAL KATA “ALTAR”
Sebenarnya asal-usul kata “altar” kurang jelas, entah dari kata Latin “alta res” yang berarti “hal yang tinggi” atau “alta ara” yang berarti “altar yang tinggi”. Orang-orang Romawi kuno sudah membedakan dua macam altar: 
“ara” merupakan altar kecil yang dapat dipindah-pindahkan, dipakai untuk kegiatan kultik orang biasa, untuk pengenangan orang mati, dsb; 
“altare” merupakan altar yang lebih monumental, dibangun menjulang, khususnya untuk kegiatan kultik kaum kalangan atas. Umat Kristiani perdana meminjam istilah “altare” itu terutama untuk menunjuk pada meja Kurban Perjanjian Baru.

MAKNA DAN FUNGSI ALTAR
Di atas altar, Kurban Salib dihadirkan dalam rupa tanda-tanda sakramental. Altar adalah meja Tuhan; di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Altar, sebagai meja perjamuan kudus, seharusnya menjadi yang paling mulia dan paling indah. Hendaknya dirancang dan dibangun bagi keperluan kegiatan liturgis komunitas / umat. Altar adalah tanda Kristus; altar adalah simbol Kristus sendiri.

UMAT KRISTIANI JUGA MERUPAKAN ALTAR
Altar adalah simbol Kristus. Altar adalah juga Kristus sendiri. Itu memang makna simbolisasi liturgisnya. Namun dalam tataran spiritual ternyata altar juga menyimbolkan umat kristiani. Maksudnya, umat kristiani adalah altar-altar spiritual tempat kurban hidupnya dipersembahkan bagi Allah. St Ignatius dari Antiokhia, St Polikarpus, dan St Gregorius Agung pernah menyinggung gagasan ini. Orang kristiani yang memberikan dirinya sendiri, entah lewat doa maupun pengorbanan, menjadi batu-batu penjuru, di mana Yesus membangun altar Gereja-Nya. Dari altar mengalirlah spiritualitas jemaat dan setiap pribadi anggota Gereja.


SEBUTAN-SEBUTAN LAIN UNTUK ALTAR
Dalam buku liturgis tentang pemberkatan Gereja dan altar (Ordo Dedicationis Ecclesiae et Altaris, 1977) terdapat beberapa sebutan lain untuk altar, yakni: “meja sukacita”, “tempat persatuan dan perdamaian”, “sumber kesatuan dan persahabatan”, “pusat pujian dan syukur”. Sebutan-sebutan ini melengkapi makna utama sebuah altar sebagai meja kurban dan perjamuan.

ALTAR: MEJA KURBAN DAN MEJA PERJAMUAN
Altar sebagai Meja Kurban adalah bagi kurban salib yang diabadikan dalam misteri berabad-abad hingga kedatangan Kristus kembali. Altar sebagai Meja Perjamuan adalah bagi warga Gereja yang berkumpul untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah dan menerima Tubuh dan Darah Kristus. Altar adalah Meja Tuhan!
Bersambung.......

Hari Raya Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman


1. Sejarah Perayaan All Saints Day
    Hari Orang Kudus Tanggal 1 November
Pada hari raya orang kudus (1 November) Gereja Katolik merayakan hari para orang kudus, baik mereka yang telah dikanonisasikan/ diakui Gereja (Santa/ santo) maupun para orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal.
Gereja telah mulai menghormati para santo dan martir sejak abad kedua. Hal ini terlihat dari catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua:
“Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api. Selanjutnya, kami mengambil tulang- tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD)
Para Bapa Gereja, antara lain St. Cyril dari Yerusalem (313-386) mengajarkan demikian tentang penghormatan kepada para orang kudus:
“Kami menyebutkan mereka yang telah wafat: pertama- tama para patriarkh, nabi, martir, bahwa melalui doa- doa dan permohonan mereka, Tuhan akan menerima permohonan kita …. (Catechetical Lecture 23:9)
Pada awalnya kalender Santa dan Martir berbeda dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dan gereja- gereja lokal menghormati orang- orang kudus dari daerahnya sendiri. Namun kemudian hari perayaan menjadi lebih universal. Referensi pertama untuk merayakan hari para orang kudus terjadi pada St. Efrem dari Syria. St. Yohanes Krisostomus (407) menetapkan hari perayaannya yaitu Minggu pertama setelah Pentakosta, yang masih diterapkan oleh Gereja- gereja Timur sampai sekarang. Gereja Barat, juga kemungkinan pada awalnya merayakan demikian, namun kemudian menggeserkannya ke tanggal 13 Mei, ketika Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon di Roma kepada Santa Perawan Maria dan para martir pada tahun 610. Perayaan hari para orang kudus pada tanggal 1 November sekarang ini kemungkinan ditetapkan sejak jaman Paus Gregorius III (741) dan pertama kali dirayakan di Jerman. Maka hari perayaan ini tidak ada kaitannya dengan perayaan pagan Samhain yang dirayakan di Irlandia. Perayaan 1 November sebagai hari raya (day of obligation) ditetapkan tahun 835 pada jaman Paus Gregorius IV. Tentang oktaf perayaan (1-8 November) ditambahkan oleh Paus Sixtus IV (1471-1484) (C. Smith The New Catholic Encyclopedia 1967: s.v. “Feast of All Saints”, p. 318.

2. Perayaan All Souls Day/ 
    Hari Arwah,  Tanggal 2 November
Sehari setelah hari perayaan orang kudus disebut sebagai hari arwah (All Souls day) yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa- doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak mengherankan bahwa Gereja merayakannya berurutan. Setelah kita merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, dengan harapan merekapun dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.
Umat Kristen telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi- liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa- doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12:41-42. Di dalam PB, St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus yang telah meninggal (2 Tim 1:18). Para Bapa Gereja, yaitu Tertullian dan St. Cyprian juga mengajarkan praktek mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwa- jiwa yang telah wafat tersebut. Berhubungan dengan praktek ini adalah ajaran tentang Api Penyucian. Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian. St. Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3:15). Para Bapa Gereja, termasuk St. Agustinus (dalam Enchiridion of Faith, Hope and Love dan City of God), merumuskannya dalam ajaran akan adanya pemurnian jiwa setalah kematian.
Pada hari- hari awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat diptych. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwa- jiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Perayaan hari arwah menjadi peringatan universal, di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny tahun 998, ketika ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Beneditin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar ke kalangan biara Carthusian. Sekarang Gereja Katolik merayakannya pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.
Dari keterangan di atas, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kepada kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven sebelum merayakan Natal (Kelahiran Kristus). Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia; tentang akhir hidup kita kelak, agar kita dapat akhirnya nanti tergabung dalam bilangan para kudus di surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian, dengan mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita. Juga, pada bulan November ini, bacaan- bacaan Misa Kudus adalah tentang akhir dunia, yaitu untuk mengingatkan kita tentang akhir hidup kita yang harus kita persiapkan dalam persekutuan dengan Kristus. Harapannya adalah, dengan merenungkan akhir hidup kita di dunia, kita akan lebih dapat lagi menghargai Misteri Inkarnasi Allah (pada hari Natal) yang memungkinkan kita dapat bergabung dalam bilangan para kudus-Nya dalam kehidupan kekal di surga.
Demikian, semoga keterangan di atas berguna bagi kita semua

BATANG KAYU YANG KUAT.


Seorang wisatawan di Italia memperhatikan pekerjaan para penebang kayu. Mereka sering menancapkan besi tajam ke dalam batang kayu, lalu menarik dan memisahkan batang kayu itu dengan batang kayu yang lain, dan selanjutnya dihanyutkan di sungai yang mengalir dari sebuah pegunungan. Dengan perasaan ingin tahu ia bertanya kepada para penebang kayu itu, "Mengapa kalian berbuat demikian?"
"Semua batang kayu ini mungkin kelihatannya sama saja dalam pandangan Anda," mereka menjelaskan. "Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Batang-batang kayu yang saya biarkan hanyut adalah batang-batang yang berasal dari pohon-pohon kayu yang tumbuh di lembah-lembah. Pohon-pohon kayu itu terlindung dari hembusan angin topan, sehingga kayunya tidak padat. Tapi batang kayu yang kuat adalah batang yang berasal dari pohon kayu yang tumbuh di atas gunung-gunung. Sejak masih kecil mereka telah ditiup angin kencang. Hal ini membuat mereka makin lama makin padat berisi. Kami memilih batang-batang pohon seperti itu untuk dipakai secara khusus. Kayu seperti itu terlalu bagus untuk dijadikan papan biasa."

Tuhan sering mengijinkan pencobaan dan angin kesusahan menggoncang hidup kita agar kita dikuatkan untuk dapat dipakai secara khusus dalam ladang pekerjaanNya

Jumat, 19 Oktober 2012

Sukses?


Hari Minggu Biasa XXIX

Hari Minggu Misi Sedunia ke - 86

 Inspirasi Bacaan: (Mrk 10:35-45)
Oleh; Pastor Paulus Tongli, Pr
Suatu ketika saya mendengar seorang memberikan kata sambutan di depan temu alumni. Yang menarik adalah ungkapannya di awal sambutannya: “Saya menyalami teman-teman semua yang tersebar di mana-mana. Saya tahu sebagian dari anda sudah termasuk orang-orang sukses dan mungkin sebagiannya masih gagal – hanya Allah yang tahu siapa termasuk yang mana!” Saya sangat tertarik akan ungkapan ini, apalagi kalau kita mengingat apa yang diungkapkan dalam Kitab Suci: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9). Ungkapan ini adalah pelajaran bagi dua orang murid Yesus yang sangat ambisius, Yakobus dan Yohanes, yang kita dengarkan dalam kutipan injil hari ini.

Bukankah kita yakin, bahwa sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah mempunyai rancangan indah atas kita dan seluruh ciptaanNya? Allah menciptakan setiap orang untuk sukses. Allah tidak menciptakan seseorang agar ia menjadi orang gagal. Tetapi apa arti sukses dan gagal? Bagi kebanyakan orang, seperti bagi Yakobus dan Yohanes, kesuksesan berarti menjadi pemimpin dan lebih unggul dibandingkan yang lain. 

Sukses berarti melebihi orang lain. Jadi kesuksesan selalu diukur di dalam perbandingan dengan raihan orang lain yang dianggap sebagai saingan. Itulah sebabnya Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dan meminta bukan agar mereka mendapatkan tempat di dalam kerajaan surga, tetapi agar Yesus memberikan jaminan untuk: “duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” (Mrk 10:37). Namun Yesus menjawab, “kamu tidak tahu apa yang kamu minta”, lalu Ia mulai mengajar mereka suatu pemahaman yang baru akan kesuksesan.

Bagi Yesus sukses berarti menyadari kehendak dan rancangan Allah dan hidup memenuhi kehendak dan rancangan Allah itu. Yesus mengajarkan, berbeda dari pandangan umum, bahwa setiap orang tidak bisa menjadi segalanya. Sebelum kita hadir di dalam dunia ini, Allah telah merancang hidup kita, bagaimana seharusnya kita hidup. Kita tidak datang ke dunia ini untuk menetapkan dan mengukir sendiri gambaran tugas hidup kita. 

Kita datang ke dunia ini dengan rencana Tuhan dalam tangan kita dan kita berusaha dengan segala daya upaya kita untuk melaksanakan dan menyempurnakan tugas itu. Inilah inti dari apa yang termuat di dalam doktrin Maria Dikandung tanpa Noda. Allah menghendaki agar rencana khusus-Nya dapat terwujud, yakni agar ada yang menjadi bunda putera tunggal-Nya. Maka ia menciptakan seorang wanita, yang sungguh dipersiapkan untuk memenuhi tugas khusus ini. 

Tidak ada wanita sebelum dan setelah Maria yang dapat memenuhi tugas ini, yakni untuk menjadi bunda Allah, dengan usaha dan ambisi pribadinya. Inilah sebabnya Yesus mengatakan kepada Yakobus dan Yohanes, “tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” (ay 40)

Apakah hal ini berarti Allah telah menentukan sejak awal dunia bagaimana kita harus hidup di dunia ini? Apakah ajaran tentang “nasib / takdir” dibenarkan oleh Yesus? Tentu tidaklah seperti yang umum dipahami orang. Allah menentukan rancangan dan tujuan Ia menciptakan kita. Ini predestinasi kristiani. Namun apakah kita mencapai atau tidak mencapai maksud rancangan dan tujuan itu, akan sangat tergantung dari sejauh mana kita mau bekerja sama dengan rahmat Allah. Di sini kita harus membedakan antara predestinasi dan determinisme (takdir). 

Kitab suci mengajarkan predestinasi dalam arti Allah punya rancangan atau gambaran “di dalam kepalaNya” ketika ia menciptakan kita; tetapi tidak mengajarkan determinisme (apa pun yang akan kita alami dan lakukan telah ditentukan lebih dahulu oleh Allah). 

Allah menciptakan kita dengan kehendak dan kebebasan untuk dapat bekerja sama atau menolak kerja sama dengan rahmat Allah. Itulah sebabnya, meskipun Allah telah menentukan Maria untuk menjadi ibu Sang Penyelamat, ketika waktunya tiba untuk mewujudkan misi ini, Allah mengutus seorang malaikat kepadanya untuk meminta kerja samanya. Ia adalah teladan sempurna akan kesuksesan karena ia dengan kepasrahan penuh dapat mengatakan ya kepada tawaran Allah, dan hidup seturut rancangan Allah itu.

Lain halnya dengan Yakobus dan Yohanes. Mereka menghadirkan semangat “New Age”, yang mencirikan zaman modern kita, yang meyakini bahwa setiap orang dapat menjadi apa saja. Keyakinan ini memunculkan ambisi dan persaingan yang tak terkendali,  persaingan yang tidak sehat di antara orang. 

Pemahaman yang baru akan kesuksesan yang diajarkan oleh Yesus mendorong kerja sama timbal balik dan kesadaran bahwa kita semua dapat menjadi sukses karena Allah telah menciptakan setiap orang dari antara kita secara unik, berbeda satu dari yang lain. 

Demikianlah rancangan Tuhan untuk kita masing-masing. Allah memiliki impian yang berbeda-beda untuk masing-masing. Maka kesuksesan seseorang pun khas untuk orang tersebut; berbeda dari ukuran untuk orang lain. Ambisi di dalam hidup kita haruslah menemukan dan menghidupi impian Allah untuk kita. di situlah ukuran kesuksesan. 

Jadi makna sukses adalah menemukan dan menghidupi rancangan Allah untuk hidup kita.




Pengumuman Paroki Katedral Makassar Sabtu-Minggu 20-21 Oktober 2012


A.        SAKRAMEN BAPTIS
            Persiapan Calon Baptis :
a.         Minggu, Pkl. 08.00 WITA,  di Biara Don Bosco.(Anak-Anak).
b.         Kamis, Pkl. 19.00 WITA, di Ruang Kelas Pastoran (Dewasa)

C. SAKRAMEN PERKAWINAN
 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
* Bernard Huwae  & Melva                            
( Pengumuman III)
* Hasim Kalangi & Lina Phieter                                
( Pengumuman III)
* Alexander Sakka & Yuliana Dianasari                     
( Pengumuman II)
* Obastri Herdo  &  Juliana Charlotte Maria Abadi    
( Pengumuman II)
* Ariel Rafael Singara &  Dessy Natalia                 
( Pengumuman II)
* Edwin Mogi &  Reiny Pinarto                                
( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.


D. Pendalaman  Kitab Suci dilaksanakan setiap Hari Selasa, Pkl 18.00 WITA.  Umat sekalian diajak untuk bergabung dalam acara ini.

E. Setiap Hari Rabu, jam 6 sore, diadakan kegiatan Lectio Divia   di Ruang Doa Katedral. Marilah kita berdoa dan merenungkan Sabda Allah Bersama-sama. Umat Sekalian diundang untuk bergabung

Hati Sebagai Hamba


Seekor harimau yang nyasar disuatu perusahaan, karena ketakutan akan ditemukan, sang harimau bersembunyi di toilet perusahaan. Berhari-hari ia cukup aman bersembunyi didalam toilet. Tak seorang pun memperhatikan toilet tersebut, karena jarang dipakai. Itu adalah toilet eksekutif. Namun setelah beberapa hari bersembunyi, sang harimau mulai kelaparan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyantap apapun yang ditemukannya.
Pagi itu, Kepala HRD perusahaan masuk ke toilet. Betul-betul santapan yang lezat bagi sang harimau. Maka, setelah melihat situasi cukup aman, akhirnya harimau tersebut langsung menerkam Kepala HRD perusahaan itu. Berhari-hari setelah Kepala HRD hilang, ternyata perusahaan aman terkendali dan tidak terjadi masalah apapun. Dan sang harimau lapar lagi. Kali ini ia menunggu korban kedua. Ternyata, korban kedua tersebut adalah Presiden Direktur(Presdir) perusahaan itu yang banyak mengurusi urusan-urusan utama dalam perusahaan & urusan penting lainnya. Ketika ia sedang menikmati aktivitas alaminya, ia pun diterkam oleh harimau itu. Setelah kejadian itu, perusahaan tetap tenang, bahkan sampai berhari-hari setelah peristiwa itu, tak ada yang geger dan merasa kehilangan dengan lenyapnya Kepala HRD maupun Presiden Direktur.
Lantas, untuk ketiga kalinya setelah beberapa hari lewat, sang harimau pun lapar lagi. Pagi itu yang masuk adalah sang office boy. Hari itu, sang office boy membersihkan toilet eksekutif tersebut. Setelah melihat situasi aman, sang harimau menerkamnya. Selang beberapa jam kemudian, perusahaan tersebut menjadi geger, orang-orang mulai mencari sang office boy yang hilang, karena mereka membutuhkannya untuk fotokopi, mengantarkan dokumen, melayani tamu, dan urusan-urusan lainnya, hal itu membuat mereka sibuk mencari sang office boy.
Keamanan pun dikerahkan untuk mencari sang office boy. Semua orang sibuk mencari sampai ke pelosok kantor. Justru karena sang harimau telah memakan sang office boy perusahaan menjadi geger dan harimau itu ditemukan di toilet eksekutif.
Tentu saja ini semua hanya cerita kiasan(ilustrasi/ perumpamaan), tetapi mempunyai makna yang sangat berharga.

"Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan
barang siapa yang ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hamba atas semuanya."
(Markus 10:43-44)

Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbesar (pemimpin) dalam suatu jabatan. Tidaklah salah untuk menjadi yang terbesar (pemimpin), tetapi Yesus menegaskan kepada kita dalam (Markus 10:43-44), jika kita ingin menjadi yang terbesar (pemimpin), hendaklah kita menjadi pelayan atas sesama (saling melayani) dengan penuh kerendahan hati & menjadi hamba untuk semua. Karena kedudukan & kemuliaan seorang pemimpin tidak terletak pada kekuasaan, melainkan pada pemberian dirinya yang tulus sebagai hamba atau pelayan bagi sesamanya. Dan kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya uang, jabatan; kuasa, melainkan dari kerelaannya untuk melayani; menyelamatkan banyak orang.

Jika kita ingin menjadi yang terkemuka atau terbesar diantara kita, maka hendaklah kita dengan rendah hati, mau menjadi Pelayan yang melayani sesama dan menjadi hamba bagi semua untuk melayani mereka untuk kemuliaan nama Tuhan.

7 Santo-Santa Baru per 21 Oktober 2012


PADA Perayaan Hari Minggu Misi Sedunia tangga 21 Oktober 2012, Bapa Suci Paus Benedictus XVI akan resmi menobatkan tujuh orang kudus baru dengan predikat santo-santa dalam sebuah perayaan misa kanonisasi orang kudus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Roma.
Berikut ini adalah sekelumit profil pendek ke-7 orang kudus berpredikat santo-santa baru ini:

 1. Suster Marianne Cope OSF dari Molokai, Hawaii: 
Dikenal dengan sebutan Bunda Marianne dari Molokai, biarawati dari Kongregasi Suster-suster Fransiskanes (OSF) ini, lahir di sebuah wilayah di Jerman dan kemudian bersama keluarganya beremigrasi ke AS ketika umurnya masih 1 tahun. Lama tinggal menetap di Utica, New York, Marianne Cope ini akhirnya masuk biara Susteran OSF dan kemudian menjadi misionaris di Molokai, Hawaii  dengan karya pastoral luar biasa yakni merawat ribuan pasien kusta (lepra) yang pada abad ke-9 masih dianggap sebagai penyakit berbahaya saking tiadanya obat-obatan;

 2. Suster Kateri Tekakwitha, asal  New York dan berdarah asli Indian. 
Ia merupakan orang kudus pertama dari kalangan masyarakat ‘asli’ Amerika yakni bangsa Indian.  Dibabtis oleh para misionaris Jesuit tahun 1676 saat berumur 20 tahun, namun empat tahun kemudian dia diberitakan meninggal di Kanada;

 3. Pastur Jacques Berthieu SJ, romo Jesuit kelahiran Auvergne (Perancis Tengah) yang menjadi misionaris di Pulau Madagaskar, Afrika, saat masih menjadi daerah koloni Perancis. Ia menjadi martir karena kesaksian imannya dan dibunuh oleh pasukan pemberontak Madagaskar pada tanggal 8 Juni 1896 di Ambiatibe, Madagaskar;
 4. Peter Calungsod, seorang katekis awam kelahiran Cebu, Filipina, dan mati sebagai saksi iman di Guam karena dibunuh tanggal 2 April 1672.

 5. Pastur Giovanni Battista Piamarta, romo asal Italia dan pendiri Kongregasi Keluarga Kudus Nazareth dan Kongregasi Hamba Tuhan. Ia meninggal tahun 1913.

 6. Carmen Salles y Barangueras, biarawati asal Spanyol dan pendiri Kongregasi Suster-suster Perawan Tak Bernoda. Ia dikenal banyak berkarya di lingkungan ‘kumuh sosial’ di kalangan para pelacur. Ia meninggal tahun 1911.

 7. Anna Schaffer, gadis awam Jerman yang awalnya ingin menjadi suster namun tidak dikabulkan karena sakit dan cacat. Ia meninggal tahun 1925.

Intisari Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XVI Hari Minggu Misi Sedunia 2012


“DIPANGGIL UNTUK MEMANCARKAN SABDA KEBENARAN

(Porta Fidei, no.6).  
Perayaan Hari Misi Sedunia 2012 ini memiliki makna yang sangat penting. Peringatan 50 Tahun Permulaan Konsili Vatikan II dan Pembukaan Tahun Iman serta Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru membantu menegaskan kembali keinginan Gereja untuk terlibat lebih besar lagi dalam usaha-usaha dan semangat bermisi untuk membawa Injil ke seluruh penjuru dunia.

Mandat Misioner
Jumlah orang yang sedang menanti Kristus itu masih sangat besar. Konsili Vatikan II dan ajaran Gereja selanjutnya menekankan mandat misioner yang telah dipercayakan oleh Kristus kepada para murid-Nya ini secara istimewa. Mandat ini harus menjadi komitmen bersama bagi seluruh Umat Allah, para uskup, para imam, para diakon, kaum religius pria maupun wanita dan kaum awam.

Misi Untuk Bersaksi
Kini, misi sampai ke ujung bumi harus menjadi bagian dari setiap perjuangan Gereja. Jati diri Gereja dibangun oleh iman dalam Misteri Allah yang menyatakan Diri-Nya dalam Kristus untuk membawa kita kepada keselamatan, dan oleh misi untuk bersaksi dan mewartakan Kristus kepada dunia sampai Dia datang kembali. Kita harus perhatian terhadap mereka yang belum mengenal Kristus.

Iman Harus Dibagikan
Tentang tugas penginjilan tidak boleh pernah ada di pinggiran setiap aktivitas Gereja atau di setiap pribadi orang-orang Kristen. Melainkan, tugas penginjilan harus menjadi karakter yang kuat. Iman adalah suatu karunia yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita untuk dibagikan. Iman adalah suatu talenta yang diterima agar menghasilkan buah. Iman juga adalah suatu terang yang tidak boleh tersembunyi. Iman adalah rahmat yang terpenting yang diberikan kepada kita dalam hidup kita dan tidak boleh disimpan hanya untuk kita sendiri. 

Tumbuh Dalam Persekutuan
Saya mengucapkan terima kasih kepada Serikat-serikat Misi Kepausan, karena mereka adalah sarana-sarana (instruments) kerjsama dalam misi universal Gereja di seluruh dunia. Melalui aksi-aksi mereka, pewartaan Injil tidak hanya melahirkan kesaksian bagi Kristus melainkan juga menjadi suatu karya nyata (intervention) demi sesama, yaitu keadilah bagi yang paling miskin, dimungkinkannya pendidikan di daerah-daerah terpencil, bantuan medis di daerah-daerah terisolir, solidaritas dalam kemiskinan, rehabilitasi bagi yang terpinggirkan, bantuan untuk pembangunan penduduk, mengatasi perpecahan suku dan hormat terhadap kehidupan di semua tingkatannya.







(oleh Rev. Gary Howley, SPS; terj. oleh RH).

Menjadi Pelayan Tuhan


"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu 
hendaklah ia menjadi pelayanmu"
Markus 10 : 43

Logika manusia dan logika Tuhan, sering sekali amat bertolak belakang. Apa yang dianggap benar, wajar oleh manusia, dianggap sebaliknya oleh Allah. Ketika dunia menawarkan kedudukan, kekuasaan dan kepeminpinan, Yesus menawarkan posisi dan pekerjaan yang rendah, sederhana bahkan hina dina, yaitu mejadi Hamba dan Pelayan. Dalam pandangan manusia peminpin dan pembesar harus dilayani dan memberi komando atau perintah kepada orang lain untuk berbuat sesuatu, tetapi dalam pandangan Yesus, justru peminpin dan pembesar itulah yang harus berperan sebagai hamba dan pelayan. Dan lebih hebat lagi, Yesus tidak hanya berbicara, ia memberi contoh dengan diriNya sendiri. "Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Logika Yesus adalah logika kerajaan Sorga, dimana manusia sama martabatnya dan derajatnya. Disana tidak adalah lagi pembesar dan penguasa; disana hanya ada Allah yang mengasihi dan mencintai setiap manusia, sebagai anak anaknya; disana Allah menghendaki setiap manusia sungguh sungguh menjadi anak anak kesayanganNya. Mereka semuaharus menerima satu sama lain seperti saudara dan saudara tidak ada yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Relasi yang harus terjadi bukan lagi antara tuan dan hamba, tetapi antara adik dan kakak, saudara dan saudari, karena semua manusia adalah putera dan puteri dari Allah, yang adalah Bapa setiap orang. Kasih dan pelayanan satu sama lain sebagai satu sama lain sebagai satu anggota keluarga Allah akan menjadi warna pokok dan satu satunya relasi antara mereka.

Tugas untuk mewujudkan nilai nilai Kerajaan Allah ini pertama tama ada pada pundak para pengikut Yesus, apalagi para rasul, murid murid istimewa Yesus. Maka ketika Yakobus dan Yohanes bewrdebat soal posisi dalam Kerajaan Allah, Yesua merobah pola pikir atau logika duniawi mereka dengan logika Kerajaan Allah. Siapa yang menjadi peminpin dituntut untuk lebih lagi menjadi pelayan dan hamba, yang siap sedia untuk melayani.

Ini juga tuntutan dan panggilan setiap kita yang menjadi pengikut Kristus. Pertanyaan untuk kita bukan lagi "Menjadi Pelayan, menjadi Hamba, Siapa mau? pertanyaannya menjadi : "Sejauh mana Anda mau menjadi pelayan dan hamba?" Persoalan bagi kita bukan lagi mau atau tidak mau, tetapi sejauh mana kita menjalankan tugas pelayanan kita, itulah bukti sedalam apa komitmen kita menjadi pengikut Kristus? Buktikan dengan pelayananmu yang tulus ikhlas bagi sesama!

Tuhan ajarilah kami menjadi hamba dan pelayan, seperti Engkau sendiri. Engkau telah meninggalkan kemegahan dan kekuasaan ke Allah anmu untuk melayani kami sampai sehabishabisnya dengan korban diri di kayu salab. Semoga kami tidak menjadi pelayanan lewat sesama yang kami jumpai dalam hidup sehari-hari. Amin

Rabu, 17 Oktober 2012

Pesan Bapa Suci, Paus Benediktus XVI untuk Hari Misi Sedunia 2012

“Dipanggil Untuk Memancarkan Sabda Kebenaran”
(Surat Apostolik Porta Fidei, no. 6)

Saudara-saudari yang terkasih,
Tahun ini perayaan Hari Misi Sedunia memiliki arti yang sangat khusus. Peringatan 50 tahun dimulainya Konsili Vatikan II dan pembukaan Tahun Iman serta Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru, membantu menegaskan kembali keinginan Gereja untuk terlibat dengan keberanian dan semangat yang lebih besar dalam missio ad gentes (perutusan kepada bangsa-bangsa) agar Injil dapat mencapai seluruh ujung bumi.

