Cari Blog Ini

Rabu, 17 Februari 2016

8 Pertanyaan Soal Yubileum Kerahiman Yang Mungkin Masih Bikin Penasaran


pintu suciPertanyaan-soal-yubileum-kerahiman-yang-mungkin-masih-bikin-penasaranTahun Suci / Tahun Yubileum menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam Gereja Katolik. Tapi karena hanya dirayakan setiap 25 tahun sekali, banyak umat jadi tidak mengerti bahkan salah memahami Tahun Suci. Bahkan karena Yubileum Kerahiman tahun ini adalah sebuah Yubileum luar biasa, banyak umat semakin dibuat bingung.
Di bawah ini adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling banyak diajukan seputar Yubileum Kerahiman.

.
1. Apa itu Tahun Suci?
Tradisi Yahudi menginspirasi Gereja Katolik untuk mulai merayakan Yubileum atau Tahun Suci. Tradisi ini dimulai pada tahun 1300 oleh Paus Bonifasius VIII.
Tahun Suci adalah sebuah sarana pengampunan menyeluruh yang terbuka bagi semua umat. Tahun Suci merupakan sarana spesial untuk mencapai Allah dan sesama.

.
2. Apa sih bedanya Yubileum biasa dan Yubileum luar biasa?
Jadi ada 2 macam Yubileum, Yubileum biasa dan luar biasa.
Sejak tahun 1475, Yubileum biasa telah dirayakan sekali dalam 25 tahun. Sedangkan Yubileum luar biasa dirayakan hanya untuk peringatan / peristiwa tertentu.
Hingga saat ini, sudah diselenggarakan 24 kali Yubileum biasa dan 4 kali Yubileum luar biasa. Yubileum Kerahiman yang dicanangkan Paus Fransiskus nanti akan menjadi yang ke-5.
Yubileum luar biasa terakhir dilaksanakan oleh Paus St. Yohanes Paulus II pada tahun 1983. Beliau juga melaksanakan Yubileum biasa terakhir, yakni Yubileum tahun 2000.

.
3. Kenapa Paus Fransiskus mengadakan Yubileum luar biasa?
Paus Fransiskus mengumumkan Yubileum Kerahiman pada Maret 2015 dan menjelaskan alasannya saat membacakan Bulla Kepausan pada bulan April.
“Kenapa Yubileum Kerahiman? Sederhananya, karena Gereja yang sedang berada dalam perubahan bersejarah, dipanggil untuk menawarkan tanda kehadiran dan kedekatan Allah dengan intensitas yang lebih besar. Ini bukan saatnya untuk larut dalam kebingungan.”
~ Paus Fransiskus, 11 April 2015

Organisator Yubileum menjelaskan lebih jauh mengenai kepentingan spiritual pelaksanaan Yubileum.

“Kita harus paham bahwa alasan paling utama dari perayaan ini adalah untuk memunculkan pemahaman dalam diri kita masing-masing bahwa kita memiliki kebutuhan yang begitu mendalam akan kehadiran Allah.”
~ Rino Fisichella

.
4. Berapa lama Tahun Suci akan berlangsung?
Sebenarnya Tahun Suci tidak benar-benar berlangsung selama setahun penuh / 365 hari. Yubileum Kerahiman sendiri akan berlangsung kurang dari setahun, dimulai pada 8 Desember 2015 dan akan berakhir pada 20 November 2016.

.
5. Berapa banyak umat yang akan datang ke Roma?
Perayaan Yubileum di tahun 2000 sendiri menarik sekitar 25 juta peziarah ke Roma. Dengan estimasi jumlah yang sama akan datang berziarah selama Yubileum Kerahiman.
Di tahun Yubileum ini dipastikan akan datang jutaan umat yang memenuhi Basilika St. Petrus dan gereja-gereja lain di area ziarah. Para pemilik toko di dekat Vatikan berkata bahwa mereka sedang mempersiapkan tenaga untuk tahun yang begitu sibuk ini.

.
6. Di manakah perayaan akan digelar?
Tahun Suci dipastikan akan menjadi tahun yang amat sibuk. Setelah Pintu Suci di Basilika St. Petrus dibuka pada 8 Desember, Pintu-Pintu Suci di seluruh kota juga akan dibuka.
Perayaan ini akan berpusat pada konsep Kerahiman. Ini berarti penanganan spesial akan dilakukan untuk membuat Sakramen Rekonsiliasi / pengakuan dosa menjadi bagian paling utama dalam Yubileum.

“Pastinya, Sakramen Rekonsiliasi / pengakuan dosa akan mendapat tempat paling utama dalam seluruh hari selama Yubileum, tapi akan ada beberapa gereja di dekat Basilika St. Petrus yang akan didedikasikan secara khusus untuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi.”
~ Rino Fisichella

Selama Yubileum akan ada Doa Vigili di bulan Mei dan Yubileum bagi para narapidana di bulan November. Kunjungi www.im.va untuk informasi lebih lanjut mengenai agenda-agenda selama Tahun Yubileum.

