Jumat, 21 November 2014

Melayani Yesus sang Raja Semesta Alam dalam sesama

Sejalan dengan semakin berkembang dan matangnya peradaban hidup manusia kita merasakan bahwa tingkat apresiasi atau penghargaan terhadap harkat dan martabat luhur manusia semakin berkembang juga. Dalam konteks masyarakat dimana kita hidup misalnya saja, kita dapat merasakan hal itu dengan adanya aneka issue atau pokok pembicaraan yang aktual dalam masyarakat kita, misalnya: perlindungan terhadap hak-hak anak, perlindungan terhadap para buruh kasar, perlindungan terhadap hak-hak perempuan atau wanita mulai dari hidup dalam keluarga sampai dalam hidup bermasyarakat dan masih banyak lagi contoh yang dapat kita tampilkan.
Situasi tersebut di atas kadang menimbulkan krisis baru dalam kehidupan beriman bagi manusia. Krisis itu misalnya saja muncul dalam pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering muncul sebagai berikut: apakah agama atau ajaran agama masih relevan dalam kehidupan manusia modern? Bukankah pesan yang sering ditemukan dalam ajaran agama tentang perlu dan pentingnya menghargai harkat dan martabat luhur manusia yang diwujudkan dalam usaha pembelaan hak-hak hidup manusia, usaha pengentasan kemiskinan juga sudah menjadi kesadaran umum manusia modern dewasa ini? Bahkan mungkin pertanyaan sebagai berikut: masih relevankah di jaman ini kita berbicara tentang agama kalau pesan yang disampaikan oleh ajaran iman telah kita dapatkan dalam seruan LSM atau NGO.
Injil hari ini memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut di atas. Ada perbedaan yang cukup mendasar dari pesan yang disampaikan oleh iman Kristiani dengan seruan LSM atau NGO. Perbedaan tersebut terletak pada apa yang menjadi alasan dasar atau spiritualitas yang mendasarinya. Memang benar bahwa masyarakat yang mempunyai tingkat peradaban yang sudah dewasa dan matang serta LSM atau NGO juga menyerukan agar manusia semakin hari semakin berani menghargai dan melindungi martabat hidup manusia dan hal yang sama juga diserukan oleh iman Kristiani. Namun spiritualitas atau semangat yang mendasari hal itu seringkali melulu manusiawi belaka. Artinya, alasan dasar yang mendorong masyarakat, LSM atau NGO dalam memperjuangkan semua itu melulu alasan manusiawi, yaitu kesadaran akan tingginya harkat dan martabat manusia saja. Sedangkan iman Kristiani mempunyai spiritualitas jauh lebih mendalam, yaitu: kita perlu menghargai dan melindungi harkat dan martabat hidup manusia bukan hanya karena kesadaran akan keluhuran harkat dan martabat manusia saja, tetapi lebih dari itu iman Kristiani mengajarkan bahwa Tuhan Yesus Kristus hadir dalam diri setiap pribadi manusia, terlebih dalam manusia-manusia yang menderita. Dari kenyataan tersebut , nampak jelas bagi kita bahwa alasan dasar atau spiritualitas yang diajarkan oleh iman Kristiani sungguh lebih berasa dan berasa lebih tinggi karena tidak hanya melulu beraspek humanis tetapi juga mencakup aspek yang lebih tinggi yaitu aspek teologis.
Semangat dasar atau spiritulaitas iman Kristiani yang lebih berasa dan berasa dan berasa lebih daripada sekedar alasan dasar yang bercorak humanistis belaka itu semestinya membuat kita orang-orang yang beriman Kristiani juga memiliki semangat yang lebih besar dalam tindakan belas kasih yang nyata dan merata terhadap sesama, terlebih mereka yang seringkali menderita hidupnya karena selalu disalahkan, dikalahkan dan disisihkan, yaitu suadara-saudari kita yang dimiskinkan dan dipinggirkan. Karena dengan melayani dan memperhatikan mereka, sebenarnya kita juga sedang memperhatikan Tuhan Yesus yang hadir dalam diri mereka.
Sumber:Romo yoyon (gerejafransiskus.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini