Cari Blog Ini

Senin, 10 Maret 2014

Pesan Paus Fransiskus untuk masa Prapaskah 2014

Berikut pesan Paus Fransiskus untuk masa Prapaskah 2014 yang dirilis oleh konferensi Pers Vatikan pada Selasa 4 Februari 2014. Tema dari pesan yang diambil ialah dari Surat St Paulus kepada Jemaat di Korintus, "Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya" (2 Kor 8:9). Di bawah ini, merupakan terjemahan tidak resmi Bahasa Indonesia oleh Katolisitas Indonesia dari News.Va:





Saudara-saudari yang terkasih,


Pekan Prapaskah semakin dekat, saya ingin menawarkan beberapa usulan yang berguna pada jalan konversi kita sebagai individu maupun sebagai komunitas. Renungan ini terinspirasi oleh kata-kata dari Santo Paulus: "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2 Kor 8:9). Sang Rasul menulis kepada orang-orang Kristen dari Korintus untuk mendorong mereka agar bermurah hati dalam membantu umat beriman di Yerusalem yang membutuhkan. Apa arti dari perkataan dari Santo Paulus bagi kita orang Kristen saat ini? Apakah ajakan dalam kemiskinan, hidup evangelisasi dalam kemiskinan, bermakna bagi kita saat ini?


Kasih karunia Kristus


Pertama-tama, hal itu menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan bekerja. Dia tidak mengungkapkan diriNya berjubah dalam kekuasaan duniawi dan kekayaan, melainkan dalam ketidakberdayaan dan kemiskinan: "Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya... ". Kristus, Putra Allah yang kekal, satu dengan Bapa dalam kuasa dan kemuliaan, memilih untuk menjadi miskin, Ia hadir diantara kita dan dekat dengan setiap dari kita masing-masing, Ia menyisihkan kemuliaan-Nya dan mengosongkan diriNya sehingga Ia bisa menjadi seperti kita dalam segala hal (lih. Flp 2:7; Ibr 4:15). Allah yang menjadi manusia adalah sebuah misteri besar! Tapi alasan untuk semua ini adalah kasih, cinta dalam kasih karunia, kemurahan hati, keinginan untuk mendekat, kasih yang tidak ragu-ragu untuk mempersembahkan diriNya sendiri bagi orang yang dikasihi. Perbuatan amal, kasih, berbagi dengan orang yang kita cintai dalam segala hal. Kasih membuat kita mirip, menciptakan kesetaraan, cinta juga merobohkan dinding dan menghilangkan jarak. Allah berbuat seperti ini dengan kita. Memang, Yesus " bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akalbudi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi, Ia mengasihi dengan hati manusiawi. Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang diantara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa" (Gaudium et Spes, 22).


Dengan membuat diriNya sendiri miskin, Yesus tidak mencari kemiskinan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi seperti yang St. Paulus katakan "bahwa dengan kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya". Ini bukan permainan kata-kata belaka atau tangkapan frasa. Sebaliknya, itu merangkum logika Allah, logika cinta, logika inkarnasi dan salib. Allah tidak membiarkan keselamatan kita jatuh begitu saja dari langit, seperti orang yang memberikan sedekah dari kelimpahan mereka yang disertai rasa altruisme dan kesalehan. Kasih Kristus itu berbeda! Ketika Yesus melangkah ke air di sungai Yordan dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melakukanNya bukan karena Ia membutuhkan pertobatan atau konversi. Dia berada di antara orang-orang yang membutuhkan pengampunan, di antara kita orang-orang berdosa, dan untuk mengambil pada diriNya sendiri beban dosa-dosa kita. Dengan cara ini Ia memilihuntuk menghibur kita, untuk menyelamatkan kita, untuk membebaskan kita dari kesengsaraan kita. Hal ini mengejutkan bahwa Sang Rasul menyatakan bahwa kita dibebaskan, bukan oleh kekayaan Kristus, tetapi oleh karena kemiskinan-Nya. Namun St. Paulus juga menyadari "kekayaan Kristus yang tidak terduga itu…" (Ef 3:8), bahwa Ia adalah "ahli waris dari segala sesuatu" (Ibr 1:2).


Jadi, apa kemiskinan ini yang mana Kristus membebaskan dan memperkaya kita? Ini adalah caraNya untuk mengasihi kita, caraNya menjadi tetangga kita, seperti orang Samaria baik hati yang adalah tetangga dari seorang yang ditinggalkan setengah mati di pinggir jalan (lih. Luk 10:25). Sehingga yang memberi kita kebebasan sejati, keselamatan dan kebahagiaan sejati adalah kasih sayang, kelembutan dan solidaritas cintaNya. Kemiskinan Kristus yang memperkaya kita adalah kemauanNya mengambil kemanusiaan dan menutupi kelemahan dan dosa-dosa kita sebagai ungkapan kasih sayang Allah yang tak terbatas kepada kita. Kemiskinan Kristus adalah harta terbesar kita semua: kekayaan Yesus adalah bahwa ketaatan tak terbatas kepada Allah Bapa, kepercayaan yang konstan, keinginanNya yang selalu dan hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan memberi kemuliaan bagi BapaNya. Yesus kaya dengan cara yang sama sebagai anak yang merasa dicintai dan yang mencintai orang tuanya, tanpa meragukan cinta dan kelembutan mereka untuk sesaat. Kekayaan Yesus terletak pada keberadaannya sebagai Anak; hubungan unikNya dengan Bapa adalah hak prerogatif dari kedaulatan Mesias yang miskin ini. Ketika Yesus meminta kita untuk mengambil dariNya "kuk yang mudah", ia meminta kita untuk diperkaya oleh-Nya "kemiskinan yang kaya "dan" kekayaan yang miskin"-milikNya, untuk berbagi semangat berbakti dan persaudaraan, untuk menjadi putra dan putri dalam Anak, saudara dan saudari dalam Saudara Sulung yang dilahirkan (lih. Rom 8:29).


Seperti yang telah dikatakan bahwa satu-satunya penyesalan yang nyata terletak pada tidak menjadi orang suci (L. Bloy), kita juga bisa mengatakan bahwa hanya ada satu jenis nyata kemiskinan: tidak hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara-saudari Kristus.


Kesaksian kita


Kita mungkin berpikir bahwa "jalan" kemiskinan adalah cara Yesus, sedangkan kita yang datang setelah Dia dapat menyelamatkan dunia dengan sumber daya manusia yang tepat. Bukan ini permasalahannya. Di setiap waktu dan tempat, Allah terus menyelamatkan umat manusia dan dunia melalui kemiskinan Kristus, yang membuat diriNya miskin dalam sakramen-sakramen, dalam Sabda dan Gereja-Nya, yang merupakan orang-orang yang miskin. Kekayaan Allah mengalir tidak melalui kekayaan kita, tapi selalu dan secara eksklusif melalui kemiskinan personal dan komunal kita dengan dihidupi oleh semangat Kristus.


Dalam mengikuti teladan Guru kita, kita orang Kristen dipanggil untuk menghadapi kemiskinan saudara-saudari kita, menyentuhnya, menjadikannya milik kita sendiri dan untuk mengambil langkah-langkah praktis untuk mengurangi itu. Kemelaratan tidak sama dengan kemiskinan: kemelaratan adalah kemiskinan tanpa iman, tanpa dukungan, tanpa harapan. Ada tiga jenis kemiskinan: material, moral dan spiritual. Kemelaratan materi adalah apa yang biasanya disebut kemiskinan dan mempengaruhi orang-orang yang hidup dalam kondisi berlawanan dengan martabat manusia: mereka yang tidak memiliki hak-hak dasar dan kebutuhan seperti makanan, air, kebersihan, pekerjaan dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam budaya. Menanggapi kemiskinan ini, Gereja menawarkan bantuannya, diakonianya, dalam memenuhi kebutuhan tersebut dan membebat luka-luka yang menodai wajah kemanusiaan. Dalam kemiskinan dan keterbuangan kita melihat wajah Kristus, dengan mengasihi dan membantu orang miskin, kita mengasihi dan melayani Kristus. Upaya kita juga diarahkan untuk mengakhiri pelanggaran martabat manusia seperti diskriminasi dan kekerasan di dunia, yang kini sangat sering menjadi penyebab kemiskinan. Ketika kekuasaan, kemewahan dan uang menjadi berhala, mereka mengambil prioritas di atas keadilan kebutuhan pemerataan. Hati nurani kita butuh dikonversikan ke keadilan, kesetaraan, kesederhanaan dan berbagi.


Tidak kurang dalam perhatian juga ialah kemiskinan moral, yang terdiri dalam perbudakan wakil dan dosa. Berapa banyak rasa sakit disebabkan dalam keluarga karena salah satu anggota mereka – yang umumnya orang muda - ialah menjadi budak alkohol, narkoba, perjudian atau pornografi! Berapa banyak orang yang tidak lagi melihat makna dalam hidup atau prospek untuk masa depan, berapa banyak yang telah kehilangan harapan! Dan berapa banyak yang terjun ke kemiskinan ini dengan kondisi sosial yang tidak adil, pengangguran, yang menghilangkan martabat mereka sebagai pencari nafkah, dan dengan kurangnya akses yang sama terhadap pendidikan dan kesehatan. Dalam kasus tersebut, kemiskinan moral dapat dianggap sebagai bunuh diri yang akan datang. Jenis kemiskinan, yang juga menyebabkan kehancuran finansial, yang selalu terkait dengan kemiskinan spiritual yang kita alami ketika kita berpaling dari Allah dan menolak kasih-Nya. Jika kita berpikir kita tidak membutuhkan Allah yang menjangkau kita bahkan Kristus, karena kita percaya bahwa kita dapat melakukannya sendiri, kita menuju ke suatu kejatuhan. Hanya Allah sendiri yang benar-benar dapat menyelamatkan dan membebaskan kita.


Injil adalah antidot nyata untuk kemiskinan spiritual: ke mana pun kita pergi, kita dipanggil sebagai orang Kristen untuk memberitakan kabar pembebasan, bahwa pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan adalah suatu hal yang mungkin, bahwa Allah lebih besar dari situasi kedosaan kita, bahwa Ia dengan kehendak bebasnya mengasihi kita setiap saat dan bahwa kita diciptakan untuk persekutuan dan hidup kekal. Tuhan meminta kita untuk menjadi pembawa pesan sukacita, rahmat dan harapan ini! Adalah suatu hal yang mendebarkan, mengalami sukacita untuk menyebarkan kabar baik ini, berbagi harta yang dipercayakan kepada kita, menghibur yang patah hati dan menawarkan pengharapan kepada saudara-saudari yang mengalami kegelapan. Ini berarti mengikuti dan meniru Yesus, yang mencari orang miskin dan orang-orang berdosa sebagai seorang gembala yang dengan penuh kasih mencari domba yang hilang. Dalam persatuan dengan Yesus, kita berani bisa membuka jalur baru evangelisasi dan promosi kemanusiaan.


Saudara-saudari yang terkasih, mungkin dalam masa Prapaskah ini ditemukan bahwa seluruh Gereja siap untuk bersaksi kepada semua orang yang tinggal dalam kemelataran material, moral dan spiritual menurut pesan Injil yang penuh belas kasih dari Allah, Bapa kita, yang siap untuk merangkul semua orang di dalam Kristus. Kita bisa menjadi seperti ini, ketika kita meniru Kristus yang menjadi miskin dan memperkaya kita dengan kemiskinanNya. Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk penyangkalan diri, kita akan melakukannya dengan baik untuk bertanya pada diri sendiri apa yang bisa kita berikan dalam rangka untuk membantu dan memperkaya orang lain dengan kemiskinan kita sendiri. Janganlah kita lupa bahwa kemiskinan nyata sangatlah menyakitkan: tidak ada penyangkalan diri yang nyata tanpa dimensi penebusan dosa ini. Saya tidak percaya suatu amal kasih yang sia-sia dan tidak meyakiti.


Semoga Roh Kudus , melalui kita "sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." (2 Kor 6:10), mendukung kita dalam resolusi dan meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab untuk kemiskinan manusia, sehingga kita bisa menjadi penuh belas kasihan dan bertindak dengan belas kasih. Dalam mengungkapkan harapan ini, saya juga berdoa agar setiap anggota umat beriman dan setiap komunitas Gereja akan melakukan perjalanan Prapaskah yang berbuah. Saya meminta Anda semua untuk berdoa bagi saya. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda kita menjaga Anda.


Dari Vatikan, 26 Desember 2013 Pesta Santo Stefanus, Diakon dan Martir Pertama.

Rabu, 05 Maret 2014

MENCERMATI TRADISI BERBAGI KASIH PADA SETIAP HARI RAYA KEAGAMAAN

Add caption
HARI MINGGU BIASA V
Oleh:  P. Wilhelmus Tulak, Pr

Dalam suasana Perayaan Imlek yang kental dengan nuansa budaya yang mencapai puncaknya pada Perayaan Cap Go Meh, kita menyaksikan tradisi berbagi kasih lewat pembagian ‘ampao’. Sejauh kami ketahui tradisi berbagi ‘ampao’ dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak atau kepada orang yang patut mendapat ‘ampao’, termasuk kepada orang yang belum menikah sejauh masih terguntung pada orang lain. Tradisi yang sama kita temukan juga pada saat Perayaan Natal dan Perayaan Idul Fitri. Sebagai orang beragama kiranya  kita perlu merenungkan  dalam relung hati kita yang paling dalam sejauhmana ‘tradisi’  tersebut  membawa  ‘perbaikan sosial’ atau memperbaiki  kesejahteraan ‘orang-orang kecil dan lemah. 

Dalam bacaan Pertama pada hari Minggu ini, Minggu Biasa yang ke-5, Nabi Yesaya mengungkapkan dua hal yaitu ‘kesalehan palsu’ yang biasa disebut kesalehan ritual dan ‘kesalehan sejati’ yang biasa disebut kesalehan sosial (bdk Yesaya 58) Kesalehan palsu adalah kesalehan yang cenderung dipahami dan dihayati oleh orang-orang agamis yaitu orang-orang yang rajin berpuasa dan berdoa dengan sangat khusuk, tetapi tidak mempengaruhi tingkah laku hidup sehari-hari. Sedangkan Kesalehan sejati adalah kesalehan yang tidak berhenti hanya pada kegiatan ritual, tetapi terbawa/terhayati dan mempengarui  hidup sehari-hari.  Lewat Nabi Yesaya Tuhan mengecam orang-orang yang cenderung agamis saja. Tuhan bersabda : “Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukendaki dan mengadakan hari merendahkan diri………………… (Yes 58,4-5b). Selanjutnya Tuhan bersabda:  “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu  bagi orang-orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah …,,, (Yes 58,6-7). 

Bertolak dari Bacaan tersebut di atas (Bacaan Kedua pada Hari Minggu Biasa yang ke-5), kiranya sudah sangat jelas bahwa sebagai orang beragama  kita dituntut untuk menyatukan atau men-sinkron-kan kedau kesalehan tersebut di atas. Sebab jika kesalehan  ritual tidak diimbangi dengan kesalehan sosial maka, kita bisa  menjadi orang yang a-sosial, bahkan  bisa jadi tanpa disadari menjadi orang yang ikut memelihara atau mempertahankan ketimpangan sosial atau ketidakadilan. Sebaliknya, jika kesalehan sosial tidak diimbangi kesalehan ritual maka kita bisa menjadi orang yang humanis, bahkan penganut  ateisme-praktis, beragama tatapi tidak ber-tuhan. Adalah suatu kenyataan bahwa mengalami dan menyaksikan adanya ketimpangan sosial,  muncullah gerakan dan upaya untuk memperbaiki  ketimpangan sosial tersebut entah lewat demonstrasi dan pemogokkan yang berakhir dengan kesepakatan atau lewat pembentukan dan pemberlakuan UU yang diterapkan Pemrintah melalui penetapan UMR (Upah Minimun Regional), UMP (Upah Minimum Propinsi) dan UMK (Upah Minimun Kota). Dengan demikian kiranya dapat disimpulkan bahwa jika kesalehan ritual dan kesalehan sosial ada dalam diri setiap orang beragama , maka ia akan melaksanakan secara proporsonal (mentaati) ketentuan-ketentuan tersebut di atas. Kesalehan sosial tentu tidak cukup dengan hanya melakukan tindakan sporadis pada Hari-Hari Besar Keagamaan, sekalipun itu perlu dan penting untuk dilakukan, seperti pembagian ‘amplop merah’ (ampao) dalam suasana imlek seperti sekarang ini.  Kita perlu kembali menemukan suatu sistem yang lebih komprehensif, sekalipun dalam Masa Prapaska yang sering disebut Masa Puasa  kita sudah mengenal gerakan pembagian dan pengumpulan dana lewat ‘amplop putih’ (APP) dan dalam Depas ada Seksi Sosial yang bertugas dalam bidang sosial  atau seperti yang dikenal dan diperkenalkan saudara-saudara kita yang beragama Islam lewat Rumah Zakat,  Dompet Duapa dll. Kiranya melalui pengelolaan dana yang terencana dan tepat sasaran kita dapat menghadirkan Gereja yang senantiasa berbela rasa, Gereja yang dirasakan dan dialami oleh mereka yang tidak berdaya. Itulah Gereja yang menjadi garam dan terang dalam dunia, Gereja yang menampakkan dirinya dalam  kesalehan ritual dan sosial. Tuhan bersabda:”Apabila engkau tidak lagi tidak mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (Yes 58,9b-10).

KASIH, BUAH DARI HIDUP TAAT BERAGAMA

HARI MINGGU BIASA VI
Oleh:  P. Fransiskus Nipa, Pr
Inspirasi Bacaan:  Yes. 15: 15-20; 1 Kor.2: 6-10; Mat. 5:17-37
Di salah satu tempat wisata terkenal di Sulawesi ini, terdapat sebuah lukisan yang besar lagi indah. Pada lukisan tsb ada tulisan berbunyi “Damai Itu Indah”; dan sebagai latar belakang dilukislah foto dari ke-5 pimpinan agama, masing-masing mengenakan “pakaian kebesaran” agama ybs. Lukisan tsb dipasang pada gerbang pintu masuk obyek wisata tsb, jadi dapat dipastikan setiap pengunjung melihat lukisan besar itu baik ketika baru saja tiba maupun pada saat keluar meninggalkan lokasi wisata yang dimaksud. Tapi pertanyaan, apa yang dipikirkan para pengunjung ketika memandang lukisan tsb ? Khususnya ketika mereka mengingat pengalaman konkrit hidup harian mereka di mana peristiwa-peristiwa kekerasan seringkali mengatasnamakan atau memakai “label agama”. 

Illustrasi ini dapat membantu kita untuk menangkap pesan dari Sabda Tuhan yang diwartakan Gereja pada Hari Minggu Biasa VI ini. Melalui Mazmur Tanggapan, kita deraskan, Berbahagialah mereka yang hidup menurut Taurat Tuhan, berbahagialah yang berpegang teguh pada perintah Tuhan (Mzm. 119:1). Dan berkenaan Taurat Tuhan, Yesus dalam Bacaan Injil bersabda, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17). Yesus datang bukan untuk menghapus atau menggugurkan Taurat pasal demi pasal, apalagi membuat “judicial review”, tidak ! Yesus datang justru untuk memberi daya dan kekuatan baru kepada hukum Taurat yakni hidup baru berdasarkan kasih (Bacaan II).  Mat. 5:19 berbunyi: “… siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Surga.” Dan sesudahnya, Yesus menegaskan: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga !

Manakah hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi yang disorot dan dikritik keras oleh Yesus ? Hal itu dapat kita lihat dalam 4 (empat) contoh kasus penghayatan hukum Taurat, yang tertera dalam Kel 20:13 dst dan juga Ul 5:17 dst, sebagaimana dijelaskan Yesus yakni larangan membunuh, berzinah, menceraikan isteri dan bersumpah palsu. Larangan-larangan tsb mereka hayati secara “legalistik”. Pasal demi pasal mereka patuhi sebagai “kumpulan dan rangkaian aturan”  saja  tetapi nilai-nilai luhur yang ada di balik hukum tsb mereka abaikan. Terjadilah kemunafikan dan manipulasi besar-besaran. Hukum tidak lagi menjadi “panglima” sebab diatur sedemikian rupa demi egoisme, interesse dan kepentingan tertentu. Fungsi hukum demi bonum commune (kesejahteraan bersama) tidak lagi menjadi orientasi ! Akibatnya, praktek hukum agama tidak lagi mengantar orang untuk berjumpa dengan Tuhan; antara manusia terjadi pemerasan, yang kuat memeras yang lemah. Demikianlah penghayatan hidup dan hukum keagamaan masyarakat Yahudi di zaman Yesus. 

Nah, bagaimana kita manusia beragama hari ini menjalankan “hukum agama” kita dari hari ke hari ? Agama mestinya membawa “atmosfir” kedamaian, kerukunan dan kesatuan umat manusia; bukan benih-benih kebencian ! Dan bagi kita para murid Yesus, Injil hari ini mengingatkan kita agar “hidup  keagamaan kita menjadi lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”. Kiranya prinsipnya, tak lain dan tak bukan, adalah dari hari ke hari terus bertekun belajar menghidupi semangat Yesus, Sang Guru kita yang adalah KASIH. 

Dahulu kala ada kebiasaan di biara-biara Katolik bahwa para religius sungguh-sungguh berpuasa dan berpantang secara keras selama Pekan Suci. Selama Pekan Suci mereka hanya boleh makan roti dan minum air putih saja. Mereka tidak boleh memasak dan menyiapkan makanan lain, selain roti dan air putih.

Diceritakan bahwa pada suatu hari ada sebuah biara didatangi oleh serombongan peziarah yang sangat lapar dan kehausan. Pembimbing rohani dari biara yang melihat bahwa para peziarah itu sangat lapar dan haus, cepat-cepat memasak dan menyiapkan hidangan yang sederhana untuk para tamunya. Beberapa anggota biarawan muda yang melihat pembimbing rohaninya memasak dan menjamu para tamu itu, merasa perbuatan itu sebagai suatu skandal. Mereka merasa sangat bingung dengan peristiwa itu, lalu mereka keluhkan kejadian itu kepada pemimpin biara. Mereka berkata: “Pembimbing rohani telah melanggar peraturan biara. Ia telah memasak makanan dalam Pekan Suci!”

Pemimpin biara tersenyum berkata kepada biarawan-biarawan muda itu: “Saudara-saudaraku, pembimbing rohanimu memang telah melanggar peraturan biara yang dibuat oleh manusia, namun dengan menjamu para peziarah yang kelaparan dan kehausan itu, ia telah melaksanakan perintah Tuhan”.

Mari dengan hidup “taat beragama” dan dalam suasana yang hangat dari peringatan Hari Valentine (Hari Kasih Sayang), kita tata dan perkuat kesaksian hidup, pelayanan dan pengabdian kita,  sebagai bukti kasih Tuhan kepada umat manusia. Dimana ada kasih, di sana Tuhan hadir !