Cari Blog Ini

Kamis, 23 Januari 2014

“WASPADALAH: PERSELISIHAN MEMBAWA PERPECAHAN”

HARI MINGGU BIASA III
Inspirasi Bacaan: Yesaya, 8, 23b-9, 3; 1Kor 10-17; Mat 4:12-13.

Adalah suatu fakta yang tidak dapat disembunyikan bahwa hampir semua Umat beragama terlah terpolarisasi dalam berbagai faham keagamaan yang sempit. Bahakan dalam sejarah setiap Agama Besar kita mengetahui dan menyaksikan terjadinya  perpecahan yang tak jarang berakhir dengan kekerasan, yang memicu terjadinya peperangan, yang sering disebut perang agama atau  perang suci,  misalnya ‘perang salib’  atau perang ‘ sahid’. Sebagai sebuah istilah, semestinya tidak perlu ada istilah ‘perang agama’, apalagi perang suci, karena dalam istilah perang agama terkandung dua hal yang sangat kontradiktif. Dalam berperang orang membenarkan kekerasan untuk mencapai tujuan, sedang dalam beragama orang mestinya menghidari kekerasan untuk mencapai tujuan. Istilah agama berasal dari  dari bahasa Sansekerta, a artinya tidak, gama artinya kacau. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa agama adalah cara dan pandangan hidup yang  menolak kekacauan. Menolak kekacauan berarti menolak  kekerasan yang menjadi sumber kekacauan. Menolak kekerasan berarti menolak perang, apapun istilahnya.
Dengan latar belakang fakta dan pemahaman seperti tersebut di atas ajakan untuk menggalang  PERSATUAN dan PERSAUDARAN lewat Pekan Doa Sedunia menjadi sangat relevan dan urgen dalam dunia  kita, khususnya  sepanjang dan sejauh orang menyebut dirinya beragama. Sebagai orang Kristen kita perlu menyadari bahwa sejak awal Yesus telah mengungkapkan KEPRIHATINAN dan KERINDUANNYA tentang para pengikutNya. Dalan Yohanes 17 Yesus mengungkapkan dalam doanya betapa pentingnya PERSATUAN  di antara para pengikut-pengikutNya, sebagaimana Yesus bersatu dengan BapaNya: Yesus ADA di dalam Bapa dan Bapa ADA di dalam Yesus.  Dalan kesadaran dan keyakinan seperti itulah selama tujuh hari berturut-turut, dimulai pada tgl 18 Januaari yang lalu dan berakhir pada tgl 25 Januari diadakanlah Pekan Doa Sedunia untuk menggalang Persatuan di antara seluruh umat Kristiani. Tanggal 18 Januari dipilih untuk menutup Pekan Doa Sedunia untuk memperingati  Pertobatan Rasul Paulus yang dikenal sebagai Rasul Segala Bangsa . Sebab berkat karya Pewartaan  Rasul Paulus bangsa-bangsa non-Yahudi dengan mudah   menerima Inji.
Terkait dengan ketiga Bacaan pada hari Minggu Biasa III, kiranya Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen menjadi suatu ‘keharusan’ bagi semua umat Kristen, karena baik nabi Yesaya, Rasul Paulus dan lebih-lebih Tuhan Yesus sudah menegaskan dan memperlihatkan dalam pewartaan mereja SIKAP dan AJARAN HIDUP BARU  yang sangat inklusif dan bersifat universal. Nabi Yesaya yang hidup sekitar  6 abad sebelum Kristus menubuatkan bahwa sesungguhnya Keselamatan tidak menjadi milik eksklusisf bangsa Yahudi, tetapi semua bangsa manusia yang senantiasa  merindukan Tuhan dalam hidupnya. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, mereka yang diam di negri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yesaya 9,1). Nubuat Yesaya ini terwujud , ketika Yesus meninggalkan Nasaret, lalu menetap di Kaparnaun, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (bdk Mat 4,13). Yesus meruntuhkan tembok pemisah (faham yang sempit dan kerdil dari bangsanya). Yesus merangkul bangsa-bangsa non-Yahudi untuk menjadi satu ‘keluarga baru’ Allah, yang kemudian disebut sebagai Gereja (baca Syahadat Panjang: ciri-ciri Gereja yang benar, yang dikehendaki Tuhan Yesus: Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, Puji Syukur no. 2). 
Dalam mengelola/menggembalakan ‘Keluarga Baru’ Allah (Gereja yang benar) Rasul Paulus dalam Bacaan II pada hari Minggu ini memberikan nasehat-nasehat Pastoral yang selalu relevan dengan kehidupan Umat Kristiani, yang cenderung terpolarisasi dalam faham-faham keagaman yang sempit dan pengkultusan figur-figur tertentu. Rasul Paulus berkata: “Saudara-saudara, aku menasehati kamu, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab ……………………………….. bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? (Bdk 1Kor 1:10-17).  Situasi perpecahan yang mengancam umat Kristen di Korintus sebagaimana di rekam dan diingatkan rasul Paulus dalam bacaan II pada h ari Minggu ini  sering menimpa umat Kristen. Contoh konkrit dapat kita lihat di kota Makassar dengan bermunculannya papan reklame yang mempromosikan sejumlah penginjil-penginjil sebagai buntut dari perselihan dan perpecahan. Bahkan tak jarang pembangunan atau munculnya rumah-rumah  ibadah berbanding lurus atau akibat  perpecahan umat Kristen.  Kiranya fenomena yang tidak sehat ini TIDAK TERJADI  dan TIDAK AKAN TERJADI di dalam Gereja kita, Gereja yang SATU, KUDUS, KATOILIK DAN APOSTOLIK, sebagaimana diingatkan  Rasul Paulus dalam Bacaan II pada hari Minggu ini. Semoga Pekan Doa Sedunia tahun  ini semakin mendorong umat Kristen untuk mau BERSATU dan BERSAUDARA dengan belajar dari pengalaman  (sejarah ) dan membuka diri pada Gereja yang BENAR yaitu Gereja yang dipimpin oleh Paus dan Uskup, bukan Gereja yang dipimpin oleh ‘penginjil-penginjil’ karbitan, yang sering kali terdorong oleh motivasi  ekonomi (perpuluhan).
Tulisan ini juga telah di muat di Tribun Timur Makassar

Pelecut Sukses

Alkisah, ada seorang perempuan muda yang bekerja di salah satu salon kecantikan papan atas di New York, yang sering dikunjungi oleh kalangan atas dan selebritis. Suatu hari dia terkagum-kagum melihat pakaian seorang pelanggan kaya yang sedang berkunjung ke salon tempatnya bekerja. Rasa ingin tahunya langsung muncul, dan lalu bertanya dengan pertanyaan spontan, “Di mana Ibu membeli pakaian Ibu ini, ya?” Pelanggan kaya itu menatap dirinya dengan sikap dingin dan tatapan tajam. Dan dengan ketus, dia menjawab, “Untuk apa kamu mau tahu di mana saya membelinya? 
Kalau saya katakan, toh kamu tidak akan sanggup membelinya.” Mendengar kata-kata hinaan itu, si pekerja salon melangkah pergi dengan wajah merah padam. Perasaannya terluka, tapi batinnya berbicara, “Saya berjanji suatu hari saya pasti bisa mendapat semua seperti yang dipunya wanita kaya itu: perhiasan, rumah mewah, uang yang banyak. 
Mulai sekarang tidak akan ada lagi orang yang berkata seperti itu pada saya.” Tahun demi tahun pun berlalu. Di berbagai surat kabar mulai terpampang foto-foto si pekerja salon tadi bersama orang-orang top dunia, seperti Pangeran Charles, Putri Grace dari Monaco, Rose Kennedy, TC Cooke, dan lainnya. Pekerja salon itu adalah Estee Lauder (1906-2004). Bisa dibilang, pada masa hidupnya, ia adalah salah satu wanita terkaya di dunia dan merupakan pionir dalam industri kecantikan dunia. Perusahaan Estee Lauder Companies miliknya dibangun pertama kali bersama suaminya Joseph Lauder. Perusahaan ini adalah induk dari berbagai merek kosmetik dan fashion bergengsi. Contohnya, Donna Karan Cosmetics, Tommy Hilfiger Toiletries, Aramis, Clinique, dan Mac. Produk-produk Estee Lauder Companies dijual di lebih dari 130 negara di lima benua. Mengenai kisah suksesnya, Estee berulang kali mengatakan, “Saya bisa berhasil tidak hanya dengan berdoa atau berharap, tapi juga dengan bekerja.” Kerabat Imelda..Kisah Estee Lauder tadi menegaskan betapa sebuah hinaan atau cercaan itu sebenarnya bisa memberikan manfaat besar bagi hidup kita. Estee Lauder telah membuktikannya. Dia mampu mengubah perasaan negatifnya terhadap wanita yang menghinanya menjadi motivasi besar dirinya untuk meraih sukses. Jika ada orang yang meremehkan atau menghina kita, biarkan saja. Tapi, jangan sampai kita kehilangan rasa percaya diri dan meratapi diri kita atas hinaan itu, apalagi menyimpannya menjadi dendam hingga mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang yang menghina kita. Seperti yang dilakukan Estee Lauder, kita juga bisa mulai belajar untuk mengubah kata-kata negatif sebagai “pelecut” semangat kita untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. 

Santo Petrus Nolaskus, Pengaku Iman

Petrus lahir tahun 1182 dari keluarga bangsawan Nolasco. Menjelang umur 25 tahun, ia dipaksa menikahi gadis pilihan orang tuanya namun dengan tegas ia menolak paksaan itu karena ia sudah menjanjikan kemurnian dirinya dan mempercayakan segala harta miliknya kepada Tuhan.  Di masa hidupnya, bangsa Moor yang beragama Islam menguasai sebagai besar negeri Spanyol. Perdagangan budak belian yang diambil dari Afrika Utara merupakan salah satu praktek kekafiran yang paling mencolok dari bangsa ini. Petrus menaruh keprihatinan besar pada nasib orang-orang Afrika Utara yang menjadi budak belian itu, terutama mereka yang telah menjadi Kristen. 
Semangat imannya untuk membebaskan orang-orang itu dari cengkraman orang Moor bergejolak kuat dalam batinnya. Akhirnya, didorong oleh suatu penglihatan ajaib, Petrus bersama Raymundus Penafort dan raja Yakobus dari Aragon mendirikan “Ordo Pembebasan Hamba Sahaya. Mereka mempersembahkan ordo ini kepada perlindungan Santa Maria. Dengan semangat iman dan cinta kasih sejati, ia bersama rekan-rekannya berhasil membebaskan banyak orang Kristen (tercatat 890 orang) dari belenggu perbudakan dan dari penjara-penjara Islam. Petrus bahkan mempertobatkan pemimpin- pemimpin bangsa Moor. 
Semangat kerasulannya menarik banyak orang awam untuk turut serta bersamanya membebaskan sesamanya dari belenggu perbudakan dan belenggu dosa. Selama 25 tahun Petrus mengabdikan dirinya dalam karya pembebasan para budak belian itu. Semangatnya yang meluap-luap dalam karyanya itu, akhirnya terbentur dengan kesehatannya yang terus merosot karena termakan usia dan berat tugas penyelamatannya. Setelah ia mengamalkan iman dan Cinta Kasih Kristiani melalui tindakan serta teladan hidupnya, Petrus Nolaskus meninggal dunia tepat pada hari Raya Natal tahun 1256. 

PENJALA MANUSIA

Dodi menarik nafas panjang. Dia sedang menunggu umpannya dimakan ikan. Tiba-tiba, dia merasakan kailnya bergerak, “Ya….. Kena, kena… !” Dodi menarik pancingnya dengan cepat tetapi kailnya ternyata kosong. Ikan yang diharapkan tidak ada dan umpannya pun sudah habis. “Wah, itu pasti ikan yang besar yang lolos.” Kakek berkata sambil tertawa kecil sambil memberikan seekor cacing segar kepada Dodi untuk dijadikan umpan baru.
Tidak lama kemudian, Dodi menarik pancingnya kembali. “Kali ini aku dapat!” Dodi berseru. Dia melepaskan seekor ikan dari kailnya dan dilepaskan di sebuah ember.“Bagus, Dodi.” Kakek ikut senang. “Ikan itu pasti enak untuk digoreng untuk akan malam. Ayo kita lihat berapa ekor ikan lagi ikan bisa kita dapat.”
Setelah beberapa ekor ikan yang didapat, Kakek berkata, “Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-NYA tentang menangkap ikan. Beberapa dari mereka bekerja sebagai nelayan, jadi mereka mengerti apa yang Tuhan Yesus bicarakan. Kamu ingat apa yang dibicarakan, Dodi?”
“Oh, ya. Menjadi penjala manusia, “ Dodi menjawab dengan semangat. “Aku belajar di Sekolah Minggu dan ada sebuah lagu mengenai hal itu, Kakek. Tetapi….apa maksudnya menjadi penjala manusia. Kitakan manusia tidak suka makan cacing……” Dodi tertawa.
Kakek ikut tertawa. “ Tepat sekali, bukan makanan untuk perut tetapi kita memberikan makanan lain yaitu makanan rohani, “ Kakek menjawab. “Makanan rohani itu adalah ‘Roti Kehidupan’. Tuhan Yesus berkata Dialah ‘Roti Kehidupan’ itu, ingat? “
Dodi berppikir sebentar dan berkata, “ Tetapi sering sekali kita tidak mau makan. “
Kakek menggelengkan kepalanya “Tidak, mereka tidak mau makan,” kata Kakek. “Ada yang sama sekali tidak mau mendengar sama sekali tentang Tuhan Yesus. Ada yang seperti ikan yang hanya mengutil, makan sedikit-sedikt. Sepertinya mereka tertarik, tetapi tidak banyak. Meeka pergi setelah mendengarkan sedikit saja nama Tuhan Yesus disebut. Tetapi…..” mata kakek bersinar-sinar, “ada juga orang yang seperti ikanyang kita tangkap ini. Mereka ingin tahu semua yang mereka dengar, dan mereka menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. “ Sambil menunjuk ikan-ikan yang tertangkap di dalam ember. “ Jadi kita harus terus memancing walaupun pertama-tama gagal. Pasti akan berhasil. Begitu pula dalam menjala manusia.”
Renungkan: Apakah kamu juga seorang penjala manusia bagi Tuhan Yesus? Kamu harus terus mencari kesempatan untuk dapat membagikan Injil keselamatan dalam Kristus. Ceritakan kepada orang lain betapa bersyukurnya kamu karena Tuhan Yesus sudah menyelamatkan kamu.

INILAH ANAK DOMBA ALLAH YANG MENGHAPUS DOSA DUNIA

ECCE AGNUS DEI, QUI TOLLIT PECCATUM MUNDI
Oleh : Pastor Fransiskus Nipa, Pr
HARI MINGGU BIASA II
Inspirasi Bacaan:Yes. 49:3.5-6; 1 Kor.1: 1-3; Yoh. 1: 29-34

Pada masa sekarang ini, kata MISA sudah umum kita gunakan untuk menunjukkan Perayaan Ekaristi, bahkan oleh bahasa pers, juga sudah banyak kali dipakai untuk menunjukkan ibadah dari denominasi Kristen misalnya “misa natal” untuk menunjuk kepada kebaktian/ibadah natal. Sekitar 3 (tiga) dekade yang lalu, memang istilah “kurban misa” lebih sering kita gunakan dan rasanya waktu itu sangat akrab dengan telinga kita. Ketika pada Hari Minggu kita meninggalkan rumah menuju gereja untuk “ikut misa” mengandung makna bahwa kita ke gereja untuk merayakan liturgi kudus di mana Kristus memberikan hidupNya sebagai “kurban” demi penghapusan/penebusan dosa agar kita manusia selamat.  

Dalam bacaan Injil pada hari ini, kita mendengar bagaimana Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus: ecce agnus Dei, qui tollit peccatum mundi, inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yesus disebut sebagai “anak domba Allah”, yang mengambil dan memikul dosa manusia. Latar-belakang terminologi “anak domba” dalam Kitab Suci, perlulah dilihat dalam Kitab Imamat pasal 16 yang mengisahkan suatu pesta bangsa Yahudi yakni Pesta Perdamaian. Dalam pesta itu, antara lain harus disediakan 2 (dua) ekor domba; satu dipersembahkan untuk Tuhan, untuk silih dosa dan satu lainnya dilepas ke padang gurun untuk setan/roh jahat. Domba tsb dipercaya membawa serta semua sial dan dosa dari umat.

Gambaran dan makna “anak domba” tsb dikenakan pada diri Yesus dalam rangka penebusan dan penyelamatan umat manusia. Yesus dikisahkan sebagai Anak Domba Allah yang dengan rela dan tulus memikul, memanggul dosa kita manusia. Ia mau menanggung kesalahan dan kejahatan kita. Dan ini dibuktikan dengan pengorbananNya di atas kayu salib. Jauh-jauh hari sebelumnya, Nabi Yesaya sudah meramalkan: Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadaNya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulutnya. … Sungguh, Ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu, Ia kena tulah (Yes. 53:6-8). 

Hamba Allah yang dinubuatkan Nabi Yesaya tsb tergenapi secara paripurna dalam diri Yesus yang sangat berkenan di hati Bapa. Pada Pesta Pembaptisan Tuhan pada Hari Minggu yang lalu kita merenungkan suara dari surga yang mengatakan: Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan !  Yesus sangat dicintai oleh Bapa. Dan terhadap kasih tsb, Yesus setia melaksanakan kehendak BapaNya, melalui seluruh hidup dan karyaNya, yang berpuncak ketika Dia mengurbankan segalanya di atas kayu salib. Dengan jalan tsb, Yesus menjadi cahaya penghalau kegelapan dosa bagi bangsa-bangsa, yang menjangkau dan meluas sampai ke seluruh bumi (Yes. 49: 6, bacaan I). 

Demikianlah Yesus menjadi Anak Domba Allah. Dengan wafat di atas kayu salib, Dia menjadi kurban  penghapusan/penebusan dosa kita manusia. Pengurbanan Yesus di atas kayu salib, itulah yang sekarang kita rayakan dan kenangkan melalui setiap “Kurban Misa” atau Ekaristi Kudus. Pada saat menjelang komuni kudus, seruan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini, selalu diulang kembali oleh imam untuk kita camkan: inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah yang diundang ke Perjamuan Tuhan. Memang kita manusia berbahagia, karena karya penebusan Allah melalui Yesus, Sang Anak Domba Allah. Namun hendaknya misteri kurban ini sekaligus memotivasi dan mendorong kita semua, tanpa kecuali, mengikuti jejak Yesus untuk siap-sedia berkurban, tanpa hitung-hitungan,  demi kesejahteraan dan kebahagiaan semakin banyak orang.

Uskup John Yoseph adalah Uskup Pakistan dan dalam Konferensi Waligereja Pakistan beliau menjadi Ketua Komisi Justice and Peace (Komisi Keadilan dan Perdamaian). Beliau berjuang mati-matian, dengan segala cara untuk meminta perhatian pemerintah dan masyarakat bagi kepentingan golongan minoritas, termasuk umat Katolik, yang sering diperlakukan secara tidak adil. Beberapa kasus terjadi, warga Katolik  dituduh menghujat dan dihukum mati, padahal tidak ada niat sama sekali dari warga Katolik itu untuk menghujat.
Beberapa saat berselang terjadi lagi seorang warga Katolik dituduh menghujat dan diputuskan oleh pengadilan dengan hukuman mati. Uskup John Yoseph memprotes pengadilan yang tidak adil itu. Rupanya segala cara telah ditempuhnya tetapi sia-sia. Akhirnya ia menempuh cara yang membuat Pakistan dan dunia terkejut dan terbuka matanya.

Pada suatu hari, sesudah lama ia merenung dan berdoa, ia pergi ke gedung pengadilan yang sering memutuskan perkara secara tidak adil itu. Di pelataran gedung pengadilan itu ia menembak kepalanya  dengan peluru. Ketika ia rubuh bersimbah darah di pelataran gedung pengadilan itu, baru Pakistan dan dunia terkejut melihat dan tahu tentang ketidakadilan yang sering terjadi di gedung pengadilan itu. Mgr. John Yoseph telah rela menjadi kurban, menjadi tumbal, demi keadilan dan kebaikan untuk banyak orang lainnya.

Kita sendiri: sejauh mana anda memaknai nilai pengurbanan Tuhan di atas kayu salib bagi kesaksian hidup harian kita ?  Dan dalam semangat dasar ini, marilah kita ambil bagian dalam gerakan Pekan Doa Sedunia Untuk Persatuan Umat Kristiani, yang sudah dimulai kemarin tgl 18 Januari dan berlangsung hingga tgl 25 Januari 2014, teks doa Puji Syukur no. 177.  Selamat berdoa !


MENJALANI TAHUN 2014 DENGAN SPIRIT NELSON MANDELA


Tahun 2013 telah kita tinggalkan. Kini ia  menjadi sebuah kenangan dengan segala catatan keberhasilan dan kegagalan, kegembiraan dan kesedian, keberuntungan dan kemalangan, kepahitan dan kebahagiaan. Yang pasti kita harus mengambil sikap yang bijak, supaya  tahun yang telah  berlalu ini member/meninggalkan  sesuatu yang berharga  dalam hidup kita, baik secara pribadi maupun sebagai satu bangsa. Dalam kerangka pemahaman seperti ini sosok pribadi mendiang Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela patut menjadi sumber inspirasi bagi kita dalan mengenang Tahun 2013;  dan menjalani  Tahun  2014.

Sang Inspirator
Setelah sekian lama bergulat dengan penyakit, radang paru-paru, pada usia tua, 85 tahun, akhirnya tokoh sang inspirator dari benua Afrika, Nelson Mandela pergi untuk selama-lamanya. Kematiannya hampir bersamaan dengan  berlalunya tahun 2013, pada bulan Desember 2013. Namun kematiannya meninggalkan banyak kenangan yang berharga bagi dunia. Salah satu kenangan hidupnya yang patut kembali kita angkat adalah SIKAP dan PRINSIPnya yang tegas terhadap ‘PRAKTEK POLITIK APARTEIT’ di Afrika Selatan yang telah menyengsarakan dia dan bangsanya. Mendiang Nelson Mandela menegaskan bahwa kita tidak boleh  melupakan  resim politik Aparteit, tetapi kita dapat memaafkan para pelakunya. “We can forgive, but not forget”, katanya.  Nelson Mandelan menegaskan dengan ‘memaafkan’ manusia dibebaskan dari kebencian dan balas dendam. Dan dengan tidak ‘melupakan’ manusia diingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.     
Sikap tegas sang Inspirator tersebut di atas membuat bangsa Afrika Selatan dengan mudah melewati saat-saat berat sepeninggal resim aparteit.  
Bangsa ini dengan mudah melakukan ‘rekonsiliasi nasional’ yang menghasilkan energi-energi positif, sedehingga Negara dan bangsa ini sukses menjadi menyelengga  salah  satu ivent dunia yang paling bergengsi: Penyelenggara Piala Du
nia Tahun 2010.

Belajar dari Masa Lalu.
Mendiang sang Proklamator bangsa kita, Sukarno mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya yang terkenal dengan istilah:”JAS MERAH” (jangan melupakan sejarah). Oleh karena itu kiranya sudah sewajarnya setiap kali terjadi pergantian tahun, kita kembali menginga-ingat perjalan hidup  bangsa kita. Yang jelas sebagai satu bangsa kita telah melewati tiga periode sejarah kebangsaan kita.  Selama tiga periode ini kita telah mengadakan beberapa kali PEMILU baik untuk pemilihan ‘aleg’ (anggota legislative) maupun PEMILUKADA, terlebih pemilihan Kepemimpinan Nasional (suksesi kepemimpinan nasional). Selama periode pertama ada kecenderungan kita berada dalam iklim demokrasi liberal dengan segala eksesnya seperti separatisme, polarisasi lewat partai politik, Selama peride kedua ada kecenderungan kita berada dalam iklim demokrasi terpimpin dengan segala eksesnya seperti pembatasan partai politik, Pemilu ‘semu’ dengan istilah kebulatan tekad. Selama periode kitiga ada kecenderungan kita berada dalam demokrasi ‘kebablasan’ dengan segala eksesnya seperti partai politik yang bermunculan seperti jamur, pelaksanaan Pemilihan ‘aleg’ yang cenderung menggunakan kekuatan uang, pelaksanaan Pemilukada yang nyaris-nyaris berakhir dengan anarkisme, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang berbuntut panjang pada Bank Century yang bermasalah. Oleh karena itu sebagai bangsa yang besar kita masih harus bekerja keras untuk mendapatkan ‘the right man on the right place’ di berbagai lini kehidupan kita. Dalam era blobalisasi bangsa kita membutuhkan pemimpin yang harus mengedepankan frofesionalisme, bukan primordalisme (kolot). Kita perlu  budaya malu, bukan gengsi dan jabatan. Kita perlu mengedepankan   etika dan moral, bukan uang dan feodalisme. 
Selanjutnya perlu dan penting untuk disadari pula  bahwa sebagai  bangsa yang   dikenal dan senantiasa memperkenalkan dirinuya sebagai bangsa yang beragama lewat acara-acara kenegaraan dan keagamaan (internal) ada kecenderungan bahwa kegiatan-kegitan keagamaan termasuk pembangunan rumah-rumah ibadah tidak berbanding lurus dengan perilaku hidup sehari-hari. Jika nilai-nilai agama sungguh-sungguh dihayati bangsa kita, maka semestinuya bangsa kita sudah harus sembuh dari penyakit kronisnya yaitu korupsi yang masih terus-menerus menggurita. Begitu banyak orang yang tertangkap dan ditangkap oleh  KPK, yang mestinya tidak terjadi. Dan rupa-rupanya masih banyak yang lagi menunggu waktu yang tepat untuk dijebloskan ke rumah tahanan KPK dengan menggunakan ‘rompi kebanggaan KPK’. Sungguh tidaklah bermatabat orang yang tidak sepatutnya menggunakan ‘rompi KPK’, apalagi kalau dia sebagai  pejabat public  tangannya diborgol KPK.

Menyambut Tahun Rahmat atau Tahun Drakula 
Mengingat betapa pentingnya Agenda Nasinal Bangsa kita tahuna 2014 yaitu Pemilihan Anggota Legislatif baik di Daerah/Kota maupun di Pusat dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, persiapan telah dilaksanakan jauh-jauh sebelumnya baik oleh pemerintah, khususnya oleh  Kementrian Dalam Negri dan dan lebih-lebih oleh KPU maupun oleh Partai-Partai Politik, LSM serta sejumlah Lembaga Survey. Tidaklah susah untuk membayangkan bahwa jika Agenda Nasional Bangsa kita berhasil kita laksanakan, maka TAHUN 2014 adalah TAHUN RAHMAT bagi kita sebagai satu bangsa. Tetapi jika kita tidak berhasil melaksanakan agenda ini dengan sebaik-baik dan sebenar-benarnya, penuh dengan rekayasa manipulasi  dan provokasi,  maka TAHUN  2014 akan menjadi TAHUN DRAKULA (tahun mengerikan)  bagi bangsa kita.  

Kengerian karena mempertaruhkan segala-galanya , kecurigaan, kebencian dan kekerasan akan dengan gamblang berada di mana-mana , lebih-lebih didalam diri para petarung-petarung yang tidak ‘siap kalah dan gagal’ dan para pendukung setia yang sering kali tidak menggunakan akal sehat. Keharmonisan dalam masyarakat, termasuk di kampung-kampung dan di desa-desa akan sangat terganggu, jika orang tidak lagi menggunakan AKAL SEHAT  dan   mendengarkan NURANInya. Maka marila kita mempersiapkan dan melaksanakan AGENDA NASIONAL BANGSA kita ini SECARA BERMARTABAT, supaya kita menjadi BANGSA YANG BERMARTABAT seperti bangsa
AFRIKA SELATAN dengan tokoh sang INSPIRATORnya mendiang NELSON MANDELA. 
THE RIGHT MAN ON THE RIGHT PLACE itulah kata KUNCI nya.

DI MANAKAH DIA RAJA ORANG YAHUDI YANG BARU DILAHIRKAN ITU ?

UBI EST QUI NATUS EST REX IUDAEORUM


Oleh:  P. Fransiskus Nipa, Pr
Pesta Penampakan Tuhan
Inspirasi Bacaan: Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a.5-6; Mat. 2:1-12


SESUNGGUHNYA pertanyaan itu merupakan pertanyaan setiap manusia, siapapun dia, yang membutuhkan dan merindukan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Dan inilah fokus dari liturgi kita pada hari raya ini, HR EPIFANI (Penampakan Tuhan). Yesus datang dan lahir sebagai Sang Raja Damai bagi semua yang percaya kepadaNya, tanpa kecuali. Melalui mazmur tanggapan hari ini kita deraskan “Kiranya semua raja sujud menyembah kepadaNya dan segala bangsa menjadi hambaNya” (Mzm. 72:11). Hari Minggu ini juga merupakan Hari Anak dan Remaja Misioner Sedunia Ke-171; melalui perayaan ini Gereja Katolik mengajak anak dan remaja missioner serta umat seluruhnya untuk berdoa dan mengumpulkan dana bagi perkembangan misi lewat Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian (2D2K). 

  Apa itu Epifani ? Kata “epifani” artinya penampakan, tampilnya di hadapan umum sesuatu yang sebelumnya tersembunyi atau dirahasiakan. Dan apa yang tersembunyi, apa yang dirahasiakan ? Apa yang dibuka untuk pertama kalinya dibuka kepada umum melalui kisah kunjungan Tiga Raja dari Timur kepada Kanak-Kanak Yesus ?  Dalam tradisi Gereja Katolik, HR Epifani dirayakan pada Hari Minggu antara tgl 2 – 8 Januari setiap tahun. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh  Gereja Timur setiap tgl 6 Januari. Dalam perjalanan waktu, perayaan ini kemudian masuk dalam kalender liturgi Gereja Barat (Katolik) dan seringkali juga disebut Pesta Tiga Raja (Gaspar, Melkior dan Baltazar). 


Dalam Bacaan I hari ini, Nabi Yesaya bernubuat dan meramalkan bahwa terang Tuhan bukan hanya bersinar atas Yerusalem, melainkan juga atas bangsa-bangsa lain, yang dating berduyun-duyun kepada terang itu. Bangsa-bangsa itu bukan ditarik oleh Kota Yerusalem sendiri, melainkan oleh terang yang terbit di atasnya, yaitu oleh Tuhan yang menyatakan diri di kota milikNya. Tuhan bukan monopoli oleh satu bangsa, melainkan milik segala bangsa !
Dan apa yang dinubuatkan nabi 500 tahun sebelumnya, kini menjadi kenyataan dan tergenapi dalam diri Yesus Kristus. Dia datang untuk menyatukan semuanya; segala bangsa, tanpa diskriminasi, dipanggil untuk menggabungkan diri pada umat Allah. Dalam Kristus, bukan hanya orang-orang Yahudi yang dipanggil kepada keselamatan, melainkan juga segala bangsa sejagat turut menjadi ahli waris dan anggota Tubuh Kristus (Bacaan II). Sejak kelahiran Sang Raja Damai, sampai dengan saat ini, kemuliaan Allah dalam Kristus sudah bergema ke seluruh penjuru bumi, menjangkau semua benua dan pulau (Mzm. Tanggapan). 

Perikopa Injil hari ini menampilkan dinamika dan suka-duka sebuah peziarahan rohani dalam rangka pencarian dan penemuan Yesus dalam kehidupan harian kita. Dikisahkan bahwa Tiga Raja dari Timur sedang mencari Yesus yang adalah  jalan, kebenaran dan hidup ! Memang upaya pencarian mereka ditandai banyak masalah yang harus mereka hadapi. Pengalaman mereka mengingatkan kita pada pengalaman Abraham yang tidak menyerah kalah terhadap segala macam cobaan. Ujung, muara dan buah dari sebuah jerih-payah yang “tekun mencari” adalah perjumpaan dengan Sang Raja Damai, Sang Raja dari hidup ini. Penginjil Matius melanjutkan, sesudah menemukan Kanak-Kanak Yesus bersama Maria, ibuNya, Tiga Raja dari Timur sujud menyembah Dia. “Merekapun membuka tempat hartabendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur”. Dengan sikap dasar tsb, percayalah mereka bahwa Yesus-lah, Raja dari segala raja, Sang Raja kehidupan ini; Dia-lah Imam Agung yang melebihi imam Melkizedek dalamPerjanjian Lama karena mempersembahkan nyawaNya sendiri di atas salib demi penebusan dan keselamatan kita manusia pendosa. 

Lalu apa pesan dari HR Epifani bagi kita manusia modern hari ini, yang baru saja merayakan HR Natal ? Apakah di dalam hidup ini, sebagaimana Tiga Raja dari Timur, kita-pun mempunyai hasrat yang besar untuk mencari Yesus ? Yesus-lah “bintang Betlehem” yang bersinar cemerlang atas diri dan keluarga kita, pekerjaan dan usaha, masyarakat dan bangsa kita malahan atas seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Namun perlulah kita memohonkan rahmat kebijaksanaan sebagaimana yang dimiliki Tiga Raja dari Timur. Sesudah menjumpai, mengenali dan sujud menyembah Kanak-Kanak Yesus, mereka kembali ke negerinya “melalui jalan lain” (Mat. 2:12). Mereka berubah menjadi manusia baru, semakin bijaksana karena sudah bertemu dengan Tuhan. Mereka kini menjadi terang bagi sesamanya. Maka setiap perjumpaan kita dengan Tuhan, khususnya dalam Ekaristi, hendaknya mengubah orientasi kita, dari manusia lama menjadi manusia baru. Ayo mari kita terus benahi kesaksian hidup kita, sebab di sanalah rahasia kasih Tuhan menjadi sungguh nyata; dengan demikian kita berperan aktif mengemban misi Kristus sebagai Lumen Gentium, terang bagi bangsa-bangsa. Tuhan memberkati ! 
***