Konsili Vatikan II, yang melibatkan para Uskup Katolik dari seluruh penjuru bumi, merupakan suatu tanda yang benar-benar memancarkan universalitas Gereja, karena untuk pertama kalinya konsili menyambut sejumlah besar Bapa-bapa Konsili dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan Oseania. Mereka tersebar di tengah bangsa-bangsa non-Kristen: para uskup misionaris dan para uskup pribumi, serta para imam dari pelbagai jemaat Kristiani, hadir dalam Konsili Vatikan II sebagai suatu gambaran Gereja yang hadir di semua benua. Kehadiran mereka dipahami sebagai realitas yang sangat kompleks dari apa yang kemudian disebut “Dunia Ketiga”. Diperkaya oleh pengalaman-pengalaman mereka sebagai gembala-gembala Gereja, mereka yang masih muda dan yang sedang dalam proses pembinaan, digerakkan oleh semangat untuk menyebar-luaskan Kerajaan Allah. Mereka semua memberikan kontribusi yang sangat penting untuk menegaskan kembali kebutuhan dan urgensi penginjilan kepada bangsa-bangsa, dan dengan demikian menempatkan kodrat Gereja yang misioner sebagai pusat eklesiologinya.
Eklesiologi Misioner

Sesungguhnya, visi Eklesiologi Misioner tersebut hingga kini masih sahih berlaku, bahkan telah menghasilkan buah-buah refleksi teologis dan pastoral yang luar biasa. Dan pada saat yang sama, refleksi teologis-pastoral tersebut disajikan dengan urgensitas yang baru karena jumlah orang yang tidak mengenal Kristus semakin bertambah: “Jumlah orang yang menantikan Kristus masih sangat besar”, demikian kata Beato Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya Redemptoris Missio (RM), yang berbicara tentang mandat (perintah) misioner yang kekal dan sahih, seraya menambahkan: “kita tidak boleh berpuas diri ketika kita melihat jutaan saudara-saudari kita, yang sama seperti kita telah ditebus oleh Darah Kristus, namun hidup dalam ketidaktahuan tentang Kasih Allah” (no. 86). Dalam mempromulgasikan Tahun Iman ini, saya juga menulis bahwa “hari ini, sama seperti di masa lalu, Dia (Kristus) mengutus kita melalui jalan-jalan raya dunia untuk mewartakan Injil-Nya kepada seluruh bangsa di bumi” (Surat Apostolik Porta Fidei, no. 7). Tugas perutusan tersebut, sebagaimana telah dikatakan oleh Hamba Allah, Paus Paulus VI, dalam Anjuran Apostolik-nya Evangelii Nuntiandi, “bukanlah sumbangsih mana-suka dari Gereja, melainkan merupakan tugas yang melekat pada dirinya oleh karena perintah Tuhan Yesus sendiri, supaya orang percaya dan diselamatkan. Pesan ini wajib dan unik. Pesan ini tak tergantikan” (no. 5). Oleh karena itu kita perlu menemukan kembali semangat kerasulan yang sama seperti yang dialami oleh Jemaat Kristen perdana, yang meskipun kecil dan tak berdaya, mampu – melalui pewartaan dan kesaksian mereka – menyebarkan Injil ke – yang pada waktu itu dikenal sebagai – seluruh dunia.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan, kalau Konsili Vatikan II dan Magisterium Gereja berikutnya menekankan mandat misioner ini dengan cara yang sangat istimewa, yaitu mandat yang dipercayakan oleh Kristus kepada para murid-Nya dan yang harus menjadi komitmen seluruh Jemaat Allah: para uskup, para imam, para diakon, para biarawan-biarawati dan kaum awam. Tugas mewartakan Injil di setiap sudut dunia, terutama bagi para uskup yang sedang memangku jabatannya, bertanggung-jawab secara langsung terhadap tugas penginjilan di dunia ini, baik sebagai anggota Konferensi Waligereja maupun sebagai gembala Gereja partikular. Bahkan, mereka itu “telah ditahbiskan bukan hanya untuk keuskupan tertentu saja, melainkan untuk keselamatan seluruh dunia”(Beato Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio, no. 63), mereka adalah para“pewarta iman, yang membawa murid-murid baru kepada Kristus “(bdk. Ad Gentes, no. 20) dan mereka harus “menampilkan jiwa dan semangat misioner Umat Allah, sehingga seluruh jemaat keuskupan menjadi misioner” (ibid, no. 38).
Prioritas Penginjilan

Tugas memberitakan Injil bagi seorang gembala tidaklah selesai hanya dengan menaruh perhatian pada umat Allah yang reksa pastoralnya dipercayakan kepadanya atau cukup dengan mengutus para imamnya atau kaum awam Fidei Donum-nya. Melainkan tugas ini harus melibatkan seluruh aktivitas Gereja lokal, di semua sektornya, singkatnya, seluruh keberadaan dan aktivitas Gereja lokal. Konsili Vatikan II dengan jelas menunjukkan hal ini dan Magisterium berikutnya menegaskan kembali hal yang sama secara kuat. Hal ini memerlukan keselarasan gaya hidup, perencanaan pastoral dan organisasi keuskupan yang teratur karena dimensi yang paling fundamental dari keberadaan Gereja tersebut, khususnya di dalam dunia kita yang terus berubah. Dan ini juga berlaku bagi Lembaga-lembaga Hidup Bakti dan Serikat-serikat Hidup Kerasulan, serta bagi gerakan-gerakan gerejani lainnya. Artinya, seluruh bagian dari mosaik besar Gereja harus merasa dipanggil dan dihadapkan pada suatu pertanyaan yang berkaitan dengan tugas memberitakan Injil, agar Kristus dapat diwartakan di mana saja. Kami para pastor, para biarawan-biarawati dan seluruh umat beriman dalam Kristus, harus mengikuti jejak Rasul Paulus, sebagai“orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah” (Ef 3:1), yang bekerja, menderita dan berjuang untuk membawa Injil bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (cf. Kol 1:24-29), tanpa kenal lelah, tanpa kenal waktu atau tanpa sarana apapun untuk membuat Pesan Kristus semakin dikenal.

Juga dewasa ini tugas perutusan kepada bangsa-bangsa (missio ad gentes) harus menjadi horizon dan paradigma yang berkelanjutan bagi setiap usaha gerejani, karena jati diri Gereja itu sendiri dibangun oleh iman kepada Misteri Allah yang mewahyukan Diri-Nya dalam diri Kristus untuk membawa keselamatan bagi kita, dengan memberi kesaksian dan mewartakan tentang Dia kepada dunia sampai Dia datang. Sama seperti Santo Paulus, kita harus memberi perhatian kepada mereka yang jauh, kepada mereka yang belum mengenal Kristus atau yang belum mengalami kebapaan Allah, dengan kesadaran bahwa “kerjasama misioner itu meliputi bentuk-bentuk baru – bukan hanya bantuan ekonomis, tetapi juga partisipasi langsung” dalam pewartaan Injil (Beato Yohanes Paulus II, Ensiklik RM, no. 82). Perayaan Tahun Iman dan Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru akan menjadi kesempatan yang paling cocok untuk meluncurkan kembali kerjasama misioner, terutama dalam dimensi kedua ini.
Iman dan Pewartaan

Semangat untuk mewartakan Kristus juga mendorong kita untuk membaca sejarah sehingga dapat memahami aneka persoalan, cita-cita dan harapan-harapan umat manusia yang harus disembuhkan, dimurnikan dan dipenuhi oleh Kristus dengan kehadiran-Nya. Pesan-Nya selalu tepat waktu, jatuh tepat di jantung sejarah dan mampu menjawabi kegelisahan yang paling dalam dari setiap manusia. Karena alasan inilah maka semua anggota Gereja harus menyadari bahwa “betapa luas cakrawala misi Gereja dan betapa kompleksnya kondisi dewasa ini untuk menemukan cara-cara baru untuk mengkomunikasikan Firman Allah secara efektif” (Paus Benediktus XVI, Pasca-sinode Anjuran Apostolik Verbum Domini, no. 97). Tuntutan ini, pertama-tama merupakan suatu kesetiaan kepada iman yang diperbaharui baik secara pribadi maupun secara komunitas terhadap Injil Yesus Kristus, “terutama pada era perubahan yang sangat mendalam dalam diri manusia sebagaimana yang sedang mereka alami dewasa ini” (Surat Apostolik,Porta Fidei, no. 8).

Sejatinya, salah satu kendala terhadap semangat untuk berevangelisasi adalah krisis iman. Krisis ini tidak hanya mendera dunia Barat, tapi juga ternyata telah mendera sebagian besar umat manusia, yang justru sedang mengalami lapar dan haus akan Allah. Karena itu haruslah dihadirkan dan dibawakan roti dan air hidup, seperti seorang perempuan Samaria yang pergi ke sumur Yakub dan bercakap-cakap dengan Kristus. Sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Yohanes, cerita tersebut sangat menarik (bdk. Yoh 4:1-30): perempuan itu bertemu dengan Kristus, yang meminta minum dari padanya. Tetapi kemudian Yesus berbicara kepadanya tentang air baru yang dapat memuaskan dahaga untuk selama-lamanya. Pada awalnya perempuan itu tidak memahami, karena dia berada pada tingkat makna material saja. Tetapi perlahan-lahan perempuan itu dibimbing oleh Tuhan untuk mengalami suatu peziarahan iman yang menghantar perempuan itu mengenal Diri-Nya sebagai Mesias. Dan St. Agustinus mengatakan tentang hal ini: “setelah menerima Kristus Tuhan dalam hatinya, apa lagi yang bisa dilakukan oleh perempuan tadi selain meninggalkan timbanya dan lari ke kampung untuk mewartakan kabar baik?” (Bdk.Homili 15, 30).

Perjumpaannya dengan Kristus sebagai seorang Pribadi yang hidup, yang mampu memuaskan dahaga batin, mau tidak mau menghantar orang kepada keinginan untuk berbagi dengan orang lain tentang sukacita atas kehadiran-Nya dan membuat Diri-Nya semakin dikenal, supaya semua orang dapat mengalami sukacita tersebut. Sangat perlulah untuk memperbarui semangat untuk mengkomunikasikan iman untuk mengembangkan suatu evangelisasi baru bagi jemaat-jemaat dan negara-negara dengan tradisi Kristen yang sangat kuat namun telah kehilangan rujukan dengan Allah sehingga mereka diharapkan dapat menemukan kembali kegembiraan dalam beriman. Perhatian untuk evangelisasi tidak boleh pernah ada di pinggiran kegiatan-kegiatan gerejawi dan kehidupan pribadi orang-orang Kristen. Sebaliknya, evangelisasi harus menjadi karakter utama dalam kesadaran bahwa mereka adalah tujuan dari pewartaan Injil tersebut dan pada saat yang sama, menjadi misionaris-misionaris Injil. Inti dari pewartaan Injil selalu sama: yaituKerygma tentang Kristus yang wafat dan bangkit kembali demi keselamatan dunia;Kerygma tentang kasih Allah yang mutlak dan total bagi setiap pria dan wanita, yang mencapai puncaknya pada perutusan Putera Tunggal yang kekal abadi, Tuhan Yesus, yang tidak merasa terhina untuk mengambil kerapuhan kodrat manusiawi kita, mencintai dan menebus kodrat manusiawi yang rapuh itu dari dosa dan kematian melalui pengurbanan Diri di kayu Salib.

Iman kepada Allah, dalam proyek cinta kasih yang terlaksana dalam Kristus, pertama-tama dan terutama adalah suatu hadiah dan rahasia (misteri) yang harus diterima dalam sanubari dan dalam kehidupan dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Namun, iman adalah karunia yang diberikan kepada kita untuk dibagikan. Iman adalah suatu bakat yang diterima supaya dapat menghasilkan buah. Iman adalah cahaya yang tidak boleh disembunyikan, melainkan harus menerangi seluruh rumah. Inilah karunia yang telah diperbuat bagi kita dalam kehidupan kita dan yang tidak boleh disimpan hanya untuk diri kita sendiri.
Pewartaan Menjadi Amal Kasih

“Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!”, demikian seruan Rasul Paulus (1 Kor 9:16). Ayat ini memiliki gaung yang kuat bagi setiap orang Kristen dan bagi setiap jemaat Kristen di seluruh dunia. Kesadaran misioner ini juga telah menjadi unsur alamiah bagi Gereja-gereja di tanah-tanah misi, yang sebagian besar anggotanya masih muda, meskipun mereka sendiri masih membutuhkan para misionaris. Banyak imam, biarawan-biarawati dari berbagai belahan dunia, banyak kaum awam dan bahkan seluruh keluarga meninggalkan negara mereka dan komunitas lokal mereka pergi ke Gereja-gereja lain untuk bersaksi dan mewartakan nama Kristus, di mana manusia menemukan keselamatan di dalam nama-Nya. Perutusan semacam ini merupakan ungkapan persekutuan yang mendalam, berbagi dan beramal di antara Gereja-gereja, supaya setiap pria dan wanita dapat mendengar atau mendengarkan kembali pewartaan yang menyelamatkan dan merayakan sakramen-sakramen, sumber kehidupan sejati.

Bersama dengan tanda iman yang luhur-mulia ini dan yang telah diubah menjadi cinta, saya mengenang kembali dan berterima kasih kepada Serikat-serikat Misioner Kepausan, yang telah menjadi sarana-sarana kerjasama dalam misi universal Gereja di seluruh dunia. Melalui aktivitas Serikat-serikat Misioner Kepausan tersebut, pewartaan Injil menjadi suatu tindakan nyata demi sesama, keadilan bagi yang paling miskin dan pendidikan di kampung-kampung yang terpencil dimungkinkan. Demikian juga bantuan medis di daerah-daerah terpencil, pembebasan dari kemiskinan, rehabilitasi terhadap yang terpinggirkan, dukungan untuk pembangunan masyarakat, solusi terhadap perpecahan suku dan hormat terhadap kehidupan dalam semua tahap-nya, dimungkinkan.

Saudara-saudari yang terkasih, saya mohon pada hari misi evangelisasi bagi bangsa-bangsa (ad gentes), khususnya bagi para pelayan, suatu pencurahan Roh Kudus bagi mereka, agar rahmat Allah memampukan mereka untuk memajukan misi evangelisasi dengan teguh dalam sejarah dunia. Bersama dengan Beato John Henry Newman, saya berdoa: “Ya Tuhan, dampingilah para misionaris-Mu di tanah-tanah misi, taruhlah kata-kata yang benar di bibir mereka dan buatlah jerih payah mereka menghasilkan buah berlimpah.” Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Gereja dan Bintang Evangelisasi, menyertai semua misionaris Kabar Sukacita (Injil).

Dari Vatikan, 6 Januari 2012, Pesta Penampakan Tuhan
Paus Benediktus XVI

Keterangan: Terjemahan resmi oleh Karya Kepausan Indonesia (KKI),
d.a. Kantor KWI Jl Cut Mutia 10 Jakarta Pusat.
Hari Minggu Misi Sedunia ke-86 ialah 21 Oktober 2012

Hari Pangan Sedunia 2012


Membangun Kecukupan Pangan Bagi Semua
“Gereja Sebagai Komunitas Berbagi Pangan”


a. Manusia dan Sumber Daya Pangan
Pada hari keenam Allah menciptakan manusia. Manusia diciptakan sebagai puncak dari segala makhluk ciptaan Allah. Tuhan menaruh perhatian istimewa kepadanya. Allah memberkati mereka dan memberikan perintah kepada mereka untuk beranak cucu dan untuk menguasai segala binatang yang diciptakan-Nya itu. Allah juga memberikan kepada mereka segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji sebagai makanan mereka. Sedangkan kepada binatang-binatang yang diciptakan-Nya Allah memberikan tumbuh-tumbuhan hijau sebagai makanan mereka. Manusia hidup dari buah-buahan, tumbuh-tumbuhan dan hewan hasil perburuan. Keadaan dunia sebagaimana dimaksudkan semula oleh Allah adalah kehidupan yang serba damai. Keadaan ideal ini terganggu ketika manusia jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej. 9,3).

Dosa manusia ditampakkan dalam perubahan cara pandang, sikap dan tindakan manusia terhadap alam ciptaan. Alam ciptaan ditempatkan sebagai oybek dan pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan hidup manusia. Pekerjaan memelihara alam ciptaan sebagai tugas dan perutusan yang diberikan Allah kepada manusia digantikan dengan menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam yang tanpa batas. Hal ini mengakibatkan dampak pada kerusakan lingkungan, mengancam kelestarian alam ciptaan, dan bahkan membahayakan keberlangsungan hidup manusia sendiri. Sumber daya pangan yang terkandung dalam sumber daya alam pun menjadi rusak. Kerusakan ini akan sangat mempengaruhi kecukupan dan keberlangsungan pangan bagi hidup manusia. "Di balik perusakan alam yang bertentangan dengan akal sehat ada kesesatan antropologis, yang sayangnya memang sudah tersebar luas. Manusia bukannya menjalankan tugasnya bekerjasama dengan Allah di dunia. Ia justru malahan mau menggantikan tempat Allah, dan dengan demikian akhirnya membangkitkan pemberontakan alam, yang tidak diaturnya, tetapi justru diperlakukan secara sewenang-wenang" (Centisimus Anus art. 37).

Manusia harus menyadari bahwa kuasa yang diberikan Allah kepadanya bukanlah kuasa untuk memanipulasi dan mendominasi. Peran Allah dalam mencipta dan memelihara seluruh alam, juga menjadi tugas manusia. Manusia harus membangun kembali alam yang telah rusak dan memelihara kelestariannya. Dengan demikian, alam semesta sebagai sumber daya dukung pangan bagi kebutuhan hidup manusia terjaga untuk memenuhi kecukupan pangan keberlangsungan hidup manusia.

b. Situasi dan Kondisi Pangan Indonesia 
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas hidup. Pada saat ini situasi pangan di Indonesia cukup kritis. Departemen Kesehatan mencatat sekitar 5 juta atau 27,5 persen balita menderita kurang gizi dan 1,5 juta di antaranya memiliki status gizi buruk. Selain itu 110 kabupaten/kota ada kecenderungan memiliki balita kurang gizi (termasuk gizi buruk) di atas 30 persen. Menurut WHO (Badan Kesehatan PBB), kecenderungan gizi buruk Indonesia masuk kategori sangat tinggi (Data Depkes, 2005).

Lemahnya kemampuan Indonesia dalam memproduksi aneka bahan pangan menyebabkan besarnya ketergantungan terhadap pangan impor. Tahun 2007 impor beras rata-rata 2 juta ton per tahun, gula 1,6 juta ton, jagung 1,5 juta ton, kedelai 1,2 juta ton, gandum 4,5 juta ton, sapi 400.000 ekor, daging beku 30.000 ton, sementara impor susu dan produk turunannya mencapai 70 persen dari total kebutuhannya. Lemahnya produksi pangan nasional salah satunya disebabkan oleh sempitnya lahan pertanian. Luasan lahan pertanian tanaman pangan cenderung menurun. Pada periode tahun 2000-2005 terjadi penurunan 0,17 persen per tahun. Ini terjadi karena (1) perluasan area perkebunan yang pesat mengalahkan lahan pertanian tanaman pangan, (2) program perluasan areal pertanaman dari pemerintah hanya 30.000 hektar per tahun, (3) proses konversi lahan menjadi nonpertanian yang sangat pesat, dan (4) tingginya peningkatan jumlah rumah tangga petani dalam sepuluh tahun terakhir (dari 20,8 juta menjadi 25,6 juta.

Kemampuan produksi pangan yang berbeda antar wilayah dan akibat perbedaan iklim/musim merupakan tantangan pendistribusian pangan kepada konsumen di seluruh wilayah sepanjang waktu. Sering terjadi ketidakstabilan pasokan sehingga timbul kelangkaan dan kenaikan harga pangan di berbagai wilayah. Masalah distribusi pangan antara lain terbatasnya prasarana 

c. Membangun Sistem Pangan Komunitas 
Menjawab permasalahan kecukupan pangan di Indonesia, alternatifnya adalah membangun kedaulatan pangan komunitas. Kedaulatan pangan komunitas menawarkan sebuah sistem pangan alternatif di tingkat lokal. Sistem ini dikembangkan berbasis hak asasi manusia dan berdasar pada kecerdasan dan sumber daya lokal. Tujuan sistem pangan komunitas adalah mengembalikan pangan sebagai hak rakyat, dengan cara melokalisasi pangan. Sistem pangan lokal menjadi perlawanan terhadap sistem pangan global yang dimotori perusahaan transnasional. Sebagai hak asasi paling dasar, pangan harus berada dalam kendali rakyat agar pemenuhannya dapat terjamin dan berkelanjutan. Sistem ini diharapkan mampu membuat masyarakat lebih tahan atau lentur terhadap gempuran globalisasi, perubahan iklim, dan tantangan lainnya.

Sistem pangan alternatif ini menekankan pada urutan prioritas. Hasil produksi diutamakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga desa. Sisanya disimpan sebagai cadangan pangan untuk antisipasi paceklik. Perdagangan dilakukan ketika kebutuhan pangan hingga musim berikutnya telah terjamin. Perdagangan lokal menjadi prioritas dengan memperpendek jarak antara produsen dan konsumen.

Sistem pangan komunitas ini dapat terwujud jika beberapa persyaratan terpenuhi. Anggota komunitas harus bergotong royong memproduksi sendiri aneka pangan yang dibutuhkan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya di wilayah mereka. Pemenuhan pangan berbasis lokal akan menurunkan bahkan menghilangkan pemborosan biaya transport dan pencemaran akibat impor pangan Organisasi masyarakat di tingkat lokal yang kuat dan cerdas juga akan menjadi kekuatan untuk memperjuangkan hak pangan mereka. Pembaruan sistem ini akan memberi pilihan leluasa kepada komunitas lokal guna membuat kebijakan pangan mereka secara berdaulat dalam mengelola produksi, penyimpanan, distribusi, serta konsumsi padi dan bahan pangan lainnya.

d. Gereja Sebagai Komunitas Berbagi Pangan 
Gereja dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja mengimani, bahwa Kristus telah wafat dan bangkit bagi semua orang. la mengurniakan kepada manusia terang dan kekuatan melalui Roh-Nya, supaya manusia mampu menanggapi panggilannya yang amat luhur (Gaudium et Spes art. 10). Panggilan manusia diarahkan kepada hidup kesucian Allah. Setiap ciptaan berasal dari kasih Allah, dan setiap ciptaan dibentuk oleh kasih Allah, dan setiap ciptaan diarahkan menuju kasih Allah (Caritas in Veritate art. 2). Karena manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, menerima titah-Nya, supaya menakhlukkan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya, serta menguasai dunia dalam keadilan dan kesucian; ia mengemban perintah untuk mengakui Allah sebagai Pencipta segala-galanya, dan mengarahkan diri beserta seluruh alam kepada-Nya, sehingga dengan terbawahnya segala sesuatu kepada manusia nama Allah sendiri dikagumi di seluruh bumi (Gaudium et Spes Art. 34).

"Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang jaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga" (Gaudium et Spes art. 1). Oleh karena itu, kehadiran dan keterlibatan Gereja di tengah-tengah umat manusia yang mengalami situasi dan kondisi krisis pangan sebagai akibat perilaku manusia yang tidak adil dan serakah, yang mengancaman keutuhan ciptaan dan merusak sumber-sumber pangan akan menjadi sangat nyata. 

Gereja perlu menyadari bahwa kehadiran dan keterlibatan penyadaran kemanusiaan dalam hal tata kelola pangan bukanlah pertama-tama persoalan teknis, tetapi bagaimana menyadarkan umat bersama masyarakat menemukan dan menata kembali pemanfaatan alam semesta yang berkeadilan sosial dan berkeutuhan ciptaan dan mecari jalan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan dan kecukupan pangan bagi semua. Membangun sistem komunitas pangan adalah salah satu alternatif yang bisa dibuat oleh Gereja sebagai komunitas murid-murid Kristus. Ekaristi sebagai pusat dan puncak liturgi Gereja, yang dihayai dan dihidupi umat bisa menjadi dasar dan inspirasi untuk mengembangkan Gereja sebagai komunitas berbagi pangan.

Gereja sebagai komunitas berbagi pangan bisa dikembangkan di kelompok-kelompok basis, lingkungan, wilayah, stasi dan paroki. Dalam konteks kategorial, Gereja sebagai komunitas berbagi pangan dapat juga dikembangkan di sekolah-sekolah, komunitas-komunitas religius, dan organisasi kemasyarakatan. Solidaritas, subsidiaritas dan kemandirian menjadi semangat dasar yang harus ada dan dihidupi kalau Gereja mengarah sebagai komunitas berbagi pangan. Beberapa contoh gerakan moral yang bisa menggambarkan Gereja sebagai komunitas berbagi pangan, yang memungkinkan untuk membangun kecukupan pangan bagi semua adalah :

1. Membangun Lumbung Pangan
Lumbung pangan bisa dimengerti sebagai tempat atau juga bisa dimengerti dalam arti sarana membangun gerakan solidaritas pangan. Sebagai tempat, berarti lumbung pangan menjadi wadah untuk menyimpan produksi pangan yang akan digunakan pada saat-saat tertentu. Sebagai sarana gerakan solidaritas pangan, lumbung pangan bisa dimengerti sebagai tempat perjumpaan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan (solidaritas, subsidiaritas, kemandirian). Lumbung pangan ini bisa dibuat oleh Gereja mulai dari tingkatan paroki sampai lingkungan atau kelompok basis. Tujuan lumbung pangan ini adalah untuk mengembangkan nilai kesetiakawanan sosial dalam berbagai pangan, terutama kepada mereka yang berkekurangan pangan.

2. Komunitas Mandiri Pangan
Kemandirian Pangan adalah kemampuan produksi pangan yang beranekaragam yang dikelola komunitas yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup dan berkelanjutan sampai ketingkat keluarga. Keluarga sebagai komunitas terkecil dari masyarakat dapat membangun kemandirian pangan dengan memaksimalkan tata kelola pekarangan untuk produksi bahan pangan. Gereja sebagai komunitas murid-murid Kristus, dalam hal ini bisa menjadi "terang dan garam" untuk menginspirasikan, mempelopori dan menganimasi terbangunnya gerakan komunitas mandiri pangan ini.

3. Keanekaragaman Pangan
Pangan tidak sama dengan beras. Beras adalah salah satu bagian dari pangan yang ada. Mengembangkan aneka ragam pangan dari berbagai bahan pangan non beras (umbi-umbian) akan mendorong kecukupan pangan bagi pemenuhan kebutuhan pangan. Pangan dari bahan pangan umbi-umbian bisa menjadi alternatif 'selingan' beras dalam konsumsi pangan sehari-hari.

4. Hormat dan Hargailah Pangan
Lembaga formal, pendidikan Katolik, baik yang dikembangkan oleh keuskupan atau tarekat religus/konggregasi dapat menjadi tempat gerakan; untuk hormat dan menghargai pangan. Kebiasaan dan cara makan anak-anak kerap kali kurang menaruh rasa hormat dan menghargai pangan. Kebiasaan menyisakan makanan (membuang-buang makanan) 'atau` memilih-milih makanan, dalam arti luas bisa dikatakan merebut hak pangan orang lain yang kelaparan. Oleh karena itu pendidikan pangan yang berkeadilan dan bercinta kasih perlu untuk diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang.

e. Penutup 
Hari Pangan Sedunia (HPS)Gereja Katolik sebagai gerakan moral keutuhan ciptaan, mengarahkan dan menggerakan umat dan masyarakat untuk mempunyai rasa hormat kepada ciptaan. Alam semesta sebagai tempat dan singgasana Allah akan mengalirkan kehidupan. Oleh karena itu, Gereja sebagai Sakramen Keselamatan Allah, mengemban tugas perutusan untuk ikut terlibat dalam manata alam semesta ini dengan adil dan cinta kasih. Dengan demikian, Gereja sebagai komunitas pangan, baik jasmani maupun rohani, secara nyata hadir dalam membangun kecukupan semua.


Bahan refleksi Bersama : 
1. Hari Pangan Sedunia (HPS) atau World Food Day lahir dalam sidang ke 20 Organisasi Pangan Sedunia (Food and Agrculture Organization), dan sejak tahun 1981 setiap tanggal 16 Oktober, yang juga bertepatan hari jadi FAO, dunia memperingati HPS, demikian juga Gereja Katolik. Tujuan perayaan dan peringatan HPS adalah membangkitkan dan meningkatkan kesadaran, perhatian dan pemahaman umat manusia terhadap kesetiakawanan dan kerjasama nasional maupun internasional dalam mengatasi masalah-masalah pangan, gizi dan kemiskinan, selain itu menempatkan penghargaan dan penghormatan kepada para petani yang mengelola dan mengusahakan sumber-sumber pangan. Bagaimana Gereja Katolik memaknai perayaan dan peringatan HPS dalam konteks membangun kecukupan pangan bagi semua. 

2. Belum semua semua orang berkecukupan pangan, baik dalam hal kuantitas pangan ataupan kualitas pangan. Gereja Katolik sebagai komunitas murid-murid Kristus selalu mengadakan perjamuan "Pangan Abadi" dalam Ekaristi. Bersumber dan mengalir dari Ekaristi, gerakan pemberdayaan umat yang bagaimana, yang dapat digali untuk membangun gerakan “Lumbung Pangan", "Komunitas Mandiri Pangan", "Keanekaragaman Pangan" dan "Hormat dan Hargailah Pangan" sehingga Gereja secara kongkret terlibat aktif dalam membangun kecukupan pangan bagi semua. Dengan demikian Gereja sebagai komunitas berbagi pangan dapat diwujudkan secara nyata dalam komunitas basis di lingkungan, di paroki, dan di Keuskupan.

Cari Blog Ini