Rabu, 26 November 2014

MENANTI KEDATANGAN SANG MESSIAS


Hari Minggu Adven I/ Tahun B/I
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan: Yes. 63:16b-17, 64:1, 3b-8; 1Kor. 1:3-9; Mrk. 13:33-37

Saya termasuk salah seorang di dunia ini yang kurang memiliki kesabaran untuk menunggu. Bagi saya, yang lebih menyukai keteraturan, kerapian, dan ketepatan waktu, pekerjaan menunggu bukan hanya membosankan tetapi merupakan suatu siksaan berat. Saya menjadi gampang uring-uringan & “stress” ketika menunggu, apalagi jika yang ditunggu tiba-tiba membatalkan janjinya. Bentuk “stress” itu tampak dengan gejala “jalan mondar-mandir” dengan muka masam, sering ke toilet, berkeringat. Kalau sudah begitu, biasanya saya tidak mau diganggu sampai yang ditunggu muncul. Ada suatu pengalaman menarik yang kemudian membuat saya menjadi “sedikit” lebih sabar menunggu, walaupun masih dengan muka masam.
Suatu hari, saya dan beberapa rekan imam serta umat membuat janjian untuk mengadakan rekreasi bersama. Kami merencanakan untuk pergi ke daerah pegunungan sekedar menghirup udara segar sambil makan “barbeque” (makan sambil membakar makanan sendiri, entah daging, ikan, sayur, dll.). Karena rekan-rekan imam tahu bahwa saya suka memasak, mereka memberi tugas kepada saya untuk mempersiapkan makanan yang hendak kami bawa. Beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah membuat daftar jenis makanan yang hendak dibawa serta segala macam bumbunya; dan sehari sebelum berangkat rekreasi, saya membeli seluruh keperluan tersebut dan mengemasnya dalam kardus supaya bisa dibawa dengan gampang. Keesokan harinya, saya bangun jam 05.00 untuk memasukan segala kemasan itu dalam mobil agar jam 06.00, jam yang kami tentukan bersama untuk berangkat, kami bisa langsung berangkat. Ternyata, pada jam yang sudah kami sepakati itu baru 2 rekan imam yang muncul dan 3 umat, yang lain belum ada kabar beritanya. Aku mulai gelisah dan gejala “stress”-ku mulai menampakkan diri. Dua rekan imam yang sudah hadir mulai senyum-senyum karena mereka sudah mengenal aku. “Stress”ku semakin parah karena hampir jam 08.00 belum semua hadir. Kami menghubungi teman-teman yang lain lewat telepon, tetapi tidak diangkat. Aku mulai “merah-padam”, dan mengajak teman-teman yang sudah hadir untuk berangkat saja, dan membiarkan yang lain nanti menyusul. Tetapi mereka menghibur aku dan memotivasi aku agar bersabar. Ketika sudah jam 08.30 kami belum juga berangkat, maka aku mengatakan kepada yang lain bahwa aku batal ikut rekreasi karena hatiku sudah tidak “mood” lagi. 10 menit kemudian, mobil yang dikendarai teman-teman yang terlambat memasuki halaman pastoranku. Karena aku sudah tidak berniat pergi, aku biarkan saja mereka bercerita mengemukakan alasan keterlambatannya. Kemudian salah seorang dari teman menjelaskan kepadaku alasan mengapa mereka terlambat begitu lama. Ternyata, ketika hendak berangkat, mereka melihat ada kecelakaan lalu lintas. Mereka menolong membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit terlebih dahulu dan menghubungi keluarga korban. Itulah sebabnya, mereka terlambat dan tidak bisa dihubungi. Akhirnya, kami semua pergi rekreasi bersama-sama meskipun berangkat agak kesiangan.
