Cari Blog Ini

Senin, 26 Maret 2012

Minggu Palma

Minggu Palma pertama! Ketika itu seluruh penduduk kota tumplak
memadati tepi-tepi jalan raya. Dengan ranting daun palma, mereka
melambaikan tangan mereka. Jubah-jubah bertebaran di jalan-jalan
bagaikan permadani berwarna-warni. Mereka melompat. Mereka menari.
Mereka berteriak. Hosana!

Itulah ketika Yesus memasuki kota. Menunggang keledai. Bukan kuda
putih atau kereta kencana. Hosana!

Ada satu ketika, untuk waktu yang lama, saya melihat peristiwa di
Minggu Palma pertama itu sebagai ironi semata. Tentang kemunafikan
manusia, plintat-plintutnya massa, yang hari ini berteriak "Hosana!",
lalu esok harinya berteriak "Salibkan Dia!" dengan semangat dan gairah
yang sama. Tentang harapan-harapan mesiani yang melambung tinggi
tetapi, ah, amat dangkalnya; harapan bahwa Yesus akan muncul sebagai
panglima perang mandrasakti yang akan membebaskan seluruh bangsa dari
cengkeraman penjajah Roma dengan kekuatan senjata dan bahasa kuasa.

Sebab itu, saya selalu memahami Minggu Palma yang pertama itu sekadar
sebagai keramaian massa yang murahan, seperti pawai-pawai yang sering
saya saksikan. Yang hari ini hiruk-pikuk dan ramai setengah mati,
seolah-olah seluruh kota sesak bertabur bunga. Akan tetapi, keesokan
harinya senyap dan mati, cuma menyisakan timbunan sampah di sudut-
sudutnya.

Namun, kesan saya tentang Minggu Palma pertama itu kini tak lagi
begitu. Saya tahu, saya tak boleh menilai sebuah peristiwa di masa
lalu dengan kacamata saya sekarang ini. Saya harus belajar menghargai
makna sebuah peristiwa dalam konteksnya, bukan dalam konteks saya
saja.

Dan apakah yang saya peroleh? Membayangkan apa yang terjadi di Minggu
Palma pertama itu, mengingatkan saya kepada Emily Dickinson yang
pernah berteriak, "Ambillah semuanya yang ada padaku, namun berikanlah
kepadaku ekstase, rasa gembira yang meluap-luap!" Saya juga lalu
teringat pada sebuah kalimat dalam Jesus Christ, Superstar, bagian
dari nyanyian massa ketika Minggu Palma itu, yang begini bunyinya,
"Wahai Kristusku, Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat
lambaian tanganku?" ("Christ, You know I love you. Did You see I
waved?")

Minggu Palma adalah ketika mereka dalam ekstase, menyambut Yesus.
Minggu Palma adalah ketika mereka menyatakan cinta mereka kepada
Yesus, dengan lambaian daun palma.

Namun, kalau begitu, apakah pentingnya hal itu bagi Anda dan saya?

***

Jawab saya begini, Saudara. Bolehkah saya bertanya: kapankah terakhir
kali Anda mengalami ekstase, rasa gembira yang meluap-luap, ketika
Anda mengalami perjumpaan dengan Dia?

Atau, kapan terakhir kali Anda menyatakan cinta Anda kepada-Nya secara
nyata, walaupun tidak harus hanya dengan lambaian daun palma?

Bukankah mesti kita akui, bahwa penghayatan agamaniah kita selama ini
terasa begitu formal, begitu verbal, dan begitu rasional? Begitu
resmi, sehingga terasa mati. Cuma sarat dengan kata-kata, tetapi tanpa
rasa dan tanpa makna. Penuh dengan konsep-konsep yang masuk akal,
namun tidak menggugah dan tidak menyentuh hati.

Paling sedikit di Minggu Palma pertama itu, mereka merasa bebas dari
berbagai kekangan formalitas, dan menyatakan kesukacitaan mereka
dengan spontan, dan oleh karena itu dengan autentik.

Tak ada dalam liturgi resmi, bahwa mereka mesti menggelar jubah-jubah
mereka. Tak ada dalam skenario, bahwa mereka mesti membawa dan
melambai-lambaikan daun palma. Tak ada dalam peraturan, bahwa mereka
mesti berteriak "Hosana!" Tak ada rapat panitia atau seminar sehari
untuk memperdebatkan bagaimana cara dan bentuk yang terbaik untuk
menyambut Yesus yang besok akan memasuki kota. Tidak ada!

Yang ada hanyalah hati yang meluap-luap dengan sukacita. Dan kemudian
tindakan-tindakan yang sekadar menuruti getaran hati dan dorongan hati
nurani, bahkan naluri!

Yang ada hanyalah teriakan yang amat spontan, "Wahai Kristusku,
Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat lambaian tanganku?"
Tanpa rekayasa.

***

Menurut hemat saya, segi-segi inilah yang telah hilang dalam
spiritualitas dan religiositas kita. Autentisitas dan spontanitas.

Kita telah terjebak dalam sikap yang terlalu mengagungkan rasio. Tanpa
sadar, kita telah menjadi murid-murid Descartes. Cogito ergo sum. Aku
berpikir, karena itu aku ada.

Saya tidak menyangkali pentingnya akal. Keunikan manusia dibandingkan
dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan adalah bahwa manusia adalah
makhluk yang berpikir. Sebab itu, manfaatkanlah akal dan pergunakanlah
rasio Anda semaksimal mungkin!

Juga dalam sikap dan tindak agamaniah kita. Saya tidak pernah
beranggapan bahwa iman mesti bertentangan dengan akal. Atau, bahwa
iman datang dari Tuhan, sedang akal datang dari setan. O, sama sekali
tidak! Kita harus, begitu kata Yesus, mengasihi Tuhan juga dengan
sepenuh akal budi kita. Omong kosong kalau ada yang mengatakan bahwa
ia bisa mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun, yang ingin saya katakan adalah: betapa pun kita memanfaatkan
rasio dan akal, keduanya bukanlah segala-galanya. Ada kenyataan-
kenyataan yang melampaui akal. Yang tidak dapat dipahami dan tidak
dapat dijelaskan hanya dengan akal. Bukan karena ia irasional, namun
karena ia transrasional. Artinya: bukan karena ia bertentangan dengan
akal, melainkan karena ia melampaui akal.

Justru itulah hal paling indah dan paling dalam pada kehidupan
manusia. Komitmen manusia kepada sesuatu, sehingga ia rela berkorban
apa saja bahkan sampai melepas nyawa, tak pernah terbina jika ia hanya
memahaminya secara akaliah. Komitmen hanya terbentuk apabila secara
emosional ia benar-benar meyakininya sebagai soal hidup dan mati.

Dan kemudian, alangkah hambar dan dangkalnya cinta, bila orang cuma
mengikuti logika akal, dan tak bersedia mendengarkan getaran hati.

Iman juga begitu. Bila ia sekadar menyapa kepala, tapi tak pernah
meresap ke hati, ia akan seperti benih yang terjatuh di tanah yang
tipis dan berbatu-batu. Tumbuh sebentar, kemudian kering lalu luruh.

***

Di pihak lain, tentu juga sama salahnya mengatakan bahwa iman hanyalah
emosional belaka. Yang membuat orang menjadi sentimentil, lalu sama
sekali kehilangan rasionalitas dan objektivitasnya. Iman yang seperti
ini adalah ibarat balon. Semarak dan meriah di luarnya, tapi di
dalamnya kosong. Atau sebentar mengembang, kemudian segera mengempis.

Jadi persoalan kita adalah bagaimana memadukan antara keduanya. Bukan
memilih salah satu.

Minggu Palma pertama ternyata tidak dapat bertahan lama. Sebabnya
telah saya katakan di atas. Ia cuma berhenti pada ekstase. Pada emosi.

Mungkin kalimat terakhir ini dapat membantu kita dalam memadukan
antara "rasio" dan "rasa": sungguh amat mungkin menanggapi dan
menghayati Injil (atau apa saja) dengan serius, tanpa membuat kita
bersikap terlalu serius.

Bukalah pintu bagi getaran hati! Toh serius tak mesti membuat kita tak
lagi bisa tertawa, bercanda, atau mencinta.

Diambil dari:
Judul buku: Mengapa Harus Salib
Penulis: Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.
Penerbit: Gloria Graffa
Halaman: 11 -- 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar