Jumat, 30 November 2012

Masa Adven Mengingatkan Kita: Anda Tertidur, Anda Kalah!


Apakah anda pernah satu hari saja menginginkan Allah untuk muncul, menjentikkan jari-jari-Nya dan membuat mukjijat? Umat Israel juga memiliki hari-hari seperti itu selama sekitar 500 tahun, mengerang dibawah penindasan dari satu tirani ke tirani lainnya. Yesaya memberikan suara tentang perasaan ini: “Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu” (Yes 64:1)
Masalahnya adalah Ia menjawab doa mereka. Ia muncul, didalam pribadi, melakukan mukjijat lebih daripada apa yang orang lain pikirkan. Tetapi mereka gagal untuk mengenal-Nya. Faktanya, mereka menyalib-Nya.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Analisa dari Yesus bahwa mereka tertidur saat bekerja (Mrk 13:33-37). Tentu saja, mereka menyibukkan diri mereka sendiri dengan beragam aktivitas, termasuk praktek-praktek yang saleh. Tetapi gerakan yang konstan bisa menidurkan anda, seperti seorang bayi sepanjang perjalanan di mobil. Tertidur berarti tidak sadar. Tidak siaga. Merasa mengantuk. “Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu” (Yes 64:7). Lip service tidaklah cukup. Membuat Allah menjadi bagian dimana bisa diatur tidaklah cukup. Ia meminta untuk di sembah, dimana bisa dibilang bahwa Ia harus berada di tengah panggung, menjadi prioritas utama. Kita tidak cuma percaya bahwa Ia itu ada, tetapi dengan antusias menggejar-Nya dan kehendak-Nya untuk kehidupan kita.
Ia berjanji untuk datang lagi. Tetapi kali ini tidak dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia tidak memakai kain bedung, tetapi jubah hakim. Adven yang pertama dan terutama adalah waktu untuk mengingat bahwa Ia datang lagi dan bahwa kita harus sedikit lebih baik mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya daripada Bangsa Israel pertama kali.
Jadi apa yang telah masyarakat kita lakukan dengan masa Adven? Adven telah berubah menjadi hari untuk berbelanja sebelum Natal. Sebagaimana jika kita sudah tidak cukup terganggu dari hal-hal tentang Allah, sekarang waktunya untuk menghilangkan secara total suara kecil dengan “fa-la-la-la-la” nyanyian lagu Natal. Diantara hiruk-pikuk di mall dan pesta di kantor, sangat mudah untuk mati rasa terhadap makna sejati dari masa Adven.
Apakah anda pernah mendengar lelucon tentang imam muda yang terburu-buru lari ke kantor sang pastor dan berkata “Tuhan telah terlihat berjalan di gang Gereja. Apa yang harus kita lakukan?” Sang pastor melihat dia dengan kuatir dan berkata: “Demi Allah, frater, terlihatlah sibuk!, terlihatlah sibuk!”
Yesus di Injil Markus membuat hal ini jelas bahwa ini tidak akan menjadi pemandangan yang cantik jika Dia muncul hanya untuk menemukan kita tertidur secara rohani. Ini bukanlah sebuah pertanyaan, meskipun, terlihat benar-benar sibuk, tapi terlihat sibuk dengan hal yang tepat, sibuk mengejar Allah dan melakukan kehendak-Nya.
Kaum puritan mengenal sebuah cara bahwa liburan yang suka ria mengalihkan orang dari arti sejati kelahiran Kristus. Solusi mereka adalah melarang liburan dan segala hubungannya dengan pesta-pesta. Pendekatan Gereja Katolik bukan dengan melarangnya tapi menggunakannya. Di dalam keasyikan dengan membeli hadiah Natal untuk semua orang yang dikasihi, apakah kita ingat bahwa Ia dianugerahkan keatas kita kasih karunia (1Kor 1:3-9) dibuat untuk menyiapkan kedatangan-Nya? Ada karunia dari sakramen-sakramen, harta karun dari doa-doa Katolik dan spiritualitas, warisan pusaka yang kaya dari para pahlawan dan orang-orang kudus, karisma dan karunia dari Roh Kudus. Bukankah akan hebat jika daftar Natal tahun ini dipenuhi dengan hadiah yang bisa membantu orang membuka karunia spiritual Allah, yang sebenarnya memiliki sesuatu dengan Yesus? Dan bagaimana jika kita mendisiplinkan diri kita sendiri untuk mendahului setiap kunjungan kita ke mall dengan kunjungan ke Sakramen Mahakudus? Dan mungkin sama seperti kita menghiasi ruangan, kita harus bertekun setidaknya sama perhatiannya dengan membusanai diri kita sendiri dengan kebajikan yang akan lebih menyenangkan diri-Nya daripada holly (sejenis tumbuh-tumbuhan yang hijau dan runcing daunnya) dan ivy (sejenis tumbuhan menjalar).

Jumat, 23 November 2012

Mengenal Kristus Sebagai Raja

HARI RAYA KRISTUS RAJA 
Pastor Paulus Tongli, Pr
Inspirasi dari Yoh. 18:33-37

Pesta Kristus Raja ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Pesta ini merupakan ungkapan iman kristiani bahwa kerajaan Kristus tidak hanya dirasakan di dalam hidup pribadi, tetapi juga di dalam kebersamaan. 

Pesta ini semula dirayakan pada hari minggu terakhir dalam bulan Oktober oleh Gereja Katolik. Sementara pada hari yang sama gereja-gereja protestan merayakan hari Reformasi. Konsili Vatikan II memindahkan perayaan ini ke akhir tahun liturgy dengan pertimbangan agar dapat dirayakan bersama oleh semua umat kristiani, baik katolik maupun protestan. Dengan perayaan ini semua gereja dapat memberikan kesaksian akan Kristus yang diakui dan diwartakan sebagai raja atas hidup kita dan atas seluruh dunia. 

Salah satu alasan mengapa pada awalnya pesta ini dirayakan pada hari Minggu terakhir dalam bulan Oktober adalah dalam hubungan dengan hari raya semua orangkudus yang jatuh pada tanggal 1 November. Para orang kudus adalah mereka, orang-orang biasa, laki-laki, perempuan, anak-anak atau orang tua yang dengan berani memberikan kesaksian akan Kristus di dalam hidup mereka baik hidup pribadi maupun dalam hidup bermasyarakat. Satu contoh dapat disebut yaitu St. Thomas More, yang belum lama ini dinobatkan sebagai santo pelindung para politikus. Thomas More adalah seorang pengacara yang cakap dan sekaligus seorang diplomat yang hidup dalam abad ke-16 di Inggris. Patriotisme dan loyalitasnya kepada tahta kerajaan Inggris menarik perhatian Raja Henry VIII, sehingga mengangkatnya menjadi penasehat raja Inggris, seorang awam pertama yang mendapatkan kehormatan memegang tanggung jawab tersebut. Namun apa yang Henry VIII tidak tahu adalah bahwa loyalitas Thomas More yang utama adalah loyalitasnya kepada Kristus, raja segala raja. 

Oleh karena itu ketika Henry VIII memutuskan untuk menceraikan istrinya Chaterine Aragon, dan menikahi Anne Boleyn, serta mengangkat dirinya menjadi kepala gereja Inggris, Thomas More menentangnya. Ia memilih meninggalkan posisi terhormat yang menjanjikan imbalan duniawi sebagai penasihat raja dan hidup dalam kemiskinan daripada menyetujui apa yang diyakininya melawan kehendak ilahi. Karena ia tidak mau mendukung kehendak raja, Thomas More ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di menara London pada tahun 1534 dan menjalani hukuman pemenggalan kepala dalam bulan Juli pada tahun berikutnya. Dalam perjalanannya ke tempat eksekusi, More meneguhkan orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan untuk tetap teguh dalam iman. Kata-kata terakhirnya yang sempat diungkapkannya adalah: “saya mati sebagai abdi raja yang baik, tetapi saya lebih tunduk kepada Allah”. Bagi Thomas More, mengakui Kristus tidaklah cukup di dalam hidup pribadi, di dalam hati dan di dalam rumah sendiri. Pengakuan akan Kristus juga haruslah ditunjukkan di dalam hidup bisnis dan kerja, termasuk di dalam hukum dan politik pemerintahan. 

Hal ini tidaklah berarti bahwa kerajaan Kristus akan diwujudkan di dalam kerajaan duniawi. Inilah pikiran Pontius Pilatus ketika ia mengadili Yesus, ketika ia bertanya, apakah Yesus adalah raja. Yesus menjawab dengan “Ya”, Ia sungguh seorang raja, tetapi bukanlah raja seperti yang ada di dalam pikiran Pontius Pilatus. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yoh 18:36)Di mana letak perbedaan antara kerajaan Kristus dan kerajaan-kerajaan duniawi? Di sini kita dapat menyebut 3 hal: (1) kerajaan duniawi memiliki batas-batas territorial tetapi kerajaan Kristus bersifat universal. Kristus adalah raja tanpa batas. (2) kerajaan lain datang dan berlalu, tetapi kerajaan Kristus bersifat kekal. (3) kerajaan lain didukung oleh kekuatan militer dan ekonomi, tetapi kerajaan Kristus didukung oleh kekuatan kebenaran. Warga kerajaan Kristus oleh karena itu haruslah memperjuangkan kebenaran, juga manakala banyak tantangan dan rintangan untuk bersikap seperti itu. 

Ketika kita berbicara tentang kerajaan Allah, banyak orang bertanya: bagaimana dengan patriotisme dan sikap nasionalisme? Patriotisme dan nasionalisme tentu mempunyai tempat tertentu di dalam hidup orang Kristen, tetapi ketaatan kepada Allah haruslah berada di tempat yang pertama. Atas nama patriotisme dan nasionalisme banyak orang Kristen menyerahkan hati nuraninya kepada Negara. Jika Negara membenarkan suatu tindakan atas dasar hukum tindakan itu benar. Tetapi bila Negara mengatakan bahwa suatu tindakan melawan hukum, maka salahlah orang yang melakukannya. Suatu contoh yang baik adalah soal aborsi. Jika Negara membenarkannya, maka sah-sah saja melakukannya. Tetapi bila dilarang, maka salahlah orang yang melakukannya. Perayaan hari ini menantang kita untuk melakukan yang lebih baik daripada hal itu. Kita ditantang untuk menjalankan fungsi kritis kita pada hukum dan tata hidup bersama yang diatur oleh pemerintah. Kita harus mengukurnya berdasarkan hukum Kristus. Sebagai orang Kristen kita harus tunduk kepada Negara, tetapi ketundukan kepada Allah haruslah ditempatkan lebih tinggi. 

Pengumuman Paroki Katedral Makassar,Sabtu-Minggu 24-25 November 2012



1.   Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
·        Flori  &  Gloria Odo’                                        
      ( Pengumuman III)
·        David Konjaya  &  Erlin Yuliana                    
      ( Pengumuman II)
·        Yuliyatno Y. Desa Putra  &  Magdalena Yuli Marni       
     ( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

2.   Pendalaman  Kitab Suci dilaksanakan setiap Hari Selasa, Pkl 18.00 WITA.  Umat sekalian diajak untuk bergabung dalam acara ini.

3.   Setiap Hari Rabu, jam 6 sore, diadakan kegiatan Lectio Divina   di Ruang Doa Katedral. Marilah kita berdoa dan merenungkan Sabda Allah Bersama-sama. Umat Sekalian diundang untuk bergabung

4.   Panitia Natal 2012, mengundang Para ketua Rukun dan Kelompok Kategorial, Para Ketua-ketua seksi DEPAS Katedral untuk menghadiri rapat persiapan Natal 2012 yang akan di laksanakan pada, Senin, 26 November 2012 Pukul 19.00 WITA Di Aula Pastoran. Mengingat pentingannya rapat ini, maka diharapkan kehadirannya.

5.  WKRI/ KIK berkerja sama dengan Pabrik Minyak Goreng Oryza Grace Rice Bran Oil yang mana. Minyak goreng ini terbuat dari bekatul padi. Yang aman untuk jantung dan pembuluh darah. Mengundang saudara-saudari untuk menghadiri demo cara membuat mayones dan mengoreng roti langsung garing. Yang akan diselenggarakan di Aula Katedral pada: Senin, 26 Nov 2012. Pukul 16.30 WITA – Selesai. Penyampaian ini berupa undangan. GRATIS.



Sekian pengumuman minggu ini, terima kasih atas perhatiannya.
Tuhan Yesus memberkati kita.

Sinterklaas 2012


Kisah Bunga Putih


Ini adalah kisah sebuah bunga putih… Ia tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya ia adalah bunga yang terindah yang pernah tumbuh di antara tanah yang penuh dengan semak duri. Ia tumbuh dengan indah di tengah semak-semak yang keheranan akan bentuk sang bunga putih yang berbeda dengan yang lainnya. Para semak duri lalu memandangnya dengan sinis dan tidak pernah memandang sang bunga putih dengan bersahabat, sehingga si bunga putih pun merasa bahwa ialah yang paling buruk karena ia memiliki bentuk yang paling berbeda di antara semak-semak duri tersebut.
Waktu pun berlalu, sang bunga putih tak pernah merasa bahagia.. bahkan ia sering bertanya kepada kupu-kupu yang senang bermain dengannya: "Mengapa aku harus tumbuh berbeda dengan yang lainnya? Mengapa aku terlihat begitu buruk dibandingkan yang lain ?"
Kupu-kupu menjawab: ”Kau tidak buruk, bunga putih. Hal yang membuatmu merasa buruk adalah karena dirimu terlihat berbeda dengan yang lainnya. Justru kau adalah bunga yang terindah yang pernah kutemui, bunga putih.”

Bunga putih pun terkejut :”Apa maksudmu, kupu-kupu ?”
Kupu-kupu lalu menjawab: "Tahukah dirimu, bunga putih.. bunga sepertimu adalah bunga yang cantik dan terindah, karena di tengah-tengah tanah yang penuh dengan semak duri kau tumbuh dengan anggunnya.. dan bahkan, bagiku kau adalah penolongku, karena ketika aku lapar, di tengah-tengah tempat yang sepertinya tidak ada harapan untuk mencari madu dari bunga, kau ada untuk menyediakan madu sehingga aku tidak kelaparan.. Bunga putih, bunga sepertimu yang tumbuh diantara semak duri sesungguhnya adalah bunga yang cantik dan terindah, karena kau menunjukkan bahwa masih ada harapan di tengah tanah yang penuh semak duri."
Bunga putih pun sadar,dan pada akhirnya ia bersyukur atas keadaan dirinya.
Terkadang kita seperti bunga putih diatas. Kita seringkali kecewa dan merasa buruk atau tertekan karena berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitar kita.
Kita seringkali tak menyadari bahwa ketika kita berbeda dengan yang lainnya,Tuhan memiliki rencana yang besar di dalam hidup kita..yaitu untuk menjadikan hidup kita menjadi hidup yang memberikan harapan bagi orang lain yang membutuhkan,dan untuk menunjukkan bagi setiap orang, bahwa mimpi masih bisa terwujud di tengah dinginnya dunia,dan harapan masih ada meskipun sepertinya segala sesuatunya tidak dapat menjanjikan apa-apa.
Karena itu, yakinlah di dalam hatimu.. mungkin pada awalnya dirimu merasa tertekan karena berbeda dengan yang lainnya.. Namun, Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan dalam mengatur dan menempatkan dirimu..karena Ia tahu, perbedaan yang ada pada dirimu adalah untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa harapan masih ada di dunia yang dingin seperti batu.. Dan Ia memilihmu karena Ia mempunyai rencana yang besar di dalam hidupmu,yang tak pernah terpikirkan dalam benakmu..namun sudah dipersiapkan dengan luar biasa oleh Tuhan..
  Karena itu, percayalah..bahwa apapun yang terjadi di dalam hidupmu..semuanya akan mendatangkan kebaikan dan harapan di dalam hidupmu dan juga hidup orang lain.. dan terlebih dari itu semua, percayalah bahwa apa yang Tuhan tetapkan di dalam hidupmu..pasti pada akhirnya semua hal itu akan menjadi indah pada waktuNya.

MAZMUR TANGGAPAN


Tradisi menyanyikan Mazmur atau Kidung setelah mendengarkan bacaan dari Kitab Suci, sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman dahulu oleh orang-orang Yahudi. Tradisi ini kemudian diikuti oleh Gereja di mana di mana  dalam tradisi Gereja Latin, setelah pembacaan Kitab Suci, seseorang akan menyanyikan Mazmur atau Kidung dengan berdiri di anak tangga (dekat panti Imam) yang dalam bahasa latin dinamakan Gradus. Sejalan dengan perkembangannya, Mazmur dan Kidung ini kemudian dihimpun dalam dua buah buku yang diterbitkan oleh Gereja dengan nama GRADUALE ROMANUM dan GRADUALE SIMPLEX di mana nama buku (GRADUALE) diambil dari kata GRADUS tersebut di atas.
Dengan dikeluarkannya buku-buku nyanyian tersebut, maka sejak abad XX Mamur tanggapan wajib dinyanyikan dalam ekaristi, di mana seorang petugas dapat menyanyikannya di mimbar sabda atau juga di tempat lain yang dianggap layak.
Makna utama yang terkandung dalam Mazmur tanggapan yang kita nyanyikan dalam liturgi sabda pada setiap perayaan ekaristi adalah :
Sebagai jawaban atau tanggapan jemaat atas sabda Allah yang telah diwartakan di mana tanggapan tersebut terwakili lewat pengalaman umat Israel yang tercantum dalam kitab Mazmur
Mazmur tanggapan bermakna menjawab dengan pujian atas karya-karya Illahi dari Allah yang terus berlangsung sejak dunia ini diciptakan-Nya hingga sekarang ini
Mazmur tanggapan merupakan pewartaan kabar gembira tentang karya keselamatan Allah, di mana karya keselamatan ini memuncak pada diri Yesus Kristus Putra Nya yang tunggal.
Dari ketiga makna tersebut, pada akhirnya memberi kesimpulan pada kita bahwa teks atau syair yang dinyanyikan atau didaraskan pada Mazmur Tanggapan, bukan bersumber dari SEMBARANG NYAYIAN. Teks atau syair dalam Mazmur Tanggapan harus BIBLIS/ALKITABIAH (bersumber pada Kitab Suci) yang kebanyakan diambil dari Kitab Mazmur.

MEMBAWAKAN MAZMUR TANGGAPAN
Sejak dikeluarkannya Pedoman Umum Missale Romawi (PUMR) 2002 dan diterbitkannya Tata Perayaan Ekaristi (TPE) di Indonesia pada tahun 2005, hal tentang membawakan Mazmur Tanggapan ini dijelaskan secara lebih rinci lagi.

TATA CARA MEMBAWAKAN MAZMUR
Sesuai dengan PUMR no 61, Mazmur tanggapan sebaiknya dibawakan dengan cara dinyanyikan, sekurang-kurangnya pada bagian ulangan (antifon) sesuai dengan hakikat dari Mazmur sendiri yang merupakan sebuah nyanyian
Mazmur tanggapan dinyanyikan dengan tenang dan mengalir, selaras dengan sifat lagunya yang lebih bersifat kontemplatif dan meditatif
Mazmur Tanggapan dibawakan secara khusus oleh pemazmur dan sebaiknya dibedakan dengan solis yang lebih berfungsi sebagai petugas dalam kelompok paduan suara. Untuk itu, di paroki-paroki, biasanya dibentuk komunitas sendiri untuk petugas pemazmur.
Seandainya petugas pemazmur tidak ada, maka Solis dari kelompok paduan suara dapat mengambil alih tugas ini; dan seandainya pemazmur dan solis dari paduan suara tidak ada, maka Lektor dapat mengambil alihnya.
Jika benar-benar terpaksa karena semua petugas tidak ada, maka Imam selebran dapat mengambil alih tugas ini. Sekali lagi hal ini dilakukan jika benar-benar terpaksa.

VARIASI MENYANYIKAN MAZMUR TANGGAPAN
Di bawah ini beberapa contoh variasi menyanyikan Mazmur Tanggapan dengan tujuan untuk membantu umat dalam merenungkan sabda-sabda Allah yang baru saja didengarkannya.

VARIASI 1 :
Pemazmur menyanyikan atifon yang kemudian diikuti oleh umat. Setelah umat menyanyikan antifon, pemazmur menyanyikan ayat-ayatnya di mana setiap ayat diselingi dengan nyanyian antifon oleh umat. Variasi ini yang biasa digunakan dalam perayaan Ekaristi
VARIASI 2 :
Pemazmur menyanyikan mulai dari atifon sampai dengan ayat-ayatnya tanpa diikuti oleh umat. Variasi ini dianggap kurang begitu baik karena umat pada akhirnya tidak dilibatkan.
VARIASI 3 :
Atifon dan ayat seluruhnya dinyanyikan oleh umat bersama-sama
VARIASI 4 :
Umat bersama-sama menyanyikan Antifon kemudian pada bagian ayat, dinyanyikan secara bergantian. Pembagiannya dapat dilakukan berdasarkan posisi tempat duduk.
VARIASI 5 :
cara membawakannya sama dengan variasi 1, tetapi ditambahkan/disisipkan instrumental pada bagian-bagian tertentu.

HARI RAYA KRISTUS RAJA SeMESTA ALAM


Hari Raya Kristus Raja ditetapkan pertama kali oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 dalam ensiklik Quas Primas. (Ensiklik adalah surat pastoral penting berbentuk surat edaran yang dikeluarkan oleh Paus kepada semua Uskup. Ensiklik biasanya berisikan ajaran-ajaran Paus mengenai iman, moral dan tata tertib gerejani lainnya).
Pada waktu itu Paus melihat ...begitu banyak orang Kristen mulai meragukan otoritas Kristus dan Gereja, bahkan tidak sedikit yang mempertanyakan keberadaan Kristus. Mereka hanya mengandalkan kekuatannya sendiri dan mengabaikan keberadaan Kristus. Harta, kekayaan dan kekuasaan adalah yang paling penting dalam hidup orang-orang Kristen dan bukannya Kristus.
Dalam sejarah umat manusia, mungkin Kristus adalah satu-satunya ‚Raja‘ yang tidak biasa. Tidak seperti kebanyakan raja yang dilahirkan di rumah sakit mewah dengan ditemani oleh para dokter, Yesus terpaksa dilahirkan di kandang hina dengan hanya dijagai oleh para gembala dan hewan-hewan peliharaan mereka, karena tidak ada tempat bagi-Nya di rumah-rumah penginapan. Bukannya disambut secara meriah dengan pesta dan kembang api lazimnya penyambutan terhadap seorang raja yang baru dilahirkan, Yesus dan Maria, ibu-Nya malah harus diungsikan dari satu tempat ke tempat yang lain, karena Dia dicari-cari dan ingin dibunuh oleh Herodes. Masa kecil Yesus dilalui-Nya bukan di istana yang megah melainkan di rumah-Nya yang sangat sederhana, di kampung kecil Nazareth. 
Ketika tiba waktu bagi-Nya untuk mulai berkarya, tidak ada perayaan yang besar untuk itu, selain upacara pembaptisan sederhana yang dipimpin oleh Yohanes dengan disaksikan oleh para pendosa yang pingin diselamatkan. Berbeda dengan kebanyakan raja pada jamannya yang harus dilayani oleh rakyat dan pembantu-pembantunya, Yesus sebaliknya, hidup-Nya seluruhnya, diabdikan untuk melayani mereka yang datang kepada-Nya. Selama tiga tahun pelayanan-Nya di dunia ini, dalam perjalanan-Nya dari satu desa ke desa yang lain dan dari satu kota ke kota berikutnya, Yesus tidak pernah sekalipun dikawal layaknya seorang raja, Dia malah hanya didampingi oleh 12 orang sahabat-Nya yang setia dan beberapa wanita berdosa yang telah Dia selamatkan. Kedatangan-Nya ke berbagai tempat tidak pernah dielu-elukan oleh para bangsawan dan mereka yang mempunyai kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, sebaliknya, kemanapun Dia datang, Dia selalu disambut oleh begitu banyak orang yang miskin, yang sakit, yang lumpuh, yang tuli, yang buta dan sebagainya.
Tidak seperti para raja lainnya yang menghabiskan hari-hari hidup mereka dengan bersenang-senang di istana kerajaan, Yesus semasa hidup-Nya berkunjung kemana-mana bukan saja untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah tetapi juga untuk menyembuhkan dan menolong begitu banyak orang yang Dia jumpai dalam perjalanan-Nya. Bukan seperti kebanyakan raja yang mengorbankan hidup rakyatnya untuk menyelamatkan diri mereka, Yesus sebaliknya, menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan orang-orang yang Dia kasihi. Bahkan lebih dari itu. Untuk menyelamatkan mereka, Dia bahkan rela mati di kayu salib. Yesus adalah raja yang mau mengorbankan hidup-Nya bagi orang-orang yang dipercayakan kepada-Nya. Karena kesederhanaan dan kerendahan hati-Nya yang luar biasa inilah, maka Dia diangkat oleh Bapa-Nya untuk menjadi Raja atas segala Raja.  
Yesus adalah Raja Agung yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita. Pertanyaannya: apa yang mesti kita buat sebagai bentuk penghormatan kepada-Nya dan tanda bahwa kita sungguh-sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya? Jawabannya bisa kita temukan dalam bacaan injil hari ini. „… Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku“ (Yoh 18,37).
Bila kita ingin menghormati Yesus sebagai Raja segala Raja dan menghargai apa yang telah diperbuat-Nya semasa hidup-Nya, belajarlah dari Dia yang berani membawa dan membela kebenaran yang dari Allah dalam hidup sehari-hari. Yang mesti kita buat adalah menjauhkan diri dari segala kepentingan kerajaan dunia dan kesenangan sendiri dan mendekatkan diri pada kehendak Tuhan. Bila kita lakukan itu semua, kita telah sungguh-sungguh hidup benar dihadapan Tuhan, Raja kita.

Santo Andreas, Rasul


Andreas, salah seorang dari keduabelas Rasul Yesus, Tuhan kita. Mulanya ia berguru pada Yohanes Pembaptis; tetapi kemudian ia bersama seorang kawannya mengikuti dan menjadi murid Yesus, segera setelah Yohanes mengarahkan perhatian murid-muridnya kepada Yesus dengan menyebutNya "Anak Domba Allah" yang dinantikan Israel (Yoh 1:36-42).
Saudara Simon Petrus ini adalah nelayan kelahiran Betsaida, sebuah kota di tepi danau Genesaret (Mrk 6:45; Yoh 1:44; 12:21). Ayahnya Yohanes (Yona) adalah juga seorang nelayan di Kapernaum, sebuah kota yang letaknya 4 km sebelah barat muara Yordan pada danau Genesaret. Andreas-lah yang membawa Simon saudaranya (yang kemudian disebut Yesus 'Petrus', Si Batu Karang) kepada Yesus. Bersama Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus). Andreas dan Simon adalah murid-murid Yesus yang pertama. Ketika beberapa orang Yunani mau bertemu dengan Yesus, Andreas-lah yang membawa mereka kepada Yesus dan menyampaikan maksud mereka itu kepadaNya. Karena keutamaannya ini, Santo Beda menjuluki dia "Pengantar kepada Kristus.

Andreas memainkan suatu peran yang penting di dalam peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus. Ia hadir pada saat Yesus mengadakan mujizat perbanyakan roti kepada lima ribu orang; bahkan justru dialah yang memberitahukan kepada Yesus perihal anak lelaki kecil yang membawa lima ketul roti dan dua ekor ikan itu (Yoh 6:5-9). Ia juga ada di antara empat orang rasul yang mempertanyakan kepada Yesus perihal tibanya hari akhirat (Mrk 13:3, 4).

Setelah Yesus naik ke surga, Andreas ada di antara rasul-rasul lainnya di ruang atas untuk menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Konon, ia kemudian mewartakan Injil di Scytia dan Yunani, dan kemudian menurut tradisi (yang agak diragukan), ia pergi ke Byzantium, di mana ia mengangkat Stachys menjadi Uskup setempat.
Di mana, kapan, dan bagaimana Andreas wafat kurang diketahui jelas. Namun seturut tradisi, ia wafat di Patras, Acaia, digantung pada sebuah salib yang berbentuk huruf "X" (silang). Ia bergantung di salib itu selama 2 hari, dan selama itu ia terus berkotbah kepada khalayak yang datang menyaksikannya. Ia tidak dipakukan melainkan diikat saja pada salib itu, sehingga lebih lama ia menderita sebelum menghembuskan nafasnya. Salib ini kemudian dinamakan orang "Salib Santo Andreas".

Pada masa pemerintahan Kaisar Konstansius II, salib relikui Andreas itu dipindahkan dari Patras ke gereja para Rasul di Konstantinopel. Sesudah kota itu rusak oleh Perang Salib pada tahun 1204, maka salib itu dicuri dan kemudian disimpan di katedral Amalfi di Italia. Kurang jelas apakah ia pernah berkotbah di Rusia dan Skotlandia seperti yang dikatakan oleh tradisi. Yang jelas ialah bahwa ia dijadikan pelindung kedua negara itu.

Selasa, 13 November 2012

SITUASI BARU DI AKHIR ZAMAN


Hari Minggu Biasa XXXIII 
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan: Dan. 12:1-3; Ibr. 10:11-14, 18; Mrk. 13:24-32

Hari ini adalah Hari MInggu Biasa XXXIII. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Biasa XXXIII pada umum berkisah tentang Akhir Zaman. Banyak diskusi dan penafsiran berkaitan dengan Akhir Zaman. Dalam bacaan Injil hari ini Yesus juga berkata tentang Akhir Zaman, tetapi tetap dalam “kekaburan”. Di satu pihak Yesus mengatakan bahwa Akhir Zaman pasti akan datang (ay.24-28), bahkan dikatakan-Nya, “bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu” (ay.29). Di lain pihak, Yesus juga mengatakan bahwa tidak seorangpun yang tahu kapan Akhir Zaman tiba kecuali Bapa di Sorga (ay.32). Hal ini sering dirumuskan dalam suatu istilah membingungkan, bahwa berita tentang AkhirZaman merupakan suatu berita “kepastian kedatangannya, tetapi masih dalam ketidak-pastian waktunya”. Yang jelas ialah bahwa masa Akhir Zaman adalah masa pembaharuan; segala-galanya akan diperbaharui oleh Allah.
Ada satu cerita yang bisa memberi ilustrasi suka dukanya terhadap pembaharuan.
Ada seorang Oma yang tinggal bersama anak laki-lakinya, menantunya, dan ke tiga cucunya. Relasi tiga generasi yang tinggal dalam satu atap ini sangat harmonis. Oma yang pintar dan suka memasak ini sangat membanggakan keluarga anak laki-lakinya. Sebaliknya, mereka semua sangat menyayangi Oma, karena selain masakannya selalu enak, Oma juga tipe seorang yang sangat periang, tidak pernah banyak menuntut. Pokoknya, relasi tiga generasi itu senantiasa menjadi buah bibir kebaikan. Mereka tinggal di satu rumah tua tetapi cukup besar dan luas. Rumah tua ini memiliki tiga kamar yang cukup besar tetapi tanpa perlengkapan modern; satu kamar untuk Oma, satu kamar untuk anak dan istrinya, dan satu kamar untuk ketiga cucu Oma. Semua perabotan rumah tangganya adalah perabotan lama yang cukup antik tetapi terpelihara sangat apik. Perabotan modern yang ada hanya 1 lemari es cukup besar di dapur untuk menyimpan bahan-bahan dapur milik Oma. Sedangkan di ruang tamu ada 1 TV agak besar, 1 lemari es untuk menyimpan minuman dan makanan, dan 1 perangkat komputer untuk kerja anak laki-lakinya..
Pada suatu hari, mereka berkumpul di ruang tamu seperti biasanya. Anak laki-lakinya mengeluarkan ide untuk merenovasi rumah tua ini agar menjadi lebih modern dan lebih nyaman didiami. Tetapi Oma sangat keberatan, katanya, “Aku sudah puluhan tahun tinggal di rumah ini dan tetap merasa nyaman. Apakah yang baru-baru itu selalu memberikan kenyamanan? Apakah kalian merasa kurang nyaman dengan rumah tua ini? Aku sudah terbiasa dengan rumah ini.” “Bukan begitu, mami. Anak-anak khan sudah semakin dewasa. Mereka butuh kamar sendiri-sendiri agar bisa belajar lebih baik. Juga suhu udara sudah semakin panas, dan kita butuh AC bukan hanya kipas angin.” Begitulah, mereka berdiskusi sampai cukup lama. Akhirnya terjadi suatu kompromi. “Baiklah kita renovasi rumah tua ini”, kata Oma, “tapi aku mohon agar dapur yang aku pakai tetap dalam situasi lama. Aku lebih suka pakai kompor minyak daripada kompor gas. Kalian bisa buat dapur sendiri yang pakai kompor gas. Aku juga tidak mau kamarku diberi AC, biarlah aku tetap pakai kipas angin. Lemari-lemari antik akan tetap kita pakai.”. Setelah terjadi kesepakatan seperti itu, maka mereka mulai membahas segala persiapan untuk renovasi.
Singkat cerita, setelah 10 bulan berlalu, rumah tua itu sudah berubah menjadi rumah yang lebih modern. Interior rumahpun tampak lebih cerah dan terang. Sekarang cucu-cucu Oma sudah mendapatkan kamar sendiri-sendiri meskipun lebih kecil dari kamar sebelumnya. Dan yang tampak berbeda sekali ialah sekarang ada 2 dapur; dapur yang dipakai Oma yang masih menggunakan kompor minyak, dan dapur yang ada di dekat ruang makan yang menggunakan peralatan dapur lebih modern, yakni kompor gas untuk memasak dan kompor listrik untuk memanaskan makanan serta oven.
Dengan adanya rumah model baru ini, relasi antar mereka tetap tidak berubah. Mereka tetap harmonis, tetap punya waktu untuk bercerita di ruang tamu, tetap ada waktu untuk makan bersama.
Pada suatu ketika, Oma tiba-tiba mendatangi menantunya dan berkata, “Bisakah aku pakai dapur yang di dekat ruang makan?”. “Boleh, mami, “jawab menantunya. “Kenapa dengan dapur yang mami biasa pakai?” tanya menantunya. “Komporku tidak bisa dipakai. Sepertinya sumbunya sudah harus diganti. Aku sudah minta dibelikan yang baru tetapi belum dapat sampai sekarang”, jawab Oma. Setelah selesai memasak, Oma berkata lagi, “Nyaman juga ya pakai kompor gas. Tidak susah-susah isi minyak, dan tangan tetap bersih. Waktu memasakku juga terasa lebih pendek”. Menantunya tersenyum mendengarkan apa yang Oma katakan. Setelah suaminya pulang kerja, dia menceritakan apa yang terjadi dengan Oma ketika memasak di dapur baru. Ketika duduk-duduk bercerita di ruang tamu, anaknya berkata kepada Oma, “Mami, dapur mami kita isi dengan kompor gas saja biar tidak kerepotan mencari sumbu dan minyak”. Oma tersenyum, dan menjawab, “ Sepertinya lebih baik begitu”.
          Pembaharuan, pada awalnya sering membawa kegalauan, ketidak-nyamanan, ketidak-pastian. Terlebih bila kita sudah sangat terbiasa dengan “gaya lama”, kita sudah nyaman & aman dengan “yang lama”. Karena itu, pembaharuan sering ditolak; dan kalau tokh diterima, akan muncul banyak syarat dan permintaan. Pembaharuan akan dipahami dan diterima setelah melihat dan merasakan “kenyamanan dan keamanan” yang baru, seperti kisah si Oma di atas.
Berkaitan dengan Pembaharuan di Akhir Zaman yang bercorak final, manusia tidak memiliki lagi kesempatan kedua, seperti si Oma yang bisa merombak lagi dapurnya agar lebih nyaman. Maka, keputusan harus dibuat segera. Itulah kemendesakannya. Pembaharuan yang ditawarkan Akhir Zaman bukan Pembaharuan Fisik semata, tetapi Pembaharuan Rohani. Hidup Baru Dalam Roh yang sejati. Suatu Pembaharuan yang juga harus dimulai ketika kita masih hidup di dunia ini. Suatu proses Pembaharuan terus menerus selama hidup dan akan disempurnakan dalam masa Akhir Zaman,
             

Pengumuman Paroki Katedral Makassar, Sabtu-Minggu; 17-18 Novemer 2012



1. Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
·    Yosafat Anden & Sherlya Luang                     
( Pengumuman III)
·   Hadi Wongso & Christina Lisan                       
( Pengumuman III)
·        Ariston Anton Pasada & Yonita Wijaya           
( Pengumuman III)
·        Flori  &  Gloria Odo’                                           
( Pengumuman II)
·        David Konjaya  &  Erlin Yuliana                       
( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

2. Pendalaman  Kitab Suci dilaksanakan setiap Hari Selasa, Pkl 18.00 WITA.  Umat sekalian diajak untuk bergabung dalam acara ini.

3. Setiap Hari Rabu, jam 6 sore, diadakan kegiatan Lectio Divina   di Ruang Doa Katedral. Marilah kita berdoa dan merenungkan Sabda Allah Bersama-sama. Umat Sekalian diundang untuk bergabung



MAKNA MENCAMPUR AIR DENGAN ANGGUR


Mencampur air ke dlm anggur adalah kebiasaan sejak jaman dahulu yg dilakukan orang2 dgn tujuan agar anggur tidak terlalu pekat/keras. Anggur digunakan dalam pesta dan perjamuan2. Demikian juga saat Yesus mengadakan Perjamuan dengan para murid-Nya saat sebelum wafat di kayu salib. Perjamuan Yesus inilah yg menjadi Tradisi Suci dlm Gereja Katolik dlm Ekaristi, termasuk menghdirkan anggur di dlm nya.
Dalam perayaan Ekaristi, ada saat di mana imam menuangkan anggur ke dalam piala kemudian menuangkan sedikit air ke dalam piala tersebut. Seperti kita ketahui bahwa Ekaristi sarat dengan MAKNA dan SIMBOL, begitu pula dgn pencampuran air dan anggur ini. Ada makna tersirat dalamnya.

Secara teologis, pencampuran air dan anggur ini memiliki 3 makna yaitu : 
Air melmbangkan cairan lambung yg mengalir dari Tubuh Kristus saat Ia ditusuk lambungNya pada waktu disabib. Sedangkan Anggur melambangkan darah Kristus yang mengalir dari tubuhNya saat disalib.
Air dan Anggur melambangkan keilahian dan kemanusiaan. Oleh sebab itu pencampuran keduanya dalam satu wadah (=Piala) mengungkapkan peristiwa Allah menjadi manusia (Yesus Kristus), di mana kitu dituntut partisipasinya dalam keilahian Kristus sebagaimana disebutkan dalam kitab suci “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (2 Petrus 1:4)
Pencampuran air dan anggur mengungkapkan makna kesatuan tak terpisahkan antara Kristus dan kita sebagai umat yg beriman kepada Nya.
Ketiga makna tersebut terangkum dalam doa Imam (Doa Presidentil) saat mencampur air dan anggur ke dalam piala yaitu : 
“Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami”.
Doa ini biasanya didoakan dalam hati atau didaraskan dgn suara lembut skali oleh imam yg memimpin ekaristi

Bersyukurlah, ada Api Penyucian! (Bagian KEDUA)


Api penyucian ada karena keadilan Allah: Kita diselamatkan bukan hanya karena iman saja, tetapi oleh kasih karunia Allah, yang harus diwujudkan dalam perbuatan kasih.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26). Perbuatan kasih yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian.
Sedangkan pada saat kita masih hidup, perbuatan kasih ini dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan langsung, kata-kata atau dengan doa. Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi. dengan Tuhan, maupun masih ada akibat dosa yang harus kita tanggung, maka jiwa kita disucikan dulu di Api Penyucian. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat maka keadaan ini membawa jiwa kita ke neraka.
Terlihat di sini bahwa pengajaran tentang Api Penyucian bukanlah ‘karangan’ manusia, melainkan berdasar pada Kitab suci dan diturun temurunkan dengan setia oleh Gereja. Jika kita manusia harus memilih, tentu lebih ‘enak’ jika tidak ada konsekuensi yang harus kita bayar. Misalnya, pada anggapan: ‘Pokoknya sudah beriman pasti langsung masuk surga. Sekali selamat, pasti selamat.’ Gereja Katolik, yang setia pada pengajaran para rasul, tidak mengajarkan demikian. Walau kita telah menerima rahmat keselamatan melalui Pembaptisan, kita harus menjaga rahmat itu dengan setia menjalani segala perintah Tuhan sampai akhir hidup kita. Jika kenyataannya kita belum sempurna, namun kita sudah ‘keburu’ dipanggil Tuhan, maka ada kesempatan bagi kita untuk disucikan di Api Penyucian, sebelum kita dapat masuk ke surga. Bukankah kita perlu bersyukur untuk hal ini? Sebab jika tidak ada Api Penyucian, betapa sedikitnya orang yang dapat masuk surga!

Jadi, ingatlah ketiga hal ini tentang Api Penyucian
Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.
Jangan ragu mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalam Api Penyucian
Ayah saya meninggal pada tahun 2003 yang lalu. Saya selalu mengenangnya, terutama akan segala teladan iman dan kasihnya semasa hidupnya. Saya bersyukur bahwa sebelum wafatnya, ia sempat menerima sakramen Pengurapan orang sakit dan menerima Komuni Suci. Sejak saat meninggalnya sampai sekarang, saya mengingatnya dalam doa-doa saya, saat saya mengikuti Misa kudus, dan secara khusus saya mempersembahkan ujud Misa baginya, yaitu pada saat memperingati hari wafatnya, hari arwah, dan hari ulang tahunnya. Saya percaya, bahwa sebagai anggota Tubuh Kristus, maka tidak ada yang dapat memisahkan kami, sebab kami dipersatukan di dalam kasih Kristus. Tentu saya berharap agar ayah saya sudah dibebaskan dari Api Penyucian, dan dengan demikian, Tuhan dapat mengarahkan doa saya untuk menolong jiwa- jiwa yang lain.
Dengan mendoakan mereka yang sudah meninggal, saya diingatkan bahwa suatu saat akan tiba bagi saya sendiri untuk dipanggil Tuhan. Dan saat itu sayapun membutuhkan doa-doa dari saudara/i seiman. Semoga mereka yang telah saya doakan juga akan mendoakan jiwa saya, jika tiba saatnya nanti. Demikianlah, indahnya kesatuan kasih antara umat beriman. Kita saling mendoakan, bukan karena menganggap kuasa Tuhan kurang ‘ampuh’ untuk membawa kita kepada keselamatan. Melainkan karena kita menjalankan perintah-Nya, yaitu agar kita saling mendoakan dan saling menanggung beban, untuk memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2); dan dengan demikian kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan. Sebab di dalam Kristus, kita semua memiliki pengharapan akan kasih Tuhan yang mengatasi segala sesuatu. Maka kita dapat berkata bersama Rasul Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39).

Melepas Amarah, Meraih Keikhlasan

Terus memendam amarah sama seperti menggenggam bara panas untuk dilontarkan kepada seseorang, Andalah yang akan terbakar.” -Sidharta Gautama
Dalam hidup memang wajar kalau ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita marah dan kecewa. Tapi cepat kendalikan emosi Anda kembali. Jangan biarkan rasa amarah, dendam, iri, kesal atau kecewa kepada pasangan, teman, rekan kerja, atau atasan di kantor bercokol lama di hati kita.
Kekesalan, amarah dan kekecewaan hanya akan mengaktifkan hukum tarik menarik, membuat Anda menerima apa yang Anda berikan.
Bila kesal pada pasangan atau ada kawan yang mengingkari janji, lalu Anda menyalahkan mereka atas kekacauan semua itu, maka Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang dipersalahkan itu.
Kembalinya keadaan itu tidak harus selalu dari orang yang Anda salahkan, tetapi sejatinya Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang Anda salahkan itu.
Ikhlaskanlah, maafkanlah. Hati akan terasa lebih lega dan ringan dalam menjalani hidup, lebih fokus terhadap tujuan hidup tanpa terbebani penyakit-penyakit hati yang hanya akan menghabiskan energi positif.
“Jika saya mengikhlaskan diri saya, saya menjadi yang saya inginkan. Jika saya mengikhlaskan yang saya punya, saya akan menerima apa yang saya butuhkan”
 -  Tao Te Ching
Semoga Tuhan mengaruniai sabar yang tak terbatas dan ikhlas yang tak bertepi untuk kita semua, sehingga apapun rintangan dan cobaan yang dilalui akan terasa lebih ringan 

MENANTIKAN AKHIR ZAMAN DENGAN MENGIKUTI KEHENDAK TUHAN DAN MENJALANKAN SABDA-NYA


Membincangkan akhir zaman atau hari kiamat sungguh menarik dan seru. Namun juga membuat sebagian orang menjadi momok dan menakutkan. Sebab ada yang beranggapan bahwa dunia yang gemerlap ini akan segera berakhir dan musnah tiada bekas. Akan terjadi penganiayaan dan siksaan besar serta kekacauan di muka bumi. NASA pun meramalkan bahwa akan terjadi kegelapan selama tiga hari pada bulan Desember tahun ini, tepatnya tanggal 23 sampai 25. Menurut perkiraan ilmuwan dari Amerika Serikat itu bahwa akan terjadi kesejajaran alam semesta di mana matahari dan bumi ada dalam satu garis lurus untuk pertama kalinya. Ada yang beranggapan setelah hari dan tanggal itu akan terjadi perubahan besar, dan mereka yang bertahan akan melihat dunia yang benar-benar baru. Demikian pula Sabda Yesus dalam Injil hari ini menyebutkan gejala-gejala alam yang akan menyertai datangnya akhir dunia, sangat mengejutkan dan menakutkan. Matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak bersinar lagi; apalagi bintang-bintang pun akan berjatuhan dari langit.
Memang betul bahwa dunia ini akan berakhir, tetapi kapan semua orang tiada yang tahu, yang kita tahu hanya tanda-tanda zaman seperti yang disampaikan Yesus sendiri. Apa yang disampaikan Yesus bisa membuat ketegangan dan kegelisahan hati. Hal ini ada kesan bahwa penghakiman terakhir akan segera tiba.
Memang kalau kita memperhatikan bacaan pertama hari ini, akhir zaman digambarkan sebagai saat penghakiman. Di balik gambaran yang menakutkan itu, Yesus sebenarnya mau berpesan kepada para murid dan kita semua sebagai pengikut-Nya supaya berjaga-jaga dan penuh pengharapan. Bila saat itu tiba, agar kita siap dan dengan ikhlas meninggalkan segala-galanya untuk ikut bersama-Nya. Peringatan yang disampaikan Yesus tentang datangnya akhir zaman yang ditandai dengan siksaan-siksaan dan perubahan alam, banyak yang menanggapi dengan membuat ramalan-ramalan kapan akan terjadi, namun belum pernah satupun ramalan itu terbukti. Hari kiamat pasti datang atau kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya ke dunia pada akhir zaman, itu pasti. Kenapa takut?

Bagaimana mempersiapkan hal itu?
Masalah akhir zaman, sebaiknya kita tidak perlu memikirkan kapan itu terjadi. Yang perlu bagaimana kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Setiap hari merupakan hari yang kita siapkan, kita rencanakan, kita isi dalam Tuhan. Jika kita selalu mengikuti kehendak-Nya dan menjalankan Sabda Allah dengan penuh iman adalah merupakan persiapan menyongsong datangnya akhir zaman. Dengan membuat niat untuk terus-menerus bertobat, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, selalu berdoa dan tekun berbuat baik merupakan sikap berjaga-jaga. Berjaga-jaga dengan penuh pengharapan, karena saat yang akan tiba adalah saat pengampunan dan saat keselamatan.
Dengan mengikuti kehendak-Nya dan mengandalkan Sabda-Nya, kita akan siap memasuki hidup abadi bersama Dia. Seperti pesan-Nya bahwa langit dan bumi akan berlalu tetapi Sabda-Nya tidak akan berlalu. Di samping berjaga-jaga, kita harus yakin dan selalu bersyukur atas belas kasih Allah dalam Yesus Kristus yang selalu mengalir deras dalam diri kita. Inilah sumber pengharapan iman kita. (FX. Mgn)

Santa Sesilia, Perawan dan Martir


    Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku 'Acta' (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapanbelas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.
Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.
Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: "Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku."
Kata Valerianus: "Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu." Jawab Sesilia: "Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu." Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.
Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.
Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi.

Kamis, 08 November 2012

Sikap dan tindakan sebagai pancaran sikap hati


HARI MINGGU BIASA KE-32
Inspirasi dari Markus 12:38-44
Oleh: Paulus Tongli, pr
 
Berhubung karena bacaan injil pada hari Minggu ini hanya mengambil satu bagian kecil dari rangkaian pesan yang ingin disampaikan, maka untuk memahami pesannya, hendaknya kita membaca keseluruhan pasal atau keseluruhan bagian yang dikutip. Bagian yang kita bacakan hari ini ada di bawah judul: Persembahan seorang janda miskin, dan berada di dalam bingkai pasal 11 (Tiga hari terakhir Yesus di Yerusalem) dan 13 (Kotbah tentang akhir jaman). Dari situ sudah tampak bahwa kutipan ini pasti mengenai suatu yang sangat penting. Dan persoalan penting yang dibahas di dalam perikop ini adalah tentang masalah kesucian: kesucian yang sebenarnya dan kesucian yang palsu.
Setiap agama berhubungan erat dengan hal-hal yang menyangkut pengungkapan permenungan manusia tentang perasaan terdalam, kehendak dan keinginannya. Dan kita yakin bahwa di dalam wilayah religius, kita berada di dalam kontak dengan Allah. Tetapi Allah akhirnya adalah sebuah misteri yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah sebabnya semua tanda yang kita gunakan harus memiliki makna yang menunjuk kepada yang ditandakan, yang tidak terungkap dengan bahasa. Di mana dan ketika kita tidak menemukan kata-kata lagi, atau kata-kata yang kita gunakan tidak memadai, hal-hal yang tampak, tindakan dan tanda memuat makna yang mendalam.
Bila kita melihat sejarah agama-agama, sebagaimana juga sejarah kekristenan, akan tampak dengan jelas bahwa semakin banyak bentuk dan tanda yang telah digunakan turun temurun yang menjadi semakin kosong, yang tidak lagi mengungkapkan makna. Namun orang tidak berani menggantikannya dengan bentuk-bentuk yang baru. Orang tetap menggunakannya, meskipun orang tidak lagi menangkap makna pengungkapan atau kebiasaan ini. Contohnya: mungkin kita pernah bahkan mungkin sering mengalami bahwa kita membuat tanda salib, pergi menyambut komuni, berdoa dan tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam hati kita. Kita telah menjadi terbiasa dengan gerakan dan kata-kata seperti itu, sehingga menjadi suatu mekanisme yang dapat berlangsung tanpa banyak disadari maknanya. Kita mungkin tidak merasakan apa-apa, tetapi karena kita bersama dengan yang lain sedang mengikuti perayaan Ekaristi misalnya, kita tetap ikut berdiri atau berlutut, membuat tanda salib dan pergi komuni. Semua tanda dan tindakan suci ikut kita lakukan, tetapi tanpa kesadaran penuh bahwa saya sedang melakukannya. Inti pesan dari kutipan injil hari ini persis mengungkapkan hal ini, yang dapat dirumuskan sbb.: ketika bentuk-bentuk lahiriah dan penghayatan batiniah tidak lagi terhubungkan, agama hanya akan menjadi pertunjukan sakral.
Kita berhadapan dengan kenyataan bahwa agama membutuhkan ungkapan lahiriah, tetapi di lain pihak ungkapan lahiriah dengan mudah dapat menjadi “pertunjukan” sakral. Kita dapat mengungkapkan berbagai macam contoh untuk menunjukkan bagaimana liturgi dengan mudah dapat dipandang hanya sebagai tindakan-tindakan sakral lahiriah tanpa mewakili hubungan yang intim manusia dengan Allah. Hari ini kita mendengar peringatan yang jelas dari Yesus: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat”, artinya hati-hatilah terhadap para pemimpin rohani di dalam masyarakat. Orang tidak boleh mengerti salah kritik ini, apalagi langsung mencari dan menunjuk orang tertentu sebagai alamat kritik ini, meskipun mungkin ada keterarahan ke sana. Yesus mengalamatkan kritik ini kepada Ahli Taurat untuk menjelaskan bahwa status sosial yang diperoleh mereka karena jabatan mereka tidak menambahkan sesuatu ke pada hubungan dengan Allah. Orang kaya dari kelimpahan miliknya menganggap persembahan uang sebagai ungkapan kebaktiannya kepada Allah, dan mereka melakukannya sedemikian agar orang lain melihatnya, namun bagi Allah hal itu sama sekali tidaklah menduduki tempat yang penting.
Kritik Yesus yang keras terhadap para ahli Taurat dan bahaya akan tindakan sakral yang kosong tampak dalam ucapan-ucapan Yesus yang semakin menanjak. Seorang ibu, yang bila dibandingkan dengan para ahli taurat dan orang-orang kaya di dalam lingkungan Timur Tengah, secara sosial tidak berarti apa-apa. Status itu menjadi semakin tidak berarti, karena ia tidak lagi memiliki suami yang dapat memberinya perlindungan. Secara harafiah Yesus menunjukkan apa itu kesucian dan ukuran mana yang harus digunakan untuk menunjukkan hal ini. Dengan menempatkan seorang anggota yang paling lemah di dalam masyarakat, Yesus mau mengoreksi ukuran yang biasanya digunakan. Ukuran yang paling menentukan dari ungkapan kekudusan, adalah sikap hati yang terbuka atau kerinduan yang paling dalam dari manusia akan Allah. Tentu harus ditambahkan bahwa sangat sulitlah untuk mengenakan ukuran ini pada orang lain. Juga harus dikatakan bahwa persembahan atau derma untuk Gereja yang diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan ibadat dan sosial tentu akan sangat mulia. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah jangan sampai kita menggantikan sikap hati kita dengan materi yang dapat kita berikan seberapa banyak pun. Materi ataupun tindakan lahiriah haruslah merupakan ungkapan kerelaan dan keterbukaan hati kepada Allah yang kita yakini begitu dekat dan mencitai kita.
Kriteria baru yang Yesus tunjukkan di sini haruslah menjadi bahan introspeksi diri bagi Gereja dan kita semua akan apa yang kita lakukan dan sikap hati yang kita miliki. Sangatlah penting bahwa kita semua dapat meletakkan ukuran itu bagi diri kita sendiri. Tentu bukan hanya persembahan yang dimaksudkan di sini, tetapi setiap tindakan yang kita lakukan sebagai ungkapan iman kita haruslah secara pribadi kita nilai berdasarkan sikap hati kita. Pertanyaan penuntun yang mungkin dapat membantu kita adalah: apakah doa-doaku, sikapku di hadapan Tuhan dan persembahanku/pengorbananku sungguh merupakan ungkapan syukur dan kerinduanku akan Tuhan, dan tidak sekedar asal dilihat orang? Semoga usaha kita untuk terus menerus berbenah diri semakin lama semakin mempersatukan kita dengan Tuhan dan membuahkan kedamaian di dalam hidup kita.
Semoga ungkapan pemazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah” juga merupakan ungkapan kita. Kerinduan akan Allah itulah yang menjadi motivasi kita dalam setiap tindakan religius kita. Amin.

Pengumuman Paroki Katedral Makassar; Sabtu-Minggu 10-11 November 2012


Sabtu-Minggu  03-04 November  2012

Mohon perhatian umat untuk beberapa pengumuman Paroki berikut ini.

Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

  1. Rimba Matulatan & Beatrix Olivia                                           ( Pengumuman III)
  2. Irwandi Usmanto Wijaya & Vinawati Arifin                             ( Pengumuman III)
  3. Yosafat Anden & Sherlya Luang                                         ( Pengumuman II)
  4. Hadi Wongso & Christina Lisan                                             ( Pengumuman II)
  5. Ariston Anton Pasada & Yonita       Wijaya                             ( Pengumuman II)
  6. Flori  &  Gloria Odo’                                                           ( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada                  pastor paroki.

1.     Pendalaman  Kitab Suci dilaksanakan setiap Hari Selasa, Pkl 18.00 WITA.  Umat sekalian diajak untuk bergabung dalam acara ini.

2.     Setiap Hari Rabu, jam 6 sore, diadakan kegiatan Lectio Divina   di Ruang Doa Katedral. Marilah kita berdoa dan merenungkan Sabda Allah Bersama-sama. Umat Sekalian diundang untuk bergabung

3.     Disampaikan kepada seluruh DEPAS ini, Para Ketua dan Anggota Seksi Depas, Para Ketua dan Pengurus Rukun dalam lingkup Paroki Katedral Makassar, bahwa: akan diadakan Lokakarya, yang dilaksanakan pada, Kamis, 15 November 2012, pukul 09.00 WITA. Bertempat di Aula Pastoran. Undangannya dapat di perloeh di Sakristi


Sekian pengumuman minggu ini, terima kasih atas perhatiannya.
Tuhan Yesus memberkati kita.





















Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir


Rusia Pada tahun 1600, seorang pemuda berusia 16 tahun dikirim orangtuanya ke kota Wilma, barat laut kota Minak, Rusia, untuk dididik dalam ilmu perdagangan. Pemuda itu adalah Yohanes Kunzewich. Ia rajin belajar dan bekerja; namun sementara itu cepat sekali ia menyadari bahwa bakatnya bukan di bidang perdagangan. Ia sebaliknya lebih tertarik pada hal-hal kerohanian.

Di kota besar itu ia menyaksikan keadaan Gereja Rusia yang kacau balau, oleh pengaruh skisma yang timbul di kalangan umatnya. Umat memutuskan hubungannya dengan Gereja Roma dan tidak lagi mengakui Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja. Tak sukar baginya untuk memilih mana Gereja yang sebenarnya menurut kehendak Kristus. Ia yakin bahwa kebenaran dan cintakasih Kristen tidak ditemukan di dalam cara-cara kekerasan, tipu muslihat dan fitnah sebagaimana terlihat di dalam Gereja Ortodoks. Hidup rohaninya mulai berkembang terlebih dengan turut-sertanya ia di dalam kegiatan-kegiatan liturgi sebagai lektor atau penyanyi. Tidak ada upacara di gereja Tritunggal Mahakudus yang diabaikannya.

Pada tahun 1604 ia masuk biara Tritunggal Mahakudus dan menerima nama baru yaitu Yosafat. Jumlah calon di biara itu kurang sekali; tiga tahun lamanya ia sendiri saja, bersama pemimpin biara, yang bergelar Archimandret. Namun tujuan hidupnya jelas nyata yaitu: bertapa, berdoa dan bermeditasi, serta bermatiraga untuk memohon dari Tuhan persatuan Gereja Ortodoks dengan Gereja Roma dalam kandang kebenaran.

Pada tahun 1609 ia ditahbiskan menjadi imam; delapan tahun kemudian ia menjadi Uskup Polotsk. Yosafat ternyata seorang uskup yang saleh dan keras terhadap dirinya sendiri, tapi murah hati terhadap sesamanya. Ia seorang rasul yang rajin, terutama giat dalam usaha untuk menciptakan persatuan Gereja. Hasilnya nyata: Rusia Putih kembali kepada ikatan cintakasih Kristus di bawah pimpinan wakilnya, Sri Paus di Roma. Banyak orang memusuhi dia karena iri hati terhadap semua usahanya itu. Meskipun demikian ia tidak takut. Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya demi cita-citanya mempersatukan Gereja.

Pada bulan Oktober 1623, ia pergi ke kota Witebesk, benteng orang skismatik dengan maksud menyampaikan kotbah yang jelas mengenai persatuan Gereja Kristus. Sementara itu musuh-musuhnya tetap mencari jalan untuk membunuhnya. Pada tanggal 12 Nopember sesudah Misa, beberapa penjahat masuk ke dalam kediamannya dan secara kejam menyerang dan membunuh pelayan-pelayannya. Uskup saleh ini tampil ke depan dan dengan berani mengatakan: "Aku inilah yang kamu cari. Mengapa kamu membunuh pelayan-pelayanku yang tak bersalah ini?" Yosafat kemudian dibunuh juga dan jenazahnya dibuang ke dalam sungai Dvina.

Kemartirannya membuka mata banyak orang skismatik yang kemudian bertobat dan bersatu dengan Gereja Roma yang benar. Di antaranya ada seorang Uskup Agung Ortodoks, pemimpin kaum oposisi.

Cari Blog Ini