Kamis, 19 April 2012

Pembukaan Bulan MARIA


Ziarah Soppeng 2012


Kata-kata kasar


Saya bersenggolan dengan seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur,  dengan halus Tuhan berbicara padaku,
“Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan,  tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan  sewenang-wenang.  Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga  dekat pintu.” “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.” Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. ”  “Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.” Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.” Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu. ” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Berapa kali kita harus membuat tanda salib dalam Misa?


Di depan kursinya, imam selebran membuat tanda salib bersama umat. Dengan lantang ia lagukan: ”Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Umat menyahut: ”Amin!” Inilah tanda salib pertama dalam Misa. Ritual Misa pun maju lagi selangkah. Berapa kali sebenarnya kita harus membuat tanda salib dalam Misa?

Salib, nama Allah
Dalam alfabet Ibrani kuno huruf Tau (T) berbentuk salib, maka huruf yang mengacu pada Kitab Yehezkiel 9:4 itu dianggap Origenes sebagai prediksi untuk tanda salib yang diterakan pada dahi orang Kristen. Tertulianus mengajarkan bahwa orang Kristen hendaknya membuat tanda salib pada dahi setiap kali hendak melakukan kegiatan. Dalam perkembangan selanjutnya, perayaan liturgi sakramental dan non-sakramental lainnya juga menggunakan tanda salib.
Ritual ini sebenarnya mengungkapkan peristiwa penting dari iman kristiani dalam satu rangkuman gerak. Tanda salib pada bagian tubuh memberi daya bagi seluruh tubuh. Tubuh Kristus yang tersalibkan menyentuh tubuh kita dan menyiapkan tubuh kita untuk mengalami hal yang sama dengan Tubuh Kristus. Nama Allah Bapa, Putra, Roh Kudus disebutkan untuk menyatakan bahwa misteri Allah Tritunggal telah diwahyukan melalui kematian Yesus di kayu salib. Selama Misa berlangsung akan terlihat lebih rinci lagi bagaimana kurban salib itu dihadirkan kembali. Tubuh kita pun akan didekatkan dan dipersatukan dengan Tubuh Sang Tersalib itu.
Frase ”dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” dari Yesus sendiri, Ia ucapkan sebelum naik ke surga, ketika mengutus para Rasul. Allah yang Esa itu mempunyai satu nama: ”Bapa, Putra, Kudus.” Itulah nama utuh Allah. Terjemahan ”dalam nama” dapat dipahami sebagai ”ke dalam nama”, sehingga mengingatkan kita pada ritus baptis. Kita dimasukkan ”ke dalam nama Bapa, Putra, Roh Kudus” ke dalam kehidupan Ilahi. Setiap kali membuat tanda salib dan sekaligus mewartakan nama Allah Trinitas, kita sedang mengenangkan pembaptisan dan mau selalu kembali untuk hidup bersama Allah.

Jumlah dan jenis
Dalam Misa yang lazim terdapat tujuh kali tanda salib, baik yang dilakukan oleh umat bersama imam maupun oleh imamnya sendiri. Di samping tanda Salib Trinitaris (menyebut nama Allah Tritunggal), masih ada juga jenis yang lain.
Kapan sajakah ketujuh tanda salib itu dilakukan dalam Misa? Rinciannya: Membuat tanda salib besar oleh imam bersama dengan umat pada Ritus Pembuka untuk diri masing-masing, tiga kali tanda salib kecil pada dahi-mulut-dada sebelum mendengarkan Injil, dan berkat oleh imam dengan tanda salib besar untuk umat dan umat membuat pada dirinya sendiri pada Ritus Penutup.
Imam sendirian juga melakukan tanda salib kecil untuk Kitab Injil dan berkat dengan tanda salib untuk roti-anggur pada waktu konsekrasi. Jadi, ada dua jenis tanda salib: [1] lima kali oleh imam bersama umat dengan rumus khusus: dua yang Trinitaris (pada Ritus Pembuka dan Penutup); dan tiga yang bukan (sebelum mendengarkan Injil); serta [2] dua kali oleh imam saja tanpa rumus khusus (pada bagian Injil yang akan dimaklumkan dan berkat untuk roti-anggur).
Misa adalah suatu bentuk doa bersama, yang merangkai beberapa ritus, yang menyatukan simbol, kata, gerak, dan lagu. Karena Misa adalah doa yang paling istimewa, wajarlah jika diperindah dengan banyak unsur yang tak ditemukan dalam bentuk doa lainnya. Sebagai doa, kita pun mengawali dan mengakhiri Misa dengan membuat tanda Salib Trinitaris. Imam mewartakan ucapan Tuhan Yesus. Umat pun menyetujuinya. Tanggapan AMIN adalah ”hak suara” umat. Juga pada bagian-bagian lain dalam Misa. Jangan biarkan imam menyambarnya karena umat tak bergairah menanggapi ucapan Tuhan itu. Maka, jangan ragu; serukan AMIN itu dengan mantap dan gembira.

oleh  Romo Christophorus H. Suryanugraha OSC

PERJALANAN KE EMAUS



Seorang bapak berkisah, bahwa ia tinggal di perkampungan yang mayoritas beragama non Kristen. Hidup kemasyarakatan cukup baik dan menyenangkan. Tetapi mengenai hidup menggereja sungguh memprihatinkan, karena mereka yang beragama katolik di tempat itu hanya 5 kk sehingga tidak mendapat ijin untuk membangun gereja. Pastor datang melayani Ekaristi cuma sekali sebulan dan itu pun dilaksanakan di rumah umat secara bergiliran. Pelan-pelan keadaan itu membuat hidup menggerejanya semakin lemah dan nyaris di ujung tanduk. Tidak akan lama lagi, besar kemungkinan bahwa kelompok jemaat yang ada di kampung itu bisa saja terseret oleh ‘arus’ agama mayoritas. Dia dan teman-temannya seiman putus harapan karena gesitnya godaan dan iming-iming dari tetangga yang sulit ditolak.

