Minggu, 10 Juni 2012

Hari RayaTubuh & Darah Kristus


Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, saya tertarik dengan sesuatu yang saya dapatkan pada Ekaristi di gereja. Ada satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya, mengapa Yesus memberikan perumpamaan tentang diri-Nya sebagai tubuh dan darah yang dapat dimakan dan diminum oleh manusia? Banyak sekali perumpamaan yang sudah diajarkan oleh Yesus kepada para murid, dari perumpamaan yang mudah ditafsirkan hingga yang sulit sekali ditafsirkan oleh para murid. Di penghujung karya-Nya di bumi, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai tubuh dan darah yang disimbolkan dalam roti dan anggur pada perjamuan terakhir.
Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa harus demikian? Kok tidak *misalkan* wajah atau rambut atau jantung atau hati atau otak, melainkan secara sederhana: tubuh dan darah. Inilah yang menjadi misteri kehidupan rohani kita, yaitu Ekaristi menjadi puncak dari keutamaan hidup kita. Secara simbolik, dengan menyantap roti dan anggur bersama dalam sebuah perjamuan: jika kita menghayati makna sesungguhnya dari perjamuan itu, maka roti dan anggur itu mengalami transubstantiatio (perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah). Namun, banyak sekali yang tidak paham makna dari tubuh dan darah itu sendiri.
Secara pribadi, saya mencoba menghayati tubuh dan darah itu dalam istilah yang dapat saya gunakan sehari-hari.

Tubuh Kristus
Jika kita mendengar istilah 'tubuh', yang terbayang dalam benak kita adalah jasad manusia yang terdiri dari kepala, badan, alat gerak, serta organ-organ tubuh di dalamnya. Tubuh memiliki bagian-bagian yang berfungsi secara unik dan membangun sebuah satu kesatuan manusia. Bagian-bagian tubuh yang bersatu inilah yang selanjutnya diidentikkan dengan Gereja. Kepada Petrus, Yesus berkata bahwa dialah batu penjuru di mana di atasnya akan dibangun Gereja-Nya.
Walaupun terdiri dari berbagai macam karisma, mereka bersatu padu membentuk suatu komunitas yang 'hidup'. Siapa yang menghidupkan? Tentu saja Roh Kudus, yang telah dicurahkan kepada manusia. Hanya dengan menyebut nama 'Yesus', antara saya dan Anda yang percaya bisa saling kenal dan akrab. Bahkan tak heran jika dalam suatu komunitas Gereja, mereka bersatu padu untuk saling melayani dalam suatu perayaan Ekaristi (ada yang bertugas sebagai lektor, prodiakon, pelayan persembahan, ada juga tim komunikasi sosial, pemuda, remaja, anak-anak dan lain-lain). Merekalah yang meramaikan gereja dan menjadikan Gereja bukan hanya organisasi, melainkan kehidupan.

Darah Kristus
Bagian kedua adalah 'darah'. Jika saya mendengar istilah itu, saya mengingat bahwa oleh karena darah-lah seluruh organ tubuh kita berfungsi. Darah mengalir di seluruh tubuh untuk melalui beberapa tempat: jantung untuk dipompa, paru-paru untuk dibersihkan, dan seluruh tubuh untuk dimanfaatkan. Sebagai darah, Yesus Kristus ingin memperkenalkan diri-Nya sebagai firman yang hidup dan menghidupi tubuh Gereja-Nya. Liturgi Ekaristi, tentu tidak pernah lepas dengan liturgi sabda karena keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan (inilah keterkaitan antara tubuh dan darah). 
Melalui bacaan firman Tuhan yang kita renungkan sehari-hari baik secara pribadi maupun ketika berada dalam Ekaristi, tentu kita mendapatkan banyak hal. Bahkan dalam satu perikop yang sama, kita bisa mendapatkan penafsiran yang berbeda-beda. Seperti di dalam jantung, firman kehidupan ini didorong ke seluruh tubuh Gereja agar setiap umat memperoleh nutrisi rohani yang segar dari esensi kemurnian firman itu sendiri, Yesus. Seperti juga layaknya di dalam paru-paru, firman kehidupan ini senantiasa dimurnikan oleh kuasa Roh Kudus yang tinggal dan senantiasa mengilhami kita sebagai umat Tuhan pada masa kini.
Kita patut bersyukur, mengapa Yesus telah memperkenalkan diri-Nya sebagai tubuh dan darah. Siapakah yang masih merasa lapar dan haus, jika kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita? Karena Dia telah menyediakan makanan dan minuman rohani itu melalui gereja dan firman Tuhan yang selalu baru setiap pagi. Untuk itulah, Ekaristi menjadi puncak keutamaan hidup kita sebagai orang-orang beriman.
Yesus-lah misteri, dan misteri itu hanya akan terjawab jika kita mengunyah apa yang sudah diperkenalkan-Nya kepada kita. Jadi barangsiapa ingin mengerti dan memahami rahasia ini, baiklah dia mendengar dan menyantap roti kehidupan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini