Cari Blog Ini

Minggu, 28 Juli 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (03-04 Agustus 2013)


       Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

*  Devin Prayogo & Ingrid Boksman ( Pengumuman I )
*  Stefanus Tejaya & Syenny Grace     ( Pengumuman I )


Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Apakah makna orang Katolik memasang lilin di depan Patung Yesus atau Maria?

1.   Lilin yang bernyala mengingatkan kita pada Pembaptisan kita, dan bahwa kita mengambil bagian di dalam hidup Kristus, dan di dalam hidup Gereja, termasuk dalam hubungan kita dengan para orang kudus yang sudah mendahului kita, terutama di sini adalah Bunda Maria, Bunda Yesus yang telah diberikan oleh Kristus menjadi Bunda Gereja dan Bunda kita juga.
2.   Saat kita meninggalkan lilin yang bernyala, kita diingatkan agar jiwa kita tidak akan pernah meninggalkan kehadiran Allah yang disertai dengan persekutuan para orang kudus-Nya.
3.   Doa merupakan sesuatu yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan berpusat pada Tuhan Yesus, yang adalah Terang Dunia. Doa juga mengarahkan kita untuk berdoa bagi orang lain dan juga untuk ujud-ujud tertentu.Pada saat menyalakan lilin, kita mengingat orang-orang yang kita doakan.
4.  Lilin bukan merupakan pengganti dari doa yang keluar dari hati, melainkan sebagai sesuatu yang menyertai doa.
5.  Lilin merupakan sedikit tanda persembahan, yang melaluinya kita menghormati para orang kudus tersebut (dalam hal ini Bunda Maria) dan kita memuliakan Allah yang telah menciptakan mereka dan menguduskan mereka sehingga menjadi teladan bagi kita. Melalui doa dengan menyalakan lilin, kita berdoa agar para orang kudus (termasuk Bunda Maria) mendoakan kita di hadapan Tuhan. Dengan mengimani bahwa “Doa orang benar… besar kuasanya” (Yak 5:16), maka kita percaya bahwa doa para orang kudus yang sudah dibenarkan oleh Tuhan, besar kuasanya untuk membawa kita lebih dekat lagi kepada Tuhan.
Demikian sekilas tentang menyalakan lilin di depan patung Bunda Maria. Sekali lagi, menyalakan lilin bukan merupakan penyembahan kepada patung tersebut. Lilin hanya merupakan simbol/ tanda saja. Kita tentu saja dapat berdoa, tanpa menyalakan lilin. Namun, jika kita menghayati makna menyalakan lilin dan meresapkannya, tentu hal ini juga merupakan sesuatu yang baik dan membangun iman

Yang Tersisa Manjadi Berguna

Setiap kali ibu-ibu yang memasak di rumah, atau ibu yang biasa membantu mencuci pakaian berlibur ke kampung, keluarga umumnya menjadi kebingungan dan kewalahan. Tak ada lagi yang memasak di dapur, mencuci pakaian yang kotor, membersihkan rumah, dsb. Tak heran jika ada ibu-ibu yang membantu di rumah sedang pulang kampung, kita menjadi kebingungan. Seperti ada yang hilang dari keluarga dan kita siap-siap menyambut segudang kerepotan yang harus dijalani.
Begitulah yang sering terjadi juga dalam masyarakat khususnya ketika libur Idul Fitri tiba. Ketika banyak pembantu rumah tangga libur, banyak keluarga-keluarga yang mempunyai pembantu rumah tangga menjadi binggung dengan urusan rumah sehari-hari. Karena terbiasa memiliki pembantu, banyak urusan rumah tangga ditangani pembantu. Ketika mereka hendak libur, banyak orang bingung, padahal mereka sering dianggap orang yang tidak penting, bahkan mendudukui peringkat bawah dalam dunia kerja. Kepada mereka justru dipercayakan tugas-tugas penting dalam keluarga.
"Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru." (Mrk. 12:10)  Seperti halnya tukang bangunan, mereka membuang batu-batu yang buruk. Batu-batu itu hanya akan digunakan dalam keadaan terpaksa. Tetapi justru batu-batu yang terbuang itu menjadi batu penjuru, batu yang menentukan fondasi suatu bangunan. Hal ini mengajak kita untuk menghormati semua pribadi dengan baik. Jangan melihat mereka dari perbedaan kemampuan atau fisik. Tuhan mampu menggunakkan semua orang sesuai rencana-Nya.
Tuhan, ajarilah aku untuk menghormati semua orang sebagaimana mereka adanya. Mampukan aku untuk membantu dan saling menumbuhkan satu dengan yang lain. Amin.
Sumber

Sikap yang benar terhadap harta benda

Harta kekayaan telah menjerumuskan banyak orang ke jurang malapetaka. Harta juga telah menyulut banyak sengketa. Hari ini, ada orang yang bersengketa mengenai warisan datang kepada Yesus dan minta supaya Yesus membantu pembagian warisan. Pasti Yesus merasa geli karena tiba-tiba diangkat menjadi "hakim warisan." Tetapi, Yesus memanfaatkan peristiwa ini untuk mengajarkan sikap yang benar terhadap harta dunia. 
Harta dunia tidak menjamin kebahagiaan dan keselamatan seseorang. Dewasa ini, di negara kita, banyak contoh mengenai hal itu. Banyak orang kaya selalu gelisah menyembunyikan kekayaannya hanya untuk menghindari pajak; lalu mereka membuat laporan paslu mengenai kekayaannya. Mungkin ia berhasil mengelabui petugas pajak tapi hatinya tetap tidak tenang. Ada orang kaya yang harus "bersembunyi" dalam kegelisahan karena kekayaannya merupakan hasil korupsi dan ia terus diburu oleh polisi. Banyak terjadi kerusuhan dan pembunuhan karena sengketa mengenai harta. Hari ini Yesus memberikan peringatan keras kepada para penimbun harta: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu... untuk siapakah semua harta yang telah kaukumpulkan. 

Para penimbun harta tidak akan selamat dan bahagia kalau mereka tidak kaya di hadapan Allah. Jadi, yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan bukanlah harta dunia (betapa pun berlimpahnya) tetapi harta rohani. Maka, marilah kita berjuang untuk menjadi kaya di hadapan Allah."

Ketamakan

oleh: St. Yohanes Maria Vianney

Ketamakan adalah cinta yang berlebihan akan barang-barang duniawi.
Ya, anak-anakku, ketamakan adalah cinta yang tak-teratur, cinta yang fatal, yang membuat kita lupa akan Allah yang baik, doa, sakramen-sakramen, karena kita mencintai barang-barang dunia ini - emas dan perak dan harta milik. Seorang yang tamak adalah bagaikan seekor babi, yang mencari makanannya dalam lumpur, tanpa peduli darimana makanan itu berasal. Membungkuk ke tanah, ia tidak memikirkan yang lain selain dari bumi; ia tak lagi memandang ke surga, kebahagiannya sudah tak lagi di sana. Seorang yang tamak tak melakukan suatupun yang baik hingga sesudah akhir hayatnya. Lihatlah, betapa rakus ia mengumpulkan harta kekayaan, betapa dengan penuh hasrat ia menyimpannya, betapa berduka ia apabila ia kehilangannya. Di tengah-tengah kekayaannya, ia tidak menikmatinya; ia, seolah, tercebur ke dalam sungai, namun mati kehausan; berbaring di atas timbunan jagung, namun mati kelaparan; ia memiliki segalanya, anak-anakku, namun tak berani menyentuh apapun; emasnya adalah benda yang sakral baginya, ia menjadikannya allahnya, ia memujanya….
Wahai anak-anakku! betapa banyak pada masa sekarang ini orang-orang yang menjadi penyembah berhala! betapa banyak yang lebih memikirkan mencari keuntungan daripada melayani Allah yang baik! Mereka mencuri, mereka menipu, mereka maju ke meja pengadilan bersama rekannya, mereka bahkan tidak menghormati hukum Tuhan. Mereka bekerja pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya: tak ada yang salah bagi tangan-tangan mereka yang rakus dan serakah. Umat Kristiani yang baik, anak-anakku, tidaklah memikirkan tubuh mereka, yang akan berakhir dengan kebinasaan; mereka hanya memikirkan jiwa mereka, yang abadi. Sementara mereka ada di dunia, mereka menyibukkan diri dengan jiwa mereka saja. Jadi, kalian lihat bagaimana tekunnya mereka dalam Ibadat Gereja, bagaimana khusuknya mereka berdoa di hadapan Allah yang baik, bagaimana mereka menguduskan hari Minggu, bagaimana mereka khidmad dalam Misa Kudus, betapa bahagianya mereka! Hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun tak ada artinya bagi mereka; mereka melewatkannya dengan mengasihi Allah yang baik, dengan mata mereka tertuju pada kekekalan....
Melihat kita begitu acuh tak acuh terhadap keselamatan kita, dan begitu sibuk dalam mengumpulkan timbunan lumpur, tidakkah orang akan berkata bahwa kita tidak akan pernah mati? Sungguh, anak-anakku, kita bagaikan orang-orang yang, sepanjang musim panas, menimbun banyak persediaan labu, melon, untuk suatu perjalanan yang panjang; tetapi setelah musim dingin, apakah yang masih tersisa? Tidak ada. Demikian pula, anak-anakku, apakah yang masih tersisa dari segala kekayaannya itu bagi seorang yang tamak, ketika sekonyong-konyong maut menjemput? Selembar kain penutup, beberapa bilah papan, dan keputusasaan karena tak dapat membawa serta segala emas bersamanya. Orang-orang kikir biasanya mati dalam keputusasaan semacam ini, dan membayar dalam kekekalan kepada iblis atas dahaga mereka yang tak terpuaskan akan kekayaan. Orang-orang kikir, anak-anakku, terkadang bahkan telah dihukum di dunia ini.
Suatu ketika, Santo Hilarion pergi mengunjungi biara-biara yang ada di bawah kepemimpinannya dengan diikuti sejumlah besar pengikut. Mereka tiba di kediaman seorang pemilik kebun anggur yang kikir. Sementara mereka datang mendekat, mereka mendapati para pengawas di segala penjuru kebun anggur yang melempari mereka dengan batu-batu dan bongkah-bongkah tanah agar jangan mereka menyentuh anggur. Orang kikir ini segera dihukum setimpal, sebab pada tahun itu juga ia menuai jauh lebih sedikit anggur dari  biasanya, dan air anggurnya berubah menjadi cuka. Seorang pemilik kebun anggur yang lain, bernama Sabbas, sebaliknya memohon kepada St Hilarion untuk datang mengunjungi kebun anggurnya dan mencicipi buah-buah anggur segar. St Hilarion memberkati anggur dan mengirimkannya juga kepada para pengikutnya yang berjumlah tigaribu orang, yang semuanya memuaskan rasa lapar mereka; duapuluh hari kemudian, kebun anggur itu menghasilkan tigaratus air anggur, dan bukan sepuluh seperti biasanya. Marilah kita mengikuti teladan Sabbas dan bersikap bijaksana; Allah yang baik akan memberkati kita, dan setelah memberkati kita di dunia ini, Ia akan juga mengganjari kita di kehidupan selanjutnya.  
sumber : “Catechism on Avarice by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com

Penyelidikan kanonik

Penyelidikan kanonik adalah kesempatan seorang pastor berjumpa dengan calon pengantin. Pada kesempatan tersebut pastor akan menanyakan dengan teliti persyaratan-persyaratan demi sahnya sebuah perkawinan secara Katolik. Maka calon pengantin akan disumpah dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan secara jujur. Kejujuran itu penting sekali. Jangan sampai calon menipu dalam menjawab pertanyaan atau menipu data. Karena kalau terjadi penipuan data, akan sangat berbahaya.
Proses penyelidikan kanonik itu penting sekali. Saat seorang pastor berpastoral untuk mempersiapkan sepasang calon pengantin yang mau membangun keluarga agar kelak mereka bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan berkeluarga. Sejauh mana penyelidikan kanonik bisa dijadikan dasar sebuah perkawinan katolik dibatalkan? Prinsip perkawian katolik adalah tak terceraikan. Namun bisa terjadi bahwa sebuah perkawinan katolik dianulasi. Saya tidak akan berbicara tentang anulasi panjang lebar dalam tulisan ini. Anulasi adalah pembatalan perkawinan katolik oleh pengadilan Gereja ( Tribunal ), setelah dilakukan penelitian secara cermat dan seksama, bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan batal demi hukum.
Dalam proses anulasi selain mencari saksi-saksi, bisa terjadi bahwa dokumen/berkas penyelidikan kanonik diperlukan dan akan dibuka untuk mencari data yang ada. Apakah ada catatan-catatan khusus dalam berkas tersebut pada waktu kanonik dilakukan. Apakah syarat-syarat demi sahnya sebuah pernikahan terpenuhi atau tidak. Atau apakah terjadi kebohongan atau pengingkaran janji atau tidak dan sebagainya.
Apabila terjadi penipuan dalam dokumen maka hal ini sangat membantu untuk membatalkan sebuah pernikahan. Misalnya Kanon 1085 & 1 dikatakan, “Adalah tidak sah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawian sebelumnya.” Contoh sebuah penipuan data. Ada seorang pria sudah nikah di Papua secara katolik. Ia pindah ke Jawa ikut katekumen, lalu dibaptis. Setelah dibaptis, ia menikah dengan seorang wanita. Pada waktu penyelidikan kanonik ketika ditanya belum pernah menikah dengan siapa pun sebelum dibaptis. Setelah perkawinan diberkati baru ketahuan bahwa ia sudah punya isteri dan anak di Papua. Pada suatu hari isterinya menggugat setelah tahu suaminya yang mengaku jejaka itu ternyata sudah menikah di tempat lain. Maka perkawinan yang telah diberkati tersebut batal demi hukum, karena terjadi penipuan. Karena pastor yang melakukan penyelidikan kanonik menerima data surat baptis dalam status liber. Sehingga seorang pastor yang melakukan kanonik harus memahami halangan-halangan demi sahnya sebuah perkawinan.
Selama proses penyelidikan kanonik seorang pastor juga harus jeli apa yang terjadi dalam relasi calon pengantin selama berpacaran. Misalnya selama pacaran calon pengantin selalu ribut, dan pastor tidak yakin bahwa pria dan wanita ini akan mampu membangun keluarga dengan baik. Maka pastor bisa memberi catatan tentang keraguan tersebut, dengan alasan-alasannya. Bisa saja apa yang diragukan oleh pastor tidak terjadi. Dan memang itu yang diharapkan. Namun kalau hal itu terjadi, catatan yang kecil tersebut akan sangat berguna. Sehingga kalau pada suatu saat terjadi gonjang-ganjing dalam keluarga dan perkawinan tersebut diajukan untuk dianulasi, maka catatan pastor ini penting sekali.
Pada dasarnya seorang pastor yang melakukan penyelidikan kanonik selalu berharap dan berdoa agar perkawinan sepasang pria dan wanita tersebut langgeng dan bahagia. Dan pastor ikut merasa bahagia kalau pasangan yang diberkati hidupnya damai dan rukun. Namun kenyataannya sering terjadi juga hambatan untuk membangun keluarga yang harmonis dan bahagia. Sehingga catatan-catatan selama kanonik itu menjadi penting sekali, apabila diperlukan dikemudian hari. Itulah pentingnya tertib administrasi, juga dalam hal penyimpanan dokumen-dokumen.
Penyelidikan kanonik mempunyai peranan besar dalam proses mempersiapkan pasangan yang mau melangsungkan pernikahan. Maka kerja sama antara pastor dan calon pengantin sangatlah penting. Dalam hal ini dituntut keterbukaan dari kedua belah pihak. Sehingga penyelidikan kanonik tidak boleh dilakukan asal-asalan, seolah-olah hanya mengisi data-data semata. Catatan-catatan khusus perlu diarsipkan bersama berkas-berkas kanonik lainnya, kalau pada suatu ketika diperlukan bisa membantu. Maka penyelidikan kanonik bisa membantu apabila sebuah perkawinan akan dianulasi.  
*(Pst. A. Sudarno, OSC)

Santo Sixtus II, Paus dan Martir

Sixtus II, dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Santo Stefanus pada tanggal 30 Agustus 257. Setahun kemudian pada tanggal 6 Agustus 258, ketika sedang mengadakan ibadat di makam para martir Preatextatus, ia ditangkap dan langsung dipenggal kepalanya di tempat itu juga. Bersama dengan dia, dibunuh juga diakon Santo Felisisimus dan Santo Agapitus. Beberapa hari kemudian Santo Laurensius mengalami hal yang sama.
Pembunuhan dilakukan sehubungan dengan penolakan Paus Sixtus dan rekan-rekannya itu terhadap hukum yang dikeluarkan oleh Kaisar Valerianus. Tak ada cerita yang diketahui perihal asal usul dan kisah hidup Sixtus, kecuali bahwa selama masa kePausannya pertentangan dengan Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil perihal permandian kembali orang-orang heretik terus berlanjut. Sixtus berpendirian bahwa orang-orang heretik itu tidak perlu dipermandikan ulang; sedangkan para pemimpin Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil mengharuskan permandian ulang orang-orang heretik ini. 

Berdoa seperti yang Yesus ajarkan

Renungan Hari Minggu Biasa XVII/ Tahun C
Inspirasi Bacaan dari :
Kej. 18:20-33; Kol 2:12-24; Luk. 11:1-13
Oleh Pastor Paulus Tongli, Pr

Seorang pengusaha yang sedang membutuhkan uang 1 milliar untuk sebuah proyek tertentu, suatu hari masuk ke dalam sebuah gereja untuk berdoa, memohon petunjuk dari Tuhan, bagaimana ia dapat memperoleh uang sebesar itu. Di sebelahnya berlutut seorang bapak yang sedang kusuk berdoa sambil berbisik. Pengusaha ini terganggu dengan doa sang bapak tadi dan mulai menguping isi doanya. Orang itu sedang momohon Rp 200.000 untuk membayar utangnya yang hari itu jatuh tempo. Pengusaha itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang Rp 200.000 dan menggenggamkannya ke tangan bapak itu. Karena gembira bapak itu segera berdiri dan meninggalkan gereja itu. Pengusaha itu kemudian menutup matanya dan berdoa, “Tuhan kini Engkau dapat mendengarkan doaku dengan penuh perhatian …” 

Contoh ini mau mengungkapkan banyak hal kepada kita menyangkut doa orang Kristen. Secara positif, contoh ini mengungkapkan bahwa para pengusaha pun masih tetap meluangkan waktu untuk berdoa. Tetapi ceritera ini pun secara tidak langsung mengajarkan kita tentang disposisi atau sikap batin yang benar di dalam doa-doa kristiani. Di dalam contoh di atas tampak bahwa Allah ditempatkan sebagai yang begitu agung, sehingga tidak boleh ada gangguan bila sedang berbicara dengan-Nya, dan Ia pun tidak suka mendengarkan bila ada orang yang berbicara bersamaan. Apakah itu merupakan disposisi yang benar untuk doa kristiani? Permintaan para murid Yesus “Tuhan, ajarilah kami berdoa” (Luk 11:1) dapat dimengerti sebagai sebuah permintaan akan disposisi yang tepat untuk doa kristiani. Jawaban yang diberikan oleh Yesus kepada mereka dapat dirangkum di dalam satu kalimat: sikap batin yang tepat untuk doa kristiani adalah sikap batin seorang anak di hadapan ayahnya. 

Bacaan injil Luk 11:1-13, terdiri dari permintaan para murid dalam ayat 1 dan jawaban yang panjang dari Yesus dalam ayat 2-13. Jawaban Yesus mulai di dalam ayat 2 dengan kata-kata, “apabila kamu berdoa, katakanlah: ‘Bapa’” dan berakhir di dalam ayat 13 dengan kata-kata, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!”

Dengan segera tampaklah bahwa berdoa, menurut Yesus, terjadi di dalam hubungan anak-bapa. Dengan kata lain, doa merupakan suatu urusan yang didasarkan atas hubungan kekeluargaan dan cinta. Yesus menggunakan gambaran bapa di sini untuk mengoreksi gambaran yang dominan tentang Allah sebagai bos atau raja yang lebih dihormati daripada dicintai. Berbicara tentang Allah sebagai bapa memiliki maksud dan implikasi yang sama bila berbicara tentang Allah sebagai ibu. Kedua penggambaran itu mengungkapkan suatu relasi yang didasarkan atas keintiman dan kedekatan dan bukan atas kekuatan dan kekuasaan. 

Berdoa sebagai seorang Kristen adalah menempatkan diri kita di dalam situasi di mana kita memandang Allah sebagai bapa (atau ibu) dan berbicara kepadanya sebagai anak-Nya. Bila anak-anak berbicara kepada orangtuanya, pastilah ada cara yang tepat. Mereka fokus pada hal yang mereka inginkan dan mengungkapkan di dalam kata-kata dan sikap tubuh apa yang mereka rasakan di dalam hati. Pernah ada seseorang yang datang protes kepada seorang imam karena imam tersebut salah membaca doa. Imam itu membaca “Allah Bapa yang Mahakasih” padahal tertulis “Allah Bapa yang Mahakuasa”. Mungkin orang itu bermaksud untuk sekedar guyon dengan pastornya, tetapi bila itu serius, tampaklah bahwa gambaran Allah yang dimiliki orang itu adalah menempatkan Allah sebagai hakim agung atau yang sangat teliti mendengarkan kata-kata yang terungkap dan karenanya orang harus menggunakan hanya “kata-kata yang tepat”. Tentu ia tidak berpikir tentang Allah sebagai “Abba” (Bapa yang penuh cinta), yang untuk menyapa-Nya, kita tidak memiliki rumusan kata-kata yang tepat. 

Anak-anak mempercayai dan mengandalkan orangtuanya, dan orangtua tahu persis apa yang diinginkan anaknya. “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?” (ay 11-12). Anak-anak Allah semestinya juga datang kepada Allah dengan cara seperti itu, dengan penuh kepercayaan dan harapan, karena mengetahui bahwa Allah akan selalu melakukan untuk mereka apa pun yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Anak-anak, seperti sahabat yang meminta roti pada tengah malam, tidak mengenal kata tidak. Karena sekalipun mendapatkan jawaban tidak, ia akan tetap datang pada hari berikutnya dengan permintaan yang sama. Yesus mengajar kita, sebagai anak-anak Allah, untuk menunjukkan roh ketekunan di dalam doa. Ia menekankan hal ini dengan mengambil perbandingan sahabat yang mengetuk pintu tengah malam untuk meminta roti bagi tamunya. Ia tidak mengenal kata tidak. 

Memanjatkan doa seperti dalam hubungan bapa-anak mengingatkan kita bahwa doa adalah suatu aktivitas yang mengalir dari relasi. Kita tidak bisa belajar bagaimana berdoa dengan lebih baik, tetapi kita menjadi pendoa yang baik bila relasi atau hubungan kita dengan Allah menjadi semakin intim seperti bapa dengan anak. Jadi bila anda ingin memperbaiki kualitas doa anda, perbaikilah relasi anda dengan Allah, Bapa kita. 

Bobot Sebuah Misa

Kisah nyata berikut ini diceritakan Sr M. Veronica Murphy yang mendengarnya dari almarhum Romo Stanislaus SS.CC. (Kongregasi Hati Kudus).
Suatu hari bertahun-tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Luksemburg, seorang Kapten Penjaga Hutan sedang bercakap-cakap serius dengan seorang tukang daging ketika seorang wanita tua masuk ke tokonya. Tukang daging lantas memutuskan percakapannya dengan sang Kapten dan bertanya kepada si wanita tua itu apa yang dia inginkan. Ternyata si ibu tua itu datang untuk meminta sedikit daging tapi dia tidak punya uang. Sang Kapten merasa geli mendengar percakapan yang terjadi antara wanita miskin dan tukang daging itu, "Minta sedikit daging, tapi berapa yang akan Anda berikan?"
''Saya minta maaf saya tidak punya uang tapi saya akan mendengar Misa bagi Anda ". Saat itu, hadir di Misa lazim disebut dengan “mendengarkan” Misa. Si tukang daging dan sang kapten keduanya adalah laki-laki yang baik tetapi sangat tidak peduli tentang agama, sehingga mereka langsung mengejek jawaban wanita tua itu. "Baiklah," kata tukang daging, "Sekarang Anda pergi dan dengarkan Misa bagi saya. Dan ketika Anda datang kembali, saya akan memberikan daging sebanyak sesuai Misa yang layak." Wanita itu meninggalkan toko dan kembali beberapa saat kemudian. Dia mendekati meja toko dan tukang daging melihatnya kemudian berkata, "Baiklah kalau begitu mari kita lihat."
Dia mengambil secarik kertas dan menulis di atasnya "Saya mendengar Misa untuk Anda." Dia kemudian meletakkan kertas pada sisi timbangan dan tulang kecil di sisi lain, tapi tidak ada yang terjadi. Selanjutnya ia menukar tulang tadi dengan sepotong daging, tapi masih saja sehelai kertas tersebut tampak lebih berat. Kedua pria itu (tukang jagal dan kapten) mulai merasa malu atas sikap mengejek mereka, tapi tetap saja meneruskan kejadian tersebut. Sepotong daging besar ditempatkan pada timbangan, tapi masih saja sehelai kertas bertuliskan “Saya mendengar misa untuk Anda” masih tampak lebih berat. Tukang daging, dengan putus asa, memeriksa timbangannya apakah ada yang salah, tapi semua bagiannya kondisinya masih benar.
"O wanita yang baik, apa yang Anda inginkan? Apakah Anda menginginkan saya memberikan sepotong kaki domba?" Saat mengucapkannya, ia tempatkan bongkahan daging kaki domba itu di timbangan, tetapi lagi-lagi sehelai kertas itu tetap lebih berat bobotnya. Hal ini sangat mengesankan si tukang daging yang kemudian membuatnya ia bertobat, dan berjanji untuk memberikan jatah harian sejumlah daging bagi wanita miskin itu. Adapun sang Kapten, dia meninggalkan toko si tukang daging temannya itu sebagai pria yang berbeda. Ia menjadi seseorang yang mencintai Misa harian. Dua putranya kemudian menjadi imam, satu seorang imam Yesuit dan lainnya di Kongregasi Hati Kudus (SS.CC.). Romo Stanislaus menutup ceritanya dengan berkata"sayalah yang menjadi imam di Kongregasi Hati Kudus, dan Kapten itu adalah Ayah saya."
Sejak kejadian itu sang Kapten senantiasa hadir di Misa harian dan anak-anaknya dilatih untuk mengikuti teladannya. Kemudian, ketika anak-anaknya menjadi imam, ia menyarankan mereka untuk mengucapkan Misa dengan baik setiap hari dan tidak pernah melalaikan merayakan Kurban Misa sebisa mungkin.
sumber:  Michael Journal 

Bisakah Komuni (Hosti Kudus), Dikunyah?

Tidak ada dokumen Gereja yang menyebutkan secara eksplisit tentang bagaimana seharusnya kita ‘memakan’ Ekaristi/ Komuni Kudus. Namun prinsipnya jelas diajarkan, bahwa karena Kristus benar- benar hadir dalam rupa Hosti tersebut (lihat KGK 1364, 1366, 1382, 1085), maka kita yang menerima-Nya harus memperlakukan-Nya dengan hormat. Jadi sebaiknya, hosti dibiarkan hancur sendiri di dalam mulut kita, atau jika perlu mengunyah, lakukan seperlunya, dan bukan untuk dikunyah seperti mengunyah biskuit atau kacang. Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (lihat Katekismus, KGK 1377). Maksudnya pada saat hosti dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk hosti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti] selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya dengan ucapan syukur.
Maka hal dikunyah atau dikulum, sesungguhnya menjadi secondary, sebab yang terpenting adalah kita menerima Komuni dengan hormat dan syukur. Karena jika kita telah menerima-Nya dengan sikap batin sedemikian, maka umumnya kita akan dapat memperlakukan Kristus yang masuk dalam tubuh kita dengan sikap yang layak.
Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 17 April 1980, mengajarkan: “Umat beriman dianjurkan untuk tidak lupa mengucap syukur yang layak [kepada Tuhan] setelah Komuni. Mereka dapat melakukan hal ini sepanjang perayaan dengan periode hening, dengan menyanyikan lagu pujian, mazmur, atau madah syukur lainnya, atau juga setelah perayaan, jika memungkinkan dengan tinggal di gereja untuk berdoa selama waktu yang pantas.” (Inaestimabile Donum, 17)
Demikian semoga ulasan di atas berguna bagi kita semua.
Sumber: Situs Katolisitas

Senin, 22 Juli 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (27-28 Juli 2013)


       Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

  • Ryanto Tansil & Heslina Rahmat       ( Pengumuman III )
  • Marthin  &  Melanie            ( Pengumuman III )


Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Santa Yulita dari Kaesarea, Martir dan Pengaku Iman

Yulita berasal dari Kapadokia. Ia memiliki ladang dan ternak, harta kekayaan lainnya dan banyak budak belian. Di antara penduduk setempat, Yulita tergolong wanita kaya raya. Banyak orang mengadakan hubungan dagang dengannya. Pada suatu ketika, dia terlibat dalam suatu pertikaian bisnis dengan seorang pemuka masyarakat. Dia dihadapkan ke pengadilan umum namun berhasil mengalahkan orang itu. Karena itu ia menjadi musuh bebuyutan orang itu.  Untuk membalas kekalahannya di depan pengadilan, orang itu melaporkan kepada penguasa setempat bahwa Yulita adalah seorang penganut agama Kristen. Oleh laporan ini, hakim segera memanggil Yulita dan memaksannya untuk mempersembahkan kurban bakaran kepada dewa Zeus. 
Yulita berani menentang. Dengan tegas ia berkata: "Ladangku dan kekayaannku boleh diambil dan dirusakkan. Tetapi sekali-kali aku tidak akan meninggalkan imanku. Aku tidak akan pernah menghina Tuhanku yang telah menciptakan aku. Aku tahu bahwa aku akan memperoleh semuanya itu kembali di surga." 
Tanpa banyak berpikir hakim itu menyuruh para algojo membakar hidup-hidup Yulita di depan umum. Peristiwa naas ini terjadi kira-kira pada tahun 303.

Kristus hadir di tengah umat yang sedang Berdoa

Keluarga bapak dan ibu Budi ini rajin berdoa bersama setiap harinya dalam keluarga. Meski anak-anaknya mulai besar, yang sulung sudah kuliah, yang kedua sudah SMA dan yang bungsu masuk SMP, bapak dan ibu Budi selalu mengajak mereka berdoa bersama. “Ah, Rini harus belajar Bu, besok ujian” begitu kata Rini, anaknya yang kedua. Tetapi ibunya menjawab: “Berdoa bersama kan cuma 10 menit kan. Tidak lama itu, tetapi kita akan diberi damai oleh Tuhan. Dan kalau damai hati kita, belajar atau mau tidur juga sudah tenang”. Begitu kata ibunya dengan bijaksana. Bapak Budi cuma tersenyum sabar, sambil menunggu anggota keluarganya berkumpul pada jam 19.30 itu. Entah sadar atau tidak, keluarga bapak dan ibu Budi mengamalkan ajaran Gereja untuk rajin dan tekun berdoa. Dan ketika berdoa tersebut, Tuhan sendiri hadir di tengah mereka. Itulah ajaran Konstitusi Liturgi artikel 7: “Kristus hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20)”. Konstitusi Liturgi menunjuk  bahwa Tuhan hadir saat Gereja memohon dan bermazmur. Hal ini dapat menunjuk Ibadat Harian atau Brevir yang biasa didoakan para imam, biarawan dan biarawati itu. Tetapi teks tersebut juga dapat menunjuk kehadiran Tuhan di setiap ada umat yang sedang berdoa, entah berdoa apa pun. Sebab Tuhan Yesus sendiri berjanji akan hal itu.
Ada banyak keluarga kristiani yang masih rajin berdoa bersama. Tetapi juga bila umat di lingkungan, wilayah, stasi ataupun dalam kelompok manapun sedang berdoa dalam nama Yesus, sungguh Tuhan Yesus hadir di situ!

Rabu, 17 Juli 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN ( 20-21 Juli 2013 )

       Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

Ryanto Tansil & Heslina Rahmat   ( Pengumuman II 
Marthin  &  Melanie            ( Pengumuman II )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan 
atas rencana perkawinan tersebut, 
wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

“Maria Telah Memilih Yang Terbaik”

Renungan Hari Minggu Biasa XVI/ Tahun C
Oleh Pastor  Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari :
Kej. 18:1-10a; Kol 1:24-28; Luk. 10:38-42

Maria dan Martha yang dikisahkan di dalam kutipan injil hari ini menggambarkan dua sikap yang berbeda. Mereka berdua sama-sama menawarkan tumpangan dan keramah tamahan kepada Yesus yang sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Namun cara dua orang bersaudara ini dalam menerima Yesus sangatlah berbeda. 

Martha sangat sibuk, sebagaimana pasti akan dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga dalam situasi yang sama: berusaha untuk melayani, jangan sampai ada yang kurang. Yesus baginya adalah seorang tamu terhormat. Semua akan diberikan, semua akan ia lakukan untuk menghormati tamunya. Maria sangatlah lain. Ia adalah ketenangan, juga penuh perhatian, tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Ia duduk pada kaki Yesus dan baginya tidak ada yang lebih penting daripada berada dekat dengan-Nya dan mendengarkan setiap perkataan-Nya. 

Baginya Yesus bukanlah tamu yang membutuhkan ini atau itu. Maria memikirkan sesuatu yang lebih baik, yang kita semua juga butuhkan, yang hanya Ia sendiri yang dapat memberikannya. Maka ia duduk sangat tenang – tetapi juga sangat terbuka terhadap Yesus dan membiarkan setiap kata dari mulut Yesus meresap ke dalam jiwanya, membiarkan dirinya disuap dengan santapan rohani.

Dua tipe orang Kristen
Di dalam dua tokoh ini ditampilkanlah dua tipe yang berbeda dari hidup kristiani. Yang satu lebih tampil dalam tindakan aktif dan yang lain lebih reflektif. Marta melihat Yesus terutama sebagai manusia, yang membutuhkan pelayanannya. Maria melihat Yesus lebih sebagai Yang dari Allah, yang dapat memberikan makanan untuk hidup yang kekal. Sesungguhnya Yesus adalah keduanya: manusia yang adalah teman seperjalanan kita, yang juga membutuhkan kekuatan di dalam banyak saudara-saudari kita; tetapi Ia juga sekaligus Allah, yang tidak membutuhkan apa-apa dari kita, melainkan memberi dan menganugerahkannya dari kepenuhan roh dan hidup ilahi-Nya. 

Kedua tipe kehidupan kristiani ini haruslah ada di dalam diri kita. Pengaduan dari Martha: “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” membuat pembicaraan ini menarik. Yesus harus mengambil sikap dan jawaban yang diberikannya bernada teguran kepada Martha. Ia mengakui dan menghargai usaha dari Martha sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab sebagai tuan rumah; tetapi Ia tidak ingin membiarkan bahwa apa yang dilakukan Maria dianggap tidak bernilai. 

Bagi Martha tampaknya kedua sikap itu adalah pilihan: melakukan sesuatu atau duduk saja tanpa melakukan sesuatu, aktif atau pasif. Ia tidak mengerti, bahwa masih ada hal lain: duduk dalam ketenangan dan kehadiran penuh sebagai suatu sikap keterbukaan yang sangat mendalam bagi Sabda Allah dan sebagai suatu jawaban batin yang spontan akan sabda yang diterima. Bukankah manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah? Dan hidup dari sabda Allah lebih utama daripada hidup yang diberi makan dengan roti.

Menerima dan melakukan
Di dalam hidup harian kita dewasa ini sangatlah terasa bahwa hal-hal yang menyangkut ekonomi menjadi sangat dominan. Dalam situasi seperti itu mestinya kita menyadari bahwa masyarakat kita membutuhkan bukan hanya kemajuan ekonomi yang pesat, tetapi juga sangatlah mendesak suatu pembaharuan kebiasaan, kehidupan rohani dan keagamaan. Tetapi itu semua tidaklah mungkin kita capai dari diri kita sendiri, melalui usaha yang lebih giat. Kita haruslah pertama-tama bersedia untuk menerima dengan penuh keyakinan, membuka mata hati untuk mendengarkan dan mengikuti tuntunan Allah, mematuhi dengan setia perintah-perintah Allah yang sangat dasariah, dan membiarkan diri diubah oleh kuasa Allah yang senantiasa ditawarkan kepada kita secara sangat berlimpah di dalam sabda dan sakramen-sakramen-Nya. Itu semua tidaklah pertama-tama muncul dari prestasi kita, meskipun Allah selalu membutuhkan kerjasama kita.

Tentu kita tidak dapat mengatakan tentang Martha dalam kutipan injil hari ini dan tentang begitu banyak Martha pada zaman kita ini, bahwa ia (mereka) hanya mengusahakan hal-hal duniawi. Apa yang ia lakukan, ia lakukan juga untuk Tuhan dan ia lakukan karena cinta kepada-Nya. Hal itu berlaku bagi para biarawan/wati yang aktif di dalam pelayanan kepada sesama. Banyak dari antara mereka yang jatuh kepada kecenderungan Martha. Menjadi orang Kristen berarti melakukan sesuatu. Dan perkembangan hanya dapat kita lihat bila gereja lebih banyak melakukan hal-hal yang berguna untuk dunia.

Siapa yang berpikir demikian, pasti dikagetkan oleh jawaban Yesus: bahwa tidak ada yang lebih penting daripada mendengarkan Dia dengan tenang dan penuh perhatian. Itulah yang terjadi pada banyak orang yang karena keterbatasan fisik tidak dapat bekerja seperti banyak orang lain. Sebutlah mereka yang lumpuh, atau karena penyakit lain terpaksa hanya dapat terbaring di tempat tidur. Tentu mereka dapat sangat aktif secara rohani, tetapi secara fisik mereka sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi apakah aktivitas itulah segalanya? Yesus pun tidak memaksudkan bahwa aktivitas tidak bernilai. Dalam ceritera kita pada hari minggu lalu tentang orang Samaria yang baik hati, sangatlah jelas Ia tunjukkan bahwa keterlibatan sangatlah berarti dan penting. Tetapi sabdanya sangatlah jelas menentang kebisingan aktivitas, juga manakala kesibukan itu untuk Kristus dan dipahami sebagai pelayanan untukNya, bila tidak ada lagi waktu untuk “bersama dengan-Nya”, mendengarkan sabda-Nya dan menjawab sabda-Nya dengan doa-doa kita.

Awal dari warta kekristenan bukanlah tindakan melainkan sabda. Dan sabda itu haruslah diterima, didengarkan dan dipercayai, pertama-tama menjadi daging di dalam hidup kita. Bila kita telah menerimanya, kita tidak dapat mempertahankannya tanpa setiap kali merengungkannya di dalam ketenangan dan mengarahkan seluruh indera kita kepadanya. 

Hal itu membutuhkan waktu dan ketenangan, yang harus kita luangkan. Waktu yang kita luangkan itu adalah saat di mana kita membiasakan diri kita memandang Allah yang mendatangi kita, seperti kata Paus Paulus VI: dengan segenap kekuatan jiwa di dalam permenungan dan cinta masuk ke dalam alam ilahi yang penuh misteri. Sikap seperti inilah yang dipuji Yesus pada diri Maria dari Betania bila Ia mengatakan: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.”. 

Santo Panteleon, Martir

Panteleon lahir di Nikomedia, Asia Keci. Ia bekerja di sana sebagai seorang tabib. Diceritakan bahwa tingkah lakunya sangat buruk dan karena itu ia seringkali gelisah dan resah karena tinkah lakunya itu. Kegelisahan dan keresahan ini menajdi suatu pintu masuk yang baik baginya menuju cara hidup yang baru. Oleh karena seorang imam bernama Hermolaus, Panteleon diajari ajaran-ajaran iman Kristen dan akhirnya bertobat dan dipermandikan menjadi Kristen. 

Semenjak itu ia berjanji untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama dan berniat menyilih dosa-dosanya dengan perbuatan-perbuatan baik.

Dengan keahlian sebagai tabib, Panteleon menolong dan merawat orang-orang sakit, terutama yang miskin tanpa menuntut bayaran. Harta miliknya bahkan dibagi-bagikan kepada mereka. Di samping itu ia rajin menyebarkan ajaran-ajaran Kristen kepada banyak orang terutama di kalangan orang-orang sakit yang dirawatnya. Banyak sekali orang yang berhasil ditobatkannya dan dihantar kepada iman yang benar. Ayahnya yang masih kafir ditobatkannya juga. 

Pada masa penganiayaan orang-orang Kristen oleh Kaisar Diokletianus, Panteleon ditangkap dan disiksa hingga mati dipenggal kepalanya pada tahun 303. 

Kehadiran Kristus Dalam Sakramen- Sakramen

Siti adalah seorang perawat yang bekerja di sebuah rumah sakit Katolik. Siti sendiri tidak Katolik, tetapi beberapa kali pernah menyaksikan dan membantu baptisan darurat seorang pasien oleh Suster atau perawat yang Katolik di situ. Tiba-tiba ada seorang pasien katekumen yang kritis dan minta dibaptis. Siti langsung membaptis orang tersebut persis menurut tata cara Gereja, dengan mengucapkan: “Yosef Ngadimin, aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus”, sambil mencurahi dahi orang tersebut dengan air sebanyak tiga kali. Sepuluh menit kemudian, pak Yosef Ngadimin, pasien tersebut meninggal dengan tenang dan tersenyum. Bolehkah orang yang non-Katolik membaptis seseorang dan baptisan itu sah? Jawabannya: dapat, boleh dan sah, asalkan orang itu membaptis dengan kehendak seperti yang dibuat oleh Gereja. Istilah kerèn-nya: orang yang membaptis itu harus mempunyai intentio faciendi quod facit ecclesia (kehendak seperti yang dilakukan Gereja). Mengapa baptisan tersebut tetap sah meski yang membaptis bukan pastor atau orang Katolik? Alasan paling mendasar adalah karena saat terjadi pembaptisan yang sah tersebut, Kristus sendirilah yang bertindak membaptis. Hal ini diajarkan oleh Konstitusi Liturgi artikel 7: “Dengan kekuatan-Nya Kristus hadir dalam sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristuslah sendirilah yang membaptis”.
Itulah ajaran Gereja yang sangat pokok bahwa Tuhan Yesus Kristus selalu hadir dalam sakramen-sakramen. Kristus hadir dengan kekuatan-Nya, yakni kekuatan yang menebus dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, marilah berusaha untuk selalu merayakan sakramen-sakramen dengan khidmat, persiapan yang memadai dan mengupayakan untuk hadir dalam persekutuan umat beriman di lingkungan, wilayah ataupun stasi!

Minggu, 14 Juli 2013

SOLIDARITAS

Hari Minggu Biasa XV / Tahun C
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan dari :
Ul. 30:10-14; Kol. 1:15-20; Luk. 10:25-37

Akhir-akhir ini perhatian kita dirahkan kepada BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat). Suatu program dari pemerintah yang bercorak sementara untuk membantu masyarakat miskin terkait dengan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). BLSM, menurut pihak pemerintah, didasarkan pada model subsidi silang. Artinya, subsidi pemerintah untuk BBM dikurangi, dan hasil pengurangan itu dialokasikan untuk membantu masyarakat miskin. BLSM ini tidak berbeda jauh dari program sebelumnya yang disebut BLTM (Bantuan Langsung Tunai Masyarakat), hanya berganti nama saja. Menurut berita yang saya dengar total dana yang dialokasikan untuk BLSM adalah sekitar 9,7 trilyun rupiah dan akan dibagikan kepada sekitar 29 juta penduduk miskin di Indonesia.

Tetapi bagaimana realisasi pelaksanaan BLSM itu di lapangan?


Beberapa hari ini banyak acara TV yang menayangkan pelaksanaan penyaluran dana BLSM. Tampaknya banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Intinya, BLSM tidak tepat sasaran. Ada orang yang tidak berhak menerima BLSM tetapi tokh dia bisa menerima, dan sebaliknya, ada yang harusnya menerima tetapi dia tidak mendapatkan bagian dengan pelbagai alasannya.


Saya pernah menonton berita TV di mana ditayangkan ekspresi wajah orang-orang yang menerima BLSM sebanyak Rp.300.000.- dan orang-orang yang tidak menerima BLSM. Beberapa ibu penerima BLSM itu tampak memakai kalung emas dengan liontinnya; ada juga yang memakai gelang emas; ada juga yang sedang sms-an dengan menggunakan HP; dan tampak pula beberapa orang laki-laki masih agak muda dengan badan agak kekar ikut ambil bagian menerima BLSM padahal mereka datang ke tempat pembagian BLSM dengan mengendarai sepeda motor. Di tempat lain ditayangkan pula beberapa orang tua beralas kaki sandal jepit yang tidak mendapatkan BLSM, meskipun sudah antri sejak pagi. Orang-orang tua ini rupanya kalah berdesak-desakan, sehingga ketika tiba di tempat pembagian dana BLSM dikatakan oleh panitia bahwa dana sudah habis. 


Yang membuat hati saya tersentak kaget, karena jengkel dan marah terhadap penerima BLSM yang tampaknya “bukan masyarakat miskin” itu ialah ketika diwawancarai mereka masih bisa tertawa puas karena berhasil mendapatkan dana BLSM sambil berkata, “syukur alhamdull’illah, saya bisa mendapatkan BLSM untuk menambah biaya sekolah anak saya!”. 
Menurut saya, kata “syukur alhamdull’illah” sangat tidak layak diucapkan oleh orang-orang semacam ini. Mereka, bagi saya, tidak ubahnya seperti para perampok yang mengambil barang yang bukan haknya. Bahkan mereka melebihi perampok sifat jahatnya. Para perampok masih memilih korbannya, yakni orang-orang berduit; tetapi mereka justru merampok dana BLSM dari orang-orang yang lebih membutuhkan dari pada mereka. Mata fisik mereka tidak bisa melihat lagi orang lain yang lebih membutuhkan dari pada mereka. Nah, kalau mata fisiknya saja sudah “buta”, apalagi “mata hati”-nya. Mereka adalah orang-orang yang telah “mati” hati nuraninya. Orang-orang egoistik seperti ini tidak lagi memiliki rasa solidaritas dengan yang lain.


Bacaan Injil hari ini berkisah tentang “Orang Samaria yang baik hati”. Kisah orang Samaria merupakan cerita perumpamaan dalam Kitab Suci yang sangat familiar bagi kita. Melalui perumpamaan ini Yesus hendak memberikan jawaban kepada seorang ahli Taurat yang hendak mencobainya dengan pertanyaan, “siapakah sesamaku manusia” (Luk. 10:29). Bagi orang Yahudi pada umumnya, ruang lingkup sesama sangatlah terbatas, yakni kaum keluarga dan kerabat dekat (orang tua, saudara kandung) serta orang-orang yang menjadi anggota keluarga karena ikatan perkawinan. Bagi mereka, sesama dalam arti inilah yang pertama-tama wajib dibantu bila mengalami kesulitan atau malapetaka. Dalam arti ini, bisa dimengerti mengapa sang imam yang melihat orang yang dianiaya itu tidak menolongnya (ay.31), demikian juga orang Lewi (ay.32). 
Melalui perumpamaan ini, Yesus membuka wawasan orang Yahudi mengenai konsep sesama tersebut, yakni “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya (orang yang menderita)” (ay.37). Belas kasihan itu justru ditampilkan dalam diri orang Samaria (ay.33), yang diberi cap sebagai pendosa tetapi sebenarnya justru merupakan kelompok orang yang tidak terikat pada kelompok-kelompok. Perumpamaan ini juga hendak mengatakan pula tentang sikap solidaritas yang tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Dasar dari solidaritas adalah rasa belas kasih. 

Dalam bacaan II, solidaritas yang didasarkan pada belas kasih ditunjukkan justru oleh Allah sendiri. “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Yesus), dan oleh Dialah (Yesus), Ia (Allah) memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia (Allah) mengadakan perdamaian oleh darah salib Kristus” (Kol. 1:19-20). Solidaritas kasih Allah terhadap Yesus, dan yang kemudian Yesus terhadap seluruh ciptaan, telah membawa keselamatan, kedamaian. Solidaritas kasih inilah yang membawa persatuan bagi seluruh ciptaan.


Sebagai pengikut Kristus, kita sudah mengenal solidaritas kasih Allah melalui pewartaan Yesus dan dalam sikap-sikap serta cara-cara pelayanan Yesus. Melalui dan dalam Yesus, solidaritas kasih Allah menjadi sangat dekat dengan kita; bukan sebagai firman yang diperintahkan untuk dilaksanakan, tetapi sebagai firman yang sangat dekat, yakni firman yang ada “di dalam mulutmu dan di dalam hatimu untuk dilakukan” (bdk. bacaan I, Ul. 30:14).

Sebagai orang katolik, semoga kita tidak terlibat dalam rebutan dana BLSM yang bukan menjadi hak kita; semoga kita semakin dimampukan untuk menghidupi dan menghidupkan sikap solidaritas terhadap sesama sebagaimana Kristus telah solider terhadap kita, sehingga semakin banyak orang yang bisa mengalami kedamaian dan keselamatan.

Santo Frederik dari Utrecht, Uskup dan Martir

Frederik lahir di Frisia, Nederland. Hari kelahirannya tidak diketahui pasti. Pendidikannya berlangsung di Utrecht hingga ia ditabhiskan menjadi imam. Sebagai imam baru, Frederik ditempatkan di Utrecht dengan tugas untum mempertobatkan orang-orang di kota itu. 
Keberhasilan karyanya di Utrecht menghantarkan dia ke atas tahkta keuskupan Utrecht. Ia ditabhiskan menjadi uskup Utrecht pada tahun 825. Sebagai uskup, Frederik berusaha menata keuskupannya dengan sebaik-baiknya dan melayani kepentingan umatnya. Ia juga mengirim banyak misionaris ke wilayah utara untuk mewartakan injil di antara orang-orang kafir yang ada disana.

Usaha-usaha untuk mengkristenkan orang-orang kafir membawanya kepada kematian sebagai martir di Maastricht, Nederland pada tanggal 18 Juli 838. Ada dua alasan dikemukakan sebagai dasar pembunuhan atas diri Frederik. Alasan pertama ialah karena Frederik mencela kebrengsekan hidup moral Yudith, permaisuri kaisar Louis Debonair (814-840). Yudith tidak menerima baik celaan itu dan segera memerintahkan pembunuhan atas Frederik. Alasan lain ialah karena usaha-usaha Frederik untuk mengkristenkan penduduk Walcheren, di wilayah baratdaya Nederland, yang masih kafir dan liar, tidak diterima oleh mereka. Karena itu penduduk Walcheren berusaha mencari kesempatan untuk menghabiskan nyawa Frederik. Menurut tradisi Frederik dibunuh setelah merayakan Kurban Misa di Masstricht, Nederland. 

KRISTUS HADIR DALAM PEMIMPIN MISA

Seusai Misa, dengan ceria salah seorang dari umat berkata kepada Rama Parokinya,”Rama, potong rambut ya? Di Salon atau Madura? Bagus lho, tidak gondrong! Maaf Rama, hanya bercanda.”  Umat sering terkagum-kagum pada Rama yang berpenampilan rapi saat Misa. Tentu rambut rapi pastor bukan yang paling pokok. Hanya saja, penampilan dan bahkan seluruh tata gerak dan gaya sang imam saat memimpin Misa amatlah mempengaruhi penghayatan umat dalam Misa tersebut.
Lebih mendalam dari sekedar penampilan, bagaimanapun juga seorang imam yang sedang memimpin perayaan Ekaristi selalu membawakan dan menghadirkan Kristus (in persona Christi) dan seluruh Gereja. Bahkan Konstitusi Liturgi menyatakan: “Kristus hadir dalam kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan ‘karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yagn ketika itu mengorban diri di kayu salib’, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi” (SC 7). Betapa agung dan mulianya Kristus yang berkenan hadir di tengah kita umat-Nya melalui diri para pastor atau pelayan Misa ini. Itulah sebabnya, saat memimpin Misa seorang imam benar-benar sedang menjadi alter Christus (Kristus yang lain).

Karena Kristus hadir dalam diri imam saat memimpin Misa itulah, umat berdiri saat imam masuk, atau para petugas menundukkan kepala kepada imam selebran sebelum bertugas. Maka umat pun seyogyanya  mendukung tugas kepemimpinan Rama dan kiranya juga dapat mengingatkan dengan bijaksana, manakala Rama-nya kurang menghayati Misa.

Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia

Hidup bukan tentang mencari uang agar kita dapat membiayai kebiasaan belanja kita, atau membeli rumah besar dan kehidupan yang lebih mewah. Kita hidup bukan untuk mendukung perusahaan besar sebagai konsumen. Namun itulah yang sedang terjadi.
Waktu kecil kita dihabiskan di sekolah yang mempersiapkan kita agar punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan nanti. Setelah itu kita didorong untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (dan mulai menumpuk hutang kita) agar kita mempunyai kesempatan yang terbaik untuk memperoleh pekerjaan yang berpendapatan tinggi. Lalu kita saling mencakar untuk mendapatkan pekerjaan bagus yang sangat terbatas itu, dan yang berhasil akan mendapat imbalan rumah mewah, mobil besar dan pakaian yang bagus (dan dalam prosesnya meningkatkan lagi hutang kita dengan pihak bank). Yang kalah akan terjebak dalam pekerjaan-pekerjaan yang mereka benci sambil merasa iri dengan kehidupan orang lain yang mereka lihat di televisi atau baca di koran.
Kita hidup sebagai konsumen. Saat kita stres, kita belanja. Saat kita perlu penghiburan kita membeli penghiburan. Saat kita ingin sehat, kita membeli pakaian olah raga, alat olahraga atau keanggotaan di klub fitness.
Kita menyelesaikan segala persoalan sebagai konsumen.

Apa alternatifnya?
Sebetulnya terdapat jutaan alternatif. Tapi kita sudah begitu terpola bahwa hanya ada satu alternatif, kita tak terpikir bahwa akan ada pilihan yang lain.
Seperti apa kehidupan tanpa iklan, mal, shopping, bekerja untuk perusahaan besar, memiliki alat komunikasi yang canggih, membeli setiap produk keluaran Apple, menonton film dan televisi yang dikembangkan oleh perusahaan besar dan ditujukan untuk orang banyak?
Hidup kita akan lebih tenang, lebih banyak waktu luang. Tanpa perlu membeli terlalu banyak, kita tidak begitu sibuk bekerja dan mencari uang. Suatu konsep yang revolusioner dan yang tak terpikir oleh kita! Namun itulah kenyataannya: sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perkembangan di dalam teknologi bukannya mengurangkan pekerjaan kita malah menambahnya.
Tanpa perlu memiliki dan memperoleh lebih banyak, kita bisa terfokus pada manusia dan bukannya barang-barang. Kita akan menjadi lebih sehat, karena kita akan lebih banyak beraktivitas dan berolahraga, punya waktu untuk menyediakan makanan yang lebih sehat dan bukannya makan di luar atau mengkosumsi makanan instan yang yang tak bergizi dan penuh lemak. Kita akan punya lebih banyak waktu untuk keluarga, anak-anak dan juga memberikan perhatian pada apa yang penting di dalam hidup.
Tentu saja semuanya ini sepertinya idealisasi, namun suatu alternatif yang bisa saja terjadi. Tapi kita harus terlebih dulu membongkar pola pikir konsumeris.
Pertama, kita harus sadar apa yang telah mempengaruhi pola pikir kita. Saat kita menonton iklan di TV, di filem, di Internet, dorongan apa yang timbul? Mengapa kita membuka diri pada perusahaan-perusahaan besar yang terus mendorong kita untuk berbelanja, membeli dan mengikuti tren teknologi yang terbaru. Mengapakah perusahan besar terus meluncurkan produk baru? Karena mereka tahu bahwa para konsumer mudah "ditipu".

Dapatkah kita menghindarinya?
Kurangilah jam nonton TV. Hindarilah mal dan pusat perbelanjaan. Jangan menonton iklan. Kita tidak perlu tahu apa produk terbaru atau model terbaru di pasaran. Janganlah mudah terpancing dengan semangat konsumerisme. Janganlah ditipu oleh iklan-iklan yang menberitahu kita bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik jika kita memliki produk yang lebih baru, lebih canggih dan lebih mahal. Hidup bukan tentang berapa banyak barang yang kita miliki. Hidup kita juga tidak akan menjadi lebih baik seiring dengan bertambahnya barang-barang yang kita miliki.
Jangan terlalu mudah membeli sesuatu. Saat Anda mempunyai dorongan untuk membeli, pertimbangkan apakah memang benda itu merupakan suatu kebutuhan atau hanya sekadar keinginan kita. Belajarlah untuk puas dengan hidup apa adanya.
Bebaskanlah diri kita dari dibelenggu oleh komsumerisme. Kita adalah manusia dan bukannya konsumer.
Rasul Paulus berpesan pada kita bahwa kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Tim 6.7,8)