.
7. Apa itu Pintu Suci?
Ritual pertama dari Yubileum Kerahiman adalah pembukaan Pintu Suci.
Dalam kunjungannya ke Afrika, Paus Fransiskus membuka Pintu Suci di Katedral Bangui, Republik Afrika Tengah. Pembukaan Pintu Suci ini merupakan langkah kuat yang menunjukkan bahwa Yubileum Kerahiman ini dibuka di seluruh keuskupan di Dunia.

Akan tetapi, Paus Fransiskus juga akan membuka Pintu Suci di Basilika St. Petrus. Normalnya, Pintu Suci ini dibuka tiap 25 tahun sekali. Faktanya, sebuah tembok dibangun untuk menyegel Pintu Suci sampai kemudian disingkirkan saat mendekati Yubileum selanjutnya.
Karena Yubileum ini adalah Yubileum luar biasa, Pintu Suci akan dibuka lebih awal (hanya 15 tahun sejak terakhir ditutup).

Pintu Suci menyimbolkan jalan luar biasa yang dapat membuka dan mengarahkan umat Katolik menuju iman mereka. Bagi para peziarah, salah satu yang paling disoroti dalam peziarahan mereka adalah berjalan melalui Pintu Suci.

.
8. Apakah aman untuk mengunjungi Roma saat ini?
Sebagai respon atas serangan teroris di Paris beberapa saat lalu, pengamanan telah ditingkatkan di seluruh Eropa. Dikarenakan Roma merupakan pusat Gereja Universal, maka Roma kemungkinan juga diperhitungkan sebagai sasaran serangan teroris selanjutnya.
Kekhawatiran akan serangan yang mungkin menyasar Perayaan Yubileum mendatang semakin tinggi. Pasukan militer dan polisi Italia sudah berjaga di seluruh situs turis utama, terutama Vatikan dan lapangan St. Petrus.

Meskipun begitu, kebanyakan warga Roma lebih mengkhawatirkan apakah sarana transportasi kota yang tidak memadai dapat memuat lebih banyak turis daripada mengkhawatirkan kemungkinan serangan teroris

Hari Orang Sakit Sedunia Ke-24 Tahun 2016

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk 
Hari Orang Sakit Sedunia Ke-24 Tahun 2016

Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria:
“Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5)

hari orang sakit sedunia 2016Saudari-saudara terkasih,
Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda.

Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di Tanah Suci, saya ingin menawarkan sebuah renungan dari Injil tentang pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11), dimana Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama melalui campur tangan Ibunda-Nya. Tema yang dipilih – Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) – sungguh sesuai dengan semangat Yubileum Agung Kerahiman. Perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit ini akan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2016, pada peringatan liturgis Santa Perawan Maria dari Lourdes, di Nazaret, dimana “Sang Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Di Nazaret, Yesus memulai misi keselamatan-Nya, dengan menerapkan kepada diri-Nya kata-kata Nabi Yesaya, sebagaimana diceritakan Penginjil Lukas: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan bagi orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).

Penyakit, di atas semuanya penyakit yang berat, selalu menempatkan keberadaan manusia dalam krisis dan membawa serta pertanyaan yang begitu dalam. Tanggapan pertama kita bisa jadi merupakan satu pemberontakan: Mengapa ini terjadi padaku? Kita dapat merasa putus asa, berpikir bahwa semuanya telah hilang, bahwa semua hal dalam hidup ini tidak mempunyai arti lagi.

Dalam situasi-situasi ini, iman kepada Allah pada satu sisi diuji, namun pada waktu yang sama dapat menyatakan semua sumber daya positifnya. Bukan karena iman menyebabkan penyakit, rasa sakit, atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, menghilang, tetapi karena iman menawarkan kunci yang membantu kita dapat menemukan makna terdalam dari apa yang sedang kita alami; sebuah kunci yang membantu kita melihat bagaimana penyakit dapat menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yesus yang berjalan di sisi kita, yang dibebani oleh salib. Dan kunci ini diberikan kepada kita oleh Maria, Bunda kita, yang telah lebih dulu mengenal jalan ini.

Pada pesta perkawinan di Kana, Maria adalah perempuan bijaksana yang melihat masalah serius bagi kedua mempelai: anggur, simbol sukacita pesta, telah habis. Maria mengetahui adanya kesulitan, dalam beberapa hal menyelesaikan dengan caranya sendiri, dan bertindak dengan cepat dan hati-hati. Dia tidak sekedar menonton, dalam waktu singkat menemukan dimana letak masalahnya, tetapi lebih dari itu, dia berpaling kepada Yesus dan mengajukan kepada-Nya persoalan yang nyata: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Dan ketika Yesus mengatakan padanya bahwa sekarang belum tiba waktunya bagi Dia untuk menyatakan diri-Nya (bdk. Ayat 4), Maria mengatakan kepada para pelayan: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (ayat 5). Kemudian Yesus melakukan mukjizat, mengubah air menjadi anggur, anggur yang dengan seketika menjadi anggur yang terbaik dalam keseluruhan pesta. Pelajaran apa yang dapat kita tarik dari misteri pesta perkawinan di Kana ini bagi Hari Orang Sakit Sedunia?

Pesta perkawinan di Kana merupakan suatu gambaran Gereja: di pusatnya ada Yesus yang dalam belaskasih-Nya mengerjakan suatu tanda; di sekitar Yesus ada para murid, buah-buah pertama dari komunitas yang baru; serta di samping Yesus dan para murid ada Maria, Ibu pemelihara dan pendoa. Maria ambil bagian dalam kegembiraan orang kebanyakan dan membantunya untuk tumbuh; dia menjadi perantara dengan Puteranya atas nama kedua mempelai dan semua tamu yang diundang. Yesus juga tidak menolak permintaan ibu-Nya. Betapa besar harapan yang ada dalam peristiwa itu bagi kita semua! Kita memiliki seorang Ibu yang lemah lembut dan yang selalu waspada, seperti Puteranya; sebuah hati yang penuh kasih keibuan, seperti Dia; tangan-tangan yang ingin membantu, seperti tangan-tangan Yesus yang memecah-mecah roti bagi mereka yang lapar, menjamah yang sakit dan menyembuhkan mereka. Semua ini memenuhi kita dengan kepercayaan dan membuka hati kita bagi rahmat dan belaskasih Kristus.

Kepengantaraan Maria membuat kita mengalami penghiburan yang membuat rasul Paulus memuliakan Allah: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (2Kor 1:3-5). Maria adalah Ibu “penghiburan” yang menghibur anak-anaknya.

Di Kana ciri khas Yesus dan misi-Nya terlihat dengan jelas: Dia datang untuk menolong mereka yang berada dalam kesulitan dan yang kekurangan. Memang, di medan pelayanan mesianis-Nya, Dia menyembuhkan banyak orang dari berbagai penyakit, kelemahan-kelemahan dan roh-roh jahat, memberi penglihatan pada yang buta, membuat orang yang lumpuh berjalan, memulihkan kesehatan dan martabat bagi mereka yang lepra, membangkitkan yang mati, dan mewartakan kabar baik kepada orang miskin (bdk. Luk 7:21-22). Permintaan Maria pada pesta perkawinan, yang didorong oleh Roh Kudus pada hati keibuannya, dengan jelas memperlihatkan bukan hanya kekuasaan Yesus sebagai Juru Selamat tetapi juga belas kasih-Nya.

Dalam keprihatinan Maria, kita menyaksikan pantulan kelembutan hati Allah. Kelembutan hati yang sama ini hadir di dalam hidup semua orang yang memberi perhatian kepada orang sakit dan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka, bahkan kepada orang-orang yang paling tidak mendapat perhatian, karena mereka memandang orang-orang sakit dan yang tidak mendapat perhatian dengan mata yang penuh cinta. Sedemikian sering seorang ibu menunggui anaknya yang sakit di samping pembaringannya, atau seorang anak yang merawat orangtua yang sudah lanjut usia, atau seorang cucu yang prihatin terhadap kakek-neneknya, menyerahkan doa mereka ke dalam tangan Bunda kita! Untuk orang-orang yang kita cintai yang menderita karena suatu penyakit, kita pertama-tama memohon untuk kesehatan mereka. Yesus sendiri memperlihatkan kehadiran Kerajaan Allah secara khusus melalui penyembuhan-penyembuhan-Nya: “Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:4-5). Tetapi kasih yang dihidupi oleh iman membuat kita memohon bagi mereka sesuatu yang lebih besar daripada kesehatan jasmani: kita memohon kedamaian, ketentraman di dalam hidup yang datang dari hati dan merupakan rahmat Allah, buah dari Roh Kudus, rahmat dari Bapa yang tidak pernah menolak mereka yang memohon kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.

Dalam adegan di Kana, selain Yesus dan Ibu-Nya, ada “pelayan-pelayan”, yang kepada mereka Maria katakan: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5). Tentu saja, mukjizat tersebut sebagai karya Kristus; bagaimanapun, Dia ingin menggunakan bantuan manusia dalam melakukan mukjizat ini. Dia dapat membuat anggur yang secara langsung ada di gentong-gentong. Namun Dia ingin mengandalkan kerjasama manusia, karena itu Dia meminta pelayan-pelayan untuk mengisi gentong-gentong itu dengan air. Betapa indah dan menyenangkan Tuhan menjadi pelayan bagi orang lain! Ini lebih daripada apa pun yang membuat kita seperti Yesus, yang “datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani” (Mrk 10:45). Orang-orang yang tak dikenal ini di dalam Injil mengajarkan kepada kita suatu hal besar. Tidak sekedar memperlihatkan mereka taat, tetapi mereka taat dengan sepenuh hati: mereka mengisi gentong-gentong sampai penuh (bdk. Yoh 2:7). Mereka percaya pada bunda-Nya dan segera mengerjakannya dengan baik apa yang diminta untuk mereka kerjakan, tanpa mengeluh, tanpa berpikiran macam-macam.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia ini marilah kita memohon kepada Yesus di dalam belas kasih-Nya, melalui perantaraan Maria, Ibunda-Nya dan Ibu kita, untuk melimpahkan kepada kita kesiapsediaan yang sama untuk melayani mereka yang membutuhkan, dan secara khusus, saudari-saudara kita yang lemah. Kadang-kadang pelayanan ini terasa melelahkan dan membebani, namun kita tentu yakin bahwa Tuhan pasti akan mengubah upaya-upaya manusiawi kita menjadi sesuatu yang ilahi. Kita juga dapat menjadi tangan, lengan dan hati yang membantu Allah untuk melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, yang begitu sering tersembunyi. Kita juga, entah sehat atau sakit, dapat mempersembahkan beban hidup dan penderitaan-penderitaan kita seperti air yang memenuhi gentong-gentong pada pesta perkawinan di Kana dan diubah menjadi anggur terbaik. Dengan diam-diam membantu mereka yang menderita, seperti dalam penyakitnya sendiri, kita memikul salib harian kita di atas bahu kita dan mengikuti Sang Guru (bdk. Luk 9:23). Meskipun begitu pengalaman penderitaan akan selalu merupakan sebuah misteri, Yesus membantu kita untuk mengungkapkan maknanya.

Jika kita mampu belajar mentaati kata-kata Maria, yang mengatakan: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu”, Yesus akan selalu mengubah air kehidupan kita menjadi anggur yang berharga. Demikian Hari Orang Sakit Sedunia ini, yang dirayakan secara khidmat di Tanah Suci, akan membantu memenuhi harapan yang saya nyatakan dalam Bulla Tahun Yubileum Agung Kerahiman: ‘Saya percaya bahwa Tahun Yubelium Agung yang merayakan kerahiman Allah ini akan membantu perkembangan perjumpaan dengan (Yudaisme dan Islam) dan dengan tradisi-tradisi mulia agama lain; semoga hal ini membuka kita pada dialog yang lebih sungguh-sungguh lagi sehingga kita saling mengenal dan mengerti satu sama lain dengan lebih baik; semoga hal ini mengikis setiap bentuk kepicikan pikiran dan sikap kurang hormat, serta menyingkirkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi’ (Misericordiae Vultus, 23). Setiap rumah sakit dan rumah perawatan dapat menjadi sebuah tanda yang kelihatan dan menjadi tempat untuk mempromosikan budaya perjumpaan dan perdamaian, di mana pengalaman sakit dan menderita, disertai dengan bantuan yang profesional dan semangat persaudaraan, membantu mengatasi setiap keterbatasan dan keterpecahan.

Untuk ini kita diberi teladan oleh dua orang suster religius yang dikanonisasi pada akhir Mei yang lalu: Santa Maria-Alphonsine Danil Ghattas dan Santa Maria dari Baouardy Yesus Tersalib, keduanya puteri dari Tanah Suci. Yang pertama adalah seorang saksi kesabaran/kelembutan dan kesatuan, yang memberi kesaksian yang jelas mengenai pentingnya tanggungjawab kepada satu sama lain, dengan hidup saling melayani. Yang kedua, seorang perempuan yang rendah hati dan buta huruf, yang patuh pada Roh Kudus dan menjadi sebuah sarana perjumpaan dengan dunia muslim.

Kepada semua yang membantu orang sakit dan menderita, saya menyatakan harapan yang saya yakini bahwa mereka akan mengambil inspirasi dari Maria, Bunda Kerahiman. “Semoga kemanisan ketenangannya menjaga kita di dalam Tahun Suci ini, sehingga kita semua dapat menemukan kembali sukacita dari kelembutan hati Allah (ibid, 24), mengijinkannya tinggal di dalam hati kita dan menyatakannya dalam tindakan-tindakan kita! Marilah kita mempercayakan pencobaan-pencobaan dan kesengsaraan-kesengsaraan kita kepada Perawan Maria, bersama dengan sukacita dan penghiburan kita. Marilah memohon kepadanya untuk mengalihkan mata belaskasihnya ke arah kita, khususnya di kala sakit, dan menjadikan kita pantas memandang, wajah kerahiman Yesus Puteranya, kini dan selamanya!

Teriring doa untuk Anda semua, saya melimpahkan Berkat Apostolik.

Dari Vatikan, 15 September 2015
Pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita

PAUS FRANSISKUS

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2016

Keuskupan Agung Makassar


Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat Katolik Keuskup Agung Makassar:
Salam sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, yang “senantiasa mengasihi murid-murid-Nya... sampai pada kesudahannya” (Yoh. 13:1) Lingkaran 5 tahunan gerakan APP Nasional 2012-2016 mengangkat tema besar “ Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Sub Tema terakhir pada tahun 2016 ini berkisar pada “ HIDUP PANTANG MENYERAH”. Di bawah ini kita ingin merenungkan topik ini dengan berpangkal dari Kitab Suci sebagai sabda Allah.

1.    Manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah.
Kej. 1:27  menegaskan bahwa, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (bahasa Ibrani: selem)”. Sedangkan  ayat 26 menyatakan, manusia dicptkan “menurut gambar dan rupa (đ mŭt)” Allah. Ini penting diperhatikan. Kata selem berarti copy yang persis sama dengan aslinya, reproduksi; sedangkan đ mŭt berarti serupa, mirip. Jadi gambaran antropomorfistis dalam ayat 27 diperhalus dalam ayat 26, dengan tambahan bahwa manusia diciptakan menurut “rupa” Allah. Ciri keserupaan manusia dengan Allah itu selanjutnya dijelaskan dalam ayat 26: “ supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap d bumi”. Kemahakuasaan Allah pertama-tama dikaitkan dengan kenyataan bahwa, Dialah Pencipta langit dan bumi dan segala isinya. S ebagai Pencipta, Ia terus-menerus berkerja memelihara ciptaan-Nya; sekali berlepas tangan, segala sesuatu akan hilang ke dalam ketiadaan. Itulah kiranya yang dimaksudkan Yesus ketika Dia menegaskan: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Sebagai kesimpulannya, sebagai gambar dan rupa Allah, manusia juga harus terus-menerus bekerja tanpa henti.
Selanjutnya, perlu diperhatikan bahwa setiap kali satu tahap penciptaan selesai, ditegaskan: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej. 1:4.10.12.18.21.25.31). Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dalam keadaan baik. Dan Allah sendiri tidak pernah akan merusak ciptaan-Nya yang baik itu, melainkan terus memeliharanya. Kesimpulannya jelas, kekuasaan yang diberikan kepada manusia boleh menggunakan kekuasaan tersebut secara semena-mena untuk merusak alam ciptaan. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia berkewajiban menjafa dan memelihara alam ciptaan terus-menerus. Hal ini menjadi lebih jelas dalam kisah taman Eden.

2.    Taman Eden.
Apan tujuan Allah menciptakaan langit dan bumi serta segala isinya, yang memuncak pada penciptaan manusia? Tentulah bukan untuk kepentingan Allah sendiri. Mengapa? Sebab Allah itu Mahasempurna. Ia tidak memerlukan apa pun dari luar diri-Nya. Jadi apa sesungguhnya tujuan penciptaan? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam kisah taman Eden (Kej. 2:8-25): untuk membahagiakan manusia sebagai puncak ciptaan. Kej. 2:7 mengatakan: “Tuhan Allah membentuk manusia manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”.
            “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlaha ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidup di tengah-tengah taman itu” (Kej. 2:8-9). Sebagai “gambar dan rupa” Allah tentu saja manusia tidak dapat hanya duduk bermalas-malas di taman Eden. Sebagaimana Allah sendiri terus berkerja, manusia juga  harus terus berkeraja “mengusahakan dan memelihara taman itu” (ayat15).
            Di taman Eden itu Tuhan Allah membentuk dari tanah segalah ternak (ayat 20), binatang hutan dan burung-burung di udara (ayat 19.20). di taman Eden pulalah Tuhan Allah menjadikan penolong bagi manusia itu, yang sepadan dengan dia: “ Tuhan Allah membuat manuasia itu tidur nyenyak.... Tuhan Allah menngambil salah satu rusuk daripadanya.... Dan dari rusuk itu......, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu mereka berkata manusia itu: ‘Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki’. Sebab itu seorang laki-laki akan menginggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (ayat 21-24). Jadi lembaga keluarga sebagai ikatan cinta kasih suci antara suami-istri ketetapan tegakkan  sejak semua ini, Yesus Kristus kemudian menegaskan “Karena itu, apa yang telah  dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 196; Mrk 10.9). keluarga manusia pertama itu hidup berbahagia di taman Eden, karena mereka berada dalam hubungan akrab dengan Tuhan Allah. Tuhan Allah digambarkan sering “berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” ( Kej. 3.8).

3.    Akibat Dosa.
Sebagai  “ gambar dan rupa “ manusia tidak dapat tidak harus tatap dalam ikatan ketergantungan pada Allah. Sebuah reproduksi tidak dapat berubah menjadi yang asli. Tetapi itulah yang terjadi dengan kisah kejatuhan manusa (Kej. 3): Manusia tidak tunduk kepada Allah; ia melepaskan ketergantungan pada Allah. Dan mau menjadi Allah sendiri. Sebagai akhibatnya, rencana asli penciptanya  ditunggangbalik: kisah kebahagian ( di taman Eden ) menjadi kisah penderitaan, sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan.
Hal pertama yang ditemukaan Adam, si pendosa, ialah bahwa ia telanjang (37:10-10). Apa yang sampai saat itu hanya bersifat simbol, kin menjadi pemisah. Ketika ditanya Allah, adaman memersalahkan istrinya dan dengan demikian menjauhkan diri daripadanya ( 3:12 ). Allah kemudian memberitahu mereka bahwa kesatuan mereka (sebagai “satu daging”) telak rusak; relasi mereka akan dikuasau oleh kekuatan naluri atau nafsu, oleh iri hati dan dominasi; dan buah cinta mereka (anak) hanya akan diberikan kepada mereka dengan sangat kesakitan waktu melahirkan (3:12). Bab-bab selanjutnya dari kitab Kejadian memperlihatkan betapa pemisahan pasutri/keluarga pertama ini berpengaruh pada segala macam ikatan sosial; antara Kain dan Habel, saudara sekandung yang bermusuhan (Kej. 4), dan di kalangan penduduk Babel yang tak lagi saling mergerti satu sama lain (Kej. 11:1-9). Sejarah agama merupakan sebuah rentang kusut jaringan perpecahan, silih bergantinya perang antara suku dan bangsa, antara kelompok dalam satu bangsa, antara yang kaya dan yang miskin.
Dosa tidak hanya merusak relasi antara manusia. Dosa membawa pula pengaruh pada hubungan manusia dengan alam.  Akibat dosa Adam, untuk selanjutnya tanah menjadi terkutuk. Manusia akan memperoleh makanannya tidak lagi sebagai buah spontan bumi, melainkan sebagai hasil jerih payah dengan berpeluh (Kej. 3: 17:19). Ciptaan lalu ditaklukkan kepada kesia-siaan ( Rom. 8:20); ganti tunduk dengan rela, ia membrontak melawan manusia.
Akibat lebih para dari dosa ialah putusan hubungan akrab antara manusia dengan Allah, yang dilambangkan dengan pengusiran manusia dari taman Eden ( Kej. 3:22-24). Sebagai konsekwensi putusnya hubungan dengan Allah ini, manusia diserahkan kepada kematian yang menakutkan (maut). “ Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (3:19). Ganti menerima kehidupan ilahi sebagai anugerah (“Tuhan Allah ... menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya”, Kej. 2:7), Adam membuang hidup ilahi itu, dan mau menjadi Allah dengan makan buah pohon terlarang (tidak tunduk kepada Allah). Akibat ketidaktaatan ini, manusia menghancurkan sumber hidupnya. Kematian yang seharusnya hanya merupakan peralihan spontan kepada Allah, kini tidak lagi berupa genjala korati (biologis) senata. Kini kematian itu menjadi pengalaman fatal, menandakan penghukuman, kematian abadi, dengan menolak hukum batin, yang merupakan kehadiran ilahi dalam dirinya, manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, kepada otonominya yang salah. Sejarah mencatat kegagalan-kegagalan berulang kali dari orang yang menyangka dapat menyamai Allah dan kemudian hanya berjumpa dengan kematian, berupa maut yang menakutkan.

4.    Dipulihkan dan Disempurnahkan dalam Kristus
Kendati berdosa, ternyata manusia tidak pernah ditinggalkan sama sekali oleh Allah. Dosa manusia tidak membatalkan sama sekali rencana penyelamatan Allah. Karya penyelamat Allah yang berlanjut itu memuncak dalam peristiwa penebusan oleh Yesus Kristus. “ Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:16-17). Dia, Sang Sabda yang ada bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah ( Yoh. 1:1) telah menjelma “menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14); Dia menjadi Imanuel, Allah berserta kita (Mat. 1:23). Dalam Yesus Kristus, Allah yang jauh akibat dosa manusia menjadi yang sungguh dekat, menjadi solider dengan manusia dalam arti sepenuh-penuhnya. Dia menjadi sama dengan kita dalam segala hal, Dia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Sama seperti setiap manusia. Dia dilahirkan, bertumbuh menjadi besar dalam keluarga, berkerja sebagai tukang kayu untuk mencari nafkah, mengalami berbagai tantangan dan kesulitan dalam hidup-Nya.
            Bahkan ketika usia-Nya baru sekitar 33 tahun, Dia sudah harus mengalami kematian mengerikan di atas salib, yang pada zaman itu hanya dijatuhkan pada penjahat kaliber berat. Tetapi menurut Kitab Suci itulah misteri penebusan. Kristuslah “ yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhkan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia (Allah) memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia (Allah) mengadakan pendamaian oleh dara salib Kristus” (Kol. 1:18-20).
            Misteri penebusan (pendamaian) pada salib Kristus itu memuat dua aspek hakiki. Pertama, dalam hubungan dengan Allah (Bapa), kematian Yesus di atas salib merupakan ungkapan Ketaatan Total Yesus kepada Bapa-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Mrk. 14:36; Mat.26:39; Luk. 22:42). Sikap gambar Allah yang sejati ini (Kol. 1:15) bertolak belakang dengan sikap Adam lama yang tidak taat pada Allah.
            Aspek hakiki kedua, dalam hubungan dengan manusia, kematian Yesus di salib merupakan penyataan kasih yanpa batas. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Kasih sejati memang menuntut pengorbanan. Pemisahan-pemisahan akibat dosa diatasi dengan kasih Kristus. “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, kateba semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3:28). Ya, akibat dosa perbedaan antara pria dan wanita telah menjadi konflik; perceraian suami dan istri menjalar ke perpecahan sosial dan rasial. Tetapi ketika menemukan kembali keutuhannya dalam Kristus, manusia dapat menguasai situasi manusiawi; kebebasan atau perhambaan, perkawinan atau keperawanan ( 1 Kor. 7), masing-masing mempunyai makna dan nilainya dalam Kristus Yesus. Kekacauan bahasa-bahasa yang melambangkan pemisahan dan perpecahan antara manusia diatasi oleh bahasa Roh yang diberikan secara pasti oleh Kristus. Belas kasih ini mengungkapkan diri melalui beragam Kharisma untuk kemuliaan Bapa.
          Akhinya, menyangkut hubungan manusia dengan alam ciptaan yang dirusak oleh dosa, dipulihkan dan diperbaharui dalam Kristus. Seluruh ciptaan, yang kendati takluk kepada kesia-siaan dan sampai hari ini sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin, masih memiliki pengharapan akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, untuk masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Jika karena dosa, pekerjaan tetap merupakan beban, ia telah diberi nikau baru dengan pengharapan akan diubah ke dalam kemuliaan akhir ( Rom/ 8:18-30). Dan ketika musuh terakhir, yaitu maut, dihancurkan, Putera akan menyerahkan kembali kerajaan-Nya kepada Allah Bapa dan dengan demikian Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor. 15:24-28).
Singkatnya, penebusan dan penyelamatan dalam Kristus sudah dan sedang berlangsung. Namun pemenuhannya baru akan terlaksana pada akhir zaman. Dengan harapan teguh dalam iman, kita menantikan secara aktif pemenuhan itu.

5.    Memperjuangkan Kesejahteraan Tanpa Henti.
Kembalilah kita sekarang kepada Tema APP Nasional 2016 “ Hidup Pantang Menyerah” dalam memperjuangkan Kesehateraan. Tentu saja bagi kita orang Kristiani satu-satunya dasar dan sekaligus contoh utama dalam perjuangan seperti itu iala Yesus Kristus. Tiada seorang pun oendiri agama, selain Yesus, yang dapat berkata: “ Aku telah memberikan teladan kepada kami, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat” (Yoh. 13:15). Pendiri agama lain hanya mampu berkata, “Ini Hukun atau perintah dari Yang Maha Tinggi (Allah), pelajari dan laksanakanlah”. Manakah teladan utama yang telah diberikan Yesus? Ini: “Supaya kami saling mengasihi sama seperti Aku mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Bagaimana Yesus telah mengasihi kita? Sampai sehabis-habisnya hingga mati di atas salib! “ tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Yesus setia hingga akhir dalam melaksanakan misi-Nya. Kita sering mendengar nasehat orang bijak: “Kegagalan adalah awal dari Sukses”. Yesus menjadi saksi utama kebenaran ucapan ini. Kegagalan salib membawa sukses (Kemuliaan Kebangkitan). Yesus mengiatkan : “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mrk. 8:34).
Selanjutnya seorang Kristiani tidak pernah boleh berputus asa dan berhenti berjuang. Seorang Kristiani harus selalu memiliki harapan. Ia tidak pernah boleh melupakan bahwa penyelamatan dalam Kristus, yang di dalamnya dia terpanggil mengambil bagian, pemenuhannya baru akan terlaksana pada akhir zaman. Henri Nouwen menegaskan bahwa seorang Kristiani tidak pernah boleh menjadikan hasil-hasil konkret sebagai motif utama kegiatan-kegiatan dalam kehidupan. Sesungguhnya hidup setiap orang penuh dengan keinginan. Namun pada kenyataannya lebih sering keinginan-keinginan itu tidak terpenuhi, dan karenanya seseorang terus berada dalam bahaya dikecewakan, sakit hati, marah atau tidak peduli; akhirnya dia merasa entah di mana dan bagaimana dia telah dihianati. Hanya dengan perspektif harapan seseorang dapat mengalahkan sikap konkretisme ini. Gabril Marcel menjelaskan bahwa apa yang oleh banyak disebut harapan sebetulnya adalah suatu bentuk dari cara berpikir agar apa yang diinginkan terpenuhi. Harapan tidak terarah kepada pemberian (Baca: hasil konkret), melainkan kepada Dia yang memberikan segala sesuatu yang baik. Kita menginginkan sesuatu, tetapi kita berharap pada. Oleh karena itu yang paling hakiki bagi harapan sejumlah syarat untuk tindakannya, tidak meminta tanggungan, tetapi menantikan segala sesuatu dari yang lain tanpa memberi batas pada kepercayaannya.
Satu contoh besar dalam gal ini ialah sosok Martin Luther King, pejuang hak-hak sipil kaum Negro di Amerika Serikat. Dia mendorong kaumnya untuk memperjuangkan hak-hak yang sangat konkret, tempat yang sama di bis dan direstoran, hak yang sama dalam Pemilu. Namun dalam pada itu dia tidak pernah menganggap semua itu sebagai nilai yang paling akhri. Ia selalu melihat lebih jauh daripada hasil-hasil konkret perjuangannya, seseorang pribadi. Dan dia bahkan menjadi korban perjuangannya tanpa kekerasan, mari ditembak, tanpa sempat melihat hasil konkret perjuangannya. Martin Luther King adalah seorang Kristiani yang mengalami nasib serupa dengan Yesus. Baru sekitar setengah abad kemudian hasil perjuangannya memuncak secara simbolis dan nyata dengan terpilihnya Bacak Obama. Seorang peranakan Negro, menjadi Presiden AS pada tahun 2008.
Selamat menjalani Masa Prasapkah, sambil mendasarkan diri pada dan meneladani Yesus Kristus Tuhan kita, yang dengan tekun, ulet, sabar dan setia hingga akhir dalam karya penyelamatan umat manusia!

Uskup Agung Makassar
Mgr. John Liku-Ada', Pr

Makassar. 26 Januari 2016
Pesta Bertobatnya Santo Paulus


+ Mgr. John Liku-Ada’
Uskup Agung Makassar








PERATURAN PUASA DAN PANTANG
1.     Masa Prapaskah mulai pada HARI RABU ABU tanggal 10 Februari 2016 dan berjalan sampai Pesta Paskah tanggal 27 Maret 2016.
2.     Seluruh Masa Prapaskah adalah waktu bertapa. Karena itu diharapkan dari masing-masing agar selama Masa Prapaskah dengan kesadaran dan kerelaan melakukan pekerjaan amal dan tapa menurut pilihan masing-masing, selain yang diwajibkan di bawah ini.
3.     Secara khusus diminta perhatian untuk AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP), yang dimaksudkan mengumpulkan dana. Yang diperoleh dari usah-usah penghematan / berpantang. Dana itu diperuntukkan karya-karya sosial, termasuk usaha-usaha  pengembangan Komunitas Basis/Keluarga dan pemberdayaan lingkungan. Sungguh menggembirakan melihat umat untuk berpartisipasi dalam kegiataan-kegiatan APP semakin meningkat. Tahun 2015 dan hasil APP di Keuskupan kita naik 7,64% di bandingkan dengan tahu 2014. Sambil mengucapkan terima kasih tas semua itu, kita berharap APP tahun ini akan meningkat lebih baik lagi.
4.     Di samping itu selama Masa Prapaskah kita wajib berpuasa dan berpantang menurut peraturan berikut:
a.    Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung ada kewajiban berpuasa dan berpantang.
b.    Pada hari-hari Jumat Biasa dalam Masa Prapaskah hanya ada kewajiban berpantang.
c. Berpuasa berarti mengurangi makan, sehingga hanya satu kali saja boleh makan kenyang dalam sehari. Kewajiban untuk berpuasa ini berlaku bagi mereka yang berumur antara 18 sampai 60 tahun.
d. Berpantang berarti mengurangi makanan mewah sesuai dengan penilaian daerah  masing-masing, misalnya berpantang dari daging. Secara perorangan dapat pula menentukan wujud berpantang menurut keadaan masing-masing,  misalnya berpantang dari berjajan makanan khusus, dari minuman keras, dari rokok, dll. Kewajiban berpantang berlaku bagi mereka yang berusia 14 tahun ke atas.
5.     Mereka yang mendapat makanan dari dapur umum, atau yang hidup di tengah keluarga yang seluruhnya belum Katolik, bebas dari wajib pantang, tetapi tidak bebas dari wajib puasa.
6.     Kewajiban Paskah, yaitu kewajiban untuk menyambut komuni (dan kalau perlu sebelumnya mengaku dosa) dapat dipenuhi dari Hari Rabu Abu tanggal 10 Februari 2016 sampai Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 29 Mei 2016.