Suatu kali di satu keuskupan lain ada pentahbian imam sebanyak 15 orang yang diselenggarakan di lapangan sepak bola. Seorang dari imam yang ditahbiskan adalah keponakannya sendiri. Hal ini mengharuskannya pergi untuk ikut serta dalam acara tahbisan. Inilah pertama sekali ia melihat perayaan pentahbisan imam, yang menurutnya, suatu perayaan yang sungguh membuka matanya yang tertutup oleh dunia kampungnya selama ini. Ia tidak pernah melihat orang katolik ribuan orang berkumpul dalam satu perayaan iman dengan berdoa, bernyanyi memuji Tuhan penuh sukacita. “Mataku membelalak, serasa tidak berkedip memandang ke-15 imam baru selama perayaan, yang penuh anggun dan bersahaja mengambil alih tugas Yesus di dunia ini”, kisahnya dengan penuh semangat di hadapan jemaat kecil di kampungnya. Bagi si bapak, acara pentahbisan imam dihadiri ribuan umat dan ratusan imam yang memadati lapangan luas menjadi titik balik baginya membuka mata yang tertutup selama ini. Ternyata ia tidak sendirian. Ia semakin sadar bahwa umat katolik ternyata bukan hanya 5 kk seperti selama ini ia alami di kampungnya. Ia masih mempunyai jutaan teman seiman di berbagai belah dunia yang walaupun secara fisik tidak bersama, tetapi secara rohani tetap saling mendoakan satu sama lain.

Saudara-saudari terkasih. Injil hari ini mengisahkan perjalanan kedua murid ke Emmaus. Oleh rasa putus asa yang mendalam karena kematian Yesus, mata kedua murid terselubungi oleh kesedihannya. Mereka tidak mengerti mengapa hal yang sudah didambakan pupus seketika. Dambaan mereka adalah bahwa Yesus kelak akan menjadi raja dan penguasa Israel. Tetapi harapan itu sirna oleh kematian-Nya. Mereka berdua banyak berdiskusi tentang Kitab Suci sepanjang perjalanan, tetapi mereka tidak mengerti apa yang mereka diskusikan. Namun kehadiran Yesus yang berjalan bersama mereka dan memberikan roti pada mereka di rumah penginapan, itu membuka mata mereka lebar-lebar. Mereka baru sadar dari lamunan ketika Yesus menerangkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci sepanjang perjalanan. Mata mereka terbuka ketika Yesus memberikan roti kepada mereka seperti yang Ia lakukan pada perjamuan malam terakhir.

Titik balik mereka dari rasa putus asa kini terjadi ketika selubung mata mereka dibukakan oleh kejadian menakjubkan itu. Yesus tidak meninggalkan mereka dalam kebimbangan. Hal yang serupa terjadi dalam hidup kita. Pengalaman-pengalaman tertentu dalam hidup kita sering menjadi titik balik bagi kita untuk semakin kuat dalam beriman. Ada yang imannya dikuatkan setelah sembuh dari penyakit, setelah mendapat keturunan, setelah ikut acara retret, setelah ikut anggota Legio Maria, setelah bergabung dalam kelompok Kitab Suci dll. Banyak peristiwa yang akhirnya menjadi titik awal pembuka mata kita dari yang dulunya tidak peduli dengan Gereja akhirnya bersemangat kembali. Kedua murid dari Emmaus segera kembali ke Yerusalem dengan penuh semangat setelah berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan. Mereka menceritakan, mewartakan apa yang mereka lihat dan alami sendiri. Sekarang, saya mengajak kita secara pribadi-pribadi untuk melihat hidup kita, saat-saat kapankah kita sungguh-sungguh mengalami Yesus bersama kita, yang membuka mata kita untuk kembali beriman? Kita semua pasti pernah mengalami ‘emmaus’(berjalan bersama Yesus), kapankah itu? Mari sejenak mengingat saat-saat pertobatan kita, saat di mana kita sungguh mengalami Yesus ada di sisi kita dan memberi semangat baru bagi kita. Amen. Alleluya.

Sharing iman

-->
 Minggu Paskah III 
Tahun B


 Sumber Insipirasi: (Luk 24:35-48)


 Oleh Pastor Paulus Tongli, Pr

Bacaan injil hari ini memberikan sisi lain dari bacaan injil minggu yang lalu. Jika bacaan injil minggu lalu mengambil tema pengalaman akan Tuhan yang bangkit, bacaan injil minggu ini mengambil tema: sharing atau berbagi iman dengan yang lain. Kristus menginginkan para pengikutnya untuk menjadi saksiNya, dan memberikan kesaksian adalah seperti sebuah mata uang yang memiliki dua sisi. Sisi yang satu berkaitan dengan  hal melihat dan memiliki pengetahuan akan sesuatu melalui pengalaman pribadi (bukan sekedar mendengar), dan sisi yang lainnya berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan kesaksian akan hal itu di hadapan orang lain. Bahwa kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus berarti bahwa kita pertama-tama dipanggil untuk memiliki pengalaman pribadi akan Kristus dan lalu membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Sayangnya banyak orang Kristen hanya menempuh setengah jalan dengan terus memperdalam pengenalannya akan Kristus tanpa membagikan pengalamannya dengan yang lain. Padahal iman itu adalah seperti nyala api: semakin sepotong kayu meneruskan nyala apinya kepada potongan-potongan kayu yang lain, semakin teranglah nyala api itu, tetapi bila kayu itu menolak untuk meneruskanya nyala apinya, ada bahaya bahwa ia sendiri akan padam. 

Seorang kakek yang lumpuh pada suatu hari diminta untuk berceritera tentang seorang guru yang terkenal di daerahnya, dan ia menceriterakan tentang gurunya yang sering melompat dan menari ketika ia berdoa. Orang tua itu bangkit sementara ia berceritera dan mulai melompat dan menari untuk menunjukkan bagaimana gurunya dulu melakukannya. Sejak saat itu ia sembuh dari kelumpuhannya. Bilamana kita menceriterakan tentang Kristus, kita meningkatkan dua hal. Kita memungkinkan orang lain mengalaminya dan kita sendiri semakin lebih mengalami kuasanya . Kita dapat melihat hal itu terjadi di dalam injil hari ini. 

Dua orang murid berjumpa dengan Tuhan yang bangkit dalam perjalanan ke Emaus. Mereka kembali ke Yerusalem untuk membagikan pengalaman mereka dengan para murid yang lain. Kita baca bahwa “… sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" (Luk 24:36). Kristus menghadirkan dirinya di dalam proses sharing pengalaman iman dengan murid-murid yang tidak percaya. Kini kesebelas murid dan semua teman-teman yang hadir sedang diubah untuk juga dapat mengalami Tuhan yang bangkit. Tampaklah bahwa kedua murid yang membagikan pengalamannya itu telah menjadi suatu penguatan yang besar bagi iman murid-murid yang lain. Kesaksian mereka telah membawa daya yang besar. 

Apa gerangan yang Yesus buat bagi mereka yang mengalami Dia? Pertama, Ia menyampaikan damai sejahtera kepada hati mereka yang risau. Lalu Ia berusaha meyakinkan mereka bahwa Yesus dari Nasaret yang menderita dan mati secara keji di kayu salib adalah yang sama dengan yang kini hidup dalam kemuliaan Allah. Ia makan ikan, meskipun Ia tidak membutuhkan makanan itu, untuk membuktikan hal itu. Lalu Ia membuka pikiran mereka untuk mengerti kitab suci dan bagaimana kitab suci itu menunjuk kepadaNya. Akhirnya ia memberi mereka mandat untuk menjadi saksiNya. “Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk 24:48). Inilah yang dilakukan Yesus bilamana Ia menampakkan diri di tengah perkumpulan para murid pada hari Minggu pagi 2000 tahun yang lalu. Dan inilah pula yang Ia lakukan jika Ia menampakkan diri di tengah umat beriman yang berkumpul pada hari minggu saat ini di sini. 

Perhatikanlah bagaimana aktifnya Yesus. Dialah yang memberikan mereka damai sejahtera. Dialah yang menguatkan iman mereka dan menjauhkan keraguan mereka. Dialah yang membuka pikiran mereka dan menjelaskan kitab suci kepada mereka. Dialah yang menyatakan mereka sebagai saksinya. Para murid tidak melakukan banyak hal di dalam perjumpaan itu selain membuka mata mereka untuk melihat Dia, membuka hati mereka untuk membiarkan damaiNya masuk, membuka pikiran mereka untuk menerima perintahNya. Dan pada akhirnya, ketika Dia berkata, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”, mereka diharapkan untuk memberikan tanggapan, “Ya, Tuhan”, lalu pergi dan mencoba untuk menjadi seperti yang diinginkan Kristus. 

Bagaimanakah kita menjadi saksi Kristus? Dalam hal inilah kita harus belajar dari dua murid Emaus tadi. Bukanlah dengan mengancam orang dengan api neraka yang kekal. Juga bukan dengan memperdebatkan masalah-masalah teologis yang kontroversial. Sederhana saja, kedua murid itu menceriterakan apa yang mereka alami secara pribadi dalam perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit. Itulah berbagi atau sharing dengan orang lain, mengapa kita menjadi Kristen. Sebagaimana St. Petrus berkata: “… siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Pet 3:15).

Minggu, 15 April 2012

Kisah Para Imam Katolik di Kapal Titanic

Tahun 2012 ini dunia mengenang 100 tahun tenggelamnya Kapal Titanic. Kisah tenggelamnya kapal ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama “Titanic”. Bagi mereka yang pernah menonton film “Titanic”, di suatu adegan kepanikan yang terjadi di kapal Titanic menjelang tenggelamnya kapal tersebut, kita melihat bahwa ada sejumlah imam Katolik sedang mendengarkan pengakuan dosa umat atau sedang memimpin umat berdoa bersama-sama.

Apakah adegan tersebut hanyalah sekadar fiksi di dalam film tersebut ataukah memang benar-benar terjadi?


Berikut ini kisah ketiga imam Katolik heroik di Kapal Titanic.
Pater Thomas Byles, Pater Juozas Montvila, Pater Josephus Peruschitz, OSB.

Father Thomas Byles

Tahun 2012 ini dunia mengenang 100 tahun tenggelamnya Kapal Titanic. Kisah tenggelamnya kapal ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama “Titanic”. Bagi mereka yang pernah menonton film “Titanic”, di suatu scene kepanikan yang terjadi di kapal Titanic menjelang tenggelamnya kapal tersebut, kita melihat bahwa ada sejumlah imam Katolik sedang mendengarkan pengakuan dosa umat atau sedang memimpin umat berdoa bersama-sama.

Apakah scene tersebut hanyalah sekadar scene fiksi di dalam film tersebut ataukah memang benar-benar terjadi?

Well, umat Katolik sekalian, hal itu benar-benar terjadi. Berbagai dokumentasi historis mengenai Titanic menyebutkan sejumlah Imam Katolik melakukan pelayanan imamatnya di Kapal Titanic tersebut.

Satu nama yang terkenal adalah Romo Thomas Byles yang lahir pada tanggal 26 Februari 1870 di Yorkshire, Inggris. Dia adalah anak pertama dari tujuh bersaudara bagi pasangan Protestan Louisa Davids dan Alfred Holden Byles. Ayahnya adalah seorang pendeta Kongregasionalis dan pebisnis yang sukses. Pada saat melanjutkan pendidikan ke Balliol College, Oxford, Thomas Byles muda berpindah menjadi Katolik dan kemudian masuk ke Seminari Katolik dan ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 15 Juni 1902.


Adiknya, William yang juga berpindah menjadi Katolik merantau ke Amerika untuk menjalankan bisnis karet. Di sana, William bertemu pasangannya dan berencana menikah. William meminta Romo Thomas Byles datang untuk memimpin Upacara Pernikahan mereka.

Romo Thomas Byles pun menumpang kapal Titanic. Berikut ini data mengenai Romo Thomas Byles.
Name: Fr. Thomas Roussel Davids Byles
Born: Saturday 26th February 1870
Age: 42 years
Last Residence: in London, England
Occupation: Priest / Minister 2nd Class passenger
First Embarked: Southampton on Wednesday 10th April 1912 Ticket No. 244310, £13
Destination: Jacksonville Florida United States
Seperti yang kita ketahui, Kapal Titanic kemudian menabrak gunung es dan perlahan-lahan mulai tenggelam. Laporan-laporan yang ada menyebutkan bahwa Romo Thomas Byles sedang mendaraskan brevir (Ibadat Harian) di dek atas kapal ketika Titanic menabrak gunung es pada hari Minggu, 14 April 1912.

Berdasarkan para saksi, saat kapal sedang tenggelam, Romo Thomas Byles menolong para wanita dan anak-anak untuk masuk ke dalam sekoci penyelamat, kemudian ia mendengarkan pengakuan dosa umat, memberikan pengampunan dosa, dan memimpin para penumpang di tengah kepanikan tersebut untuk berdoa Rosario.

Agnes McCoy, salah satu dari korban yang selamat, menyatakan bahwa ketika kapal besar tersebut sedang tenggelam, Romo Byles “berdiri di dek dengan umat Katolik, Protestan dan Yahudi berlutut di sekitarnya.”

“Romo Byles sedang mendaraskan Rosario dan berdoa bagi kedamaian kekal jiwa-jiwa mereka yang akan binasa.” Demikian kata Agnes kepada New York Telegram pada 22 April 1912 berdasarkan pada website yang didedikasikan untuk mengenang Romo Thomas Byles, FatherByles.com.

Dalam kenangan teman imamat Romo Thomas Byles, Romo Patrick McKenna, “Ia dua kali menolak tawaran tempat di perahu [penyelamat], dan berkata tugasnya adalah tetap tinggal di kapal ketika satu jiwa meminta pelayanannya.”

Sedangkan Encyclopedia Titanica menyebutkan bahwa “Romo Byles adalah seorang pahlawan sampai akhir, [ia] menolong penumpang kelas tiga naik ke tangga, ke dalam perahu-perahu, mendengarkan pengakuan dosa dan berdoa bersama dengan mereka yang tidak dapat melarikan diri. Beberapa surat kabar melaporkan bahwa dia ditawari sebuah kursi [di perahu penyelamat] tetapi ia menolaknya.

Encyclopedia Titanica juga mengutip pernyataan seorang korban selamat lainnya mengenai Romo Byles:
“[Sembari] melanjutkan doa-doa, ia membawa kami ke tempat di mana perahu diturunkan. [Ia] membantu para wanita dan anak-anak dengan membisikkan kepada mereka kata-kata penghiburan dan peneguhan.” - Miss Bertha Moran dalam The Evening World, April 22, 1912 

The Church Progress di St. Louis, Missouri pada 25 April juga menuliskan sebuah pernyataan yang menegaskan heroisme Romo Byles.
“... di hampir setiap baris yang telah ditulis dan di setiap kalimat yang telah diucapkan, berdiri dengan teguh di atas setiap ekspresi lain gambaran kepahlawan yang luhur yang akan disalin ke dalam halaman-halaman sejarah. Dan juga mungkin, karena hal ini patut mendapatkan kehormatan itu.
Tetapi ketika itu, sebutan [pahlawan] harus diberikan kepada seseorang yang pena dan lidah hampir lupakan dalam laporan mereka akan tragedi laut yang mengerikan. Di antara mereka yang dengan selamat mencapai daratan kembali, tampaknya tidak ada seorang pun yang sadar akan kehadirannya di kapal, tetapi kita dapat berharap bahwa banyak orang yang bertemu dengannya dalam kebahagiaan kekal [di surga] akan memuji Allah Bapa bahwa Romo Thomas Byles ada di sana untuk memberikan pengampunan dosa kepada mereka.

Romo Thomas Byles kemudian meninggal, tenggelam bersama kapal Titanic. Tubuhnya, bila seandainya ditemukan, tidak pernah teridentifikasikan. Dalam suatu audiensi pribadi dengan William (adiknya Romo Byles) dan istrinya, Paus St. Pius X mendeklarasikan Romo Byles sebagai martir bagi Gereja.

Di salah satu surat yang pernah ditulisnya, Romo Byles menyebutkan dua imam lainnya yang naik kapal Titanic sebagai penumpang kelas dua. Mereka bersama-sama dengan Romo Byles melaksanakan pelayanan imamat mereka di Titanic. Mereka adalah Imam Benediktin Jerman bernama Romo Josephus M. Peruschitz, OSB dan Imam Diosesan Lithuania bernama Romo Juozas Montvila. Tentang mereka, seorang penumpang kelas dua Titanic bernama Ellen Toomey menyebutkan bahwa Montvila, Peruschitz dan Byles mengadakan Perayaan Ekaristi setiap hari di dalam kapal Titanic. 


Father Juozas Montvila

Romo Juozas Montvila (27 tahun) adalah seorang imam muda dari Negara Lithuania. Ia memegang teguh panggilannya sampai akhir dengan menolak salah satu kursi baginya di perahu penyelamat dan memilih melaksanakan tugas imamatnya bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan. Ia meninggal bersama dengan tenggelamnya Titanic. Dia dianggap sebagai pahlawan di Lithuania dan sekarang dipertimbangkan untuk dikanonisasi oleh Gereja Katolik.

Father Josephus Peruschitz, OSB

Romo Josephus Peruschitz (42) sendiri bersama-sama dengan Romo Thomas Byles dan Romo Juozas Montvila pada saat Titanic sedang tenggelam juga memberikan Sakramen Tobat kepada para penumpang Titanic yang akan meninggal. Sama seperti kedua imam heroik di atas, Romo Peruschitz juga menolak kursi yang disediakan baginya di perahu penyelamat dan memilih tetap di Titanic untuk menyelamatkan jiwa-jiwa para pendosa sekalipun ia harus kehilangan nyawanya.

Kisah ketiga imam heroik ini memang nyaris tidak pernah terdengar di telinga banyak umat Katolik sendiri. Dan kita harus bersyukur sekarang bahwa akhirnya kita bisa mendengar kisah heroik mereka. Romo Thomas Byles, Romo Juozas Montvila dan Romo Josephus Peruschitz, OSB lebih memilih menyelamatkan orang lain tidak hanya dengan tindakan nyatanya menolong para korban tetapi juga dengan kuasa imamatnya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ia membawa keselamatan duniawi dan keselamatan surgawi kepada banyak orang. Saya yakin, mereka sudah berada di surga sekarang.

Pax et Bonum, ditulis oleh Indonesian Papist.

Referensi:

Kamis, 12 April 2012

Panitia Pelaksana Sinode 2012


Kisah Si Ayam dan Si Babi


Alkisah, ada dua binatang yang berteman akrab sejak kecil, yaitu si ayam dan si babi. Mereka selalu berjalan berdua kemanapun mereka pergi. Pada suatu hari, ketika mereka berjalan melewati hutan belantara yang jauh dari keramaian kota , mereka menemukan seorang laki-laki yang hampir mati.
Si ayam berkata: “Eh, bie! liat tuh! Kayaknya ada orang sedang berbaring didepan!”
Si babi : “Iya, yam! Gue juga… liat. Kayaknya dia sedang sekarat. Yuk kita deketin.”
Mereka melihat dari dekat, dan laki-laki itu dengan lemah berkata : “Tolong aku, aku lapar dan tidak punya makanan”
Lalu si ayam berkata kepada babi : “Eh, kasihan deh. Bie, yuk kita tolong dia.”
Sahut si babi : “Tapi gimana yam ? Kita kan nggak bawa bekal apa-apa ?”
Si ayam berkata : “Ya sudah, apa yang ada pada diri kita saja kita olah menjadi makanan, setuju?”
Babi mengangguk : “Baiklah, kalau itu bisa menyelamatkan nyawa orang itu, saya bersedia.”
Singkat cerita, mereka masing-masing memberikan bagian diri mereka, mengolahnya menjadi makanan dan memberikan kepada laki-laki tersebut. Ia sangat berterimakasih, kesehatannya telah pulih dan ia melanjutkan perjalanannya. Si ayam dan si babi pun melanjutkan perjalanannya berdua.
Si ayam berkata : “Senang yach, rasanya, kita bisa menjadi berguna untuk orang lain….”
Si babi membalas : “Iya sih, aku juga senang. tapi kamu jalannya jangan cepat-cepat yam, aku tadi memberikan satu kakiku untuk menjadi makanannya, kamu sih enak, bisa bertelur….”
Cerita diatas menggambarkan 2 tipe dalam memberi, yaitu memberi dalam kelimpahan dan memberi dalam kekurangan. Sifat ini dapat kita refleksikan dalam diri kita, yaitu ketika kita memberikan persembahan dalam gereja, boleh ditanyakan dalam diri kita sendiri: “Apakah saya merasa sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan?” Biarlah hati nurani masing-masing yang menjawabnya.
Saya jadi ingat, ketika Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang yang memberi persembahan. Orang-orang kaya memberi persembahan dari kelimpahannya, Tetapi seorang janda miskin memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. (Lukas 21:4). Orang yang memberikan dari kelimpahannya memberi sedikit bagian untuk Tuhan Dan sisa bagian yang jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri, sedangkan si janda miskin memberikan seluruh bagiannya untuk Tuhan dan tidak ada bagian untuk dirinya sendiri. Itulah sebuah kenyataan, bahwa setiap orang memiliki kasih yang berbeda untuk Tuhan kita.
Kehendak Tuhan adalah supaya kita mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.
Tuhan memang tidak butuh harta kita. Ia adalah pemilik surga dan bumi. Jika Ia mau, Ia bisa mengambil semua harta kita. Tuhan menginginkan hati kita, supaya kita berserah kepadaNya. Namun hal ini tidak akan terjadi sepenuhnya sebelum hati kita masih menyayangi harta duniawi. Alkitab berkata : “Dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada” (Mat 6:21).

Dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada.

KAMI TELAH MELIHAT TUHAN !!!

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:19-31). 

“Melihat Tuhan” juga merupakan suatu tema besar dalam Perjanjian Baru, teristimewa dalam Injil Yohanes. Bagi Yohanes, “melihat” diasosiasikan dengan “percaya” dan “iman”, dengan demikian lebih-lebih dimaksudkan sebagai melihat dengan menggunakan mata hati kita ketimbang dengan hati fisik seperti yang kita kenal. Melihat Tuhan berarti menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan mengetahui enaknya dipanggil sebagai putera-puteri Allah. Ketika Yesus menyembuhkan seorang buta (Yoh 9:1-41), penyembuhan yang paling penting pada waktu itu bukanlah anugerah berupa pemulihan penglihatan fisik orang buta itu, melainkan kesembuhan atas kebutaan spiritual orang itu. 

Ketika para murid mengatakan kepada Tomas, “Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:25), ketidakpercayaan Tomas dan keragu-raguannya menghalangi dia dari suatu sikap terbuka – yang memperkenankan Roh Kudus untuk menyatakan Kristus kepadanya. Akan tetapi, ketika Yesus mengundang dia untuk melangkah maju dalam iman, kebutaan Tomas menjadi tersingkir dan pada saat itu dia mempermaklumkan kata-kata iman yang agung itu, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Untuk melihat Tuhan apa adanya, Dia mensyaratkan adanya kepercayaan, dan inilah tujuan dari Yohanes menulis Injilnya: “… supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31). 

Kita semua rindu untuk melihat Allah. Selagi kita menyembah Dia dalam Misa hari ini dan waktu doa pribadi kita sendiri dalam pekan ini, marilah kita mohon kepada Yesus untuk menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Marilah kita berdoa bersama Musa, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku, ya Allahku.

MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Buku Catatan Harian St Faustina memuat setidak-tidaknya empatbelas bagian di mana Tuhan kita meminta suatu “Pesta Kerahiman Ilahi” ditetapkan secara resmi dalam Gereja.

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka Bapa Suci Yohanes Paulus II menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska. Lebih lanjut, Paus Yohanes Paulus II memberikan tugas kepada para imam, sebagaimana tercantum dalam Dekrit Penitensiary Apostolik 29 Juni 2002, untuk memberikan penjelasan kepada umat Katolik mengenai Minggu Kerahiman Ilahi ini. 

PENGHORMATAN LUKISAN KERAHIMAN ILAHI

Lukisan Yesus, Allah yang Maharahim, hendaknya mendapat tempat terhormat yang istimewa pada Pesta Kerahiman Ilahi, sebagai suatu sarana pengingat yang kelihatan atas segala yang telah Yesus lakukan bagi kita melalui Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya .… dan juga, sebagai sarana pengingat akan apa yang Ia kehendaki dari kita sebagai balasannya, yaitu percaya penuh kepada-Nya dan berbelas kasih kepada sesama.

“Aku menghendaki lukisan ini diberkati secara khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah, dan Aku menghendaki lukisan ini dihormati secara umum agar setiap jiwa dapat tahu mengenainya (341).”

INDULGENSI KHUSUS PADA MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Tuhan kita berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak tiga kali dalam Buku Catatan Harian St Faustina; setiap kali dengan cara yang sedikit berbeda:

“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”

Sebagai kelanjutan dari dimaklumkannya hari Minggu pertama sesudah Paskah sebagai Minggu Kerahiman Ilahi, Imam Agung di Roma, terdorong semangat yang berkobar untuk menggairahkan semaksimal mungkin praktek Devosi Kerahiman Ilahi dalam diri umat Kristiani dengan harapan mendatangkan buah-buah rohani yang berguna bagi kaum beriman, maka pada tanggal 13 Juni 2002 beliau memaklumkan bahwa Gereja memberikan indulgensi, baik indulgensi penuh maupun sebagian, kepada mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi dengan syarat-syarat seperti yang ditetapkan Gereja.

RAHMAT-RAHMAT LUAR BIASA

Satu hal tampak jelas: melalui janji di atas, Tuhan kita menekankan nilai tak terhingga Sakramen Tobat dan Komuni Kudus sebagai mukjizat-mukjizat belas kasih-Nya. Tuhan ingin kita menyadari bahwa karena Ekaristi adalah Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an-Nya Sendiri, maka Ekaristi adalah “Sumber Hidup” (300). Ekaristi adalah Yesus, Ia Sendiri, Allah yang Hidup, yang rindu mencurahkan DiriNya sebagai Belas kasih ke dalam hati kita.

Dalam penampakan-penampakan-Nya kepada St Faustina, Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya:

“Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali 

Dalam “Penilaian Resmi” Sensor Teologis Kedua atas catatan-catatan St Faustina, kita dapati penjelasan terperinci mengenai limpahan rahmat istimewa ini:

“Agar Pesta Kerahiman Ilahi dapat sungguh menjadi suatu pengungsian bagi segenap jiwa-jiwa, kemurahan hati Yesus yang terdalam dibuka lebar pada hari ini guna mencurahkan ke atas jiwa-jiwa, tanpa menahan-nahan sedikit pun, segala macam dan segala tingkatan rahmat - bahkan yang belum pernah dikenal sekalipun. Kemurahan hati ini merupakan … motivasi untuk memohon kepada Kerahiman Ilahi, dengan kepercayaan penuh serta tanpa batas, segala karunia rahmat yang ingin Tuhan curahkan pada hari Minggu ini….”

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN PANTAS?
Salah satu cara yang terpenting, tentu saja, dengan menyambut Komuni Kudus pada hari Minggu Kerahiman Ilahi dan menerima Sakramen Tobat yang bahkan dapat dilakukan sebelum Pekan Suci; sepanjang Masa Prapaskah merupakan persiapan untuk menyambut Minggu Kerahiman Ilahi!

