Cari Blog Ini

Jumat, 27 Juli 2012

Choice


Lima ROTI & DUA EKOR IKAN


Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15).

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.


DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin.

MELAYANI KARENA TUHAN, UNTUK TUHAN DALAM SESAMA



Minggu Biasa XVI 

Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Bacaan Inspirasi : Yer.23:1-6; Ef. 2:13-18; Mrk. 6:30-34


Marilah pertama-tama kita perhatikan judul renungan kali ini. Dengan sengaja kara “karena” dan “untuk” ditulis dengan huruf tebal dan miring agar kita memberi perhatian pada makna kedua kata tersebut. Kata “karena” mempunyai arti “sebagai penghubung yang menunjuk pada penyebabnya, alasannya terjadinya sesuatu”. Misalnya dalam kalimat, “Saya sakit perut karena lapar”. Dalam kalimat ini, lapar (keadaan perut kosong) ditunjuk sebagai penyebab saya sakit perut. Dalam kalimat lainnya, “Saya tidak jadi pergi ke pantai karena hujan lebat”. Dalam kalimat ini, hujan yang lebat ditunjuk sebagai alasan saya tidak jadi pergi ke pantai.

Sedangkan kata “untuk” mempunyai arti menunjuk pada “tujuan atau sasaran” yang bercorak langsung. Misalnya dalam kalimat, “Saya membeli susu untuk anak saya yang sedang sakit”. Dalam kalimat ini, anak saya yang sedang sakit menjadi tujuan saya membeli susu dan susu itu diperuntukkan bagi dia. Berbeda dengan kalimat, “Saya membeli susu karena anak saya sakit”. Dalam kalimat ini, anak saya yang sakit menjadi alasan saya membeli susu, tetapi belum jelas susu itu diperuntukkan bagi siapa.

Kata “dalam” hendak menunjukkan makna teologis-spiritual kristiani yang dikaitkan dengan ungkapan “untuk Tuhan dalam sesama”. Kita ingat akan sabda Yesus dalam pengajaran-Nya tentang penghakiman terakhir “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudar-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku” (Mat. 25:40).

Dengan demikian, judul renungan di atas hendak menekankan bahwa penyebab dan alasan kita (mau) melayani adalah Tuhan sendiri, dan tujuan pelayanan itu terarah pada sesama sebagai tanda kehadiran Tuhan.

Konteks bacaan Injil Minggu ini adalah Yesus mengutus ke dua belas murid-Nya setelah mengalami penolakan di kampung halaman-Nya sendiri (Mrk. 6:1-6a). Setelah selesai melaksanakan tugas perutusannya, para murid kembali berkumpul untuk menceritakan “kisah sukses” pelayanan mereka, yakni apa yang telah “mereka kerjakan dan ajarkan” (Mrk. 6:30). Tidak dikatakan dalam Kitab Suci secara detail apa yang mereka beritahukan kepada Yesus berkaitan dengan pelaksanaan tugas mereka. Tetapi dari reaksi Yesus yang kemudian mengajak mereka untuk pergi “ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk. 6:31), kiranya bisa dibayangkan bahwa para murid menceritakan “kisah sukses” pelayanan mereka dengan berapi-api dan penuh semangat. Barangkali mereka hanya memberitahukan kepada Yesus apa yang mereka kerjakan dan ajarkan, tetapi lupa bahwa sebelum berangkat melaksanakan pelayanannya mereka dibekali oleh Yesus. Mereka diberi kuasa atas roh-roh jahat (Mrk. 6:7b) dan kuasa menyembuhkan penyakit (Mrk. 6:15).

Ajakan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi agar mereka membuat suatu refleksi tentang pelaksanaan tugas pelayanan, bukan sekedar laporan tentang pekerjaan dan pengajaran. Agar dapat membuat suatu refleksi / mawas diri, seseorang membutuhkan kesendirian / menyendiri. Artinya, berdialog dengan diri sendiri tentang kekuatan / kemampuan dan kerapuhan / kelemahan hidup dan pelayanannya. Dengan kata lain, Yesus mengajak mereka dalam kesendiriannya itu untuk menyadari kembali “siapa sebenarnya yang memberi mereka kekuatan sehingga mereka mampu mengerjakan pekerjaan dan pengajaran mereka”. Yesus nampaknya memahami betul bahwa kesibukan pekerjaan & pelayanan sering membuat seseorang “lupa” diri dengan sumber dan asal kekuatan dan kemampuan manusia.

Refleksi tentang penyadaran kembali sumber dan asal kekuatan dan kemampuan manusia itu rupanya tidak berlangsung lama. Ketika melihat orang banyak yang datang berbondong-bondong mengikuti mereka, Yesus menjadi terharu. “Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk. 6:34). Kemudian, Yesus mengajak para murid untuk melayani orang banyak tersebut.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia mengecam para gembala karena mereka “membiarkan kambing domba-Ku hilang dan berserak” (Yer. 23:1). Yang dimaksudkan dengan para gembala adalah raja Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Mereka adalah keturunan raja Yosia yang dikenal adil dan benar. Sebagai pengganti raja Yosia, mereka melakukan tindakan pemerintahan yang plin-plan karena hanya memihak pada yang kuat (bdk. Yes. 21:1-22,30). Akibat ketidak-jelasan sistem pemerintahan ini, rakyat menjadi menderita. Mereka berbuat demikian karena mau mencari aman bagi dirinya sendiri dengan mengorbankan kepentingan rakyat umum. Mereka mengandalkan kekuatan diri sendiri dan melupakan kuasa Allah. Mereka mengarahkan tugas pelayanannya bagi keamanan dan kenyamanan diri mereka sendiri dan melupakan kepentingan orang banyak. Sikap mereka, dianggap oleh Yeremia, sebagai sikap yang melawan kehendak Allah.

Bacaan Minggu ini, khusunya Injil dan bacaan pertama, mengajak umat beriman untuk merefleksikan pelaksanaan tugas pelayanannya masing-masing. Umat beriman diajak untuk senantiasa menjadari kuasa dan kekuatan Tuhan dalam setiap pelayanannya, bukan hanya “kisah sukses”nya saja. Pelayanan berasal dari Allah sehingga “kisah sukses”nya semesinya juga milik Allah. Pelayanan juga semestinya diarahkan bagi Allah yang hadir dalam sesama. Dalam pengertian ini, pelayanan semestinya tidak bercorak eksklusif (hanya untuk orang atau kelompok tertentu saja) dan demi kepentingan kelompok atau diri sendiri (pamrih kelompok dan diri sendiri).

This is good


Sebuah kisah lama tentang seorang raja di Afrika yang memiliki seorang sahabat karib. Keduanya bertumbuh dan berkembang bersama-sama sejak kecil hinggah sang sahabat dinobatkan menjadi raja. Sahabat raja itu memiliki kebiasaan yang lain dari lain. Dia biasanya memandang setiap kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, positif atau negatif, dan mengatakan, ”Itu baik!” (“This is good”). Suatu hari kedua sahabat ini pergi berburu di sebuah hutan yang tidak jauh dari istana. Sang sahabat segera mengeluarkan senjata dan mempersiapkannya untuk sang raja. Tampaknya sang sahabat melakukan sesuatu yang salah dalam mempersiapkan senjata-senjata tersebut, karena setelah sang raja mengambil senjata itu dari sahabatnya, dia segera menembakkannya dan salah satu jari tangannya langsung terputus.
Menyadari hal ini, sang sahabat cepat-cepat mengatakan sebagaimana kebiasaan dia, ”Itu baik!”
Sang raja langsung menjawab, ”Apanya yang baik? Ini TIDAK baik!” Sang raja kemudian memprosesnya secara hukum, memperkarakan sahabatnya sendiri dan mengirimnya ke penjara.
Kira-kira setahun kemudian, sang raja sedang berburu di sebuah wilayah yang sebetulnya dia siapa pun dilarang berburu di daerah itu. Sekelompok pemakan manusia menangkap sang raja dan membawanya ke kampung mereka. Tangan sang raja diikat, menyusun kayu-kayu, mendirikan sebuah tiang (stake) pada onggokan kayu-kayu itu dan kemudian mengikat sang raja pada tiang itu.
Ketika mereka hampir menyalakan api untuk membakar onggokan kayu-kayu itu, mereka menemukan bahwa sang raja telah kehilangan salah satu jarinya. Telah menjadi tahayul bagi para pemangsa manusia itu bahwa mereka tidak akan bisa memakan manusia yang tidak sempurna organ tubuhnya. Mereka pun segera melepaskan raja itu dari ikatannya dan membiarkan dia pergi.
Begitu tiba di istana, sang raja langsung teringat akan apa yang terjadi tempo dulu yang telah menyebabkan dia kehilangan salah satu jari tangannya. Dia pun segera merasa bersalah bahwa dia telah memperlakukan sahabatnya dengan tidak baik sehingga sahabatnya sendiri masih dipenjara. Sang raja kemudian bergegas ke penjara, menemui sahabatnya, dan berkata:
”Sahabatku, kamu ternyata benar. Ketika aku kehilangan salah satu jariku, kamu mengatakan bahwa itu baik. Ternyata itu memang baik!”
Sang raja kemudian melanjutkan, “Saya minta maaf karena sudah mengirim kamu ke penjara begitu lama. Ini hal yang sangat buruk bagi saya untuk melakukan hal ini bagi sahabat sendiri. “Tidak sama sekali,” jawab sahabatnya, “Ini pun baik!”
”Apa maksudmu, mengatakan ’ini baik?’ Bagaimana mungkin hal ini baik padahal saya telah menjebloskan kamu ke penjara setahun yang lalu?” ”Jika saya TIDAK masuk penjara, saya pasti bersama-sama Anda ketika kamu ditangkap para pemangsa manusia itu.”

MORAL STORY
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28)
Setiap situasi atau kondisi apa pun tidak selalu menyenangkan ketika kita berada dalam situasi itu. Meskipun demikian, janji-janji Tuhan tidak pernah diingkari-Nya. Jika kita mengasihi Dia dan hidup sesuai dengan sabda dan kehendak-Nya, keadaan yang buruk, menakutkan dan menjijikkan apa pun akan diubah-Nya menjadi keadaan yang baik dan menyenangkan.
Teguhlah beriman, Allah itu setia! Semoga Tuhan senantiasa memberkati hari-hari kita ketika kita berusaha mencari dan menemukan kehendak-Nya dalam setiap situasi dan kesempatan.
Addendum — Kejadian 50:20: Kalian telah bermupakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan.

Tidak ada istirahat bagi yang lelah...


Yesus dan para rasul adalah sehingga saught setelah itu mereka punya sedikit kesempatan untuk beristirahat: Para Rasul berkumpul bersama-sama dengan Yesus dan melaporkan semua mereka telah dilakukan dan diajarkan. Dia mengatakan kepada mereka, "datang pergi oleh diri sendiri untuk sepi tempat dan beristirahat sejenak." Orang-orang datang dan pergi dalam jumlah besar, dan mereka tidak punya kesempatan bahkan untuk makan. Jadi mereka meledak di perahu sendiri ke tempat sepi. Orang melihat mereka meninggalkan dan banyak datang untuk tahu tentang hal itu. Mereka bergegas di sana di kaki dari semua kota-kota dan tiba di tempat sebelum mereka. Ketika ia turun dan melihat kerumunan besar, hatinya dipindahkan dengan belas kasihan bagi mereka, karena mereka seperti domba tanpa seorang gembala; dan ia mulai mengajar mereka banyak hal-hal.-Mark 6: 30-34, NAB
Setelah orang mendengar ajaran Yesus Kristus, mereka thirsted untuk lebih. mereka mengikuti dia, dan para rasul, di mana pun mereka pergi. itu seolah-olah mereka tidak bisa mendapatkan cukup.
Ketika kita memiliki konversi yang benar, asli iman, dapat mulai untuk mengkonsumsi kami setiap pikiran - dan itu bisa menjadi hal yang baik. Yesus dan para rasul lakukan seperti pekerjaan dengan baik mengajar iman, yang orang tidak sabar untuk mendengar lebih banyak. kita mungkin mengalami sesuatu yang serupa.
Aku dapat berhubungan dengan para pengikut awal Kristus. Sementara iman saya, seperti siapa pun, memiliki pangsa pasang dan surut, secara umum, saya suka belajar tentang iman. semakin aku belajar, semakin aku ingin belajar. Apakah itu sebuah buku yang bagus, atau kuliah yang baik, saya menikmati berendam dalam informasi.
Apakah Anda merasa haus ini? Jika Anda tidak, tidak apa-apa. beberapa mungkin lebih tertarik terhadap layanan dari studi. Tapi, untuk jenis yang rajin, satu hal yang saya harus berhati-hati terhadap adalah terbakar diri kita sendiri. seperti api, jika kita terlalu cepat, membakar api kami akan pergi secepat itu terbakar.
Sehat  haus hikmat rohani besar, dan kita harus melakukan apa yang kita dapat untuk memuaskan dahaga kita. belajar semua yang Anda bisa; belajar semua Tuhan telah di toko untuk  Anda; dan, mengikuti dia, dan Rasul Nya, di mana pun mereka mungkin memimpin Anda.
Sumber:http://www.wakingupcatholic.com

Santa Anna dan Santo Yoakim

Jika ada pasangan yang belum punya momongan, jangan putus asa. Dalam kitab suci terdapat bagaimana mereka yang belum punya anak mencari wajah Allah dan bertekun dalam doa, mohon rahmat dan karunia. Ishak adalah anak Abraham dan Sarah yang mereka peroleh pada masa tuanya. Hana isteri Elkana sering dihina oleh Penina, isteri kedua suaminya. Hana berdoa sujud sampai Tuhan menjamah rahimnya. Doanya dikabulkan sehingga ia melambungkan pujian: "Hatiku bersuka ria karena Tuhan, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh Tuhan." Zakaria dan Elisabet dijanjikan Tuhan untuk dapat anak di masa tuanya. Suaminya tidak percaya sehingga lidahnya kelu dan mulutnya bisu. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Anak Zakaria dan Elisabet adalah Yohanes Pembaptis yang berseru-seru dipadang gurun: "Luruskanlah jalan Tuhan." Sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tak henti-hentinya mengharapkan karunia Tuhan berupa seorang anak. Setiap tahun, Anna dan Yoakim berziarah ke Bait Allah di Yerusalem untuk berdoa. Mereka bernazar, kalau Tuhan menganugerahkan kepada mereka anak, maka anak itu akan dipersembahkan kepada Tuhan.

Syukurlah bahwa pada suatu hari malaikat Tuhan mengunjungi Anna yang sudah lanjut usia itu membawa warta gembira; "Tuhan berkenan mendengarkan doa ibu! Ibu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan membawa suka cita besar bagi seluruh dunia!" Dengan kegembiran dan kebahagiaan yang besar Anna menceritakan warta malaikat Tuhan itu kepada Yoakim.

Setelah genap waktunya, lahirlah seorang anak wanita yang manis. Bayi ini diberi nama Maria, yang kelak akan mengandung Putera Allah yaitu Yesus Kristus, juru selamat dunia.

Kehidupan Anna tidak terdapat dalam Injil-injil. Kisah mengenai Anna dan Yoakim diperoleh dari kitab Apokrifa dari abad ke dua Masehi. Orang Yunani mendirikan Basilica untuk menghormati ibu Anna di Konstantinopel 550M. Paus Gregorius XIII (1572-1585) mengumumkan penghormatan kepada Ibu Anna di seluruh gereja pada 1584M. Arti nama Yoakim - Persiapan bagi Tuhan dan Anna berarti - Rahmat atau Karunia.

SEJENAK KE TEMPAT SUNYI


KESADARAN YANG BERTUMBUH
Terasa betapa besarnya semangat para utusan yang kembali tadi. Kiranya mereka berhasil dan diterima di mana-mana. Mereka merasa bisa leluasa berbicara mengenai siapa Yesus yang bakal datang ke tempat itu. Tidak dirincikan apa yang mereka sampaikan. Tetapi boleh kita simpulkan dari sebuah peristiwa lain yang dicatat dalam Markus 8:27-30. Di Kaisarea Filipi, dalam perjalanan berkeliling dari tempat ke tempat, Yesus menanyai para murid apa kata orang mengenai siapa dia itu. Ada pelbagai pendapat: Yohanes Pembaptis, Elia, atau seorang nabi. Begitulah pengertian orang banyak sebelum mendengar pewartaan para rasul. Kemudian Yesus pun menanyai murid-muridnya siapa dia menurut mereka sendiri. Mewakili para murid, dalam Markus 8:29 Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Inilah keyakinan mereka. Dan tentunya keyakinan inilah yang mereka bawa kepada orang banyak. Tetapi ada masalah. Bagaimana dengan larangan keras Yesus agar jangan memberitahukan tentang dia kepada siapa pun pada akhir peristiwa itu (Markus 8:20). Tetapi Yesus tidak menyangkal kemesiasan yang diyakini para murid tadi. Yang tidak dimauinya ialah mengobral sebutan Mesias begitu saja dengan akibat mudah disangkut-pautkan dengan pergerakan mesianisme politik waktu itu. Dari peristiwa ini dapat diperkirakan bahwa yang diberitakan para utusan tadi ialah kemesiasan Yesus yang sejati. Itulah yang mereka sampaikan dalam ujud ajakan agar orang berpikiran luas ("bertobat") dan menjadi manusia utuh (tidak dikuasai "setan" dan "penyakit") seperti tertulis dalam Markus 6:12-13. Dengan menyampaikan keyakinan ini, para rasul sendiri juga semakin menyadari siapa Yesus itu. Inilah kiranya yang sekarang dibicarakan para rasul di hadapan sang Guru. Sementara itu orang banyak juga berdatangan mengerumuni para rasul yang sedang berkumpul kembali dengan Yesus. Orang-orang pergi datang menemui murid-murid dan guru mereka sehingga makan pun mereka tak sempat (Markus 6:31). Catatan ringkas Markus itu menunjukkan betapa besarnya harapan orang-orang itu. Makin terasa bedanya dengan orang-orang yang mempertanyakan wibawa Yesus dalam Markus 3:20-30. Di sana, di sebuah rumah, orang banyak mengerumuninya. Markus menambahkan bahwa "makan pun mereka tidak dapat" karena tidak mau kehilangan kesempatan mendekat kepadanya. Tapi di tempat seperti ini, ironinya, sanak dekat Yesus sendiri menganggapnya "tidak waras lagi", dan ahli-ahli Taurat mengatakan Yesus "kerasukan Beelzebub", nama setan yang ditakuti. Kini dalam Markus 6:30-34 komentar-komentar sumbang seperti itu tidak lagi terdengar. Orang-orang yang berdatangan mengikuti para rasul menemui Yesus itu penuh antusiasme dan harapan.

MENDALAMI PENGALAMAN
Dalam keadaan itu, Yesus mengajak para murid pergi ke tempat yang terpencil, Yunaninya "eremos", untuk sejenak beristirahat. Mereka pun berkayuh ke seberang danau. Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menyebut tempat terpencil sama dengan kata yang dipakai bagi padang gurun. Tetapi tempat terpencil kali ini ialah perahu, tempat mereka berada hanya dengan guru mereka. 
Yesus mengajak murid-murid untuk menyepi seperti dia sendiri dulu di padang gurun. Dulu di padang gurun Yesus semakin menyadari pernyataan dari Surga bahwa ia anak terkasih dan kepadanya Allah berkenan (Markus 1:11-12). Para rasul baru saja mengalami keberhasilan dalam berwarta dan menyembuhkan orang dari kuasa roh jahat dengan kuasa yang dibekalkan Yesus. Mereka perlu mengendapkan pengalaman ini. Bila tidak, mereka nanti bisa jatuh dalam tindakan pengusiran setan dan penumpangan tangan serta macam-macam talk show dan tidak lagi melihat inti pelayanan yang sebenarnya. Mereka mulai mengalami bagaimana memakai bekal kuasa atas roh jahat. Perkara yang tidak bisa dilakukan dengan asal saja. Begitulah setapak demi setapak mereka diikutsertakan dalam pelayanan Yesus kepada orang-orang sezamannya. Di tangan orang yang keyakinannya kurang lurus dan mendalam, kuasa seperti itu malah bisa disalahgunakan untuk menunjukkan kebesaran diri, bukan menyiapkan kedatangan sang Guru. lebih parah lagi, yang mau memakainya secara asal-asalan bisa celaka. Diceritakan dalam Kis. 19:13-20 nasib ketujuh anak Skewa yang mau mengusir setan atas nama Yesus. Tapi orang yang kerasukan di Efesus itu malah menertawakan, lalu menubruk ketujuh dukun mogol itu dan menindih mereka sambil menghajar sampai mereka babak belur dan lari terbirit-birit telanjang.
Kita tidak mendengar seluk beluk yang terjadi selama para rasul berlayar bersama Yesus. Boleh jadi sang Guru memberi petunjuk-petunjuk. Boleh jadi mereka bertanya mengenai macam-macam roh. Bisa jadi tak banyak yang diperkatakan. Tetapi mereka akan teringat pengalaman pernah ketakutan di perahu yang diombang-ambingkan angin ribut dan amukan ombak. Ketika itu Yesus tetap bisa tidur enak. Mereka juga menyaksikan bagaimana Yesus menghardik diam gelombang dan badai. Masih terngiang kata-kata Yesus: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Markus 4:40). Kini, juga di perahu, dalam suasana tenang mereka akan mengingat kembali kejadian tadi. Betapa jauhnya ketakutan tadi, betapa jauhnya ketakpercayaan tadi. Kuasa hebat itu juga sudah bisa dibekalkan kepada kami. Dan bisa kami pakai menolong orang. Dan tentunya ada banyak hal lagi yang terkilas dalam benak mereka dan mereka endapkan di saat-saat hening bersama sang Guru ini.

DINAMIKA DI TEPI DANAU
Orang banyak yang tadi berkerumun sempat melihat Yesus dan murid-muridnya naik perahu menjauh. Orang-orang itu tahu ke mana Yesus dan para murid pergi dan mendahuluinya lewat jalan darat. Tentunya perahu berhenti di tengah danau dan di situ para murid diajak sang Guru mendalami pengalaman batin. Karena itu orang-orang yang mengikuti lewat jalan darat lebih dahulu sampai. Mereka menunggu Yesus dan murid-muridnya. Ketika turun dari perahu dan melihat orang banyak sudah di sana maka Yesus tergerak hatinya melihat mereka seperti domba yang tidak ada gembalanya. Yesus pun mengajarkan banyak hal kepada mereka. Tersirat kritik kenabian dari pihak Yesus. Para pemimpin masyarakat Yahudi membiarkan orang banyak tak terurus. 
Apa kiranya "banyak hal" yang disebut Markus diajarkan Yesus kepada orang-orang itu (Markus 6:34)? Injil Matius tidak menyebutkannya. Boleh jadi Matius mengandaikan pembacanya sudah tahu. Tetapi dari Injil Lukas dapat sedikit didengar apa yang dimaksud Markus dengan "banyak hal" itu. Dalam Lukas 9:11 disebutkan Yesus menerima orang banyak yang sudah menantikan di luar tempat ia berada dan "berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah". Dan kiranya banyak hal yang diajarkan kepada orang-orang tadi ialah mengenai Kerajaan Allah.. Mereka seperti domba tanpa gembala. Kini gembala yang mereka temukan ialah yang membawa mereka ke dalam Kerajaan Allah. Dan hari itu banyaklah yang mereka peroleh dari pengajaran dari Yesus. Mereka mendapat makanan batin. Dan sebentar lagi mereka akan mendapat makanan berlimpah juga.
Kumpulan orang tidak akan bergerak bila tidak digerakkan. Cukup bila ada orang yang berinisiatif dan yang lain-lain akan ikut. Bisa dilihat dalam tiap kerumunan. Dan biasanya terjadi bila ditargetkan ke satu hal. Misalnya arena tontonan pemusik rock, pertokoan dan rumah yang dijarah dalam amuk masa, atau seperti di sini, kelompok Yesus dan murid-muridnya. Apa yang dapat kita simpulkan? Di antara orang yang berduyun-duyun datang tadi pasti ada murid para rasul yang menyemangati dan menggerakkan orang berjalan ke tepi lain danau mendahului Yesus dan murid-muridnya. Para penggerak itu tidak disebutkan secara khusus. Tetapi kehadiran mereka tak diragukan. Dan mereka itulah nanti yang akan menghidupkan kelompok ini. Mereka inilah yang mendengar dan mencatat "banyak hal" yang diajarkan Yesus. 
Bacaan dari Markus 6:30-34 ini boleh jadi membuat kita ingin menjadi tokoh-tokoh yang ada di sana. Akan kurang realistis bila kita tempatkan diri kita sebagai Yesus atau para rasul. Sebaiknya mereka ini diamat-amati, didengarkan, dikenali. Kita akan belajar banyak dari mereka. Tapi ada dua peran lain yang dapat diikuti, yakni orang banyak yang antusias dan penuh harapan dan para penggerak mereka yang tak disebut, tapi hadir dan bekerja di antara mereka. Banyak yang dapat terjadi. Mereka saling menguatkan. Mengusahakan perbaikan. Membaca keadaan dan menghadapi dengan kekuatan harapan dan kepercayaan. Dan masih banyak lagi yang bakal muncul dalam kehidupan nyata. Dan semuanya ini boleh terjadi di sana, di tempat ia sudah ditunggu.

Jumat, 13 Juli 2012

Mengebaskan debu kekeliruan


Hari Minggu Biasa XV
Oleh: Pastor Paulus Tongli, Pr
Bacaan Inspirasi : Markus 6:7-13


Saya pernah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang tukang kayu sederhana. Kala itu saya mendapat tugas di suatu paroki. Pada hari pertama saya menempati pastoran, saya melihat beberapa hal yang harus dibenahi di pastoran itu. Saya memanggil seorang tukang kayu untuk membantu saya membenahinya. Pada hari pertama, tukang kayu itu sudah sungguh mengecewakan saya. Ia terlambat datang untuk bekerja, padahal digaji harian. Sementara bekerja, gergaji listrik yang dipakainya rusak. Pada akhir hari ia tidak dapat pulang sendiri, karena motor bututnya tidak mau distater lagi. Saya harus mengantar tukang kayu itu pulang ke rumahnya. Setiba di rumahnya, tukang kayu itu mengundang saya untuk bertemu dengan keluarganya. Ketika kami menuju ke pintu masuk rumahnya, tukang kayu itu berhenti sejenak di sebuah pohon kecil, menyentuh dahan pohon itu dengan kedua tangannya baru membuka pintu dan masuk. Ia tersenyum ke arah keluarganya dan menyambut kedua anak kecilnya dengan kedua tangannya dan memberikan ciuman kepada istrinya. Setelah itu ia memperkenalkan saya dengan keluarganya. Ketika saya pamit, dengan rasa penasaran saya bertanya kepada tukang kayu itu, mengapa ia tadi bergantung pada pohon itu sebelum memasuki rumah. “Oh, itu adalah pohon kekuatiran saya” jawabnya. “Saya tahu bahwa saya punya banyak masalah di perkerjaan, tetapi satu hal yang sangat saya usahakan, persoalan tidak boleh masuk ke dalam rumahku, tidak boleh menjadi persoalan bagi istri dan anak-anak saya. Itulah sebabnya saya menggantungkan persoalan-persoalan pekerjaan di pohon itu setiap kali saya kembali ke rumah. Pagi hari saya mengambilnya kembali. Anehnya, bilamana setiap pagi saya keluar untuk mengambilnya, persoalan itu tidak lagi sebanyak yang saya gantung kemarinnya.” 

Memiliki pohon kekuatiran adalah cara tukang kayu itu mengurangi kekeliruan dan masalah hariannya yang kadang-kadang tampaknya terlalu berat. Karena masalah dan kekeliruan merupakan bagian dari hidup, kita semua membutuhkan pohon kekuatiran. Itulah sebabnya Yesus, ketika mengutus para muridnya untuk mewartakan injil, membekali mereka dengan pohon kekuatiran. “Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka” (Mrk 6:11). Dengan kata lain, jika engkau mencoba untuk mengajar orang-orang di suatu tempat tertentu, dan engkau menjumpai kekeliruan, janganlah membiarkan penolakan itu mematahkan semangatmu. Kebaskan debu kampung itu, dan pergilah ke kampung yang lain dan mulai lagi suatu halaman yang baru. Mengebaskan debu dari kaki adalah cara yang lain dari menggantungkan masalah pada pohon kekuatiran. 

Seperti para murid dan tukang kayu yang bijaksana, kita membutuhkan sebuah pohon kekuatiran. Mengapa? Karena kekeliruan dan masalah sering merupakan hambatan untuk memulai lagi secara baru dalam hidup seseorang. Kadang-kadang kita terlalu lama menyesali kekelirauan masa lalu dan membiarkan kekeliruan itu menggerogoti semangat hidup dan kegembiraan kita. Kadang-kadang kita membiarkan masalah dan tekanan-tekanan di tempat kerja menghancurkan kedamaian di dalam kehidupan keluarga kita. Agar hal ini tidak terjadi, kita membutuhkan pohon kekuatiran, di mana kita dapat menggantung dan melupakan masalah-masalah kita, sekurang-kurangnya untuk sementara waktu. Pada akhir setiap hari kita perlu untuk mengebaskan debu kecemasan dan kekeliruan dari kaki kita, karena yakin bahwa hari esok adalah hari baru dengan segala kesempatan yang baru. Berusahalah supaya setiap hari baru menjadi seperti suatu permainan sepak bola. Setiap permainan selalu dimulai dari skor 0-0, meskipun pada hari sebelumnya kita mengalami kekalahan 3-0. 

Apa yang terjadi bila kita tidak memiliki sebuah pohon kekuatiran? Jika kita tidak memiliki cara untuk mengebaskan debu kekeliruan kemarin dari kaki kita, debu itu akan semakin tebal dan semakin berat. Akibatnya adalah depresi dan keterpurukan akan semakin dalam. Akhirnya suatu saat kita akan menyerah. Kita akan tinggal diam dan tidak akan pergi lagi ke kampung yang lain, tidak akan memulai lagi proyek yang baru. Tetapi Yesus tidak menginginkan kita menjadi orang yang duduk tenang. Ia menginginkan kita untuk menjadi orang yang selalu berani mulai lagi setiap hari secara baru. Setiap hari yang baru membawa tantangan baru dan kesempatan-kesempatan yang baru. 

Sebagai umat Allah, hari ini adalah hari yang baik untuk berterima kasih kepada Allah atas semua antisipasi yang diberikannya kepada kita untuk menghadapi kekeliruan, kelemahan dan ketidaksempurnaan kita. Orang-orang yang beriman kepada Allah bukanlah orang yang sempurna dan tanpa kesalahan, mereka adalah orang yang menyadari kesalahannya, menyesalinya, meninggalkan kesalahan itu dan bergerak maju dan memulai setiap hari baru dengan suatu harapan yang baru. Allah yang berbelas kasih telah membekali kita dengan sebuah pohon kekuatiran, itulah Kristus. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran” (1 Pet 2:24). Melalui sakramen-sakramen, khususnya sakramen rekonsiliasi, kita terhubungkan dengan pohon kehidupan ini. Kita juga dapat melakukan hal itu melalui doa harian bilamana kita melakukan kata-kata St. Petrus kepada kita, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Pet 5:7).

Berjalan dan Berhenti


Seorang penyanyi terkenal. Suatu saat ketika didatangi dan diayu-ayukan oleh para pengagumnya, berkata dengan nada pahit: Ketika aku masih muda, saya berusaha keras mendaki puncak karierku. Saat itu aku seperti layaknya seekor kuda yang sedang menempuh jalur perlombaan; tak ada sesuatu yang lain yang mampu menarik perhatiannya kecuali garis finish.
  Melihatku yang sedemikian sibuk, nenekku memberikan nasihat; Anakku, jangan berjalan terlalu cepat. Karena sepanjang jalanmu ada banyak pemandangan menarik.

  Namun aku tak pernah mendengarkan kata-katanya. Dalam hatiku aku berpikir, bila seseorang telah melihat secara jelas arah perjalanannya, mengapa harus menyia-nyiakan waktu untuk sekedar berhenti sejenak? Dengan pikiran yang demikian, aku terus berlari ke depan. Tahun silih berganti dan aku memperoleh kedudukan, nama serta harta yang aku idam-idamkan sejak lama. Aku juga memiliki sebuah keluarga yang amat kucintai. Namun aku tak pernah merasa bahagia. Aku heran dan terus bertanya, di manakah letak kesalahannya sehingga aku tak bahagia?.

  Setelah diam cukup lama berdiam diri, penyanyi itu melanjutkan, Suatu saat, kelompok musik kami ikut pentasan di luar daerah. Akulah penyanyi utamanya. Setelah selesai pentasan, semua yang hadir bertepuk tangan bersorak-sorai tanpa henti. Pentasan saat itu sangatlah berhasil. Namun saat orang sedang bersorak-sorai itulah aku dilanda kesedihan mendalam. Seseorang memberikan telegram kepadaku yang dikirim oleh isteriku. Anak kami yang keempat baru saja dilahirkan. Setiap kali anak-anakku dilahirkan aku selalu berada jauh dari isteriku, cuma dialah yang harus menanggung beban penderitaan seorang diri. Aku tidak pernah melihat bagaimana anak-anakku mulai membuat langkah pertama, belum pernah mendengar bagaimana mereka tertawa atau menangis. Aku hanya mendengar semuanya itu dari cerita ibunya. Kata-kata nenekku kini terngiang lagi di telingaku....

  Sungguh, aku telah kehilangan banyak teman, sudah lama aku tak pernah menyentuh buku-buku, dan serasa hampir seabad aku tak pernah menikmati indahnya bunga yang sedang mekar di taman atau hijaunya pohon-pohon serta merdunya kicau burung. Aku terlampau sibuk!!!!!.

  Seorang bijak berkata; Kita tak dapat hidup hanya dengan berpikir tanpa bekerja. Namun hidup ini menjadi amat tak berarti bila kita bekerja seperti sebuah mesin yang bergerak tanpa henti. Kita butuh waktu luang untuk menilai kembali masa silam, serta menentukan arah masa depan yang baru.

  Ketika berjalan, kita mengarah ke suatu tujuan tertentu. Ketika berhenti kita memupuk tenaga baru untuk memulai perjalanan selanjutnya. Kita tak pernah dapat berjalan terus menerus tanpa akhir. Suatu saat, kita akan menjadi lelah, mulai menua dan mungkin akan menyesali semua hal yang telah terlewatkan selama ini.

KEBANGUNAN ROHANI KATOLIK


Pertemuan Prodiakon


Misa Marriage Encounter


Diutus untuk Berbagi Pengalaman Iman

Berikut kami sampaikan isi homili Mgr. John Saklil Pr, Ketua Komisi Kepemudaan KWI, saat mencanangkan Indonesian



Youth Day 2012 pada kesempatan misa pencanangan IYD 2012 di Katedral Jakarta, Januari 2012Bagi mereka yang akan diutus untuk menyelenggarakan IYD 2012 di Sanggau. Belajar dari pengalaman Yeremia usia muda Yeremia, Allah mengutus Yeremia menjadi nabi bagi bangsa-bangsa untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, membangun dan menanam. Wajarlah, Yeremia di usia muda itu merasa ragu dan tidak siap karena segala keterbatasannya itu. Namun Allah tidak peduli akan semuanya itu dan Allah mengatakan : “Aku menetapkan dan mengutus kamu untuk menjalankan rencana-Ku”. Demikian pula dengan pengalaman para nabi dalam perjanjian lama bahwa Allah mengutus dengan tidak memperhitungkan keberadaan orang-orang muda seperti Musa. Allah mengutus seseorang bukan karena kemampuan dan kuasanya, bukan karena kemudaan dan kemapanannya…tetapi Allah mengutus karena Allah mencintai. Musa dan nabi lain bertanya yang sama apa yang menjadi jaminan Allah agar mereka bisa melaksanakan rencanaNya, sementara mereka merasa mereka tidak punya sesuatu untuk menjalankan tugas yang berat itu. Satu-satunya jaminan yang Allah janjikan kepada mereka adalah Aku akan menyertaimu kapan dan di manapun, dan dalam peristiwa dan pengalaman apapun, Aku akan selalu menyertaimu kalau kamu melaksanakan kehendakKu.

Apa yang dapat kita jalankan dalam tugas perutusan di IYD 2012 di Sanggau. Belajar dari Injil tentang perjalanan dua murid ke Emaus. Peristiwa penyaliban dan situasi politik di Yerusalem membuat murid-murid merasa kehilangan Tuhan. Hidup bersama Tuhan dan perjalanan panjang dengan Tuhan, hilang seketika karena peristiwa yang mencekam Yerusalem. Pengalaman dua murid ke Emaus bersama Yesus, pada awalnya, dianggap sebagai orang asing. Mereka melihat Yesus tetapi tidak mengenal. Mereka mendengar Yesus tetapi tidak mengerti. Kepada Yesus dikatakan: “Apakah engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem..”. Pada akhirnya, kata-kata dan pengalaman bersama Yesus menyadarkan mereka bahwa Dia bukan orang asing. Yesus sendiri hadir secara nyata bersama mereka. Kedua murid itu pergi bersaksi bahwa Yesus tidak meninggalkan mereka.

Para muda yang dikasihi Tuhan,

Pengalaman iman yang kurang kuat bisa di ombang – ambing oleh kenyataan di luar kita. Sebaliknya Tuhan dan ajaranNya tidak akan pernah meninggalkan mereka yang percaya. Perutusan kita adalah mengantar orang muda katolik untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan agar mereka percaya bahwa Tuhan selalu menyertai mereka. Seorang yang diutus untuk mengantar orang muda kepada Tuhan adalah orang yang percaya bahwa Tuhan selalu menyertainya. Tugas perutusan adalah membagi pengalaman iman kepada setiap orang muda bahwa Tuhan akan tetap selalu menyertai siapapun yang percaya kepada-Nya. Tugas ini berat karena banyak hal dalam hidup ini yang membuat kita tidak percaya seperti pengalaman pertama perjumapaan Tuhan dengan dua orang murid yang ke Emaus.

Melalui pesan-pesan dari bacaan hari ini, saya mengajak kita untuk mendalami tema Indonesia Youth day Sanggau 2012. Orang muda katolik dalam perjalanannya diharapkan dapat berakar dan membangun hidupnya dalam Kristus. Tema ini menjadi bahan katekese dalam even besar IYD tetapi juga menjadi bahan katekese dalam pendampingan orang-orang muda di zaman yang penuh tantangan ini. Berakar menjadi simbol iman yang mempengaruhi kedalaman hidup orang muda. Tugas utama gereja sangat berat karena kita diajak untuk mewariskan/membekali/menginvestasi iman bagi orang muda agar hidupnya berakar dalam kristus. Akar yang baik akan menghasilkan pohon yang subur dan buah yang melimpah. Untuk mencapai tujuan ini saya menyadari tidak segampang yang saya katakan. Mengapa ?

- Karena banyak orang muda terbentuk dalam keadaannya nyata keluarganya.
- Karena banyak orang muda yang hidupnya penuh dengan beban kemiskinan
- Banyak orang muda yang terjerat dalam budaya dan lingkungan yang tidak membebaskan mereka mengeskploitasikan jati dirinya
- Banyak orang muda dengan pendidikan yang sangat terbatas , tidak mampu bersaing di zaman modern ini
- Banyak orang muda menyalahgunakan fasilitas media dan komunikasi untuk mencari sensasi yang merugikan
- Banyak orang muda yang mencari pengakuan dalam tindakan-tindakan kekerasan, narkoba, alkohol yang semuanya mematikan masa depannya
- Banyak orang muda yang gampang diperalat untuk komsumsi politik dan ekonomi para elit bangsa.

IYD bukan satu-satunya cara untuk mengatasi semua permasalahan orang muda. Namun IYD diharapkan bisa turut mempengaruhi orang muda katolik yang hadir untuk mengakarkan dan membangun hidupnya dalam Kristus dan IYD bisa memperngaruhi semua pihak untuk membangun kepedulian bagi orang muda dengan permasalahannya. Orang muda membutuhkan kesempatan dan dukungan untuk mengatasi dirinya sendiri. Saya percaya orang muda bisa menjawab kebutuhannya sendiri kalau diberi ruang dan kesempatan untuk itu. IYD bukan semata- mata suatu even tetapi suatu gerakan bersama dari apa yang sudah dimulai di tingkat paroki dan keuskupan dan suatu gerakan untuk membekali orang muda dalam pergumulannya di setiap lingkungan kita berada. IYD yang terbatas dalam jumlah peserta dan kapasitasnya, hendaknya menjadi suatu gerakan awal untuk menyadarkan kita semua bahwa :

- wajah orang muda katolik adalah wajah kristus dewasa ini
- wajah orang muda katolik adalah wajah gereja sekarang ini
- wajah orang muda katolik adalah wajah bangsa sekarang ini

Hari ini anda diutus untuk menjalan tugas pelayanan bagi orang muda katolik melalui Indonisian Youth Day 2012. Tugas ini berat dan belum ada jaminan apapun kecuali kita percaya bahwa Tuhan menyerti kita seklian. Inilah satu jaminan dari Tuhan bahwa Ia akan menyertai kita.

Dan saya percaya : anda bisa …. kamu bisa …dan kita semua bisa mensukseskan Indonesia Youth Day 2012 di Sanggau. Selamat bertugas dan Tuhan menyertaimu. Amin

Tugas Murid Yesus


Setiap status yang dimiliki oleh seseorang selalu membawa konsekuensi bagi orang yang memiliki status tersebut. Seorang bujangan yang baru saja menikah misalnya saja, dengan statusnya yang baru sebagai kepala rumah tangga ia semestinya tidak pantas lagi bersikap seperti seorang bujangan. Ia dituntut untuk lebih mampu menunjukkan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Demikian juga halnya dengan seorang yang berstatus murid Yesus. Dengan materai baru pembaptisan yang terpahat dalam jiwanya, seorang murid Yesus juga mempunyai tanggungjawab atau tugas tertentu. Tanggungjawab atau tugas seorang murid Yesus adalah melanjutkan karya pelayanan Yesus. Oleh karena itulah dalam Injil hari ini Yesus mengutus murid-Nya pergi berdua-dua sebagai saudara dan saksi-saksi serta diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat yang membelenggu manusia dalam penyakit atau yang membuat manusia berperilaku buas dan menakutkan. Tugas perutusan untuk mengusir roh-roh jahat atau setan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya itu harus diteruskan sampai dengan saat ini. Kuasa jahat atau setan masih menguasai banyak orang di jaman ini dan sebagai akibatnya terjadi penderitaan yang besar pada amat banyak orang. Kuasa-kuasa jahat itu nampak bukan dalam bentuk hantu atau roh-roh yang menakut-nakuti atau mengganggu manusia seperti yang seringkali dibayangkan oleh banyak orang. Namun kuasa-kuasa jahat itu pertama-tama nampak dalam tindakan-tindakan kekerasan dan ketidakadilan yang semakin merajalela dimana-mana. Mampukah kita murid-murid Yesus di jaman ini mengalahkan kuasa-kuasa jahat itu? Siapakah kita ini sehingga kita diutus dan diberi tugas untuk menghalau kuasa-kuasa jahat itu? Sadarkah kita bahwa Tuhan Yesus mempercayai kita untuk melaksanakan tugas perutusan yang amat luhur ini?
Tuhan Yesus telah memberi kuasa kepada paa murid-Nya untuk mengusir setan dan roh-roh jahat. Kegagalan kita di jaman ini mungkin terjadi karena kita kurang berani menghayati pesan-pesan tersebut karena kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri dan dengan hal-hal duniawi. Kita kurang mampu menyadari bahwa kita dipanggil untuk membangun dunia baru yang bebas dari kuasa-kuasa jahat. Kerajaan Allah sudah dekat kalau kekuasaan kejahatan dihalaukan dan orang-orang sakit diperhatikan dan dilayani.
Sumber:http://gerejafransiskus.com

Utusan Yesus


"Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan"
Salah satu profesi sampingan saya adalah sebagai wartawan musik, khususnya jazz. Dalam event2 jazz biasanya saya ikut meliput atau wawancara, baik sendiri atau terkadang bareng rekan dari radio. Suatu kali saya ngobrol dengan rekan saya dari sebuah radio, dia berkata sedang menunggu free pass untuk masuk ke sebuah event jazz. Harga tiketnya sendiri sebenarnya cukup murah, tapi dia hanya mau datang jika mendapatkan tiket gratis atau free pass. "gue nggak mau keluar duit, ini kan tugas, ya harusnya difasilitasi dong.." begitu kira-kira katanya. Fasilitas itu bukan cuma kesempatan masuk gratis, tapi juga ongkos lainnya alias uang jalan. Saya rasa apa yang ia katakan masuk akal, karena untuk urusan itu tentu ada beberapa ongkos yang harus ia keluarkan selama perjalanan. Bagi anda yang mengutus salah seorang pegawai untuk mengantar barang atau menyampaikan sesuatu pada orang lain juga pastinya harus memberikan ongkos atau uang saku untuk dijalan. Ini bukan hal aneh, bukan hal unik, bukan hal baru, tapi merupakan hal yang hampir setiap saat kita lakukan. Yang unik justru ayat bacaan hari ini, ketika Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk tugas seperti yang dilakukan Yesus.
Apa yang dilakukan Yesus cukup unik. Dia mengutus murid-muridNya berdua-dua alias berpasangan, dan melarang mereka membawa apapun, termasuk bekal dan uang. Ini bentuk utusan Tuhan, untuk sebuah tugas Ilahi. Kalau dipikir-pikir, untuk tugas biasa dari atasan yang orang biasa juga kita akan protes kalau ditugasi tanpa dibekali apa2. Katakanlah orang yang diutus pemimpin sebuah negara, dia pastilah harus tampil rapi, kalau bisa dengan stelan jas mewah dan berpenampilan ekstra keren. Bagaimana dengan sebuah tugas dari Tuhan? Tuhan Yesus malah melarang utusan-Nya membawa bekal.
Sepintas mungkin aneh, tapi kalau kita cermati baik-baik, Tuhan Yesus mengajarkan tiga hal penting. Satu, Yesus mendidik para muridNya untuk percaya sepenuhnya pada Dia. Tidak bergantung pada harta, materi dan atribut-atribut duniawi lainnya, tapi berharap penuh pada apa yang disediakan Allah buat mereka. Kedua, segala kemewahan mudah untuk membuat orang berubah menjadi sombong, tapi sebagai murid Yesus, yang selalu berpegang pada kasih setia Allah akan terhindar dari kesombongan. Ketiga, Yesus tahu bahwa sebagai manusia, para murid-muridNya, termasuk kita, bisa setiap saat menjadi lemah, terkadang bisa hilang motivasi, lelah dan sebagainya, maka Dia mengutus berpasang-pasangan, bukan sendirian, agar bisa saling membantu dan menguatkan. 
Tugas mewartakan kasih Tuhan Yesus, mewartakan siapa pribadi Yesus kepada saudara-saudara kita bukanlah tugas ringan. Tapi bukan pula tugas yang tidak mungkin dilakukan. Jika kita mengalami kasih Yesus dan bersungguh-sungguh dalam komitmen mengabarkan Injil, kitapun akan mendapat kekuatan dari Allah. Kita tidak akan pernah ditinggalkan sendirian, kita juga akan dilengkapi dengan kuasa-kuasa yang siap dipakai untuk mengemban tugas Amanat Agung. Apakah lewat perbuatan, lewat perkataan, lewat mukjizat, atau apapun yang bisa kita lakukan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Tidak perlu takut atau malu dalam mewartakan Injil, tidak perlu ragu, atau merasa tidak sanggup, karena kuat kuasa Tuhan akan selalu beserta kita setiap saat.

Jumat, 06 Juli 2012

PANGGILAN KENABIAN


Hari Minggu Biasa XIV


Pastor Sani Saliwardaya, MSC

Bacaan Inspirasi : Yeh. 2:2-5; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6


Semula, Yehezkiel adalah seorang imam pada zaman Raja Yoyakim memerintah Israel (bdk. Yeh. 1:1-3). Ketika Israel dikalahkan Nebokadnesar, Raja Babel, Raja Yoyakim beserta orang-orang dekatnya ditawan dan diasingkan ke Babel. Yehezkiel, sebagai imam penasehat Yoyakim juga termasuk dalam rombongan yang diasingkan itu. Di tempat pengasingan di Babel itulah, Yehezkiel mendapatkan panggilan Tuhan untuk menjadi nabi. DIa diutus bukan hanya sebagai imam yang mempersembahkan korban di tanah orang asing, tetapi juga menyampaikan Sabda Allah kepada bangsa Israel yang ada dipembuangan.

Bangsa Israel, di masa pembuangan itu mengalami keputus-asaan yang cukup berat. Sebagai bangsa terpilih, yang semestinya dilindungi dan diberkati oleh Tuhan, mereka ternyata kalah dalam peperangan bahkan menjadi bangsa terbuang. Mereka merasa Tuhan tidak lagi berada di pihak mereka. Mereka memberontak kepada Tuhan (bdk. Yeh.2:3) Dalam situasi di mana bangsanya mengalami pemberontakan terhadap Tuhan itulah Yehezkiel mendapatkan panggilan dan perutusan Tuhan, Yehezkiel dipanggil untuk menyampaikan Sabda Tuhan kepada mereka (bdk. Yeh.2:4). Yehezkiel mendapatkan suatu tugas perutusan yang tidak mudah, tetapi dia harus menyampaikan Sabda Tuhan, entah mereka mau mendengarkan atau tidak (bdk. Yeh.2:5), yang penting mereka tahu bahwa ada seorang utusan Allah di antara mereka; seorang utusan Allah yang akan senantiasa mengingatkan mereka untuk bertobat (bdk. Yeh. 2:5b).

Oleh Allah yang memanggilnya, Yehezkiel dipanggil dengan sebutan “anak manusia” (bdk. Yeh. 2:3). Dalam konteks kisah panggilan Yehezkiel (Yeh 1:1-3:15), Yehezkiel selalu disebut “anak manusia” oleh Allah yang memanggilnya. Sebutan “anak manusia” hendak menunjukan aspek kemanusiaan, yakni kelemahan manusia itu sendiri. Manusia yang senantiasa mengalami perjuangan dan tantangan hidup untuk bisa dan mampu mendengarkan serta melaksanakan kehendak Allah. Dengan menyebut Yehezkiel sebagai “anak manusia”, Allah hendak mengingatkan bahwa dalam melaksanakan tugas perutusannya itu hendaknya selalu disadari bahwa Yehezkiel tidak bisa hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Dia harus bergantung pada Allah. Kekuatan untuk melaksanakan panggilan dan perutusan kenabian terletak pada kesadaran akan penyertaan Allah.

Hal yang sama juga dialami oleh Paulus dalam bacaan II. Paulus menjadari kelemahan kemanusiaannya sebagai “duri dalam daging” yang sengaja ditanamkan oleh “utusan iblis” (bdk. 2Kor.12:7). Dengan “duri dalam daging” ini Paulus diajak untuk senantiasa menyadari bahwa kekuatan pelaksanaan karya perutusannya terletak bukan pada kemampuan dan kepandaiannya, tetapi semata-mata dari Allah sendiri. Bahkan dengan jelas Paulus mengatakan bahwa semakin dia menyadari kelemahan dan ketidakmampuannya semakin kekuatan dan kuasa Allah bekerja dalam dirinya (bdk. 2Kor. 12:10)
\
Kita masing-masing menerima panggilan & perutusan kenabian dari Tuhan.
Panggilan & perutusan kenabian itu dapat kita laksanakan dengan pelbagai cara. Ada yang dipanggil & diutus sebagai nabi dalam hidup membiara, dalam hidup imamat, dalam hidup berkeluarga, dalam hidup membujang, dan dalam profesi yang lain. Kita sering tidak bisa memilih sendiri panggilan & perutusan kenabian itu; semuanya seolah-olah terjadi begitu saja dan harus kita jalani dan laksanakan. Mungkin pada awalnya, kita merasa memilih sendiri panggilan & perutusan itu. Kita sendiri memilih untuk menjadi biarawan/wati, imam, atau menjadi seorang bapa & ibu keluarga, dll.; tapi di lain pihak, kita tidak bisa memilih untuk menjadi biarawan/wati atau imam di mana kita mau berkarya; kita tidak bisa memilih siapa-siapa yang akan menjadi anak-aak kita. Semuanya seolah-olah “diberikan begitu saja” oleh Tuhan, dan kita harus melaksanakannya suka atau tidak suka. Kita juga sering kali harus mengatakan sesuatu entah lewat kotbah, renungan, nasehat, teguran, dan sebagainya, kepada orang-orang yang dipercayakan kepada kita, entah didengarkan atau tidak didengarkan, entah diikuti atau tidak diikuti. Dan dalam melaksanakan panggilan & perutusan itu, kita sering merasa :lemah” dan “tidak mampu” lagi; kadang-kadang kita jatuh dalam “keputus-asaan”.

Pengalaman Nabi Yehezkiel dan Paulus yang merasa “lemah”, serta pengalaman Yesus sendiri yang ditolak justru oleh orang-orang sekampung-Nya, kiranya bisa menjadi bahan refleksi bagi kita bersama. Pada saat di mana merasa “lemah, tidak mampu, putus asa”, kita justru diajak untuk semakin “mendekatkan diri” kepada Tuhan yang memanggil & mengutus kita sebagai nabi-Nya di mana kita ditempatkan. Kita diajak untuk “berbicara, berkomunikasi, berdialog” dengan Tuhan; kita diajak untuk mencari dan menemukan kekuatan dari Tuhan sendiri.

Semoga kata-kata Paulus yang didasarkan pada imannya, “aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor.12:10), juga bisa menjadi ungkapan iman kita.


Masalah dan Iman


Seorang wanita yang baru saja menikah datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya.
Setelah pesta pernikahan, baru ia tahu karakter asli sang suami. Keraskepala, suka bermalas malasan, boros dsb. Ibu muda itu berharap orangtuanya ikut menyalahkan suaminya. Namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja. Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama, air mendidih. Sang ibu menuangkan air panas itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan. Di gelas pertama ia masukkan telur. Di gelas kedua, ia taruh wortel. Dan di gelas ketiga, ia bubuhkan kopi. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi. Wortel yang keras menjadi lunak, telur yang mudah pecah menjadi keras dan kopi memancarkan aroma harum.

Lalu sang ibu menjelaskan, “Nak masalah itu bagaikan air mendidih. Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi lembek seperti wortel, mengeras seperti telur, atau harum seperti kopi. Jadi wortel dan telur bukan mempengaruhi air, malah berubah oleh air, sementara kopi membuat air menjadi harum.”

Dalam tiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

Hari ini kita belajar ada 3 reaksi orang saat masalah datang. Ada yang jadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihi diri. Ada yang mengeras marah dan berontak pada Tuhan. Ada juga justru makin harum, makin taat dan berserah percaya padaNya.

Ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya. Apa tujuannya? Agar kita belajar percaya, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Dia selesaikan.

Mari Ber-Ekaristi dengan Baik dan Benar



Agar diperhatikan hal-hal berikut:

1. Masuk ke Gereja membuat tanda salib. Jangan buru2, tetapi hayatilah dan syukurilah bahwa karena rahmat Baptis anda bisa bergabung ke dalam persekutuan Gereja. Jangan membiasakan memberi air suci pada orang lain dengan mengulurkan jari anda. Ketika anda dibaptis anda dipanggil dengan nama pribadi anda, berarti sangat personal, maka tanda salib jangan dibuat dengan asal2an.

2. Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus  adalah rangkaian doa. Maka tanda salib hanya dilakukan pada AWAL dan AKHIR MISA KUDUS saja yaitu ketika imam memulai dan mengakhiri misa. Jangan buat tanda salib banyak-banyak. Tanda Salib disini menunjuk pada tanda salib biasa dan bukan penandaan dahi, bibir, dan dada dengan salib yg tetap harus dilakukan saat bacaan injil.

3.  Ujud pribadi disampaikan ketika SAAT HENING sesudah ajakan Imam “Marilah berdoa.” dan bukan “ketika doa pembuka”. Doa pembuka didoakan oleh Imam atas nama seluruh jemaat, dan umat hendaknya menjadikan doa itu sebagai doanya sendiri (PUMR 54). (Kesempatan lain yang bisa dilakukan untuk menyampaikan ujud pribadi adalah ketika doa umat, pada waktu yang disediakan).

4.  Sejak jaman dulu tanda salib resmi yg dipakai dalam Ritus Latin adalah dengan tangan kiri menebah di atas perut, tangan kanan terbuka menyentuh dahi pada “Dalam nama Bapa”, menyentuh DADA pada “dan Putra”, menyentuh bahu kiri lalu kanan pada “dan Roh Kudus”. Dan ketika “Amin” kedua tangan sudah terkatup kembali. Tidak membuat tanda salib ketika imam memberi absolusi umum (“…semoga Alah mengasihani kita…dst..”), karena yg kita ikuti adalah Misa Kudus bukan Sakramen Tobat.

5. Siapapun diwajibkan berlutut setiap kali lewat di depan tabernakel (PUMR 274) berlutut jangan asal-asalan, jangan hanya membungkuk, kecuali terpaksa. Yang ada di depan anda adalah Kristus sebenar-benarnya dalam rupa Hosti  di Tabernakel. Ingatlah sejenak juga akan inkarnasi Kristus. Hosti dalam Tabernakel, bisa diasosiasikan dengan Kristus dalam rahim Maria. TENTANG PAKAIAN YANG PANTAS untuk menghadap Pencipta anda sendiri yang ada secara fisik di hadapan anda, anda pasti bisa memilihnya bukan?
SEBERAPA SOPAN ANDA BERPAKAIAN MENCERMINKAN  SEBERAPA TINGGI PENGHORMATAN ANDA AKAN KRISTUS DALAM TABERNAKEL

6. Nyanyikanlah Tuhan Kasihanilah kami dan Kemuliaan dengan penuh hormat. Harap diingat bahwa Kemuliaan adalah kidung malaikat di padang Efrata ketika kelahiran Kristus. Jadi, mohon dinyanyikan dengan penuh sukacita dan hormat

7. Bacaan kitab suci yang dibacakan dari ambo (mimbar) adalah waktu Allah berbicara dan kita mendengarkan, yaitu menyimak dengan penuh perhatian. Jika paroki anda menyediakan teks misa, anda lebih baik membaca kutipan bacaan sebelum misa dimulai. TATAP lektor/imamnya karena Allah sedang berbicara pada anda. Komunikasi yg baik dalam percakapan  adalah SALING MENATAP bukan? PEMBACAAN INJIL -dan bukannya homili – adalah PUNCAK LITURGI SABDA. Harap diingat, suara yg anda dengar adalah Suara Kristus sendiri karena imam bertindak IN PERSONA CHRISTI (mewakili Kristus sepenuh-penuhnya)

8. Mohon menyanyikan KUDUS dengan sepenuh hati, dengan keagungan, jangan asal-asalan. Dikarenakan bahwa ketika menyanyikan/mengucapkan KUDUS kita bergabung dengan seluruh penghuni surga yang memuji Allah tak henti.

9. Ketika konsekrasi (Inilah TubuhKU, Inilah DarahKu atau ketika Hosti diangkat dan Piala diangkat) anda boleh mengangkat kedua tangan yg terkatup seperti ritus  ibadat di pura Hindu, NAMUN SEBENARNYA berlutut sudah merupakan ungkapan PENYEMBAHAN. Yang terpenting ketika konsekrasi adalah anda harus menatapNya. Harap diingat,  Suara yang anda dengar (Inilah TubuhKU, Inilah darahKU, adalah Suara Kristus sendiri. Lagi, hal ini dikarenakan Imam bertindak IN PERSONA CHRISTI.  Jadi? Tataplah Hosti dan Piala itu dengan penuh hormat, yakinkan pada diri anda kalau itu adalah Kristus sendiri, bukannya sibuk dengan permohonan dalam hati.

10. Ketika imam mengucapkan/menyanyikan : “Dengan perantaraan Kristus, bersama dia, dan dalam Dia…dst…” IKUTILAH DALAM HATI. TATAPLAH HOSTI DAN PIALA YG DIANGKAT.  Ketika “AMIN” dinyanyikan (dlm bahasa inggris disebut THE GREAT AMEN”). Mohon dinyanyikan dengan sepenuh hati, dengan suara terindah yg anda miliki. Dikarenakan bahwa THE GREAT AMEN ini adalah PUNCAK LITURGI EKARISTI.

11. Jangan menadahkan tangan seperti imam, pada waktu berdoa atau menyanyikan  Bapa Kami.  Dikarenakan imam sedang berdoa atas nama Gereja atau IN PERSONA ECCLESIA.  Sikap yg benar adalah mengatupkan tangan, tanda berdoa. Hayatilah doa Bapa Kami. