Cari Blog Ini

Kamis, 05 Desember 2013

PERSIAPAN YANG BERMUTU, BERTOBATLAH SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

Oleh: RD. Fransiskus Nipa
HARI MINGGU  ADVEN KEDUA
Inspirasi Bacaan: Yes. 11:1-10; Rom. 15:4-9; Mat. 3:1-12.

Sejak Hari Minggu Adven I yang lalu kita memasuki Masa Adven sebagai masa yang intensif untuk merenungkan Kedatangan Tuhan yang berdimensi 3: kedatangan yang pertama yakni peristiwa kelahiran Yesus 2000-an tahun yang lalu, kedatangan Tuhan yang kedua kalinya (akhir jaman) dan kedatangan Tuhan yang secara sakramental akan kita rayakan pada HR Natal nanti, tgl 25 Desember. Terdapat 2 orang suci yang menjadi pola dan contoh kita dalam memaknai Kedatangan Tuhan yakni Yohanes Pembaptis (Hari Minggu Adven II dan III) dan Bunda Maria (Hari Minggu Adven IV - menjelang HR Natal).

Bacaan Injil pada Hari Minggu Adven II ini menggaris-bawahi suara kesaksian dari Yohanes Pembaptis: BERTOBATLAH SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT. Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya melalui nubuatnya 700 tahun sebelumnya: Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun, persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya ! 

Jalan pertobatan melekat pada identitas diri Yohanes Pembaptis dan menjadi “warna dasar” seluruh kesaksian hidupnya. Dikatakan penginjil Matius, Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Kepadanya berdatangan penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya, mereka semua dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Namun ketika melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah dia: Hai kamu keturunan ular beludak, siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang ? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan !

Bagi Yohanes Pembaptis, dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tuhan, membangun pertobatan menjadi sebuah keniscayaan. Mengapa demikian ? Karena Yohanes Pembaptis, sebagai nabi terakhir dari Perjanjian Lama, menyadari betul jatidiri Mesias yang akan datang, yang sudah dinubuatkan para nabi sebelumnya. Bacaan I hari ini, sejak dari kalimat pertama menegaskan, sebuah tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan (Yes. 11: 1-4). 

Rasul Paulus kepada umat Roma, melalu bacaan II mengatakan, Ia akan menciptakan damai yang menyeluruh, membangun kerukunan yang didasarkan atas sikap iman yang sama, yaitu menerima Kristus, Penyelamat dan memuji Allah dalam kebaikanNya (Rom. 15:6). Bahkan Yohanes Pembaptis bersaksi, aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang akan datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan tali kasutNya.

Menjalani masa adven, sebelum kita merayakan HR Natal ini, berarti kita berucap amen dan ya untuk masuk dalam “padang gurun” kehidupan kita: dalam hati, dalam keluarga, di lingkungan kerja kita, dalam masyarakat, di tengah umat manusia; di sanalah kita gaung-kan secara lantang lagi tegas seruan pertobatan Yohanes Pembaptis. Gunung-gunung egoisme dan ketidak-adilan hendaknya diratakan; lembah-lembah keputus-asa-an kiranya perlu ditimbun dengan pengharapan yang pantang surut; dan mari habitus/perilaku yang bengkok kita luruskan. 
Mengakhiri renungan kita pada Hari Minggu Adven ke-2 ini, ayo kita camkan kembali sebuah artikel Anthony de Mello, SJ dalam buku Burung Berkicau sbb: Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: ‘Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!’ Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas. Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. 

Doaku satu-satunya sekarang adalah: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!. Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.
Selamat ber-adven, Tuhan memberkati ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar