Kamis, 14 Maret 2013

Jadwal Perayaan Pekan Suci 2013 Gereja Katedral Makassar Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus




* HARI RAYA PALMA
* SABTU, 23 Maret 2013 : 
1. PKL 18.30 WITA 
* MINGGU, 24 Maret 2013 :
1. PKL 06.30 WITA             
2. PKL 08.30 WITA
3. PKL 11.00 WITA             
4. PKL 16.30 WITA
5. PKL 18.30 WITA




* KAMIS PUTIH  
28 Maret 2013: 
1. PKL 16.30 WITA             
2. PKL 19.30 WITA

* JUMAT AGUNG, 
29 Maret 2013 :
1. PKL 15.00 WITA            
2. PKL 18.30 WITA

* SABTU SUCI, 
30 Maret 2013 : 
1. PKL 18.00 WITA            
2. PKL 21.30 WITA

* MINGGU PASKAH, 
31 Maret 2013 : 
1. PKL 06.30 WITA            
2. PKL 08.30 WITA
3. PKL 11.00 WITA            
3. PKL 16.30 WITA
4. PKL 18.30 WITA

Rabu, 13 Maret 2013

Biografi Paus Fransiskus










Annuntio vobis gaudium magnum:
Habemus Papam;
Eminentissimum ac reverendissimum Dominum,
Dominum Georgium Marium Sanctæ Romanæ Ecclesiæ Cardinalem Bergoglio,
Qui sibi nomen imposuit Franciscum.


Saya mengumumkan kepada anda sukacita besar;
Kita memiliki Paus;
Tuan Yang Utama dan Terhormat,
Tuan Georgius Mario Kardinal Gereja Roma Yang Kudus Bergoglio,
Yang telah mengambil nama Fransiskus



Paus baru kita telah terpilih, Beliau adalah Kardinal Jorge Mario Bergoglio, S.J., Uskup Agung Buenos Aires dan Ordinaris untuk umat ritus Timur di Argentina yang tidak memiliki ordinaris bagi ritus mereka. Beliau lahir pada tanggal 17 Desember 1936 di Buenos Aires. Lahir dari sebuah keluarga yang berasal dari Piemonte, sebuah wilayah di utara Italia, tepatnya di Bricco Marmorito, bagian dari kota Asti. Ayahnya bernama Mario Jose Bergoglio, seorang pegawai kereta api dan ibunya Regina Sivori, seorang ibu rumah tangga berdarah Piemonte dan Genoa. 

Ia belajar teknik kimia dan berhasil menjadi sarjana pada jurusan tersebut. Tetapi kemudian Ia memilih ingin menjadi imam dan masuk Seminari Villa Devoto. Pada 11 Maret 1958, Ia pindah ke Novisiat Company of Jesus setelah menyelesaikan studi humanitas di Chile. Pada 1963, Beliau meraih gelar sarjana filosofi di Seminari Tinggi Santo Yosef San Miguel. Pada tahun 1964-1965, Ia mengajar literatur dan psikologi di Kolese Immaculata di Santa Fe dan pada tahun 1966 mengajar mata kuliah yang sama di Universitas El Salvador di Buenos Aires. 


Pada tahun 1967 hingga 1970, Beliau juga belajar teologi di Seminari Tinggi St. Yosef San Miguel dan meraih gelar sarjana teologi. Ia ditahbiskan sebagai imam jesuit pada tanggal 13 Desember 1969 selama studinya di Fakultas Teologi San Miguel Argentina. Pada tanggal 22 April 1973, Ia mengucapkan kaul kekalnya. 


Beliau adalah Master Novis di Villa Valirali San Miguel di mana ia juga mengajar teologi. Beliau pernah menjadi provinsial Jesuit Argentina (1973-1979) setelah ditunjuk pada tanggal 31 Juli 1973. Pada tahun 1980 hingga 1986, Beliau menjadi rektor Fakultas Filosofi dan Teologi San Miguel sekaligus Pastor Paroki St. Yosef di Keuskupan San Miguel. Tahun 1986, Beliau dikirim ke Jerman untuk menyelesaikan studi doktoralnya dan kemudian melayani sebagai pembimbing rohani di Cordoba. 


Pada tanggal 20 Mei 1992, Beliau ditunjuk sebagai Uskup Tituler Auca dan Uskup Auksilier Buenos Aires, menerima tahbisan uskup pada tanggal 27 Juni 1992. Beliau ditahbiskan uskup di Katedral Buenos Aires oleh Kardinal Antonio Quarracino, Uskup Ubaldo Calabres (Duta Besar Vatikan untuk Argentina) dan Uskup Emilio Ognenovich. Pada tanggal 3 Juni 1997, Beliau ditunjuk sebagai Uskup Agung Koadjutor Buenos Aires dan menggantikan Kardinal Antonio Quarracino di Buenos Aires pada tanggal 28 Februari 1998. Beliau juga adalah Ordinaris untuk umat ritus Timur di Argentina yang tidak memiliki ordinaris bagi ritus mereka.


Beliau melayani sebagai Presiden Konferensi Para Uskup Argentina pada tanggal 8 November 2005 sampai 8 November 2011. Diangkat sebagai kardinal oleh Beato Yohanes Paulus II pada Konsistori 21 Februari 2001 dengan Titel Kardinal dari St. Robertus Bellarminus. Beliau pernah menjadi anggota Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen, Kongregasi Para Imam, Institut Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik, Dewan Kepausan untuk Keluarga dan Komisi Pontifikal untuk Amerika Latin.


Pada tanggal 13 Maret 2013 di Roma, pada konklaf 2013, Beliau dipilih oleh para kardinal sebagai Paus Gereja Katolik dan mengambil nama FRANSISKUS sebagai nama regnal.


Pax et Bonum

Pax et Bonum

Kamis, 07 Maret 2013

NOVENA PEMILIHAN PAUS BARU (KONKLAF)



Bapa Surgawi, Kami Umat-Mu, berkumpul dalam solidaritas seperti yang dilakukan para murid di ruang Senakulum, berdoa untuk turunnya Roh Kudus atas para Kardinal yang hadir di konklaf untuk pemilihan wakil Yesus Kristus, Tuhan kami. Semoga hati dan budi para Kardinal terbuka terhadap kebijaksanaan Roh Kudus-Mu, melampaui segala pertimbangan manusiawi, untuk memilih Paus yang paling berkenan bagi-Mu dan yang akan membimbing Gereja Kudus-Mu saat ini dan sejarah ke depan. Utuslah Roh Kudus-Mu maka segalanya akan dicipta lagi dan Engkau membaharui muka bumi.

Ya Yesus, Tuhan dan Gembala Agung kami,
Kuasailah hati dan budi para Kardinal-Mu, yang sedang bersekutu di konklaf untuk memilih Paus baru, yakni hamba-Mu yang Kau-percayai untuk menjadi wakil-Mu di bumi ini dan menggembalakan kami menyusuri sejarah menuju kerajaan-Mu. Kami memohon pula kepada Bunda Maria, sebagaimana pada Pentakosta, dia bersatu dalam doa dengan para murid di ruang Senakulum, supaya saat ini juga berdoa bagi para Kardinal untuk memilih Bapa Suci yang baru dalam kepatuhan terhadap bisikan Roh Kudus.

Santa Maria, mempelai Roh Kudus, Bunda Allah dan Bunda Gereja, kami mempercayakan konklaf ini pada hati tak bernoda dan keibuan-mu. Kami mempersembahkan doa ini kepada bimbingan dan perlindunganmu selama Pemilihan Wakil Putra-mu berlangsung.
Bapa Kami…
Salam Maria…
Kemuliaan...
                                                                                                                                                        --Deo Gratias--

PROSES Pemilihan Paus ( Konklaf)


VATIKAN-Mundurnya Paus ini merupakan pertama kali dalam 600 tahun terakhir. Paus Emeritus Benediktus ke-XVI resmi mundur dari jabatannya sebagai Pemipin Gereja Katolik dunia pada 28 Februari 2013. Setelahnya mundurnya Paus Emeritus Benediktus, beberapa tahapan harus dijalani untuk terpilihnya Paus yang baru.
Ada 6 tahapan yang harus diketahui setelah Paus Emeritus mundur dari jabatannya:

Interregnum
Setelah Paus Emeritus meninggalkan Vatikan menuju ke Kastil Gandolfo, pertemuan para kardinal untuk memilih Paus yang baru dimulai. Singgasana Tahta Suci Vatikan pun dinyatakan kosong dan masa interregnum resmi dimulai. Pemerintahan sementara di Vatikan dipimpin oleh Kardinal Tarcisio Bertone, yang dibantu oleh kardinal lainnya.

Berkumpulnya para kardinal
Setelah Paus Emeritus Benediktus dipindahkan ke Kastil Gandolfo, para kardinal berkumpul untuk melakukan kongregasi. Hanya kardinal berusia di bawah 80 tahun yang dinyatakan bisa mengikuti konklaf untuk memilih Paus baru. Tahun ini, hanya ada 115 kardinal yang menghadiri konklaf. Kardinal Keith O’Brien sudah mengundurkan diri sebagai Uskup  St .Andrews dan Edinburgh. Sementara Kardinal Indonesia Julius Darmaatmadja tidak bisa menghadiri konklaf karena gangguan penglihatan

Konklaf
Sebagai salah satu perintah terakhir sebagai Paus, Benediktus mengeluarkan dekrit untuk para kardinal memulai konklaf. Dekrit itu menyebutkan bahwa konklaf dimulai pada Senin 4 Maret mendatang. Diperkirakan konklaf ini akan berlangsung selama 15 hingga 20 hari.
Undangan yang disebar untuk para kardinal mengikuti konklaf akan dikeluarkan hari ini. Tetapi pertemuan pertama untuk membicarakan Paus baru, sepertinya baru akan dilakukan pada Senin dan konklaf akan berlangsung beberapa hari setelahnya.

Proses Konklaf
Konklaf berlangsung sangat rahasia, dengan pada kardinal yang terpilih dilarang untuk ke Vatikan saat tidak melakukan perundingan di Kapel Sistine. Ada satu pun informasi yang keluar, bisa dihukum dikeluarkan dari kesertaan konklaf. Selain itu, bangunan di Kapel Sistine juga disisir untuk mencari alat elektronik. Sementara setiap orang yang tidak terkait dengan konklaf, diperintahkan untuk keluar dari Kapel Sistine dan pemilihan pun dilaksanakan. 

Asap Putih
Pemungutan suara akan dilakukan pada hari pertama konklaf. Kemudian pemungutan itu akan diulang pada keesokan hari pagi dan sorenya pemilihan kembali diulang hingga Paus yang baru terpilih dengan suara 2/3 suara mayoritas. Kemudian bila sudah ada nama Paus, kertas yang berisi nama Paus baru itu dibakar di sebuah tungku di sudut Kapel Sistin. Asap hitam menandakan belum adanya Paus yang terpilih. Sementara asap putih yang terpilih maka menentukan Paus baru telah terpilih.

Paus Baru
Kandidat Paus yang sudah terpilih ditanya untuk menerima perannya baru dan memilih nama Paus yang akan disematkan kepadanya. Kemudian, yang terpilih pun dikenakan pakaian putih kebesaran Paus sebelum kembali ke Kapel Sistine, di mana para kardinal menyatakan kepatuhannya. Kemudian, Paus yang terpilih bergerak ke balkon di pintu utama Basilika Santo Peter dan diperkenalkan sebagai Paus yang baru, sebelum memberikan berkahnya kepada warga yang sudah menunggu.

Mendahulukan Pengampunan untuk Hidup Damai


Apakah Anda hari-hari ini merasa diperlakukan tidak adil oleh orang-orang di sekeliling Anda? Apa yang Anda lakukan? Anda membalasnya atau Anda memaafkannya?

Di akhir abad ke-19, seluruh dunia dilingkupi rasa takut yang begitu besar, ketika terjadi pemberontakan di Rusia. Saat itu, para pemberontak Chechen membunuh ratusan orang yang terkurung di sebuah sekolah di Beslan, Rusia. Kebanyakan para korban yang mati adalah mereka yang masih berusia masih sangat kecil. Enam anak yang turut terbunuh pada peristiwa itu adalah anak dari Totiev bersaudara.

Salah seorang dari Totiev bersaudara itu memberikan reaksi yang bagi kebanyakan kita merupakan pilihan yang sulit. Ia berkata, "Ya, kami mengalami kehilangan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Tetapi kami tidak melakukan balas dendam."

Meski kehilangan saudara-saudaranya, Totiev bertumbuh menjadi orang yang memaafkan para pembunuhnya. Ia telah kehilangan mereka. Karena itu, ia tidak ingin kehilangan banyak orang lain. Yang ia lakukan adalah ia mengkampanyekan hidup yang penuh damai, jauh dari balas dendam.

Sahabat, sadar atau tidak, kita hidup dalam dunia yang tidak mudah memaafkan sesamanya yang bersalah. Lebih mudah orang membalas kesalahan sesamanya daripada orang melupakan dan memaafkannya. Lebih gampang orang membalas tamparan dari orang lain, daripada mengatakan, ‘saya mengampuni kesalahanmu’.
Beberapa atau mungkin banyak dari kita yang sangat sulit menghilangkan kepahitan atas ketidakadilan yang sebenarnya tidak sebesar apa yang dialami oleh keluarga Totiev dalam kisah di atas. Mereka mengambil sebuah sikap untuk mengikhlaskan anak-anak mereka dan tidak membalas dendam. Hal itu tidak akan mungkin dapat dilakukan apabila Roh Tuhan tidak diam di dalam hati mereka.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa mengampuni lebih luhur daripada membalas perbuatan jahat orang lain. Kehilangan yang begitu besar tidak harus dibalas dengan kehilangan. Ketika orang memaafkan kesalahan sesamanya, sebenarnya ia mendapatkan kembali orang itu. Orang yang melakukan kesalahan itu dapat menyadari dirinya dan mempunyai kesempatan untuk bertobat.

Tentu saja kemampuan untuk mengampuni itu tidak dapat dimiliki oleh manusia, kalau manusia menutup diri terhadap rahmat Tuhan. Semangat untuk mengampuni mesti senantiasa tumbuh dalam diri manusia. Hanya dengan mengampuni orang dapat hidup berdampingan secara damai.

Sebaliknya, balas dendam hanya meninggalkan kepahitan demi kepahitan. Hati orang tidak lepas dari usaha untuk melakukan kejahatan terhadap sesamanya. Orang tidak hidup dalam damai. Hati orang selalu dikejar-kejar oleh keinginan untuk menghancurkan orang yang bersalah kepadanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mendahulukan pengampunan. Mengapa? Karena hanya dengan mengampuni hati kita akan mengalami damai. Kita akan menikmati bahagia dalam hidup ini. Tidak ada beban yang mesti kita tanggung, karena kita tidak membawa rasa benci di dalam hati kita. Mari kita dahulukan pengampunan. Tuhan memberkati. **

Sumber: Renungan pagi katolik.com

Apakah perbedaan antara keuskupan dan keuskupan agung? Uskup dan Uskup Agung?


Tuhan kita menetapkan bagi Gereja-Nya suatu struktur kepemimpinan yang berdasarkan pada para rasul. Susunan ini dikenal sebagai Hierarki Gereja. Sama seperti organisasi lainnya, setiap pemimpin dalam Gereja memiliki suatu wilayah tertentu yang ada dalam tanggung-jawab dan yurisdiksinya. Sementara jawaban berikut akan membicarakan masalah kepemimpinan, tanggung- jawab dan yurisdiksi, patutlah kita senantiasa ingat bahwa kepemimpinan dalam Gereja haruslah mencerminkan gambaran sang Gembala Yang Baik, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:1-18).

Bapa Suci, Paus, sebagai penerus St Petrus, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal atas Gereja semesta; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas. Sebab itu, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dari Konsili Vatikan II menyatakan bahwa paus “menjadi azas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para uskup maupun segenap kaum beriman” (No 23).
Para uskup ada dalam persatuan dengan Bapa Suci. Setiap uskup ditunjuk untuk menjalankan wewenangnya atas suatu wilayah tertentu yang disebut keuskupan. Sebagai contoh, Bapa Suci adalah Uskup dari Keuskupan Roma, dan Uskup J. Hadiwikarta (alm) adalah Uskup dari Keuskupan Surabaya. Sementara Paus mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal atas Gereja semesta, “kuasa, yang mereka (para uskup) jalankan sendiri atas nama Kristus itu, bersifat pribadi, biasa dan langsung, walaupun penggunaannya akhirnya diatur oleh kewibawaan tertinggi Gereja” (Konstitusi Dogmatis, No 27).

Masing-masing uskup sesungguhnya bertindak sebagai seorang gembala atas keuskupannya. Tiap uskup menjalankan kekuasaan pastoralnya terhadap bagian Umat Allah yang dipercayakan kepadanya, dengan dibantu oleh para imam dan diakon, tanpa memandang usia, kedudukan atau bangsa, baik yang diam di wilayahnya maupun yang hanya tinggal sementara. Perhatian juga harus diperluas terhadap mereka yang karena kondisi hidupnya tidak dapat secukupnya mendapat reksa pastoral yang biasa (misalnya mereka yang harus tinggal di rumah atau cacad) dan terhadap mereka yang tidak mempraktekkan agamanya lagi. Terhadap para saudara yang tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, hendaknya uskup bersikap ramah dan penuh kasih serta memupuk ekumenisme menurut paham Gereja (bdk. Kitab Hukum Kanonik, No 383).

Dalam menggembalakan keuskupannya, seorang uskup haruslah menjamin keotentikan ajaran iman Katolik, perayaan secara pantas dan teratur sakramen-sakramen dan bentuk-bentuk devosi lainnya, memupuk panggilan imamat dan hidup religius, serta memimpin keuskupan dengan ketaatan kepada Bapa Suci. Guna melaksanakan tugas tanggung-jawab ini, uskup membagikan wewenangnya kepada para imam, teristimewa para imam paroki, yang masing-masing bertanggung jawab atas suatu paroki, yaitu suatu bagian wilayah dari keuskupan. Di samping itu, uskup juga melakukan kunjungan ad limina setiap lima tahun sekali kepada Bapa Suci guna memberikan pertanggungjawaban mengenai keadaan keuskupannya. Oleh sebab itu, uskup menjadi azas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam keuskupannya, juga kesatuan keuskupannya dengan Gereja universal.
Dengan struktur dasar kepemimpinan dan organisasi seperti di atas, lalu, bagaimana dengan keuskupan agung? Gampangnya, sebuah keuskupan agung adalah sebuah keuskupan yang amat luas dipandang dari segi populasi umat Katolik, dan biasanya berada di suatu wilayah metropolitan yang besar. Sebagai contoh, kita akan membandingkan Keuskupan Surabaya dengan Keuskupan Agung Semarang. Keuskupan Agung Semarang, yang dipimpin oleh Mgr Ignatius Suharyo, memiliki 89 paroki, dilayani oleh 324 imam (projo maupun biarawan) bersama 1.901 biarawan biarawati dari berbagai tarekat hidup bakti, dengan populasi umat Katolik berjumlah 493.926, meliputi 21.196 km persegi. Sementara itu, Keuskupan Surabaya, yang dipimpin oleh Mgr J. Hadiwikarta, memiliki 37 paroki, dilayani oleh 116 imam (projo maupun biarawan) bersama 424 biarawan biarawati dari berbagai tarekat hidup bakti, dengan populasi umat Katolik berjumlah 178.689, meliputi 24.461 km persegi. Perhatikan bahwa meskipun Keuskupan Surabaya meliputi wilayah yang lebih luas dari Keuskupan Agung Semarang, namun Keuskupan Agung memiliki populasi umat Katolik, jumlah imam dan biarawan biarawati, maupun jumlah paroki yang jauh melebihi Keuskupan Surabaya. (Data Statistik diambil dari Statistics of the Catholic Church In Indonesia, Annuario Pontificio 2003).
Suatu keuskupan agung juga disebut tahta metropolit atau keuskupan “pemimpin” dari suatu propinsi gerejawi. Sebagai contoh, Keuskupan Agung Semarang adalah tahta metropolit dari Propinsi Semarang, yang meliputi Keuskupan Agung Semarang sendiri dan keuskupan-keuskupan sufragan: Surabaya, Malang, dan Purwokerto. (Istilah sufragan menunjuk pada keuskupan-keuskupan dari suatu propinsi gerejawi di bawah kepemimpinan Keuskupan Agung). Tujuan dari dibentuknya suatu propinsi gerejawi yang demikian adalah untuk memupuk kerjasama dan usaha pastoral bersama di wilayah (Kitab Hukum Kanonik, No 434).
Uskup Agung, walau secara jelas memegang suatu jabatan dengan wibawa yang besar, namun hanya memiliki wewenang yurisdiksi langsung atas keuskupannya sendiri. Tetapi, sebagai seorang uskup agung metropolit, ia mengemban beberapa tugas tanggung-jawab yang penting: (1) menjaga agar iman dan tata-tertib gerejawi ditaati dengan seksama, dan melaporkan penyelewengan-penyelewengan, jika ada, kepada paus; (2) mengadakan visitasi kanonik, jika itu diabaikan uskup sufragan, tetapi hal itu harus lebih dahulu mendapat persetujuan dari Tahta Apostolik; (3) mengangkat Administrator Diosesan apabila keuskupan sufragan tidak memiliki uskup; (4) menobatkan uskup baru yang ditunjuk bagi keuskupan sufragan; dan (5) di mana keadaan menuntutnya, Uskup Metropolit dapat dibebani tugas-tugas khusus (Kitab Hukum Kanonik, No 436). Uskup Agung juga saling bertemu dengan para uskup sufragan dalam konsili propinsi guna membahas masalah-masalah penting dalam wilayah. Terakhir, berkenaan dengan perkara-perkara hukum, Pengadilan Metropolit akan menjadi pengadilan pertama untuk mengajukan naik banding bagi perkara-perkara yang diadili dalam Pengadilan keuskupan lokal.   
Mungkin jawaban di atas terasa rumit (teristimewa bagian-bagian dari Hukum Kanonik menjadikannya tampak demikian), tetapi struktur kepemimpinan dan organisasinya sangat mendasar, yaitu: Penerus St Petrus, yang adalah gembala Gereja semesta, kemudian uskup, yang adalah gembala keuskupan, kemudian imam, yang adalah gembala paroki.   

Sumber: Yesaya.com

Santo Eulogius dan Leokrita, Martir

Eulogius lahir pada abad ke sembilan. Ia dikenal sebagai seorang imam yang lembut dan terpelajar. Ia ditangkap pada saat orang-orang Islam menduduki kota Cardoba. Di dalam penjara, ia bertemu dengan dua orang Kristen lainnya, yaitu Flora dan Maria. Eulogius menghibur dan meneguhkan hati kedua wanita serani itu menjelang kematiannya sebagai martir-martir Kristus.


Eulogius kemudian dibebaskan lagi oleh orang-orang Islam. Masa setelah kebebasannya itu digunakan untuk mencatat nama-nama para martir yang telah dibunuh pada masa pendudukan orang Islam. Ketika akan diangkat menjadi Uskup Agung kota Toledo, Spanyol Tengah, ia dikejar-kejar lagi oleh para musuhnya. Seorang wanita Islam bernama Leokrita-yang kemudian bertobat menjadi Kristen-menyembunyikan dia di dalam rumahnya. Tetapi tak lama kemudian Eulogius ditangkap dan dibunuh. Beberapa hari setelah Eulogius dibunuh, Leokrita mengalami nasib yang sama. Eulogius dan Leokrita dimakamkan di Katedral Oviedo, Spanyol.

MATI RASA


C. Hari Minggu Prapaskah IV
Yes. 6:9a, 10-12; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3, 11-32.
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC

Felisia adalah seorang gadis remaja. Dia lari dan meninggalkan rumah kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu karena bertengkar dengan ibunya. Mereka bertengkar karena masalah yang tidak terlalu penting. Felisia suka sekali membaca novel remaja. Mereka, Felisia dan ibunya, sudah membuat kesepakatan bahwa pada hari-hari ulangan umum dan ujian, Felisia akan mengurangi membaca novel dan akan lebih giat belajar.
Pada suatu saat, ketika sedang masa ulangan umum, Felisia melanggar kesepakatan itu. Ia membaca novel di kamar belajarnya. Dia meletakan novelnya di atas buku pelajaran sehingga tidak ketahuan kalau dia sementara membaca novel. Pada suatu hari, karena keasyikan membaca novel, dia tidak menyadari bahwa ibunya sudah berada di belakangnya. Sang ibu melihat Felisia sedang membaca novel, bukannya belajar. Sang ibu mengingatkan kesepakatan mereka dengan halus; tetapi sebaliknya Felisia marah besar dan menuduh ibunya melanggar privacy karena memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dahulu. Pertengkaran tidak dapat dihindarkan. Felisia lari meninggalkan rumah karena tidak dapat menahan emosinya.
Dalam kegalauannya itu Felisia bertemu dengan seorang bapa paruh baya. Melihat Felisia yang duduk lesu di taman, si bapa menyapa dan bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi. Melihat ketulusan si bapa, Felisia pun menceritakan semua apa yang terjadi atas dirinya. Karena khawatir Felisia akan mengalami nasib yang lebih buruk, maka bapa itu membawa ke rumahnya dan menyerahkan kepada istrinya untuk diperhatikan. Felisia sangat terharu dengan pelayanan yang diberikan oleh suami-istri tersebut. Sambil menangis Felisa mengucapkan banyak terima kasih atas segala perhatian dan pelayanan yang mereka berikan kepadanya. Kemudian, bapa itu berkata kepadanya, “Anakku, Felisia! Kami memperhatikan dan melayanimu hanya satu hari saja dan kamu sudah menangis mengucapkan terima kasih berkali-kali! Tidakkah kamu memikirkan ayah dan ibumu sendiri? Mereka sudah memperhatikan dan melayanimu selama hampir 16 tahun sejak kamu lahir!  Pernahkah kamu mengucapkan terima kasih kepada mereka sambil menangis terharu? Anakku, dengarkan kata bapa baik-baik. Bapa dan ibumu pasti cemas dan bingung mencari kamu. Perhatian dan pelayanan kami kepadamu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan kepadamu. Kami tidak layak menerima ucapan terima kasihmu. Mereka, orang tuamu, lebih layak menerima air matamu. Anakku, pulanglah. Ibumu melakukan semuanya itu demi kebaikkan dan masa depanmu”. Felisia semakin terharu dengan ketulusan bapa itu. Sambil memeluk bapa itu, Felisa minta diantarkan pulang ke rumahnya. Dengan senang hati dan penuh kegembiraan, bapa dan ibu itu mengantarkan Felisia pulang ke rumahnya.
Betapa bahagianya kedua orang tua Felisia ketika melihat anaknya pulang dalam keadaan selamat. “Mama! Maafkan Felisia! Selama ini Felisia mati rasa terhadap kasih sayang mama!,” kata Felisia sambil memeluk mamanya dan menangis terisak-isak.
(disadur dan diceritakan kembali dengan bebas dari buku Why did Christ have to die, penulis Darlene Lehman)
        Mati rasa merupakan suatu ungkapan yang dipakai untuk melukiskan situasi batin seseorang yang tidak bisa lagi menangkap, melihat, dan merasakan kebaikan orang lain. Mati rasa adalah situasi batin seseorang yang tertutup oleh awan gelap kepentingan diri sendiri.
Bacaan Injil hari ini, khususnya kisah hidup tentang di anak bungsu dan si anak sulung, barangkali juga bagian dari mati rasa.
          Si bungsu, tidak bisa merasakan dan menangkap kebaikan bapanya sehingga dia menghambur-hamburkan warisan bapanya (ay.13). Teguran alam, yakni situasi kelaparan yang dialaminya di negeri orang (ay.14), menjadi pembuka bahkan pendobrak ketertutupan hatinya itu. Dobrakan alam itu bisa menyadarkan hatinya, membuka kembali daya rasa-nya untuk menangkap perhatian dan pelayanan bapanya selama ini (ay.15-19).
        Si sulung juga mengalami mati rasa. Meskipun selalu bersama dengan bapanya tetapi dia tidak bisa menangkap perhatian dan pelayanan bapanya (bsk. Ay.31) Dia terlalu asyik dan sibuk dengan pikirannya sendiri, bahwa bapanya tidak pernah memberikan “hadiah seperti yang dia inginkan” (bdk. ay. 29). Kesibukan dengan pikiran sendiri inilah yang membuat dia juga mati rasa terhadap situasi adiknya (bdk.ay.28,32).
          Mati rasa juga menjadi bagian dari hidup kita. Masa Prapaskah merupakan masa untuk menjadari dan menemukan di manakah, di bagian manakah batin kita yang sedang mati rasa? Mendobrak pintu ketertutupan hati dan menghidupkan kembali rasa perhatian dan pelayanan itulah bagian dari pertobatan kita.
Semoga mati rasa kita bisa kita sadari dan kita dobrak sehingga kita kembali menjadi orang-orang yang hidup rasa, yakni orang-orang yang peka untuk memberi perhatian dan pelayanan secara benar dan tulus seperti si bapa yang merawat Felisia dalam cerita di atas.

Rumus Misa untuk Pemilihan Paus


Bendera Takhta Suci Saat Kekosongan Takhta

Mulai 28 Februari 2013 pukul 20:00 waktu Vatikan (1 Maret 2013, 02:00 wib.) sampai dengan terpilihnya Paus baru, Gereja Katolik berada dalam masa sede vacante atau kekosongan takhta. Selama masa ini, jika dikehendaki, para uskup dan imam dapat mempersembahkan Misa dengan rumus khusus: Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup. Rumus Misa ini terdapat dalam Missale Romanum editio typica tertia 2002 terbitan Vatikan. Meskipun Misale Romawi Bahasa Indonesia belum terbit, pihak Komisi Liturgi KWI telah berbaik hati menyediakan terjemahan khusus Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup di bawah ini. Terjemahan ini dikutip dari Misale Romawi Bahasa Indonesia, yang sudah mendapat aprobasi dari para uskup se-Indonesia, dan saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh rekonyisi dari Vatikan. Untuk sementara, terjemahan ini dapat dipakai ad experimentum.

Sesuai rubrik khusus untuk "Misa untuk Pelbagai Keperluan dan Kesempatan", dan dengan asumsi Paus baru telah dapat terpilih sebelum Hari Minggu Palma, rumus Misa di bawah ini dapat digunakan pada hari-hari biasa mulai 1 Maret 2013 sampai dengan terpilihnya Paus baru. Rumus Misa ini tidak boleh digunakan pada hari-hari Minggu Prapaskah dan juga pada Hari Raya Santo Yusuf tanggal 19 Maret 2013. Rubrik selengkapnya adalah sebagai berikut:

"Apabila ada suatu keperluan yang sungguh penting, suatu Misa yang sesuai dengan keperluan tersebut dapat dirayakan atas perintah Ordinaris lokal atau dengan ijinnya, pada semua hari, kecuali pada Hari-Hari Raya, pada hari-hari Minggu Masa Adven, Masa Prapaskah dan Masa Paskah, pada hari-hari biasa dalam Oktaf Paskah, pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, dan pada Hari Rabu Abu serta hari-hari dalam Pekan Suci. Akan tetapi, jika suatu keperluan yang sungguh-sungguh atau manfaat pastoral menuntutnya, sesuai penilaian rektor gereja atau imam selebran sendiri, dapat digunakan Misa atau Doa Pembuka yang sesuai dengan keperluan tersebut dalam perayaan bersama umat, juga kalau hari itu bertepatan dengan Peringatan Wajib atau hari-hari biasa dalam Masa Adven sampai dengan tanggal 16 Desember, hari biasa dalam Masa Natal mulai tanggal 2 Januari atau suatu hari biasa dalam Masa Paskah sesudah Oktaf Paskah." (Missale Romanum p. 1074)

Berikut ini adalah doa-doa presidensial dan antifon-antifon yang dapat digunakan.

Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup
(Sumber: Komisi Liturgi KWI)

Antifon Pembuka (1Sam 2:35)

Aku akan mengangkat bagi-Ku
seorang imam yang setia,
yang akan bertindak sesuai dengan keinginan-Ku;
dan Aku akan membangun baginya
suatu umat yang setia
dan ia akan hidup di hadirat-Ku senantiasa.

Doa Pembuka

Ya Allah,
Engkaulah gembala abadi
yang senantiasa memimpin kawanan-Mu
dan melindunginya dengan kasih setia.
Berikanlah kepada Gereja-Mu seorang gembala
yang penuh bakti kepada-Mu
dan mendapat perkenanan-Mu karena kekudusannya,
serta berguna bagi kami karena perhatiannya yang besar.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus,
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah melimpahi kami dengan kasih sayang-Mu.
Semoga berkat kurban kudus
yang dengan hormat kami persembahkan kepada-Mu,
kami bersuka cita, atas gembala yang Engkau perkenankan
untuk memimpin Gereja yang kudus.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Yoh 15:16)

Aku telah memilih kamu dan telah menetapkan kamu,
supaya kamu menghasilkan buah,
dan supaya buahmu itu tetap, sabda Tuhan.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
kami telah disegarkan
dengan sakramen keselamatan
Tubuh dan Darah Putra Tunggal-Mu.
Semoga oleh kasih karunia-Mu yang mengagumkan,
kami bersuka cita
karena Engkau berkenan memberikan kepada kami
seorang gembala yang mengajar umat-Mu
dengan kebajikan-kebajikannya
dan meresapi hati umat beriman dengan kebenaran Injil.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

Doa Syukur Agung yang cocok digunakan adalah DSA VII (Untuk Berbagai Kepentingan), dengan Prefasi 1 (Gereja Melangkah Menuju Kesatuan). Tentunya dengan menghilangkan frase "bersama Paus kami ...", karena saat ini kita tidak mempunyai Paus.

Prosit. Semoga bermanfaat.
Sumber: Tradisi Katolik

Kardinal: Pangeran Gereja Katolik


Siapa sebenarnya kardinal, yang sering disebut para pangeran Gereja Katolik? Apa peran mereka dan siapa saja yang dapat diangkat menjadi kardinal? Tulisan ini mencoba menyajikan secara ringkas beberapa hal tentang kardinal yang mungkin belum banyak diketahui umat Katolik. Tulisan ini untuk pertama kalinya saya buat di tahun 2009. Sehubungan dengan pengunduran diri Paus Benedictus XVI danKonklaf 2013 untuk memilih Paus baru, tulisan ini saya perbarui lagi dengan informasi terkini. Semoga bermanfaat.

Kebanyakan orang tahu bahwa para kardinal adalah pembantu Paus. Mereka biasanya menjadi pusat perhatian publik saat Paus wafat atau terjadi kekosongan takhta, karena mereka lah yang kemudian berkumpul dalam sebuah konklaf untuk memilih Paus yang baru. Dalam kenyataannya, peran kardinal tidak hanya untuk memilih Paus. Mereka membantu Paus dalam mengurus Gereja Katolik. Para kardinal memberikan saran-saran tentang berbagai urusan Gereja saat Bapa Suci memanggil mereka dalam suatu rapat yang disebutkonsistorium.

Para kardinal memberi hormat kepada Paus
Dari informasi tanggal 2 Maret 2013, ada 207 orang kardinal dari 66 negara yang menjadi anggotaKolegium Kardinal. Di antara mereka, 117 orang dari 50 negara adalah kardinal elektor, kardinal yang berhak memilih Paus. Sisanya adalah kardinal non-elektor, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun dan tidak lagi berhak mengikuti konklaf. Informasi terkini dapat dilihat di Daftar Kardinal di Situs Catholic Hierarchy atau GCatholic.org. Jumlah kardinal bertambah saat Paus menunjuk kardinal-kardinal baru dalam suatukonsistorium. Dalam dua konsistorium terakhirnya, tanggal 18 Februari 2012 dan 24 November 2012, Paus Benediktus XVI menunjuk masing-masing 22 dan 6 orang kardinal baru. Jumlah kardinal biasanya berkurang karena beberapa di antara mereka meninggal.Paus Yohanes Paulus II dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis menentukan jumlah maksimum kardinal elektor sebanyak 120.


Karena jumlahnya yang terbatas dibandingkan dengan uskup yang jumlahnya ribuan, dan juga karena hak-haknya yang istimewa, jabatan kardinal sering dipandang sebagai suatu promosi untuk uskup. Seolah-olah ada urutan begini: imam, uskup, uskup agung, kardinal dan Paus. Kenyataannya, yang benar adalah: imam, uskup dan Paus. Itu saja. Kardinal bukan atasan uskup. Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja, satu-satunya kardinal dari Indonesia, juga bukan perpanjangan tangan Paus untuk mengatur para uskup di Indonesia. Kolegium Kardinal dan Sinode Para Uskup memiliki peran sendiri-sendiri dalam Gereja Katolik dan tidak bisa dibilang bahwa yang satu lebih penting daripada yang lain. Meski begitu, secara ranking, kardinal memang lebih tinggi dari uskup dan biasanya diangkat dari kalangan uskup yang senior.

Card. Bertone (Corbis)
Meski kelihatannya sama semua, di kalangan kardinal sebenarnya ada tiga tingkatan. Yang paling utama adalah kardinal uskup, kemudian kardinal imam dan kardinal diakon. Memang agak membingungkan istilah-istilah ini. Begini ceritanya. Pada mulanya, kardinal adalah klerus yang ditugaskan untuk membantu Paus di Keuskupan Roma. Istilah kardinal bermula dari kata inkardinasi, yang artinya menempatkan seorang klerus di bawah yurisdiksi seorang ordinaris (uskup, abbas atau ordinaris lain). Uskup, imam dan diakon yang diminta membantu Paus di-inkardinasi ke Keuskupan Roma, di bawah Paus yang adalah Uskup Roma. Jadilah mereka kardinal uskup, kardinal imam atau kardinal diakon di Keuskupan Roma. (Catatan: Secara kaidah bahasa Indonesia, sebenarnya memang lebih tepat dibilang uskup kardinal, imam kardinal atau diakon kardinal.) Nah, itu dulu. Sekarang ini praktiknya memang sudah lain. Yang diangkat menjadi kardinal hampir semua berasal dari kalangan uskup, bukan lagi imam atau diakon. Meski begitu tiga tingkatan kardinal ini masih tetap dipertahankan. Tarcisio Cardinal Bertone di foto di atas ini adalah salah seorang kardinal uskup. Beliau adalah Sekretaris Negara Vatikan dan juga adalah Camerlengo Gereja Romawi Kudus, yang menjalankan roda pemerintahan di Vatikan saat terjadi sede vacante.


Pengangkatan kardinal merupakan hak prerogatif Paus. Secara garis besarnya, saat ini ada tiga jalur pengangkatan kardinal. Yang pertama adalah jalur uskup diosesan, seperti Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal imam. Yang kedua adalah jalur Kuria Romawi, jalur untuk pejabat-pejabat Gereja yang membantu Paus di Vatikan. Contohnya adalah Sua Eminenza Angelo Cardinal Comastri, Imam Agung Basilika Santo Petrus. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon. Yang ketiga adalah jalur lain-lain. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon juga. Bapa Suci bisa mengangkat siapa saja yang dianggap pantas menerima martabat kardinal. Contoh yang paling bagus mungkin adalah His Eminence Avery Cardinal Dulles. Almarhum Cardinal Dulles adalah seorang imam Jesuit dari Amerika Serikat, guru besar teologi yang sangat dihormati baik oleh Paus Yohanes Paulus II yang mengangkatnya, maupun oleh Paus Benedictus XVI yang mengunjunginya beberapa bulan sebelum wafatnya. Sampai meninggalnya, Cardinal Dulles tidak pernah menerima tahbisan uskup.


"Habemus Papam" Paus Benedictus XVI (Corbis)

Di antara ketiga kategori kardinal di atas, dapat dibayangkan bahwa kardinal imam berjumlah paling banyak (153 dari 207 orang kardinal saat ini). Mereka adalah uskup atau uskup agung senior dari berbagai negara. Seorang yang paling senior di antara kardinal imam ditunjuk menjadi Protopresbyter, semacam pemimpin untuk berbagai kepentingan seremonial. Di antara kardinal diakon (yang saat ini berjumlah 44) juga ada seorang yang paling senior yang ditunjuk sebagai Protodiakon. Protodiakon inilah yang bertugas mengumumkan nama Paus yang baru terpilih dalam konklaf, dengan menggunakan frase yang amat terkenal, "Habemus Papam ..." Pada tanggal 19 April 2005, adalah Jorge Arturo Cardinal Medina Estévez(foto atas, di sebelah kanan Paus, berjubah merah), Protodiakon pada saat itu, yang membacakan, "Annuntio vobis gaudium magnum; habemus Papam: Eminentissimum ac Reverendissimum Dominum, Dominum Josephum Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Ratzinger qui sibi nomen imposuit Benedictum XVI." Pada saat ini Protodiakon Kolegium Kardinal adalah Jean-Louis Cardinal Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Card. Sodano (Corbis)
Untuk mengisi posisi kardinal uskup yang hanya sedikit, Paus memilih dari antara kardinal imam. Di samping itu, Patriark Ritus Timur yang diangkat menjadi kardinal langsung masuk kategori kardinal uskup. Mudah mengenali mereka dalam upacara liturgi, dari busananya yang berbeda dari para kardinal lainnya. Para kardinal uskup memilih pemimpin dan wakilnya dari antara mereka dan diajukan ke Paus untuk mendapatkan persetujuan. Para pemimpin kardinal uskup lalu menjadi Dekan dan Wakil Dekan Kolegium Kardinal. Dekan Kolegium Kardinal saat ini adalah Angelo Cardinal Sodano dari Italia (foto atas), yang pernah menjadi Sekretaris Negara Vatikan selama tahun 1991-2006. Sebagai wakilnya adalah Roger Cardinal Etchegaray dari Prancis (foto bawah). Saat terpilih sebagai Paus,Joseph Cardinal Ratzinger adalah Dekan Kolegium Kardinal.


Card. Etchegaray (Corbis)
Untuk meneruskan tradisi, kepada setiap kardinal imam dan kardinal diakon diberikan sebuah Gereja (Paroki) dalam Keuskupan Roma, di mana mereka menjadi Pastor (Paroki) Kehormatan. Lambang mereka dipasang di luar Gereja tituler ini dan mereka pun wajib berkunjung dan mempersembahkan misa di Gereja tituler ini saat berkunjung ke Roma. Kepada para kardinal uskup yang berasal dari ritus Latin dianugerahkan keuskupan kuno kehormatan di sekitar kota Roma, yang sudah tidak ada lagi di jaman modern ini.

Sesuai tradisi, penulisan penulisan nama kardinal memang sedikit berbeda dari kebiasaan umum. Kata "Kardinal" diselipkan di antara nama lengkap, persis di depan nama keluarga. Jadi, yang lebih pas adalah Julius Kardinal Darmaatmadja, meski tidak salah juga kalau kita menulis Kardinal Julius Darmaatmadja. Para kardinal disapa dengan "Yang Utama", "His Eminence", atau "Sua Eminenza" dalam bahasa Italia. Di Vatikan, sehari-harinya mereka disapa "Eminenza" saja. Sapaan yang dikhususkan bagi mereka memang beda dengan uskup dan uskup agung, yang harusnya disapa dengan "Yang Mulia", "His Excellency", "Sua Eccellenza", atau "Excellency" atau "Eccellenza" saja. Di Vatikan dan pada umumnya dalam Gereja Katolik, Monsignoradalah sapaan untuk pejabat tinggi Gereja yang tingkatannya di bawah uskup.

Kardinal berbusana liturgi merah (Corbis)
Kardinal dapat dikenali dari busana liturginya yang berwarna merah. Bandingkan dengan busana uskup yang warnanya ungu. Biretta, topi segi empat kardinal, juga berwarna merah. Birettakardinal tidak menggunakan pom seperti biretta uskup. Saat kardinal mengenakan busana resmi jubah warna hitam yang sama dengan uskup atau pejabat Gereja lain, mereka masih dapat dikenali dari sabuk sutera dan topi kecilnya yang berwarna merah. Selain itu,ferraiolo dan cappa magna kardinal pun berwarna merah.

Sebagai penutup, film fiksi Angels and Demons yang kontroversial dan kurang disukai oleh kalangan Katolik menampilkan banyak sekali kardinal. Meski banyak hal yang sensasional dan kurang pas dalam film itu, saya harus mengakui bahwa sang sutradara berhasil menunjukkan sebagian kebesaran agama Katolik kepada semua orang yang menontonnya, Katolik dan non-Katolik. Saya sendiri mendapatkan beberapa pertanyaan tentang film ini dari kawan-kawan saya yang bukan Katolik. Satu hal yang menurut saya agak mengganggu. Dalam tradisi Gereja Katolik, Camerlengo atau Chamberlain tidak dijabat oleh imam muda seperti di film itu. Selama ratusan tahun posisi ini hampir selalu dijabat oleh seorang kardinal senior, dengan hanya beberapa pengecualian. Itu pun setidaknya oleh uskup senior yang kemudian diangkat menjadi kardinal.
Sumber: Tradisi Katolik

Cari Blog Ini