Tetapi, kita tidak hanya sekedar dipanggil untuk mohon belas kasih Tuhan dengan penuh kepercayaan, melainkan kita juga dipanggil untuk berbelas kasih kepada sesama. Perkataan Tuhan kita kepada St Faustina mengenai tuntutan untuk berbelas kasih kepada sesama sangat tegas dan jelas:

“Ya, hari Minggu pertama sesudah Paskah adalah Pesta Kerahiman Ilahi, namun demikian haruslah ada perbuatan-perbuatan belas kasih…. Aku menuntut dari kalian perbuatan-perbuatan belas kasih yang timbul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya” (742).

Novena Kerahiman Ilahi
Pada hari Jumat Agung 1937, Yesus meminta St Faustina mendoakan suatu novena khusus menjelang Pesta Kerahiman Ilahi; novena dimulai pada hari Jumat Agung hingga Sabtu sebelum Minggu Paskah II. Yesus Sendiri yang mendiktekan intensi-intensi novena untuk tiap-tiap hari. Dengan novena ini, St Faustina diminta untuk membawa kepada Hati Yesus Yang Mahakudus sekelompok jiwa-jiwa yang berbeda setiap hari dan membenamkan mereka ke dalam samudera belas kasih-Nya, mohon pada Allah Bapa - dengan mengandalkan jasa-jasa Sengsara Yesus - rahmat-rahmat bagi mereka.

Tidak seperti Novena Koronka, yang dengan jelas Tuhan kehendaki agar setiap orang mendaraskannya, Novena Kerahiman tampaknya diperuntukkan terutama bagi kepentingan pribadi St Faustina. Hal ini dapat dilihat dari perintah Tuhan, di mana Tuhan menyebutkan kata “kamu” dalam bentuk tunggal.

Namun demikian, karena St Faustina diperintahkan untuk menuliskannya, pastilah Tuhan bermaksud agar novena didoakan oleh yang lain juga. Begitu diterbitkan, novena segera menjadi sangat populer; orang banyak mendoakan novena, bukan hanya sebagai persiapan merayakan Minggu Kerahiman Ilahi, melainkan mereka mendoakannya di waktu-waktu lain juga.

Dengan mendoakan Novena kepada Kerahiman Ilahi, kita sungguh menjadikan intensi-intensi Tuhan Yesus sebagai intensi kita sendiri - sungguh suatu perwujudan nyata yang indah dari hak dan kewajiban istimewa Gereja, sebagai Mempelai Kristus, menjadi pendoa di sisi Kristus yang bertahta di atas singgasana belas kasih.

Novena kepada Kerahiman Ilahi dapat dilihat pada booklet “Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh Stefan Leks; penerbit Kanisius 1993.

Gereja Katedral Ujungpandang


Gereja Katedral Ujung Pandang yang nama resminya adalah Gereja Hati Kudus Yesus adalah gedung gereja tertua di kota Makassar dan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Gereja ini didirikan pada 1898 pada permulaan tahap kedua kehadiran Gereja Katolik di Makassar.

Pada 1525 kota Makassar pertama kali disinggahi oleh tiga orang pastor dan misionaris dari Portugal, yaitu Pastor Antonio do Reis, Cosmas de Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder. Namun baru pada 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan ditugasi di Makassar. Di sana beliau melayani para saudara Portugis yang Katolik serta beberapa raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang juga telah dibaptis menjadi Katolik.

Raja Gowa yang pertama memeluk Islam, yaitu Sultan Alauddin (1591-1638 serta beberapa raja penggantinya memberikan kebebasan kepada umat Katolik untuk mendirikan Gereja pada 1633.
Namun gejolak politik antara VOC dan orang-orang Portugis menyebabkan para rohaniwan Portugis tersingkir dari Makassar. Jatuhnya Malaka ke tangan VOC dan perjanjian Batavia 19 Agustus 1660) menyebabkan Sultan Hasanuddin diharuskan mengusir semua orang Portugis dari Makassar (1661). Sultan mengatur dengan baik keberangkatan orang-orang Portugis. Bruder Antonio de Torres yang mengasuh sebuah sekolah kecil untuk anak laki-laki meninggalkan Makassar pada 1668. Sejak itu selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar. Orang-orang Katolik yang masih ada hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.

Pada 1892, Pastor Aselbergs, SJ, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal di suatu rumah mewah di Heerenweg (kini Jl. Hasanuddin). Pada 1895 dibelilah sebidang tanah dan rumah di Komedistraat (kini Jl. Kajaolalido), lokasi gedung gereja sekarang. Gereja dibangun pada tahun 1898 selesai 1900; direnovasi dan diperluas pada tahun 1939, selesai pada 1941 dengan bentuk seperti sekarang.

Pada 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Pada tanggal 13 Mei 1948 menjadi Vikariat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar.

Menjumpai Kristus di dalam Ibadat Hari Minggu


Renungan Minggu Paskah II
Tahun B
Oleh Pastor Paulus Tongli, Pr
(Pastor Paroki Katedral Makassar)

Selama pekan suci kita sangat gembira dan diteguhkan oleh hadirnya begitu banyak umat di dalam perayaan-perayaan kita. Saya bertanya dalam hati, umat dari mana saja yang begitu banyak? Pada hari minggu biasa, mereka semua itu ikut misa di mana ya? Seorang imam setengah baya pada suatu hari minggu paskah melihat bahwa begitu banyak umat yang hadir pada perayaan ekaristi paskah pagi itu. Dengan gembira ia menyapa umatnya sbb.: “Umatku yang terkasih, karena banyak dari antara anda sekalian yang hadir saat ini baru akan muncul lagi pada hari paskah berikut, maka sekarang saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan selamat hari natal dan selamat tahun baru!” 

Perbedaan antara jumlah umat yang menghadiri perayaan sekitar pekan suci dengan jumlah umat yang hadir pada hari-hari minggu yang biasa begitu besar. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang dijuluki orang Kristen pekan suci atau setidaknya orang Kristen “bernapas”, orang Kristen yang hanya muncul pada perayaan pekan suci atau sekitar natal dan paskah. Ada seseorang yang mengeritik pastornya dengan mengatakan: “Saya telah menghadiri ibadat di gereja ini selama 3 tahun, dan setiap kali kotbah pastor adalah tentang hal yang sama. Tidak dapatkah para pastor itu berbicara tentang hal yang lain?” Ya orang ini telah 3 tahun mengunjungi gereja itu, tetapi hanya pada hari minggu paskah pagi, sehingga ia selalu mendengar kotbah tentang kebangkitan Kristus.
Mengapa begitu banyak orang Kristen yang tidak menghadiri ibadat mingguan secara teratur? Jawaban yang dapat diberikan hanya satu kata: keraguan atau krisis iman. Orang zaman kini, seperti juga orang sepanjang zaman, memiliki kehausan dan kelaparan akan Allah. Mereka mencari makna hidup, tetapi mereka menjadi ragu setiap kali jawaban akan pertanyaan eksistensial ini dapat ditemukan di antara empat dinding tembok bangunan gereja. Karena alasan ini banyak orang yang lebih suka menghabiskan waktu mereka untuk kegiatan sosial, untuk bekerja, dan untuk hal-hal ilmiah daripada untuk beribadat di gereja. Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah contoh orang yang demikian itu. Namanya adalah Thomas.

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat…. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka” (Yoh 20:19). Para murid berkumpul bersama pada hari minggu, hari pertama dalam minggu itu. Karena para murid adalah orang-orang Yahudi mereka menghadiri ibadat pada hari sabat (Sabtu) dan pada hari minggu mereka berkumpul sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Karena mereka berkumpul dalam namaNya, Yesus menampakkan diri kepada mereka sebagaimana yang sebelumnya dijanjikanNya kepada mereka: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, Aku hadir di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Dengan itu hari Minggu dikenal sebagai hari Tuhan, hari di mana Kristus datang menjumpai dan menguatkan umatNya, hari yang istimawa untuk ibadat orang Kristen. Maka, injil hari ini telah menggambarkan ibadat orang Kristen yang pertama setelah kebangkitan Tuhan. Ibadat itu biasanya dilaksanakan pada malam hari.


Jadi semua murid berkumpul untuk beribadat bersama dan pantas diperhatikan bahwa Thomas tidak hadir. Di mana Thomas? Kita dapat lihat bahwa Thomas adalah seperti orang-orang modern kini yang merasa tidak perlu secara teratur menghadiri misa pada hari Minggu. Orang yang demikian tidak hadir di gereja saat Yesus datang untuk menjumpai dan menguatkan umatNya di dalam iman mereka. Akibatnya, mereka tetap dalam keraguannya. Tentulah para murid memiliki keraguan. Tetapi karena perjumpaan mereka dengan Tuhan yang bangkit pada ibadat hari Minggu itu, keraguan mereka telah diubah menjadi iman. Thomas melewatkan pengalaman ini.

Tetapi sebagai orang bijaksana, Thomas tidak ingin lagi untuk alpa dari perkumpulan orang percaya. Bacaan injil melanjutkan, “Delapan hari kemudian (artinya pada hari Minggu berikut) murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! (Yoh 20:26). Kali ini Thomas dapat ikut serta di dalam pengalaman kebangkitan. Saat itu juga kerajuannya diubah menjadi iman dan ia jatuh tersungkur dan berkata: : "Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay. 28) Kini bertanyalah juga pada diri masing-masing, apa kiranya yang terjadi seandainya Thomas tetap tidak hadir dan berkata: “Buktikanlah, buktikanlah kepada saya bahwa Yesus sungguh bangkit, barulah setelah itu saya akan datang”. Mungkinkah untuk membuktikan kebangkitan Yesus dengan argument-argumen semata-mata? Kadang-kadang argument yang paling baik yang dapat diberikan kepada seseorang yang ragu dan tidak percaya adalah satu kalimat dengan 3 kata: “datang dan lihatlah”.

Datang dan biarkanlah Tuhan yang bangkit, yang ada bersama kita di dalam ibadat ini, Tuhan yang hadir dengan sabdaNya dan di dalam Ekaristi, biarkanlah Dia sendiri berbicara kepadamu dan menyentuh hatimu, sehingga engkau tidak akan ragu lagi melainkan percaya. Bila engkau ragu, ingatlah akan keraguan Thomas dan belajarlah dari pengalamannya sendiri. Datanglah dan engkau akan melihat.



Rabu, 11 April 2012

Katedral Makassar masuk Metrotvnews










Metrotvnews.com, Makassar: Ribuan umat Kristiani di Makassar menyambut peringatan wafatnya Yesus Kristus dengan khidmat. Peringatan Jumat Agung di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, kali ini hanya menggelar dua kali misa. 

Misa pertama dilakukan pukul 15.00 WITA dan kedua pukul 18.30 WITA. Misa pertama dipimpin Paroki Agung Hati Yesus yang Maha Kudus Uskup John Liku ada', sedangkan misa kedua dipimpin Pastor Sammy. (Pastor Sani Maksudnya)

Dalam misa pertama, berlangsung pula prosesi ibadah penghormatan salib. Ini merupakan penghormatan dan rasa syukur terhadap pengorbanan Yesus Kristus. (Wrt3)

Minggu, 08 April 2012

Keadilan selalu di dasari dengan rasa KASIH

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. 

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga kita semua selalu bisa mengambil keputusan dengan kasih, kasih akan membuat dunia ini menjadi lebih baik. GBU

Cari Blog Ini