Setelah kembali dari rekreasi, pada malam harinya saya membuat refleksi tentang peristiwa dan pengalamanku “menunggu”. Refleksiku saya pusatkan pada teman-temanku yang lain yang bisa “mengisi waktu menunggu” itu tanpa “stress”. Selama menunggu itu, mereka bisa bercerita dan bersendau-gurau dengan lepas seolah-olah sedang “tidak menunggu”. Konsentrasi mereka seolah-olah “bukan”pada hal menunggu kedatangan teman-teman yang terlambat, tetapi pada menikmati dan mengisi waktu sambil menunggu. Dengan kata lain, fokus perhatian mereka bukan pada hal menunggu, tetapi pada hal memberi isi waktu menunggu. Hal ini persis berbeda dengan situasiku. Fokus perhatianku saat menunggu ada pada hal menunggu kedatangan orang yang terlambat, sehingga tidak bisa memberi isi pada waktu menunggu. Dan inilah yang membuat aku menjadi tidak sabar dan stress.
Mulai hari Minggu ini, kita memasuki tahun liturgi yang baru, yakni tahun liturgi B. Tahun liturgi dibuka dengan Masa Adven; masa di mana kita menantikan kedatangan Messias; masa penantian; waktu untuk menunggu. Pada masa Adven ini, Gereja mengajak kita bukan untuk menunggu Messias yang belum datang, karena pada kenyataanya Messsias sudah datang. Masa Adven menjadi saat-saat di mana kita diajak untuk mengenang dan memperingati kembali, menghadirkan kembali dalam kehidupan kita saat di mana bangsa Israel menanti-nantikan kedatangan Messias. Sebagaimana halnya pada saat penantian itu bangsa Israel diajak untuk bertobat dan membaharui diri (bdk. Mrk. 1:4, seruan Yohanes Pembaptis pada pertobatan), demikian pula kita. Menghadirkan kembali saat-saat penantian bangsa Israel akan Messias berarti menghadirkan kembali saat-saat seruan pertobatan Yohanes Pembaptis.
Pertobatan dan pembaharuan diri itulah cara memberi isi selama waktu penantian, waktu menunggu. Dan itulah fokus perhatian masa Adven. Fokus pertobatan dan pembaharuan diri masa Adven ini akan dijabarkan secara lebih konkrit dalam bacaan-bacaan Kitab Suci.
Injil Markus pada hari MInggu Adven I mengajak kita untuk mengkonkritkan makna pertobatan dan pembaharuan diri dalam dua ungkapan kunci “menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hamba-Nya” (ay.34) dan “jangan sampai kamu didapatinya sedang tidur” (ay.36). Dua ungkapan tersebut sepertinya hendak mengatakan satu hal yang sama tetapi dengan cara dan titik tolak yang berbeda. Melalui dua ungkapan tersebut kita diajak untuk memahami bahwa pertobatan dan pembaharuan diri bukan semata-mata bercorak batiniah, yang tidak bisa dinikmati orang lain secara langsung; tetapi juga harus bercorak “nyata”, “kelihatan hasilnya”.
Allah Bapa telah memberikan kepada kita pelbagai anugerah yang kita butuhkan. Sadar atau tidak sadar, kita sering melupakan atau membiarkan anugerah itu begitu saja tanpa bertumbuh. Kita bagaikan orang yang menerima talenta, tetapi menguburkannya di dalam tanah karena merasa talenta itu tidak cukup bagi kita atau karena kita“takut” mengembangkannya. Kita melupakan dan membiarkan talenta itu apa adanya, karena kita mau tidur, tidak ada kemauan untuk mengembangkannya.
Ajakan untuk bertanggung jawab dan mempertanggung-jawabkan berarti ajakan untuk mengembangkan apa yang telah Tuhan serahkan kepada kita. Bukan hasil pengembangan itu yang terpenting, tetapi kemauan dan usaha untuk mengembangkannya. Dengan demikian, bentuk konkrit dari pertobatan dan pembaharuan diri ialah perjuangan untuk mengembangkan anugerah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hari Minggu Adven I ini kita diajak untuk memberi isi penantian kita dengan perjuangan mengembangkan talenta yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini