Jumat, 28 Desember 2012

Jadwal Misa Tahun Baru


Pengumuman Paroki Katedral Makassar; Sabtu-Minggu 29-30 Desember 2012



Sabtu-Minggu  29-30  Desember  2012

Mohon perhatian umat untuk beberapa pengumuman Paroki berikut ini.

 


1.   Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
·        Erico Tambunan & Christine Sandrayani   ( Pengumuman III)
·        Erwin Wijaya & Maria Florencia Stefani Aprilia Widarto ( Pengumuman III)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.


2.   Jadwal Misa Penutupan Tahun Baru Dan Misa Tahun Baru dapat dilihat di Berkat Halaman Paling Belakang.

3.   Umat sekalian diundang untuk ikut beradorasi bersama dalam rangkah penutupan Tahun Baru 2012, Adorasi ini akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2012, Pukul 23.00 WITa bertempat di Gereja Katedral.

Sekian pengumuman minggu ini, terima kasih atas perhatiannya.
Tuhan Yesus memberkati kita.

KELUARGA BAHAGIA HADAPI TANTANGAN BERSAMA-SAMA


 













Pesta Keluarga Kudus
1Sam.1:20-22, 24-28; 1Yoh. 3:1-2, 21-24; Luk. 2:41-52



 oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC


Dalam suatu kunjungan keluarga, sepasang suami-istri mengungkapkan isi hatinya berkaitan dengan ke tiga anak-anak mereka. “Pastor, mengapa anak-anak sekarang sangat sulit mendengarkan kata-kata orang tua?, keluh sang istri. “Pada zaman kami dulu”, sambung sang suami, “ketika papa sudah melotot matanya, kami sudah ketakutan. Tetapi, anak sekarang, kita pelototi malah ganti ikut melotot”. “Masih syukur  kalau hanya ikut melotot, “sahut istrinya, “kita malah dikatai, ‘Apa! Melotot !’, sambungnya. Mendengarkan semua itu, saya hanya tertawa kecil. “Betul, Pastor!, kata istrinya lagi, “Repot sekali mempunyai anak pada zaman sekarang ini. Anak pergi belajar ke sekolah, kita juga sepertinya ikuti pelajaran sekolah mereka. Kita seperti sekolah lagi. Sudah begitu, anak-anak tidak lagi mau bantu pekerjaan di rumah!. “Tetapi bapa ibu, tidak putus asa khan mendampingi mereka? Tetap mencintai mereka juga to?, tanyaku kepada mereka. “Pastilah begitu!, sahut sang istri. “tapi, kadang-kadang juga ada rasa putus asa dan rasa tidak mampu lagi”. “Meskipun kadang-kadang mereka kami beri hukuman”, kata sang suami, “kami tetap mencoba memberikan yang terbaik bagi mereka”.
Ketika sedang merenungkan kisah Keluarga Kudus dari Nasaret, saya teringat dialog sengan suami-istri di atas. Saya yakin, ada banyak pasangan suami-istri yang mempunyai pengalaman serupa, karena keluhan-keluhan seperti itu juga pernah saya dengar ketika saya masih bertugas di Jepang. Peralihan generasi (orang tua – anak) yang dipicu oleh perubahan zaman akan membawa dampak pada cara berpikir, dan perubahan cara berpikir membawa dampak pada pola tingkah laku, perubahan tingkah laku tersebut akhirnya akan memberi dampak pada relasi antar generasi. Pada lagi, pada zaman ultra-modern ini di mana perubahan begitu cepat terjadi sehingga relasi antar generasi pun mendapatkan imbas yang tidak kecil.
Bagaimana dengan keluarga Kudus dari Nasaret?. Apakah relasi antar generasi, Yosep dan Maria di satu pihak dan Yesus di pihak lain, tidak pernah menghadapi tantangan? Sebagai satu keluarga di mana ada perbedaan generasi, saya yakin pasti ada tantangan dalam relasi antar generasi tersebut.
Kitab Suci tidak secara jelas mengatakan adanya tantangan tersebut karena Kitab Suci bukanlah suatu buku biografi tentang keluarga Nasaret. Kitab Suci adalah buku iman, sehingga semua peristiwa dihadapi dengan kacamata iman. Meskipun demikian, kita bisa sedikit melihat peristiwa yang dihadapi keluarga Kudus yang tercatat dalam Kitab Suci, dan melihatnya dengan kacamata manusia biasa untuk mendapatkan makna di dalamnya.
    Injil hari ini berbicara tentang Yesus pada umur 12 tahun berada di Bait Allah dan berdiskusi dengan para alim ulama (ay. 46b). “Ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau!” (ay.48). Kecemasan ibu-Nya bukan tanpa alasan. Yosep dan Maria cemas mencari Yesus, anaknya, karena Yesus menghilang dari rombongan ketika mereka pulang dari Yerusalem setelah mengikuti perayaan Hari Raya Paska (ay.41-45). Mereka menemukan Yesus setelah tiga hari sejak diketahui bahwa Yesus menghilang (ay.46). Semua orang tua, khususnya ibu, akan seperasaan dengan kecemasan Maria ketika anaknya menghilang, apalagi anak satu-satunya. Tetapi, kecemasan orang tua-Nya, ditanggapi dengan dingin oleh Yesus. “Mengapa kamu mencari Aku?. Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay.49). Jawaban yang bisa menyakitkan orang tua secara manusiawi. Kecemasan dan kelelahan mereka untuk mencari dan menemukan anaknya sepertinya tidak dihargai. Injil Lukas memang tidak menuliskan, bahkan melukiskan rasa sakit hati itu. Lukas hanya menuliskan, “Tetapi, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka” (ay.50). Apa arti kata mengerti? Kata mengerti, menurut Kitab Suci, pertama-tama bukan dimengerti sebagai suatu aktivita akal-budi, tetapi suatu aktivita seluruh indra. Dalam pengertian ini, mengerti berarti memahami, memasukan dalam hati & rasa sehingga mendorongnya untuk melakukan tindakan yang sesuai. Sehingga, “mereka tidak mengerti” dalam teks kita ini bisa diberi makna bahwa mereka tidak memasukkan jawaban Yesus dalam hati & rasa mereka. Dengan kata lain, mereka tidak sakit hati dengan jawaban Yesus.
Ada beberapa peristiwa lain yang dicatat dalam Kitab Suci yang semestinya bisa menimbulkan rasa sakit hati manusiawi Maria menghadapi sikap Yesus. Misalnya. Pada suatu saat, ibu dan saudara-Nya mencari Yesus (bdk. Mrk.31-32), karena orang menyangka Dia kerasukan setan (bdk. Mrk.3:30). Dan ketika mereka menemukan-Nya, Yesus malahan berkata, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk. 3:33). Mengapa mereka bisa tidak sakit hati dengan kata-kata yang agak pedas seperti itu?
Karena baik Yosep, dan terutama Maria sangat menyadari bahwa Yesus bukan hanya sekedar anak lahiriah belaka, tetapi titipan Tuhan (bdk. Kisah Kelahiran Yesus, Luk. 1:26-56). Tuhan telah menitipkan Yesus kepada Maria dan Yosep, dan mereka setuju untuk menerima-Nya; karena itulah mereka mendidik-Nya bukan hanya sekedar secara manusiawi tetapi juga secara rohani. “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin disukai oleh Allah dan manusia (Luk. 2:52).
    Di situlah letak kekudusan Keluarga Nasaret. Mereka tidak pernah sakit hati, apalagi putus asa mendidik Anaknya. Mereka, Yosep dan Maria, tetap kompak dan saling mendukung mendidik Yesus, meskipun secara manausiawi, sikap Yesus bisa menimbulkan rasa sakit hati. Rasa sakit hati itu mereka tutup dengan kesadaran bahwa Yesus adalah titipan Allah yang harus diperhatikan dengan utuh dan dididik dengan benar. Tantangan menjadi terasa lebih ringan ketika dihadapi bersama dalam kekompakan.

Meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret

    Orang Kristen mendiami tanah airnya sendiri, tetapi seperti orang asing yang bertempat tinggal tetap. Mereka mengambil bagian dalam segala sesuatu sebagai warganegara, tetapi mereka menanggung segala sesuatu seperti orang asing. Mereka taat kepada hukum yang dikeluarkan, tetapi dengan cara hidup mereka sendiri mereka melebihi hukum itu. Allah telah menempatkan mereka di suatu tugas yang begitu penting dan mereka tidak diperbolehkan menarik diri dari sana. (Surat Diogenet 5.5. KGK 2240)
    Secara liturgis, sehabis merayakan Hari Raya Natal umat Katolik merayakan "Pesta Keluarga Kudus, Jesus, Maria dan Yusuf" (lazim disebut Keluarga Kudus dari Nazaret). Implementasinya, merayakan Natal tidak hanya berhenti hanya sampai mengadakan ritual di gereja, melakukan silaturahmi dengan para sahabat, dan pesta-pesta saja; Pesan Natal harus dilaksanakan dalam masyarakat dari hari ke hari bersama anggota masyarakat luas.
    Dalam memperingati Keluarga Kudus, tokoh Yesus, Maria dan Yusuf menjadi teladan bagi kita semua. Kita tampilkan lebih dulu teladan Yusuf. Segenap sikap dasar hidupnya berlandasan pada kehendak dan sabda Allah. Kepentingan Allah selalu dilihat dan dilaksanakan secara mutlak. Di samping itu, kepentingan sesama manusia pun, justru sebagai konsekuensinya, harus dihayati apabila kita sungguh ingin menjadi orang beriman kristiani sejati. Kejujuran dan ketulusan hati sungguh mutlak sebagai syarat keselamatan. Yusuf adalah teladan orang yang tulus! Meskipun hanya tukang kayu, ia telah berperan sebagai bapak yang menyertai kehidupan Yesus. Memang, Yusuf tidak banyak ditulis dalam Kitab Suci. Dalam kehidupan Gereja pun keteladanan Yusuf tidak banyak mendapat perhatian umat. Padahal, justru dalam kesederhanannya dan dalam kurangnya dikenal serta kurangnya mendapat perhatian itulah letak kebesaran Yusuf. Oleh karena itu, dalam usaha kita meneladan Keluarga Kudus, sungguh bergunalah bagi kita untuk menyadari bahwa kehidupan kita sebagai orang beriman katolik sejati harus juga disertai dengan kejujuran dan ketulusan hati seperti Yusuf.
    Sudah siapkah kita berperilaku dengan tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum? Memiliki ketulusan hati berarti suci, bersih dan tiada dosa sedikitpun. Nampaknya hal itu sungguh berat bagi kita semua. Namun demikian, marilah kita saling membantu dan mengingatkan untuk hidup dan bertindak dengan tulus hati di mana pun dan kapan pun. Tulus hati juga berarti jujur, yaitu sikap dan perilaku yang berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran, dan. tidak suka berbohong dan tidak suka berbuat curang.
    Salah satu bentuk konkret ketulusan hati adalah tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum kapan saja dan di mana saja. Banyak di antara kita suka ngrasani atau ngrumpi yang pada umumnya berisi menjelek-jelekan orang lain atau membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Dengan demikian, kekurangan atau kelemahan orang yang bersangkutan dieber-eber dan dibesar-besarkan. Hal yang dermikian itu termasuk melanggar hak asasi manusia dan melanggar cintakasih: demikian juga membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain untuk bercanda.
    Kita dapat meneladan Maria dari kasihnya, ketaatannya dan kepasrahannya kepada Tuhan, yang terungkap dalam jawabannya, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu".
    Kita dapat meneladan Yesus dari segi kerendahan hati-Nya. Walaupun dalam rupa Allah, Yesus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
    Sebagai warga Nazaret ketiga anggota keluarga Kudus itu hidup seperti orang Nazaret dengan segala hak dan kewajibannya, namun di sana mereka seperti orang asing. Sebab, Tanah Air mereka yang sesungguhnya di surga. Keluhuran hati dan perilaku mereka melebihi apa yang digariskan dalam peraturan yang berlaku di sana. Bagaimana dengan Anda dan kita? Apakah "Surat kepada Diogenet" yang mengawali tulisan ini juga berlaku bagi kita? Selamat Natal 2010 dan Selamat Tahun Baru 2011. (Mbah Harto T.O.Carm)

10 Hal yang Membentuk Keluarga Katolik yang Hebat

    Keluarga dewasa ini mempunyai segala macam bentuk dan ukuran. Mengabaikan segala perbedaan yang ada, satu hal yang pasti : memelihara keluarga yang kuat membutuhkan banyak waktu, tenaga dan usaha, dan tentu saja segudang doa! Melihat diri kita sendiri melalui mata iman kita, kita melihat bahwa, meskipun kita tidak selalu menjadi keluarga yang sempurna setiap hari, kita menjadi “lebih suci”, dan “lebih baik” dari yang kita pikir.

 1. Membuat Kebaktian Minggu Menjadi Pusat Kegiatan Keluarga dalam Seminggu
    Dasar kuat hidup keluarga Katolik – yang melekatkan kita bersama – adalah Kebaktian Minggu. Jika Anda mempunyai anak kecil, keluar dari rumah untuk pergi ke gereja hampir sama seperti tantangan untuk membuat anak kecil tenang dan diam selama kebaktian. Jika Anda mempunyai anak remaja, tantangan terbesar (setelah membangunkan mereka dan membuat mereka bangun dari tempat tidur) adalah membuat mereka memberi perhatian. Tentunya, pergi ke Kebatikan tiap minggu setimpal dengan usaha yang dikeluarkan.
    Ketika kita mendekati altar Tuhan untuk menerima Ekaristi, berbagi Tubuh dan Darah Kristus memperdalam komuni kita denganNya, dan melaluiNya, membangun TubuhNya, GerejaNya. Bersama dalam komuniti, kita menyanyi lagu gereja dan belajar bagaimana suara kita bergabung bersama. Kita mendengarkan “Perintah Tuhan” dan belajar bagaimana mengikuti Yesus. Kita berdoa bersama dan belajar mengenai keheningan dan kerendahan hati. Pada hari Minggu kita diingatkan bahwa pusat kehidupan keluarga kita adalah Kristus.
 
2. Bersyukur
    Di dalam dunia “rumput tetangga lebih hijau”, adalah mudah untuk melihat rumput tetangga (atau melalui acara TV favorit kita yang menunjukkan bahwa semua masalah bisa diatasi dalam waktu 22 menit) dan lama untuk masalah yang kita hadapi. Tetapi kita telah menemukan bahwa kunci untuk keluarga bahagia adalah mengambil peran dari apa yang diberikan kepada kita. Adalah penting untuk diingat (dan mengingatkan anak kita) bahwa semua berasal dari Tuhan – harta benda, teman dan keluarga, bakat. Frank A. Clark, politikus Amerika, pernah berkata, “Jika seseorang tidak bersyukur terhadap apa yang ia punyai, ia tidak akan pernah bersyukur terhadap apa yang akan ia dapatkan.” Keluarga Katolik yang hebat merayakan pemberian, tidak peduli seberapa kecil itu.Ini berarti bersyukur selalu meski dalam keadaan susah, tentunya terutama pada saat bahagia.

 3. Memberi
    Sebagian dari rasa bersyukur adalah dengan memberi. Keluarga Katolik mengingat bahwa Tuhan tidak selalu memberi lebih, menjadikan kita tamak. Keluarga Katolik yang diberkati dengan berlimpah dipanggil untuk menggunakan limpahannya tersebut untuk keluarga yang kurang. Hal ini untuk menjamin bahwa keluarga yang mempunyai sedikit dapat hidup lebih baik. Anak-anak yang melihat orang tuanya memberi, mereka akan mengikuti jejak orang tuanya – walaupun apa yang mereka berikan jauh lebih sedikit dari yang diberikan orang tuanya.
 4. Biarkan Cahaya Mereka Bersinar
    Anggota komuniti yang beriman – dan anggota keluarga – dipanggil untuk menggunakan karunia mereka. Anda tidak perlu menjadi juara nyanyi untuk menjadi anggota paduan suara di gereja. Jika Anda dapat bermain piano dengan baik atau membaca Alkitab secara hidup, Anda sudah berbagi karunia. Sebagai permulaan yang baik Anda dapat bertanya kepada pastor Anda bagaimana keluarga Anda dapat melayani lebih baik di paroki. Mungkin berbagi makanan dengan keluarga yang kurang. Remaja dapat membantu melalui program paroki. Saling menyemangati anggota keluarga yang lain untuk memberikan karunia mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memandang rendah terhadap sedikit kesabaran, kegembiraan atau hal kecil lainnya yang dapat membantu orang di sekitar kita.
 5. Bertengkar dengan Adil
    Sebesar yang kita inginkan akan keluarga yang sempurna, kenyataannya semua keluarga mempunyai masalah. Kita harus menghadapinya. Tidak menjual saudara sendiri ke perbudakan seperti yang Saudara Yosef lakukan adalah permulaan yang baik, bahkan bertengkar mempunyai aturannya. Keluarga yang bertengkar dengan baik telah menjalankan 10 Perintah Tuhan. Sebagai contoh : tidak menyebut nama Tuhan secara sembarangan ketika sedang bertengkar, berkata jujur walaupun akan menyakitkan, dll.
    Anggota keluarga yang bertengkar untuk kemenangan pribadi kehilangan kesempatan dan perasaan untuk berjuang bersama, dan menang sebagai tim. Keluarga Katolik yang Hebat memeriksa temperamen, menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan selalu ingat bahwa halangan membuat kita menjadi lebih kuat.
 6. Membuat Kesalahan
    Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa kita diciptakan sesuai rupa Allah, bukan berarti kita adalah tuhan. Semakin tua, kita semakin sadar bahwa kita manusiawi. Kita saling menjatuhkan. Kita gagal. Kita berdosa. Dan, untuk tumbuh sebagai pribadi dan keluarga, kita belajar bahwa ada batas antara membuat kesalahan dan percaya bahwa Anda adalahkesalahan. Tuhan tidak pernah berbuat salah. Kita semua punya martabat, dan istimewa di mata Tuhan.

 7. Memaafkan
    Ketika Yesus memerintahkan kita untuk memaafkan(Mat 18:22), memaafkan anggota keluarga dapat sangat sulit untuk dilakukan, walaupun untuk sekali. Kita mencoba mengajarkan anak kita untuk bertanggung-jawab terhadap segala tindakan mereka, mengakui ketika mereka salah dan meminta maaf. Tetapi memaafkan memerlukan aksi iman dan kepercayaan.
Orang tua : Ketika Anda salah, akui dan minta maaf, bahkan kepada anak kecil.
Anak-anak : Memaafkan bukan senjata untuk digunakan.Ketika orang tua atau saudara meminta maaf, ampunilah mereka. Tidak ada perasaan yang lebih indah selain memaafkan dengan tulus, mencoba dengan hati lebih bersih dan mencoba dari awal lagi.
 8. Mengingat Ritual
    Ritual keluarga atau tradisi membantu kita untuk menemukan siapa kita dan apa yang kita percaya. Berdoa sebelum makan, menyalakan lilin saat Adven, menyanyi lagu ulang tahun secara khusus adalah semua cara istimewa yang menunjukkan ikatan kuat dalam keluarga. Tradisi terbaik dalam keluarga akan diteruskan dari generasi ke generasi.
 9. Mendengarkan saat untuk Tuhan
    Elisa berharap untuk mendengarkan suara Tuhan mengelegar seperti petir, tetapi ia terkejut ketika suara Tuhan tidak terdapat pada angin, atau gempa bumi, atau api. Malahan suara Tuhan datang ke Elisa dalam suasana hening setelah petir, dalam bisikan (I King 19:11-13). Sepertinya itu adalah bagaimana cara Tuhan berbicara kepada kita pada hari ini di tengah kesibukan keluarga kita. Adalah penting untuk berhenti dan menyadari saat bersama Tuhan, mungkin di tempat tidur atau di mobil, ketika kita benar-benar berbagi diri kita dengan yang lain dan menyadari kehadiran yang lain dengan tulus. Rendahkan kebisingan kehidupan dan berikan waktu untuk kedamaian hadir.
 10. Latih Cinta yang Tak Berkesudahan
    Dalam Perjanjian Baru Yohanes, Yesus memberikan perintah baru kepada murid-muridNya sebagai dasar hidup mereka :”(Yoh 13:34). Kita dipanggil untuk menjadi model Yesus untuk mencintai – dalam pelayanan satu sama lain, dan komit untuk tidak egois. Tidaklah mudah untuk dilakukan, tetapi mencoba mencitai seperi apa yang dilakukan Yesus adalah hati dari pembentukan dan pemeliharaan keluarga Katolik yang hebat.

Tuhan Menjadi Manusia?

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran".
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. “Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.“Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya“ Pada malam Natal , istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka. “Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya. “Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang.“

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh. Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?
Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu. “Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.“

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, “Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak. “Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia.“

Beato Yohanes Nepomuk Neumann, Uskup

Yohanes Nepomuk Neumann lahir tanggal 28 Maret 1811 di desa Prachatitz, Bohemia. Ia belajar di Prachatitz dan Budweis. Cara hidup keluarga yang saleh dan taat agama membuat dia tertarik pada cara hidup seorang imam. Untuk mencapai cita - cita imamat itu, ia masuk seminari Diosesan di Budweis pada tahun 1831. Selama belajar di Seminari Budweis, ia rajin membaca laporan - laporan karya para misionaris Austria di Amerika Serikat. Lama kelamaan dalam hatinya timbul keinginan untuk berkarya di Amerika seperti misionaris - misionaris itu.

Untuk maksud itu ia pindah dari Seminari Budweis ke Fakultas Teologi Universitas Praha pada tahun 1833. Demi keberhasilan studinya dan karyanya nanti, ia dengan tekun mempelajari bahasa Prancis dan Inggris. Pendidikan di Universitas Praha diselesaikan dengan gemilang pada tahun 1835. Pada waktu itu dioses Budweis memiliki banyak imam. Maka dari itu, ia tidak mau segera menjadi imam setelah menyelesaikan studi teologinya. Ia sendiri terus belajar dirumah sambil menanti saat pentabhisannya. Ketika mendapat panggilan untuk berkarya di Amerika, ia segera berangkat tanpa menunggu hari tabhisannya di tanah air. Ia tiba di New York pada bulan Juni 1836 dan ditabhiskan menjadi imam pada tanggal 25 Juni 1836 oleh Yohanes Dubois, Uskup New York. Ia ditempatkan di Buffalo dan melayani umat di North Bush (sekarang Kenmore), Williamville, Lancaster, dan beberapa wilayah lainnya di Buffalo.

Pada tahun 1840, ia memutuskan untuk menjadi seorang imam dalam serikat Redemptoris. Ia diterima dalam serikat itu pada bulan Januari 1842 dan ditempatkan di gereja Santo Yakobus Baltimore sampai Maret 1844. Usaha - usahanya memajukan gereja membuat namanya terkenal luas di kalangan para imam dan umat.

Pada bulan Maret 1852 ia diangkat menjadi Uskup Philadelphia oleh Sri Paus IX. Tugas kegembalaan dijalankannya dengan penuh semangat. Secara teratur ia mengunjungi semua Paroki untuk mendorong para iman dan kaum awam dalam usaha penyebaran Injil dan perkembangan Gereja. Selama masa kepemimpinannya, lebih dari 80 gereja dibangun; jumlah sekolah ditingkatkan; dan sebuah seminari didirikan di Glen Ridle; lima tarekat religius untuk wanita dan tiga untuk pria dipekerjakan dalam diosesnya; pembangunan katedral Santo Petrus dan Paulus di Logan Square, Philadelphia selesai; ia mendirikan sebuah cabang baru dari Ordo Ketiga Santo Fransiskan bagi para suster. Selain itu, Uskup Neumann mengadakan tiga kali sinode untuk para imamnya, membantu penyusunan dan pemakluman dogma tentang perkandungan Maria tanpa dosa asal di Roma pada tahun 1854.

Uskup Neumann meninggal dunia di Philadelphia pada 5 januari 1860. Proses beatifikasi dirinya dimulai pada tahun 1886. Pada tanggal 13 Oktober 1963, ia dinyatakan Beato oleh Sri Paus Paulus VI (1963-1978).

Jumat, 21 Desember 2012

Perjumpaan dua ibu yang mengandung


Dua hari lagi kita akan merayakan natal, kelahiran Sang Penyelamat kita. Dengan hati yang penuh dengan kegembiraan kita saat ini berkumpul untuk sekali lagi memohon datangnya Sang Penyelamat di dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu ke-4 dalam masa Adven ini. Hari ini gereja menampilkan di dalam kutipan-kutipan Kitab Suci perjumpaan dua orang ibu yang sedang mengandung. Keduanya dipenuhi kegembiraan akan kandungan mereka.  Para penulis spiritual mengatakan bahwa tindakan pertama Maria sebagai ibu Sang Penyelamat adalah membawa cinta dan keramahannya kepada Elisabeth saudaranya. Tentulah ada makna lain di dalam kunjungan Maria itu lebih dari sekedar datang membantu. Elisabeth adalah istri Zakariah, seorang imam yang terhormat. Di sekitar Elisabet tentu banyak wanita lain yang dapat membantunya selama masa kehamilan dan saat persalinannya.   Pertemuan antara dua orang ibu yang mengandung ini memiliki arti yang lebih dalam daripada sekedar contoh perbuatan baik dalam hal saling membantu. Marilah kini kita mengenal lebih baik kedua orang ibu ini. 
Elisabeth. Ia menikah dalam tradisi Kenisah yang sangat kental. Seribu tahun sebelumnya, Raja Daud yang dipandang sebagai simbol tangan Allah di tengah umatNya dan pemersatu umat Israel dan umat Yehuda mengimpikan sebuah Kenisah. Dalam kitab kedua Samuel kita baca: Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau. (7:1-3) Kemudian Nabi Natan melarang Raja Daud untuk mendirikan Kenisah. Ketika itu, orang-orang Yahudi kuatir bahwa dengan mendirikan Kenisah di Yerusalem, mereka akan menjadi seperti orang-orang kafir yang mengikatkan dewa dengan tempat tertentu. 
Pada zaman Salomo, para pemimpin agama menerima bahwa Kenisah akan diterima sebagai cara untuk menyembah Allah sejauh Kenisah itu sejak awal memang dikuduskan dan dikhususkan sebagai tempat penyembahan kepada Allah, suatu tempat yang menandakan kehadiran Allah di tengah umatNya. Demikianlah akhirnya Kenisah dibangun. Kenisah itu dengan cepat menjadi pusat kota kudus Yerusalem. Kenisah itu dalam tahun-tahun berikutnya menjadi semakin besar, dibangun kembali, direhabilitasi, tetapi tetap menjadi inti dari penghayatan iman umat pilihan Allah.  Sebagian besar dari Mazmur ditulis untuk Kenisah. Empat ratus tahun kemudian, sekitar tahuh 580 seb.M., timbullah bencana besar ketika Yehuda dikalahkan oleh raja Babilon. Sebagian orang Yahudi diangkut ke Babilon sehingga Kenisah ditinggalkan terlantar dan tidak terurus. Ketika orang Yahudi 50/60 tahun kemudian kembali, mereka berharap akan menemukan suatu pusat ibadat yang besar seperti yang nenek moyang mereka ceriterakan, tetapi  yang mereka temukan adalah sebuah kota yang terlantar dan Kenisah yang telah roboh. Mereka membutuhkan dua puluh tahun untuk dapat membangun kembali Kenisah itu, meskipun hanya dalam ukuran yang jauh lebih kecil dan sederhana.
Selalu ada usaha dalam tahun-tahun berikutnya untuk mengembalikan Kenisah ke bentuk dan keindahan aslinya, khususnya untuk menjadikan kembali Kenisah sebagai pusat penghayatan kehidupan keagamaan. Ketika orang Siria pada abad sebelum kedatangan Tuhan kembali merobohkan Kenisah itu, orang-orang Yahudi kembali disadarkan akan makna Kenisah di dalam hidup mereka. Sesaat sebelum kelahiran Yesus dan Yohanes Pembaptis, Herodes, raja yang mencoba untuk membunuh bayi Yesus, memulai usaha pembangunan kembali Kenisah. Kenisah yang dibangun sangat megah. Kenisah yang dimasuki Zakariah (ayah Yohanes Pembaptis) termasuk kedalam tujuh keajaiban dunia.  Bertahun-tahun kemudian para murid Tuhan akan terkagum-kagum di dalam Kenisah ini. Tetapi Yesus menangisi Kenisah ini, karena Kenisah telah kehilangan makna sebagai tempat kehadiran Allah, meskipun Ia menyadari bahwa peranan Kenisah sudah tergantikan dengan kehadiranNya di atas bumi ini. Sejarah Kenisah ini berakhir ketika orang Roma pada tahun 73 M menghancurkannya. Secara spiritual peristiwa ini bukan lagi sebuah kehilangan, karena Kenisah tidak lagi dibutuhkan untuk mengantar kepada Allah. Kitab Wahyu menutup Kitab Suci dengan penglihatan akan Yerusalem yang baru: “Aku tidak melihat Kenisah di dalam kota, karena Kenisahnya adalah Tuhan Allah Yang Mahatinggi dan Anak Domba”. 
Kembali ke Elisabeth. Elisabeth menghadirkan sepenuhnya di dalam kandungannya umat Allah Perjanjian Lama. Seperti Kenisah sebagai tanda yang menghadirkan Allah di antara umatNya, tubuh Elisabeth mengandung dia yang akan menunjukkan Allah kepada dunia ini. Yohanes Pembaptis, yang dikandung oleh Elisabeth, melonjak kegirangan dengan menyadari kehadiran Yesus, yang ada di dalam kandungan Maria. Yohanes yang merupakan nabi terakhir Israel (umat Perjanjian Lama) menunjuk kepada Dia yang kemudian disebutnya “Anak Domba Allah”. Ia menghadirkan di dalam dirinya sekaligus menutup tradisi Kenisah Israel, tradisi yang mengingatkan umat bahwa Allah hadir di tengah-tengah mereka.
Kenisah tidak lagi dibutuhkan untuk menunjuk kepada Allah. Allah sudah ada di tengah-tengah kita. Rumah, keluarga, paroki dan hidup kita telah diubah menjadi Kenisah Allah yang baru. Kita harus menjaga agar rumah kita tetap kudus dan suci, karena itulah yang menjadi tahta Allah di dunia ini. Allah tidak hanya ada di antara kita, Ia ada di dalam kita, sebagaimana ia ada di dalam kandungan Maria pada hari yang berbahagia ketika Elisabeth bertemu dengan sanaknya ini.  
Maria, gadis yang sedang mengandung itu, memancarkan kegembiraan bukan hanya untuk Elisabeth, tetapi juga untuk hidup yang ada di dalam kandungannya. Maria mengidungkan Magnificat untuk Elisabeth, karena ia tahu apa yang Allah lakukan bersama dan di dalam dia. Ia telah mengangkatnya dari seorang gadis sederhana menjadi dia yang akan disebut bahagia oleh sekalian bangsa. “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus”. Ia adalah perawan yang terberkati. Bunda Allah. “Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku?” tanya Elisabeth.
Rencana Allah untuk menyelamatkan dunia mulai dengan Maria. Ia adalah teladan iman yang menjawab “ya” kepada Allah. Mungkin kita tidak menyadari bahwa Maria dapat juga mengatakan “tidak”. Ia juga dapat memberikan seribu alasan tarhadap jawaban “tidak” yang mungkin diberikannya, sebagaimana juga kita dapat memberikan seribu alasan, mengapa ini atau itu terlalu berat untuk kita. Tetapi Maria telah mengatakan “ya”.  Dan jawaban inilah yang telah mendatangkan penebusan untuk kita. 

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2012


Saudara-saudari terkasih,
Setiap merayakan Natal, pandangan kita selalu terarah kepada bayi yang lahir dalam kesederhanaan, namun menyimpan misteri kasih yang tak terhingga. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Inilah perayaan penuh sukacita atas kedatangan Tuhan. Dialah Sang Juruselamat yang menjadi manusia lemah dan miskin, agar kita yang miskin ini dapat ambil bagian dalam kekayaan keallahan-Nya. Maka pada perayaan kelahiran Yesus Kristus ini, baiklah kita merenungkan kasih Allah itu dan menegaskan apa yang harus kita lakukan untuk hidup sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Kasih Allah Bagi Semua Manusia
Allah mengasihi semua manusia. Kasih-Nya yang besar kepada manusia itu diwujudkan dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia. Anak itu dikandung oleh seorang perawan, bernama Maria. Kelahiran-Nya membawa sukacita bagi banyak orang. Warta gembira itu diserukan oleh malaikat Allah: “sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:10-11). Tanda sukacita itu nyata dalam diri seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan sebagai wujud kesederhanaan dan kesahajaan.
Kasih Allah itu disambut dengan gembira oleh para gembala yang bergegas pergi ke Betlehem untuk menjumpai bayi itu seperti diwartakan oleh malaikat Allah. Hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang majus dari Timur. Mereka mencari kanak-kanak Yesus dengan mengikuti bimbingan bintang. Setelah menemukan tempat yang dicarinya, “masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (Mat. 2:11a).
Begitulah bayi kudus itu semakin menjadi besar dalam didikan kasih kedua orangtua-Nya. Dia “makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52).
Kasih Allah Tanpa Syarat
Allah adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4:8.16b). Seluruh aktivitas Allah adalah tindakan kasih. Ia menyatakan diri dalam kasih kepada manusia. Ia mengasihi manusia tanpa membedakan. Ia tidak menuntut syarat apa pun dari manusia sebelum menyatakan kasih-Nya. Ia mengasihi orang benar maupun orang jahat dan semuanya tidak pernah lepas dari kasih-Nya. Demikianlah, Allah Bapa di surga, “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45).
Semua orang telah berdosa dan dosa membuat manusia terpisah dari Allah. Akibatnya, manusia kehilangan kemuliaannya sebagai anak Allah (Rm 3:23) dan tidak layak untuk tinggal bersama Allah. Hukuman yang harus diterima oleh orang berdosa adalah terpisah dari Allah, “sebab upah dosa adalah maut” (Rm 6:23). Tetapi, Yesus rela menanggung penderitaan agar kita dibebaskan dari maut tersebut dan kita dianggap benar oleh Allah. Yesus pun rela menanggung semua itu karena Ia mengasihi manusia dan melihat semua manusia sebagai sahabat. Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan memberikan nyawa-Nya sendiri untuk para sahabat-Nya. Sabda-Nya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Demikianlah Allah “telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” dan Ia telah “mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:16-17).
Jelas bahwa “bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” (1Yoh 4:10). Allah tidak menunggu manusia mengasihi diri-Nya dan baru kemudian Ia mau mengasihi mereka. Ia mengasihi manusia walaupun manusia berdosa dan Kristus sendiri mati ketika manusia masih berdosa (Rm. 5:8). Yesus datang ke dalam dunia dan hidup di tengah manusia bukan karena manusia itu baik. Sebaliknya, Ia rela meninggalkan kemuliaan surgawi dan mengurbankan diri-Nya justru karena manusia berdosa dan tidak sanggup melepaskan diri dari ikatan dosa. Semua ini dilakukan-Nya semata-mata karena Ia menghendaki kebaikan dan kebahagiaan manusia. Allah menghendaki manusia hidup bahagia dalam kemuliaan abadi bersama Dia.
Mengasihi seperti Allah
Kehadiran Kristus sebagai manusia di dalam dunia ini mengajak kita untuk mengasihi seperti Allah. Sabda menjadi manusia untuk menjadi teladan kita dalam mengasihi. Seperti Allah yang menyatakan kasih-Nya dalam diri Kristus, kita diingatkan untuk mengasihi sesama semata-mata karena kita menginginkan orang lain bahagia. Hal ini juga berarti bahwa kita diajak untuk mengasihi sesama tanpa membuat pembedaan, walaupun mereka tidak berlaku seperti yang kita harapkan. Jika demikian, kita berlaku seperti Allah dan menjadi anak-anak Allah.
Hanya orang yang membuka hati dan menyadari kasih Allah akan dapat mengasihi Allah dan sesama. Jika orang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, ia berdusta karena tidak mungkin mencintai Allah yang tidak kelihatan tanpa mencintai sesama yang kelihatan. Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (bdk. 1Yoh 4:20-21). Dasar untuk saling mengasihi ini adalah kasih Allah. Dengan kasih seperti itulah orang diajak untuk mengasihi sesamanya. Dalam terang kasih itu, kami mengajak Saudara-saudari untuk menanggapi kasih Allah dengan bertobat dan sungguh-sungguh mewujudkan kasih dengan memperhatikan beberapa hal penting berikut ini: Pertama, Allah menciptakan alam semesta ini baik adanya dan menyerahkan pemeliharaan serta pemanfaatannya secara bertanggungjawab kepada manusia. Perilaku tidak bertanggungjawab terhadap alam ciptaan akan menyengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini, tetapi terlebih generasi yang akan datang. Maka kita dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan-Nya dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam.
Kedua, melibatkan diri dalam berbagai usaha baik yang dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan seperti konflik kemanusiaan, menguatnya sikap intoleran, dan perilaku serta tindakan yang menjauhkan semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa.
Ketiga, melalui jabatan, pekerjaan dan tempat kita masing-masing dalam masyarakat, kita ikut sepenuhnya dalam semua usaha yang bertujuan memerangi kemiskinan jasmani maupun rohani. Demikian juga kita melibatkan diri dalam berbagai upaya untuk memberantas korupsi. Salah satu caranya adalah mengembangkan semangat hidup sederhana dan berlaku jujur.
Keempat, melibatkan diri dalam menjawab keprihatinan bersama terkait dengan lemahnya penegakan hukum. Hal itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri dengan menjadi warga negara yang taat kepada hukum dan yang menghormati setiap proses hukum seraya terus mendorong ditegakkannya hukum demi keadilan dan kebaikan seluruh warga bangsa.
Saudara-saudari terkasih,
Allah yang menyatakan kebesaran kasih-Nya melalui Yesus Kristus yang dilahirkan di kandang Betlehem akan menyertai serta memberkati usaha kita semua dalam memberi wujud pada kasih-Nya itu. Semoga kasih Allah yang kita alami dan kita rayakan pada Natal ini mendorong kita untuk semakin giat berbuat kasih.
Berkat Tuhan melimpah kepada kita.

            SELAMAT NATAL 2012 DAN TAHUN BARU 2012
                                              
                                                       Jakarta, 20 November 2012
              Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA                                         KONFERENSI WALIGEREJA
            DI INDONESIA (PGI)                                                              INDONESIA (KWI)

   Pdt. Dr. A. A. Yewangoe                                                           Mgr. I. Suharyo
                 Ketua Umum                                                                              Ketua

              Pdt. Gomar Gultom, M. Th.                                                    Mgr. J.M. Pujasumarta
            Sekretaris Umum                                                                        Sekretaris Jenderal

Malaikat yang Berbaju Merah


Dua hari sebelum Natal, Michelle dengan berat hari berbelanja ke toko dekat rumahnya. Sebagai seorang ibu tunggal yang harus membesarkan 5 anak sendirian, hidupnya terasa berat. Ia hanya mempunyai $35 dan kartu ATM-nya sudah diblokir. Tetapi ia tahu Natal sangat penting bagi anak-anak. Ia berusaha untuk membeli bahan-bahan makanan yang murah untuk menyiapkan hidangan Natal yang sederhana bagi keluarganya. Di meja kassa terkumpul belanjaannya - kentang, sayuran, daging asinan dan beberapa keperluan untuk membuat hidangan pencuci mulut bagi anak-anaknya yang kecil. Total yang harus dibayarnya, $85.24. Ia coba menggunakan kartu ATM-nya. Seperti yang diduga, kartunya ditolak. Di belakangnya antrian sudah panjang dan banyak muka-muka yang sudah tidak sabar lagi. Ia mengigit bibirnya dan berusaha untuk menahan air matanya dari menetes. Anak bungsunya yang berumur dua tahun mulai merengek sambil menarik-narik lengan bajunya.
Michelle mulai mengurangi barang belanjaannya, daging asin dikembalikan ke dalam keranjang. "Air mata saya mulai menetes. Saya merasa malu." Tiba-tiba seorang wanita muda yang berdiri di belakangnya menepuk-nepuk bahunya. Di waktu yang bersamaan, kasir mengembalikan barang belanjaannya sambil berkata, "Hari ini Anda beruntung". Saya kaget, "Apa?"
Ia mengangguk kepada wanita cantik yang berbusana merah yang tadinya menepuk bahu saya, dan berkata, "Udah dibayar oleh dia."
Saya tidak tahu harus berkata apa dan saya hanya memandang padanya dan berkata, "Terima kasih."
Malaikat yang berbaju merah itu berkata, "Nga masalah, saya juga pernah mengalami waktu-waktu sulit. Selamat Natal.’
Sang kasir, Cynthia Pousinho berkata, "Kami semua merasa terharu. Wanita yang berbelanja itu (Michelle) menangis, teman saya yang membantu mengepak barang belanjaan turut menangis. Tetapi wanita yang membayar itu tidak menganggap apa yang dilakukannya sesuatu yang luar biasa. Ia hanya berkata, "Saya tahu bagaimana rasanya, dan menyodorkan selembar $100."
Michelle merasa bahwa ia seperti sedang bermimpi. "Saya terkejut dan terharu. Hal-hal seperti ini tidak terjadi. Saya berpikir, "Memang Tuhan ada. Saya harap wanita itu tahu betapa berartinya apa yang telah dia lakukan buat kami...kami sangat menghargai apa yang telah ia lakukan."

Seksi Sosial Katedral Makassar


Kepada YTH
Bapak/Ibu
Donatur dan pemerhati paroki Katedral 
Di tempat

Salam Sejahtera,
Tak terasa Kita telah berada di penghujung tahun 2012.
Perkenankanlah Kami pengurus Seksi Sosial Paroki mengucapkan Selamat Hari Natal dan Selamat memasuki Tahun Baru 2013. Semoga Kita semua sehat-sehat dan lebih sukses. Kami sebagai Koordinator dan anggota pengurus Seksi Sosial mau memberikan laporan kegiatan Sie Sosial Paroki Katedral selama Tahun 2012.

Kami sangat menyadari bahwa apapun yang telah Kami kerjakan di ladang Tuhan ini, tidak akan terwujud tanpa bantuan dan partisipasi Bapak/Ibu sekalian. Bantuan Bapak/Ibu yang masuk di Sie Sosial baik berupa uang, bahan makanan, sandang maupun berbagai jenis barang sebagian besar telah disalurkan kepada umat dan saudara-saudara Kita yang sangat membutuhkan/berkekurangan.

Berlimpah terima kasih Kami haturkan kepada Bapak/Ibu sekalian mewakili sebagian kecil umat dan saudara-saudara kita yang telah mendapat bantuan rutin setiap bulan,a baik berupa uang tunai kepada keluarga yang kurang mampu, bantuan pendidikan, pengobatan, uang duka dan paket sembako yang secara rutin 2 bulan sekali dibagikan di wilayah Paroki Katedral dan sekitarnya sebanyak 150 paket.

Demikian pula telah disalurkan pakaian, sepatu,sendal, tas dan sumbangan Natal, yang semuanya itu sangat membantu bagi sesama umat dan saudara-saudara kita yang kurang mampu. Kami sangat bersyukur karena pada tahun 2012 ini, kami boleh membagikan sembako sebanyak 500 paket untuk saudara-saudara kita kaum duafa (tukang becak). Itu terlaksana menjelang Hari Raya Idul Fitri dan menjelang Paskah. Kami juga membagikan sembako kepada umat Katolik di Panaikang sebanyak 235 paket. 
Menjelang Natal ini, kami membagikan paket sembako sebanyak 726 paket kepada saudara-saudara kita di pemukiman kusta di depan Gereja Kare dan di jalan Dangko. 

Pada kesempatan ini, kami juga mau berterima kasih kepada para Dokter partisipan seksi social yang telah melayani umat secara gratis. Sumbangsih Bapak/Ibu sekalian adalah wujud nyata Cinta-Kasih dan Kepedulian serta rasa kebersamaan yang telah terjalin dengan mesra diantara umat maupun Dewan Pastoral, terutama peran aktif Pastor Paroki dan para Imam sebagai mediator yang telah menanampakan Benih Cinta Kasih kepada sesama. Untuk itu kami pengurus seksi sosial atas nama Dewan Pastoral, Pastor Paroki dan seluruh umat Paroki Katedral sekali menghaturkan banyak terima kasih. Semoga Cinta Kasih, Rahmat dan Berkat Allah senantiasa dilimpahkan bagi Bapak/Ibu sekalian.

BERSUKACITA : INDAHNYA HIDUP BERBAGI


HARI  MINGGU ADVEN III
Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi dari Zef. 3:14-18a; Flp. 4:4-7; Luk. 3:10-18


Hari Minggu Adven III sering disebut dengan Hari Minggu Sukacita. Bacaan I dan II memberi alasan mengapa kita harus bersukacita, dan bacaan Injil mengajak kita bagaimana mewujudkan sukacita itu.

Nabi Zefanya adalah salah seorang nabi yang muncul di Kerajaan Yehuda sebelum terjadinya pembaharuan hidup keagamaan yang dilaksanakan oleh Raja Yosia. Pada masa itu, kehidupan keagamaan di Kerajaan Yehuda dipenuhi dengan ibadat penyembahan berhala; sedangkan di kehidupan politik dan kemasyarakatan dipenuhi dengan ketidak adilan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Para pemuka masyarakat menjalankan tugasnya dengan penuh kekerasan dan peniputan, sedangkan para nabi melakukan tindakan-tindakan ceroboh, para iman menajiskan yang kudus, dan para ahli Taurat melakukan pengkhianatan terhadap Taurat demi keuntungan sendiri. Pada masa yang kacau ini tampillah Nabi Zefanya yang mengkritik segala tindakan kejahatan yang tidak bisa dibenarkan di hadapan Allah itu. Zefanya tampil untuk mewartakan datangnya Hari Tuhan yang akan menghukum segala bentuk kejahatan tersebut. Pada masa  penghukuman itu akan tertinggal “sisa kecil” yang akan diselamatkan, yakni mereka yang tetap setia pada sabda Allah dan hukum-Nya. “SIsa kecil” ini adalah merek yang senantiasa berlindung dan berharap pada kekuatan Allah. Mereka inilah yang akan menjadi umat yang sejati di hadapan Allah. Mereka inilah yang akan disebut “Putri Sion”, “Puteri Yerusalem”. Mereka inilah yang akan “bersorak-sorai dan bersukacita, karena mereka tidak takut kepada malapetaka”.

Paulus, dalam nasehat-nasehat terakhirnya kepada umat di Filipi, mengajak mereka untuk bersukacita karena “Tuhan sudah dekat”. Masa “Parousia”, kedatangan Tuhan kembali -setelah kenaikan-Nya ke Sorga-, yang selama ini dinanti-nantikan sudah di ambang pintu. Karena itulah, Paulus mengajak agar mereka tidak perlu lagi hidup dalam kekhawatiran tetapi dalam suatu ucapan syukur dan menyatakan syukur itu dalam tindakan kebaikan dan kebajikan.

Setelah menyerukan pertobatan dan ajakan untuk dibaptis kepada banyak orang (Luk. 3:1-3), Yohanes Pemandi, sambil mengutip seruan Nabi Yesaya (ay.4-6), menyerukan kabar Keselamatan. Bagi Yohanes Pemandi, Keselamatan pertama-tama didasarkan pada pelaksanaan buah-buah pertobatan, dan bukannya pada “warisan iman” sebagai anak Abraham (bdk. ay.  7-9. Melaksanakan buah-buah pertobatan secara umum berarti hidup berbagi kebutuhan pokok dengan mereka yang membutuhkan. “barangsiapa mempunyai dua helai baju hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Ay.11) 

Yohanes Pemandi bukan hanya memberikan pedoman umum, tetapi juga panduan khusus tentang pelaksanaan hidup berbagi.
Kepada para pemungut cukai, yang sering “dicap” sebagai koruptor, Yohanes mengajak agar mereka mencukupi hidupnya dengan apa yang mereka seharusnya dapat, “jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu” (ay.13); dan kepada para prajurit yang sering “dicap” sebagai perampok dan pemeras, Yohanes mengajak mereka agar mencukupi hidupnya dengan gajinya (bdk. ay.14) dan tidak melakukan perampasan harta milik orang lain meskipun hal itu diperbolehkan.

Pesan bacaan-bacaan hari Minggu Adven III:
Sikap bertobat dan penyesalan atas dosa-dosa, sebagai persiapan diri masing-masing pribadi untuk menyambut datangnya Sang Messias, haruslah didasarkan pada cinta akan Allah dan sesama (penyesalan yang sempurna).  Pertobatan dan penyesalan sempurna akan mendatangkan sukacita.

Sukacita sebagai buah pertobatan dan penyesalan pribadi yang sempurna hendaknya tidak “dinikmati dan dialami” secara pribadi – sendirian saja, tetapi harus dibagikan kepada orang lain.

Hidup berbagi sukacita pertobatan dan penyesalan sempurna bisa dilaksanakan dua model atau cara, yakni membagikan materi: membagikan sesuatu dari kelebihan  dan  membagikan kebaikan : mencukupi diri secara jujur dan adil.

Cari Blog Ini