Cari Blog Ini

Senin, 26 Maret 2012

Salib Kristus Teladan dan Sumber Kekuatan Kita

Oleh: Rm. Monang Damanik, Pr
Ketika mengunjungi seorang bapak yang sakit bertahun-tahun, saya sempat mendapat pertanyaan mengenai salib. Bapak itu bertanya: “Apakah ini yang dinamakan salib?  Kalau memang ini salib kapan salib saya ini berakhir?” 
Orang lain bisa jadi juga bertanya seperti itu, misalnya: orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat.   Orang hidup bertetangga, hidup di tengah-tengah masyarakat tidak selalu manis dan indah, kadangkala timbul juga percekcokan, keributan. Apakah ini juga dinamakan salib? 
Akan begitu banyak pertanyaan sekitar salib yang bisa diungkapkan oleh banyak orang.  Apakah salib itu selamanya adalah penderitaan? Siapa yang menjadi sumber teladan dalam menghayati salib di dunia ini?
 
Arti salib 
Kata “salib” dalam bahasa Indonesia berarti “dua batang kayu bersilang,” “kayu bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi,” atau “tanda silang.” Istilah akrab lainnya adalah “kayu palang.” Akan tetapi, kalau dikaitkan dengan pribadi Yesus, salib bukanlah sebatas pengertian yang duniawi, melainkan begitu bermakna. Salib yang awalnya adalah tanda yang hina menjadi tanda yang dipuja; dari tanda kekalahan menjadi lambang kehormatan, kemenangan, kemuliaan. Bahkan dalam The Story of Christianity (Michael Collins & Matthew A. Price)  salib menjadi tanda kemenangan sudah terbukti dalam sejarah Gereja. Cerita singkatnya, dengan tanda salib Kaisar Konstantinus Agung, penguasa kekaisaran Romawi, mampu mengalahkan musuh-musuhnya, membangun kebebasan religius dan mengakhiri kekafiran.  
Dari Yang Biasa Menjadi Luar Biasa
Pada mulanya peristiwa penyaliban merupakan suatu peristiwa yang biasa. Waktu itu sudah sangat biasa orang dihukum gantung hingga mati pada sebuah salib. Peristiwa penyaliban dianggap sebagai penyingkiran dan penyiksaan paling konyol bagi mereka yang melanggar hukum. Penyaliban itu hukuman yang paling sadis dan menjijikan. 
Namun, peristiwa itu menjadi amat menghebohkan ketika ada seseorang yang tidak sepatutnya dihukum dengan cara itu. Seorang tokoh memang selalu menciptakan cerita. Unsur “Who” inilah yang akan menentukan sebuah kisah menjadi begitu besar. Orang biasa disalibkan lalu meninggal adalah hal yang biasa. Menjadi kegemparan dan keterkejutan dunia ketika yang disalibkan dan wafat itu, bukan orang biasa, seorang tokoh besar, seorang hero (pahlawan). 
Begitu juga kisah yang dialami Yesus Kristus, dua ribu tahun yang lalu. Yesus Kristus itu bukanlah seorang yang jahat atau pemberontak seperti kebanyakan orang melaksanakan hukuman itu. Orang itu tulus dan benar, yang disanjung dan dimuliakan. Malah orang ini dianggap sebagai Tuhan. Orang inilah yang mengubah makna sebuah salib dari alat penyiksa yang hina menjadi alat pembebas siksaan. Penderitaan, sakit yang dialami-Nya adalah juga penderitaan kita.
Bagaimana menghadapi Salib?
Pada masa sekarang ini, salib telah menjelma dalam pelbagai bentuk hidup manusia. Masalah, kesulitan, derita, dan penyakit seringkali diidentikkan dengan salib dalam hidup manusia. Tiap orang, tiap keluarga, tiap pilihan hidup memiliki salibnya sendiri. Tidak ada satu pun pilihan hidup tanpa salib. Hanya, bentuk dan beratnya tidak sama. Kalau begitu, tiap manusia tidak mungkin meluputkan dirinya dari salib dalam hidup dan kerja sehari-hari. Selagi hayat dikandung badan, salib tetap ada. Bagaimanakah manusia dapat belajar untuk menghadapi dan memanggul salib dalam hidup-Nya? Tanpa proses pembelajaran rohani manusia akan kehilangan pegangan dalam hidup dan karyanya. 
Bagaimana saya, kita semua, seharusnya memanggul salib? Yang perlu diperhatikan adalah pembentukan sikap manusia dalam menghadapi dan memanggul salib. Apakah salib masih mendatangkan nilai dan hikmah dalam hidup manusia? Kerelaan dan jiwa besar sangat diperlukan dalam menghadapi salib kehidupan. Menjadi sedih atau susah dalam menghadapi masalah dalam hidup sama sekali bukan sikap arif, karena kesedihan atau kesusahan tidak pernah membantu manusia untuk keluar dari permasalahan. Malahan, kesedihan dan kesusahan yang berkepanjangan akan mendatangkan dampak samping dalam hidup manusia. Lalu, mau apa dan bagaimana?                     
Belajar dari Sang Guru
Salib di atas permukaan bumi bersifat sementara  dan akan mendatangkan hikmah kalau manusia mengambil sikap yang tepat dan benar menghadapi salib. Kacamata positif perlu segera dikenakan supaya manusia dapat memetik makna positif yang ditawarkan oleh salib dalam hidup manusia. Sebagai tantangan, salib pada dasarnya akan menguji dan melatih kesabaran dan daya tahan kita sebagai manusia. 
William Chang dalam sebuah artikel ”Salib Bagian Hidup”, mengatakan bahwa Salib tidak lagi dipandang sebagai beban hidup, tetapi bagian integral dalam hidup manusia yang dapat menjadi jalan penuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup. Di dunia kita terdapat banyak jalan yang dicari dan ditempuh anak manusia. Namun, salib memang bukan jalan yang biasanya lebar, licin, halus, namun jalan yang sempit, berkerikil, dan terkadang sulit dilewati. Jalan ini dapat dilukiskan sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Salib tiap manusia akan terasa lebih bermakna kalau dikaitkan dengan salib, tempat Sang Guru yaitu Tuhan Yesus, mengakhiri hidup-Nya. Kesadaran ini akan memungkinkan kita menerima dan memanggul salib dalam hidup dan perjuangan sehari-hari. Salib kita cukup sering tak seberapa berat kalau dibandingkan dengan salib Sang Guru yang harus dipikul menjelang ajal-Nya. Darah Sang Guru tertumpah dengan memanggul salib. Namun, Dia tidak putus asa, sekalipun mengeluh dalam iman kepercayaan akan kuasa Bapa Surgawi. Masa depan masih terpampang di hadapan kita setelah memanggul salib bersama Sang Guru. Bukankah tiada mahkota tanpa salib? Tiada Minggu kebangkitan tanpa salib Jum’at Agung? 
     
Pesta Salib Suci: 14 September
Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci pada 14 September, yang biasa juga disebut Pesta Salib Suci. Perayaan Liturgis ini berasal dari Yerusalem sekitar abad IV, tepatnya sebagai hari peringatan ditemukannya Kayu Salib Yesus Kristus. Salib Yesus Kristus ini ditemukan oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung. Sebuah gereja dibangun di sana sebagai penghormatan terhadap Salib Tuhan.
    
Setiap tanggal 14 September, Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Namun, jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, tingkatnya naik menjadi setara dengan Minggu, yakni menjadi Hari Raya Salib Suci. Pemuliaan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan.  
Selamat Berpesta Salib Suci tanggal 14 September. Mari kita terus mencari dan menemukan makna dan pengharapan di balik salib. 
Sumber:
Michael Collins dan Matthew A. Price, The Story of Christianity, Yogyakarta, Kanisius, 2006.
Mgr, Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta, Obor, 2004. 
William Chang, “Salib Bagian Hidup”, dalam SALIB: SIMBOL TEROR, TEROR SIMBOL, editor Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha, Bandung, SangKris 2003.       
W.J.S.Poerwadarmint a, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1983.





Oleh: Rm. Monang Damanik, Pr

Ketika mengunjungi seorang bapak yang sakit bertahun-tahun, saya sempat mendapat pertanyaan mengenai salib. Bapak itu bertanya: “Apakah ini yang dinamakan salib? Kalau memang ini salib kapan salib saya ini berakhir?” 

Orang lain bisa jadi juga bertanya seperti itu, misalnya: orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Orang hidup bertetangga, hidup di tengah-tengah masyarakat tidak selalu manis dan indah, kadangkala timbul juga percekcokan, keributan. Apakah ini juga dinamakan salib? 

Akan begitu banyak pertanyaan sekitar salib yang bisa diungkapkan oleh banyak orang. Apakah salib itu selamanya adalah penderitaan? Siapa yang menjadi sumber teladan dalam menghayati salib di dunia ini?



Arti salib 

Kata “salib” dalam bahasa Indonesia berarti “dua batang kayu bersilang,” “kayu bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi,” atau “tanda silang.” Istilah akrab lainnya adalah “kayu palang.” Akan tetapi, kalau dikaitkan dengan pribadi Yesus, salib bukanlah sebatas pengertian yang duniawi, melainkan begitu bermakna. Salib yang awalnya adalah tanda yang hina menjadi tanda yang dipuja; dari tanda kekalahan menjadi lambang kehormatan, kemenangan, kemuliaan. Bahkan dalam The Story of Christianity (Michael Collins & Matthew A. Price) salib menjadi tanda kemenangan sudah terbukti dalam sejarah Gereja. Cerita singkatnya, dengan tanda salib Kaisar Konstantinus Agung, penguasa kekaisaran Romawi, mampu mengalahkan musuh-musuhnya, membangun kebebasan religius dan mengakhiri kekafiran. 

Dari Yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Pada mulanya peristiwa penyaliban merupakan suatu peristiwa yang biasa. Waktu itu sudah sangat biasa orang dihukum gantung hingga mati pada sebuah salib. Peristiwa penyaliban dianggap sebagai penyingkiran dan penyiksaan paling konyol bagi mereka yang melanggar hukum. Penyaliban itu hukuman yang paling sadis dan menjijikan. 

Namun, peristiwa itu menjadi amat menghebohkan ketika ada seseorang yang tidak sepatutnya dihukum dengan cara itu. Seorang tokoh memang selalu menciptakan cerita. Unsur “Who” inilah yang akan menentukan sebuah kisah menjadi begitu besar. Orang biasa disalibkan lalu meninggal adalah hal yang biasa. Menjadi kegemparan dan keterkejutan dunia ketika yang disalibkan dan wafat itu, bukan orang biasa, seorang tokoh besar, seorang hero (pahlawan). 

Begitu juga kisah yang dialami Yesus Kristus, dua ribu tahun yang lalu. Yesus Kristus itu bukanlah seorang yang jahat atau pemberontak seperti kebanyakan orang melaksanakan hukuman itu. Orang itu tulus dan benar, yang disanjung dan dimuliakan. Malah orang ini dianggap sebagai Tuhan. Orang inilah yang mengubah makna sebuah salib dari alat penyiksa yang hina menjadi alat pembebas siksaan. Penderitaan, sakit yang dialami-Nya adalah juga penderitaan kita.

Bagaimana menghadapi Salib?

Pada masa sekarang ini, salib telah menjelma dalam pelbagai bentuk hidup manusia. Masalah, kesulitan, derita, dan penyakit seringkali diidentikkan dengan salib dalam hidup manusia. Tiap orang, tiap keluarga, tiap pilihan hidup memiliki salibnya sendiri. Tidak ada satu pun pilihan hidup tanpa salib. Hanya, bentuk dan beratnya tidak sama. Kalau begitu, tiap manusia tidak mungkin meluputkan dirinya dari salib dalam hidup dan kerja sehari-hari. Selagi hayat dikandung badan, salib tetap ada. Bagaimanakah manusia dapat belajar untuk menghadapi dan memanggul salib dalam hidup-Nya? Tanpa proses pembelajaran rohani manusia akan kehilangan pegangan dalam hidup dan karyanya. 

Bagaimana saya, kita semua, seharusnya memanggul salib? Yang perlu diperhatikan adalah pembentukan sikap manusia dalam menghadapi dan memanggul salib. Apakah salib masih mendatangkan nilai dan hikmah dalam hidup manusia? Kerelaan dan jiwa besar sangat diperlukan dalam menghadapi salib kehidupan. Menjadi sedih atau susah dalam menghadapi masalah dalam hidup sama sekali bukan sikap arif, karena kesedihan atau kesusahan tidak pernah membantu manusia untuk keluar dari permasalahan. Malahan, kesedihan dan kesusahan yang berkepanjangan akan mendatangkan dampak samping dalam hidup manusia. Lalu, mau apa dan bagaimana? 

Belajar dari Sang Guru

Salib di atas permukaan bumi bersifat sementara dan akan mendatangkan hikmah kalau manusia mengambil sikap yang tepat dan benar menghadapi salib. Kacamata positif perlu segera dikenakan supaya manusia dapat memetik makna positif yang ditawarkan oleh salib dalam hidup manusia. Sebagai tantangan, salib pada dasarnya akan menguji dan melatih kesabaran dan daya tahan kita sebagai manusia. 

William Chang dalam sebuah artikel ”Salib Bagian Hidup”, mengatakan bahwa Salib tidak lagi dipandang sebagai beban hidup, tetapi bagian integral dalam hidup manusia yang dapat menjadi jalan penuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup. Di dunia kita terdapat banyak jalan yang dicari dan ditempuh anak manusia. Namun, salib memang bukan jalan yang biasanya lebar, licin, halus, namun jalan yang sempit, berkerikil, dan terkadang sulit dilewati. Jalan ini dapat dilukiskan sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Salib tiap manusia akan terasa lebih bermakna kalau dikaitkan dengan salib, tempat Sang Guru yaitu Tuhan Yesus, mengakhiri hidup-Nya. Kesadaran ini akan memungkinkan kita menerima dan memanggul salib dalam hidup dan perjuangan sehari-hari. Salib kita cukup sering tak seberapa berat kalau dibandingkan dengan salib Sang Guru yang harus dipikul menjelang ajal-Nya. Darah Sang Guru tertumpah dengan memanggul salib. Namun, Dia tidak putus asa, sekalipun mengeluh dalam iman kepercayaan akan kuasa Bapa Surgawi. Masa depan masih terpampang di hadapan kita setelah memanggul salib bersama Sang Guru. Bukankah tiada mahkota tanpa salib? Tiada Minggu kebangkitan tanpa salib Jum’at Agung? 



Pesta Salib Suci: 14 September

Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci pada 14 September, yang biasa juga disebut Pesta Salib Suci. Perayaan Liturgis ini berasal dari Yerusalem sekitar abad IV, tepatnya sebagai hari peringatan ditemukannya Kayu Salib Yesus Kristus. Salib Yesus Kristus ini ditemukan oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung. Sebuah gereja dibangun di sana sebagai penghormatan terhadap Salib Tuhan.



Setiap tanggal 14 September, Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Namun, jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, tingkatnya naik menjadi setara dengan Minggu, yakni menjadi Hari Raya Salib Suci. Pemuliaan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan. 

Selamat Berpesta Salib Suci tanggal 14 September. Mari kita terus mencari dan menemukan makna dan pengharapan di balik salib. 

Sumber:

Michael Collins dan Matthew A. Price, The Story of Christianity, Yogyakarta, Kanisius, 2006.

Mgr, Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta, Obor, 2004. 

William Chang, “Salib Bagian Hidup”, dalam SALIB: SIMBOL TEROR, TEROR SIMBOL, editor Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha, Bandung, SangKris 2003. 

W.J.S.Poerwadarmint a, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1983.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar