Minggu, 27 Oktober 2013

Orang saleh yang sombong

Oleh: RD. Paulus Tongli

Hari Minggu Biasa ke XXX
Tahun C
Inspirasi Bacaan:
 Sir. 35:12-14.16-18; 2Tim 4:6-8.16-18; Luk. 18:9-14
Hari Minggu lalu kita diajak lewat sabda yang kita dengarkan untuk tidak henti-hentinya memanjatkan doa-doa kita kepada Allah yang Mahamurah. Pada hari Minggu ini kita diajak untuk merenungkan sikap kita dalam hal berdoa. 
Bacaan injil menyajikan dengan sangat indah inti dari pengajaran Yesus menyangkut hal ini. Yesus membandingkan dua orang, seorang Farisi dan seorang pemungut cukai,  yang sama-sama datang kepada Tuhan. Keduanya taat dalam menjalankan ibadatnya, yang tampak dari kerelaan keduanya meluangkan waktunya untuk datang ke baid Allah dan berdoa. Yang membedakan kedua orang itu adalah bahwa pemungut cukai itu pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan sedangkan orang Farisi itu tidak. 
Kalimat terakhir dari bacaan injil hari ini memberikan penjelasan mengapa pemungut cukai itu dibenarkan. “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kesalahan orang Farisi itu adalah bahwa ia meninggikan diri di hadapan Allah. Ia memaparkan semua kebaikan yang telah dilakukannya: “… aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Sangkanya ia dapat menyelamatkan dirinya dengan segala usahanya itu. 
Tentu di sini tidak dimaksudkan bahwa semua usaha kita tidak berguna demi keselamatan kita. Yang dicela di sini adalah sikap merasa diri benar dan orang lain yang salah. Merasa diri bisa menuntut Tuhan karena merasa sudah cukup melakukan tuntutan-tuntutan agama. Pahala tidak pernah dapat dituntut, karena pahala itu merupakan anugerah. Pahala akan diberikan kepada orang yang dianggap layak dan sepadan dengan pahala itu.
Pemungut cukai dibenarkan bukan karena ia pemungut cukai tetapi karena sikapnya di dalam doa. Ia hanya berani mengungkapkan: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Ia membiarkan Allah yang menilai dirinya, dan ia pun memasrahkan kedalam kebijaksanaan ilahi, apa yang akan Tuhan perbuat untuk dirinya. Kerendahan hati dan kepasrahan ternyata merupakan kualitas yang berharga di mata Tuhan, dan menjadi jalan pembenaran. 
Hal yang sama diungkapkan oleh Putera Sirakh di dalam bacaan pertama. “Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya”. Miskin di sini digunakan dalam arti sikap hati yang merendah, tidak mengandalkan diri dan usaha sendiri, tetapi pasrah karena percaya bahwa rancangan Tuhan lebih mulia daripada rancangan dan kehendak diri sendiri.
Sabda ini mengingatkan kita bahwa berhadapan dengan Tuhan pun kita dengan sengaja atau tanpa sengaja menjadi sombong. Ketika kita merasa bahwa Tuhan tidak adil, karena doa kita seakan tidak didengarNya, atau kalau kita merasa bahwa dalam hal doa dan kebaktian kita tanpa cela, tetapi hidup kita masih jauh dari keadaan yang kita harapkan, lalu mulai mempersalahkan Tuhan, bukankah dengan itu kita pun sebenarnya mengambil sikap yang sama dengan orang Farisi dalam kutipan injil hari ini? 
Berdoa adalah merupakan pengungkapan iman, tetapi kita pun harus berdoa yang benar. Doa yang dibenarkan Allah adalah doa yang mengalir dari sikap hati yang terbuka dan pasrah kepada kebijaksanaan ilahi. 
Rasul Paulus mengingatkan bahwa hidup kita selalu berada di dalam “pertandingan”, pertandingan untuk memelihara iman dan memenangkan kehendak Allah. Ia menuliskan perjuangannya di dalam pertandingan iman kepada Timoteus untuk meneguhkan Timoteus dan umat yang dilayaninya untuk tetap setia dan tekun di dalam perjuangan yang sama. “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. Kesetiaan pada sikap hati yang terbuka dan pasrah kepada kebijaksanaan ilahi merupakan hasil perjuangan yang mendatangkan ganjaran mahkota kebenaran yang dari Allah.

Cara memandang..

Seorang motivator bisnis yang terkenal, Jim Rohn, diundang sebuah perusahaan untuk melakukan motivasi  memacu semangat karyawannya yang sudah mengendor. Dalam presentasinya, Jim Rohn mengambil satu kertas putih yang besar, kemudian dia membuat sebuah titik hitam kecil dengan pen persis di tengah kertas itu.
Dia kemudian memperlihatkan kertas itu kepada semua orang yang hadir disana. Lalu bertanya, “Apakah yang dapat lihat di kertas ini?”
Dengan cepatnya seorang pria langsung menjawab “ Saya melihat sebuah titik hitam”. “Baik, apa lagi yang kamu lihat selain titik hitam?” Jim kembali bertanya. yang lainnya terus memberikan jawaban yang sama : “Hanya sebuah titik hitam.”
“Tidakkah kamu melihat yang lainnya, selain titik hitam?”
Jim bertanya terus mengejar jawaban lain. “Tidak” dengan serentak, hampir seluruh pengunjung itu menjawabnya. “Bagaimana dengan lembaran kertas putih ini?” Jim kembali bertanya “Saya yakin kamu semua pasti melihatnya, tetapi mengapa tidak ada yang memperhatikannya? Dan hanya melihat pada sebuah titik kecil saja?”
Jim kemudian menjelaskan : “Dalam hidup ini, kita juga selalu lalai dan mengabaikan akan banyak hal hal yang baik, hal2 yang dahsyat, hal2 yang cermerlang, hal2 yang indah, yang kita miliki atau pernah terjadi di sekitar kita, dan kita selalu hanya Fokus dan memberikan perhatian pada masalah Kecil, masalah Sepele, masalah Keuangan, masalah Kekecewaan, masalah Kegagalan. Masalah kita itu, persis seperti sebuah titik hitam kecil , dalam lembaran kertas besar ini.
Masalah itu hanyalah kecil dan tidak signifikan, jika kita dapat meluaskan pandangan kita untuk melihat dalam hidup kita, persis seperti kita lihat seluruh lembaran kertas ini, maka titik hitam tadi sangat kecil dan hampir tidak berarti.”
Apakah Anda termasuk orang yang juga selalu melihat titik hitam itu?

NILAI YANG BERBEDA

Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian. Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.
Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.
Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan yang terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil. Lingkungan anda, adalah ANDA.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA..!!

ROSARIO DALAM PERANG LEPANTO : MARIA AUXILIUM CHRISTIANORUM

Rosario semakin populer, di era Paus Pius V. kaum Muslim Turki menyerang Eropa Timur. Tahun 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan mereka. Selanjutnya di tahun 1521 Belgrade, Hungaria, juga ditaklukkan. Dan di tahun 1526, mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria sehingga penguasaan Kristen atas Mediterania berada di ujung tanduk.
Pada bulan Februari 1570, utusan Turki mengultimatum Venisia untuk menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus jatuh. Kemudian ditetapkan syarat-syarat penyerahan diri demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Muslim mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya dibelah empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.
Tahun 1571, Paus Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka: Jerman-Austria).
Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan Rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,”. Armada Muslim jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal perang maupun pasukan. Kapal pemimpin Kristen mengibarkan bendera biru dengan lukisan Kristus Tersalib, sementara bendera Muslim mencantumkan ayat-ayat dari Al Quran menyerukan jihad dan membasmi “orang-orang kafir”.
Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571, Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Muslim dikalahkan.
Siang itu, Paus Pius V yang tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran yang bermil-mil jauhnya, ia berkata, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.”
Tahun berikutnya sebagai ucapan syukur, Paus Pius V menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria.
Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” (Pertolongan Orang-orang Kristen) pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”

Apa itu KPP?

KPP adalah singkatan dari Kursus Persiapan Perkawinan.

Tujuan Kursus Persiapan Perkawinan.
KPP memberi kepada muda-mudi bekal dalam hidup keluarga katolik.
KPP menambah wawasan dan pengetahuan muda-mudi mengenai perkawinan dan hidup berkeluarga dari sudut pandang teologi, psikologi, moral, seksualitas, kesehatan, ekonomi, gender, dll.
KPP memberi pegangan bagi muda-mudi untuk mengambil tindakan dan mengatur hidupnya sendiri menurut azas moral kristiani.
Apa Kegunaan Kursus Persiapan Perkawinan di Masyarakat?
Dalam kehidupan sehari-hari, untuk banyak urusan menyangkut hidup, masyarakat memerlukan kursus. Hidup berkeluarga adalah persoalan penting dan mendasar dan karena itu masyarakat memerlukan bantuan berupa kursus persiapan itu.
Kursus Persiapan Perkawinan memberikan harapan tercapainya keluarga yang baik, bagi Gereja dan masyarakat.
Alasan Sosial: Kursus Persiapan Perkawinan itu perlu karena kenyataan menunjukkan bahwa:
Beberapa keluarga mengalami kesulitan yang disebabkan kurangnya persiapan dalam perkawinan.
Banyak calon pengantin tergesa-gesa menikah tanpa bimbingan yang memadai.
Perkawinan bukan hanya urusan perorangan melainkan urusan masyarakat (sosial) dan Gereja
Alasan Pastoral: Kursus Persiapan Perkawinan itu perlu karena:
Keluarga yang baik perlu dipersiapkan lama, sebab keluarga yang baik menjadi faktor utama keselamatan/kesejahteraan pribadi, masyarakat dan Gereja.
Pengertian mengenai martabat perkawinan dan hidup berkeluarga harus jelas bagi muda-mudi, terlebih di era globalisasi yang diwarnai oleh media masa (TV, radio, majalah, internet, dsb) yang kuat pengaruhnya
Kursus Persiapan Perkawinan itu PENTING, karena:
Keluarga perlu dipersiapkan
Pengertian mengenai martabat perkawinan (keluarga) harus jelas bagi muda-mudi, mengingat makin maraknya pengaruh-pengaruh negatif di masyarakat yang mengaburkan pandangan mengenai martabat perkawinan

Santo Marcellus, Martir

Perwira Romawi yang bertugas di Tanger, Afrika ini konon menjadi Kristen dan dipermandikan langsung oleh Santo Petrus Rasul. 

Ia menolak mengikuti upacara korban untuk memuja kaisar dan dewa-dewa Romawi. Dengan tegas ia berkata: "Aku hanya mengabdi kepada Raja Abadi, Tuhanku Yesus Kristus". Akibatnya ia langsung ditangkap dan dihukum mati pada tahun 298.

Ketentuan tentang bahan Ekaristi kudus

1. Bahan pembuat hosti dan anggur menurut ketentuan Redemptionis Sacramentum:
“48. Roti yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus harus tidak beragi, seluruhnya dari gandum, dan baru dibuat sehingga dihindari bahaya menjadi basi. Karena itu roti yang dibuat dari bahan lain, sekalipun dari butir padi atau yang dicampur dengan suatu bahan lain yang bukan gandum sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi memandang itu sebagai roti, tidak merupakan bahan sah untuk dipergunakan pada Kurban dan Sakramen Ekaristi. Adalah pelanggaran berat untuk memasukkan bahan lain ke dalam roti untuk Ekaristi itu, misalnya buah-buahan atau gula atau madu. Tentu saja hendaknya hosti-hosti dikerjakan oleh orang yang bukan hanya menyolok karena kesalehannya, tetapi juga trampil dalam hal mengerjakannya seraya diperlengkapi dengan peralatan yang sesuai.
50. Anggur yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus itu harus alamiah, berasal dari buah anggur, murni dan tidak masam dan tidak tercampur dengan bahan lain. Dalam perayaan ini, sedikit air akan dicampur dengannya. Perlu diperhatikan dengan seksama agar anggur yang hendak dimanfaatkan untuk perayaan Ekaristi itu tersimpan baik dan tidak menjadi masam. Sama sekali tidak diizinkan untuk mempergunakan anggur yang keasliannya atau asalnya diragukan, karena sebagai persyaratan yang harus dipenuhi demi sahnya sakramen-sakramen, Gereja menuntut kepastian. Tidak juga diperbolehkan minuman jenis lain apa pun dan demi alasan apa pun, karena minuman itu bukanlah bahan sah.” (RS, 48,50)
Penentuan ini sesuai juga dengan KHK kan. 924 1,3, Missale Romanum, Institutio Generalis, no.323.

2. Mengapa digunakan roti tak beragi?
Gereja Katolik mengikuti dan mempertahankan tradisi orang Yahudi yang juga diikuti Yesus pada Malam Perjamuan Terakhir, yaitu menggunakan roti tak beragi pada perjamuan Paskah tahunan. Latar belakangnya adalah perayaan Pesta Roti Tak Beragi (Imamat 23) yang dibuat juga oleh orang Israel ketika menjadi kaum sedenter karena mulai menetap dan mengolah tanah pertanian untuk hidup. Upacara Pesta Roti Tak Beragi itu dibuat pada musim semi bulan pertama, berlangsung selama satu pekan, dari Sabat ke Sabat atau dari hari pertama sampai hari ke delapan (perhitungan yang melampaui kurun historis, karena angka 7 itu angka kurun historis, dan angka 8 adalah angka yang melewati kurun historis atau angka simbol keabadian . Sejalan dengan makna keabadian, digunakan roti tak beragi dalam perjamuan makan karena roti itu bertahan lama tidak cepat rusak / kapang / berjamur. Arti ini cocok dengan roti tak beragi yang menjadi Tubuh Kristus yaitu makanan sorgawi untuk hidup kekal.

3. Mengapa digunakan wine?
Sedangkan tentang mengapa digunakan wine, dan bukan jus anggur, demikianlah jawaban yang kami kutip dan terjemahkan dari penjelasan Fr. John Noone, dari Catholic Answers, klik di sini: “Yesus minum wine…. Mari lihat kenyataan historis. Anggur dipanen pada musim gugur, dan Paskah (pada saat Perjamuan Terakhir), jatuh pada musim semi. Tanpa lemari es, anggur (dan grape juice) tidak akan tahan. Dalam beberapa hari setelah dipanen, anggur mulai terfermentasi atau akan membusuk. Metoda pengawetan yang ada pada abad pertama adalah untuk memerasnya (membuat ekstrak anggur) dan membiarkannya terfermentasi dalam keadaan yang terkontrol (disebut sebagai pembuatan anggur) atau untuk mengeringkan anggur, sehingga menghasilkan semacam kismis. Pada saat Perjamuan Terakhir, Yesus mengatakan, “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini …. (Mat 26:29). 
Pada saat itu, mereka membuat wine dari banyak macam buah- buahan, tetapi wine yang dari anggur, yaitu hasil pokok anggur, adalah yang digunakan pada saat Perjamuan Terakhir. Karena saat itu adalah musim semi, dan liturgi Paska menentukan agar umat meminum empat cawan anggur, grape juice yang terfermentasi (wine) adalah yang paling mungkin digunakan. Jika tidak, misalnya, ada mukjizat yang lain dari keadaan natural, tentulah salah satu penulis Injil akan mengatakannya, seperti yang dilakukan oleh penulis Injil pada mujizat- mujizat Yesus yang lainnya. Ketentuan tentang merayakan Paskah menyebutkan agar anggur di cawan tersebut diencerkan dengan air. Ini perlu, sebab proses fermentasi membuatnya menjadi kuat dan juga bejana- bejana tempat menyimpan anggur agak berpori dan anggur cenderung menjadi kental dengan bertambahnya waktu, karena kadar airnya menguap. Ini adalah latar belakang historis mengapa imam menambahkan setitik air ke piala pada saat liturgi Ekaristi. Wine yang tidak diproteksi dari udara ketika disimpan akan menjadi anggur asam (cuka).”
Sumber: katolisitas.org

SIMPLE PRAY

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. 
Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaan Inggrisnya). Miskin, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik 
toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief executive officer) atau penanggungjawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.
Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani. Tetapi, di tengah kesibukannya,setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun. 
Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang Romo memuncak! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di gerejanya. A Cong datang di pintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda 
salib, lalu segera bablas lagi. Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan2 ..... 
Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi. "Maaf, Cek panggilan menghormat bagi laki2 Cina), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman bediri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2 pergi?" 
Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki (sedikit maksudnya), tapi owe seneng dateng kemali." 
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: "Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?" Jawab  A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel. Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah." Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya. 
Pada suatu hari A Cong sakit parah. Super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa. Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2 pasiennya itu, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2.
Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi. Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek 'kan serius?" Acong tercenung dan mau menjawab juga: Saben ali yam lua welas (setiap hari jam 12),yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang wo punya kaki, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus. Gimana owe nggak seneng, coba..." 

(Tuhan mendengar setiap doa kita, sesederhana apapun doa kita, Tuhan pasti mendengar)

PENGUMUMAN PERKAWINAN (26-27 Okt 2013)

 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
   *   Ronny Lisang & Heni Saweho (Pengumuman I)
   *   Jimmy Budijanto & Yuli Gorum (Pengumuman III)
  *    Ferry Halim  & Fanny Budiman ( Pengumuman III)
   *   Randy Jaya  &  Stefany Tanrifaisal ( Peng III )
   *   Hendrik Roy J. Sadikin  &  Xaveria Caherina Tjitra ( Peng III )
   *   Tommy Tendean   &  Meliava Anastasia ( Peng III )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Jumat, 11 Oktober 2013

Kagum - takjub - bersyukur

Oleh : RD. Paulus Tongli
Hari Minggu Biasa ke XXVIII
Inspirasi Bacaan dari : 
Bacaan: 2Raj. 5:14-17; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19

Suatu hari datanglah seorang pastor ke sebuah restoran yang sangat padat dengan pengunjung untuk makan siang. Ketika ia ingin memulai makan, datanglah seorang lain dan duduk di meja yang sama dengan pastor itu. Lalu pastor itu, seperti kebiasaannya, menunduk, menutup matanya dan membuat tanda salib pada dirinya dan berdoa dalam keheningan. Ketika ia membuka kembali matanya bertanyalah orang yang ada di hadapannya itu: “anda sakit kepala?” “Tidak”, jawab pastor itu. Lalu orang itu bertanya lebih lanjut “atau ada yang tidak beres dengan makanannya?” “Tidak apa-apa”, jawab pastor itu. “Saya berterima kasih kepada Tuhan, sebagaimana biasanya bila saya mau makan”. Orang itu berkata “Oh anda termasuk dari mereka, orang-orang aneh itu? Saya hanya ingin mengatakan pendapat saya. Saya bekerja keras, mengucurkan keringat untuk mendapatkan uangku. Karena itu saya tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada siapa pun. Saya makan begitu saja”. Pastor itu menimpali, „Oh tidak apa-apa. Anjingku juga selalu begitu.” 




Ada begitu banyak orang saat ini di dalam masyarakat kita, yang juga memiliki pendapat yang sama dengan orang yang ada dalam ceritera kita. Orang yang demikian percaya bahwa segala yang mereka miliki, telah mereka usahakan lewat jerih payah mereka dan karena itu mereka tidak perlu berterima kasih kepada Allah atau kepada siapa pun. Banyak orang lupa bahwa semua yang kita terima di dalam hidup ini, berasal dari Allah. Semuanya kita terima sebagai hadiah pemberian Allah. Apa jasa seseorang sehingga ia dapat dilahirkan dengan selamat dan normal, sementara ada begitu banyak orang yang tidak dapat diselamatkan ketika dilahirkan? Apa jasa anak-anak yang memiliki orang tua yang mencintai mereka, sementara banyak anak yang bahkan tidak mengenal orangtuanya? Atau apa salah dari begitu banyak orang di negara-negara dunia ketiga, sehingga mereka miskin, sehingga banyak anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah, sementara ada orang sudah lahir di dalam kekayaan? Apa jasa kita sehingga kita memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk berbicara, kaki untuk berjalan, sementara beberapa orang di antara kita tidak memiliki apa yang kita miliki? Adakah kita memiliki hak atas semua itu? 

Seandainya bintang itu hanya menunjukkan diri sekali dalam setahun, pastilah semua orang akan berjaga sepanjang malam untuk menyaksikan bintang”. Kita begitu sering melihat bintang, sehingga kita menganggapnya biasa saja. Kita terbiasa menerima segalanya, sehingga kita lupa untuk mensyukurinya. 




Kutipan injil hari ini berceritera tentang sepuluh orang kusta, orang yang disingkirkan dari pergaulan sehari-hari. Mereka adalah orang yang berada di dalam situasi yang sulit tanpa jalan keluar. Yesus telah merubah situasi itu, sehingga mereka seketika itu juga dapat kembali hidup normal. Ke-9 orang yang lain kembali tenggelam ke dalam situasi harian yang biasa. Hanya satu orang yang mengalami segalanya sungguh berubah. Dengan penuh kegembiraan ia kembali kepada Yesus untuk berterima kasih. Mengapa kesembilan yang lain tidak kembali? Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan jawaban, mengapa mereka tidak kembali: 

Yang pertama mengatakan: kita masih harus menunggu dan melihat, apakah kita sungguh sembuh, dan apakah penyembuhan itu bersifat tetap. 

Yang kedua mengatakan: kita toh masih memiliki banyak waktu untuk menjumpai Yesus. Kapan-kapan saja bila bertemu baru berterima kasih. 

Yang ketiga mengatakan: apakah saya sungguh telah sakit kusta? Lepra itu tak tersembuhkan, tetapi buktinya saya sembuh. Mungkin juga kusta itu tidak seberbahaya 

yang diceriterakan orang. 

Yang keempat mengatakan: tentu saja saya akan berterima kasih, tetapi belum waktunya. 

Yang kelima berkata: tentu saja kita sembuh kembali, hal biasa, bukan mukjijat. 

Yang keenam berkata: Yesus tidaklah istimewa, banyak orang dapat melakukan yang sama. 

Yang ketujuk berkata: kini kita sembuh, untuk apa kita mencari Dia lagi? 

Yang kedelapan berkata: satu-satunya yang akan kita lakukan adalah pergi kepada imam, menunjukkan diri, agar ia dapat menyatakan kita tahir. 

Yang kesembilan berkata: „Yesus menyuruh kita untuk pergi kepada imam. Ia pasti marah, bila kembali kepada-Nya. 

Di dalam alasan-alasan ini dapatlah kita lihat bahwa sikap tidak tahu berterima kasih seringkali bersumber dari egoisme yang berbuah dalam rasionalisasi dan kepicikan pandangan. Untunglah masih ada orang kusta yang kesepuluh, yang tidak mengatakan apa-apa melainkan langsung kembali kepada Yesus, bersujud di hadapannya dan mengucap syukur. 




Banyak orang Katolik dewasa ini yang tidak lagi tertarik untuk ke gereja pada hari Minggu, kepada perayaan Ekaristi. Gejala ini merupakan salah satu indikasi bahwa banyak orang menjadi sulit untuk bersyukur. Bukankah tujuan utama para orang kristen berkumpul dan merayakan Ekaristi adalah untuk bersyukur kepada Allah? Kata „eucharist” berasal dari kata Yunani yang berarti „syukur”. Bila kita menghitung rahmat, bila kita menyadari bahwa semua berasal dari atas, maka kita seharusnya berlaku seperti orang Samaria itu. Ketika ia menyadari bahwa ia telah disembuhkan, ia langsung kembali dengan sukacita dan memuliakan serta bersyukur kepada Allah. Bagi Naaman (dalam ceritera bacaan pertama) proses penyembuhannya merupakan suatu proses belajar, belajar untuk bersyukur. Ia telah belajar, bahwa semua yang telah dialaminya bukanlah suatu proses alamiah, yang pasti akan terjadi begitu seiring dengan waktu atau tindakan tertentu. Semua yang dialaminya terjadi bukanlah karena jasa atau usahanya. Ia sadar bahwa ia telah berjumpa dengan Allah yang telah menampakkan diri-Nya kepadanya di dalam situasi dan tempat yang tak terduga. Orang hanya bisa bersyukur bila orang bisa takjub dan mengagumi apa yang dialami atau yang diperolehnya dan meluangkan waktu untuk menyatakan rasa takjub dan rasa kagum itu.

Semangkuk Nasi Putih

Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan  cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut. Kemudian pemuda itu berkata: “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih”; dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.
Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.
Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”
Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:” kuah sayur gratis.”
Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
” Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
“Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.
Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?
Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.” “Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.” “Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain. “Terima kasih, saya sudah selesai makan.” Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka. Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.
Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.
Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.
Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.
Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
“Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”
“Siapakah direktur diperusahaan kamu ? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !”  sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.
Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”
Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.
Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.
Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”
Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. 

SYARAT DAN CARA MENYAMBUT KOMUNI

  • Kebiasaan Gereja sejak dahulu kala menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut  Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, keculai jika ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal ini ia harus ingat bahwa ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin. [RS 81]      

  • Pasti amat baik apabila semua yang mengambil bagian dalam perayaan Misa Kudus –dengan disposisi yang perlu- menyambut komuni. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa umat beriman mendekati altar seperti suatu rombongan tanpa keyakinan pribadi. Adalah kewajiban para Pastor untuk dengan bijaksana namun dengan tegas juga memperbaiki penyelewengan yang demikian. [RS 83] 
  • Selain itu, bila Misa dirayakan untuk suatu himpunan besar, misalnya di kota-kota besar, harus diperhatikan jangan-jangan –karena tidak tahu- ada orang yang bukan Katolik atau malah bukan Kristen, maju ke depan untuk menyambut komuni suci, tanpa mengindahkan ajaran dan peraturan Gereja. Para Pastor wajib untuk pada saat yang tepat memberitahukan kepada para hadirin tentang kekhasan peraturan yang harus ditaati. [RS 84]           
  • Pelayan-pelayan Katolik diizinkan menerimakan Sakramen-sakramen hanya kepada orang Katolik. Dan orang Katolik hanya diizinkan menerimanya dari pelayan Katolik. [RS 85] 

  • Ketika menyambut komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan  apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup, yang keputusannya diberi recognitio oleh Takhta Apostolik. Tetapi jika komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen, seturut ketetapan yang sama. [RS 90]   

  • Perlu diingat bahwa dalam membagi Komuni, para pelayan rohani tidak boleh menolak pelayanan sakramen kepada orang yang memintanya secara wajar, berdisposisi baik, serta tidak tehalang oleh hukum untuk menerimanya. Oleh karena itu, setiap orang Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut komuni. Maka tidak dapat dibenatrkan jika komuni ditolak kepada siapa pun diantara umat beriman hanya berdasarkan fakta misalnya bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut komuni sambil berlutut atau sambil berdiri. [RS 91]

  • Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat, dengan recognitio oleh Takhta Apostolik yang telah mengizinkannnya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanisasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan. [RS 92]

  • Umat tidak diizinkan mengambil sendiri –apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan  komuni dalam Misa Perkawinan. [RS 94]     

  • Anggota umat awam yang sudah menerima Ekaristi Mahakudus, boleh menerimanya lagi pada hari yang sama, namun hanya dalam perayaan ekaristi yang dihadirinya sambil memperhatikan ketetapan kanon 921§  2. [RS 95]           

  • Haruslah ditiadakan kebiasaan sebelum Misa Kudus atau sementara Misa berlangsung, membagi-bagi hosti yang belum dikonseklir atau bahan lain yang bisa atau tidak bisa dimakan, menurut tata cara komuni, karena ini berlawanan dengan ketetapan-ketetapan dalam buku-buku litrurgi. Kebiasaan yang demikian sama sekali tidak sesuai dengan  tradisi Ritus Romawi, dan membawa serta bahaya yakni membingungkan uimat beriman tentang ajaran Gereja mengenai Ekaristi. [RS 96]     


PENGUMUMAN PERKAWINAN ( 12-13 Okt 2013)


 Akan saling menerimakan 
Sakramen Perkawinan

   *   Rizky Setiawan & Elisabeth Novianti Pangemanan 
( Peng III )

   *   Erick Leonarto & Steffani Yobeanto 
( Peng III )

   *   Nicky Hendrawan & Evaliana Palayukan 
( Peng III ) 

   *   William Gunawan  & Yessi Thosal
( Peng II ) 

   *   Jimmy Cahya Suhandy  & Corry Maria Salombe Barrung 
( Peng II ) 

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Mengapa Berdoa Rosario?

1. Apa itu doa? 
Doa ialah berbicara dengan Tuhan; mengangkat hati serta pikiran kita kepada Tuhan. "Doa adalah kunci Surga."  - St. Agustinus
2. Mengapa kita berdoa? 
Kita berdoa agar kita dapat masuk Surga. St. Agustinus mengatakan: “Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian juga jiwa kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa doa.” St. Alfonsus mengatakan: “Ia yang berdoa, diselamatkan; ia yang tidak berdoa, celaka!” Doa sangat besar kuasanya. (Yak 5:16-18, 2Raj 20:1-6).
3. Siapa yang berdoa? 
Yang berdoa ialah orang yang ingin berbahagia selamanya bersama Tuhan di surga.
4. Kapan kita berdoa? 
Kita berdoa senantiasa, siang dan malam.
5. Di mana kita berdoa? 
Kita berdoa di rumah, di kamar kita (Mat 6:1-6), di Gereja dengan keluarga kita (Mat 21:13), atau di mana saja. Dengan doa kita dapat menguduskan saat-saat senggang kita, kita dapat berdoa ketika sedang berjalan-jalan di taman, mengendarai mobil atau naik bis dan mempersembahkan waktu luang kita itu kepada Tuhan.
6. Apakah Tuhan selalu menjawab doa-doa kita? 
Ya. Ada tiga bentuk jawaban doa - ya, tidak, dan tunggu. Tidak ada doa yang tidak dijawab dan tidak ada doa yang tidak didengarkan. St. Thomas Aquinas mengajarkan: "Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta dalam doa jika permintaan kita itu tidak baik bagi keselamatan kita." Kita harus bertanya apa kehendak Tuhan bagi kita. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33) “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26). Tuhan memenuhi kebutuhan kita, tetapi tidak keserakahan kita.
7. Bagaimana kita dapat berdoa dengan baik? 
Konsentrasi (Mat 6:7,8), Iman (Ibr 11:6), Kerendahan hati (Yak 4:6, lihat juga Mat 6:1-6, Lukas 18:9-14). Prioritas yang Benar (Luk 22:42), Devosi (Mat 15:8), Kesungguhan (Luk 22:43,44), Ketekunan (Luk 11:5-10 / Luk 18:1-8, Mat 24:13), dan dengan tidak jemu-jemu. Kita wajib berdoa sekurang-kurangnya 15 menit setiap hari. Di dunia ini kita mempersiapkan diri untuk tinggal bersama Tuhan selama-lamanya. Karena Tuhan adalah Pribadi yang paling penting dalam hidup kita, kita wajib berbicara kepada-Nya setiap hari. Setiap harinya kita menghabiskan lebih banyak waktu sekedar untuk makan, bersantai dan menikmati hiburan. Jiwa kita jauh lebih penting daripada tubuh kita. Dan Tuhan pastilah jauh lebih penting daripada siapa pun atau apa pun juga dalam hidup kita, jadi Ia layak mendapatkan prioritas utama. Berapa banyak kita harus berdoa? Kitab Suci mengatakan: - selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1, 1Tes 5:17, Ef 6:18 dan Kis 6:4).
8. Mengapa Tuhan menghendaki kita berdoa kepada Bunda Maria? 
Kita berdoa kepada Bunda Maria karena ia adalah Bunda Allah dan doa-doanya sangatlah besar kuasanya (Yoh 2:1-11). Ketika kita berdoa Salam Maria, kita menggabungkan penyembahan kepada Tuhan dan penghormatan kepada Bunda Maria. Kita menyatukan doa-doa kita kepada Tuhan dengan doa-doa Bunda Maria kepada Tuhan. Kita tidak menyembah Bunda Maria, kita hanya menyembah Tuhan saja. Ketika kita berdoa kepada Bunda Maria, kita menghormatinya sebagai Bunda Allah dan sebagai Bunda Rohani kita (Why 12:17, Yoh 19:26,27). Saat kita amat membutuhkan pertolongan, kita tidak saja berdoa sendiri kepada Tuhan secara langsung, tetapi kita juga meminta orang lain berdoa bagi kita dan bersama kita. Ketika kita berdoa Rosario, kita didukung oleh Bunda Maria, Bunda Allah yang Kudus, yang berdoa kepada Tuhan bagi kita dan bersama kita. Tuhan menghendaki kita menghormati Bunda Maria karena perannya yang istimewa dalam karya keselamatan Allah. Tuhan menghendaki Bunda Maria ambil bagian dalam penebusan umat manusia, sama seperti Hawa ambil bagian dalam jatuhnya umat manusia ke dalam dosa. Sama seperti seorang Bapa dipenuhi sukacita karena cinta dan penghormatan yang diberikan orang kepada anak-anaknya, demikian juga Allah Bapa dipenuhi sukacita dan menghendaki kita menghormati puteri-Nya, Maria, Bunda PuteraNya, Yesus.  
9. Mengapa kita wajib berdoa Rosario? 
Karena doa Rosario telah didaraskan serta dianjurkan selama berabad-abad oleh para Paus dan santo/santa besar, dan juga karena pengaruhnya yang baik - sama seperti pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17).  Juga, karena ke-15 Janji Bunda Maria bagi umat Kristiani yang berdoa Rosario dan karena Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes dan di Fatima untuk meminta kita berdoa rosario. Rosario telah menyelamatkan serta mengubah ribuan jiwa, mengapa tidak menggunakannya untuk menyelamatkan jiwamu?
10. Bagaimana kita berdoa Rosario? 
Dengan merenungkan ke-15 misteri, dengan mendaraskan sepuluh Salam Maria pada manik-maniknya serta satu Bapa Kami dan Kemuliaan di setiap misteri.
11. Bagaimana kita merenungkan misteri-misteri Rosario? 
Kita merenungkan misteri-misteri rosario dengan menggunakan imajinasi kita untuk menghadirkan misteri yang sedang kita renungkan di hadapan kita. Kemudian sambil membayangkan imajinasi yang hadir di pikiran, kita mengucapkan doa Salam Maria. Sementara merenung, kita mengulang-ulang doa kita, sama seperti yang dilakukan Yesus (Mat 26:44). Dalam berdoa Rosario, pada dasarnya kita mengatakan, “Yesus dan Bunda Maria, aku mencintaimu” berulang-ulang kali. Sementara kita melakukannya, kita bertumbuh dalam cinta kepada Tuhan. Mengatakan, “Aku mencintaimu” tidak pernah basi. Jika kita sungguh-sungguh mencintai, pernyataan cinta seperti itu akan semakin memperdalam cinta kita.

Bagaimana kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari? 
Dengan mendoakan hanya satu misteri dengan sepuluh Salam Maria setiap hari, hingga kita merasa rindu untuk berdoa lebih banyak.

Santo Kallistus, Paus dan Martir

Kisah masa kecil Kallistus tidak diketahui jelas. Konon, ia adalah putera Domisius, pelayan keluarga Bapak Carpophorus yang kaya raya. Pada awal abad ke-3, ia ditahbiskan menjadi diakon oleh Sri Paus Zepherinus (199-217) dan ditugaskan Paus untuk menjaga dan mengurus pekuburan serani di Jalan Appia di luar kota Roma. Kuburan ini ada di dalam katakombe yang kemudian lazim disebut Kuburan Santo Kallistus. Kallistus menghiasi kuburan itu dengan gambar-gambar yang indah dan memperluasnya. Banyak imam dan martir dimakamkan di dalamnya.
Teladan Kallistus menarik hati seluruh umat Kristen. Oleh karena itu sepeninggal Paus Zepherinus, Kallistus dipilih menjadi Paus. Kepemimpinannya dibayangi oleh Hipolitus, seorang calon lain yang gagal menjadi Paus menggantikan Paus Zepherinus dan karena itu mengangkat dirinya menjadi Paus tandingan (217-235). Kallistus dikenal sangat baik. Ia mengampuni orang-orang Kristen yang bertobat dan memberikan kedudukan resmi di dalam Gereja ke pada orang-orang itu. Dalam masa kepemimpinannya, banyak orang Kristen ditangkap dan dibunuh karena imannya. Kallistus sendiri pun ditangkap dan dipenjarakan. Di dalam penjara, ia menyembuhkan seorang prajurit bernama Privatus. Tak lama kemudian, Kallistus sendiri mati ditenggelamkan di dalam perigi di Trastevere, Roma pada tahun 222 pada masa pemerintahan Kaisar Aleksander.

Cari Blog Ini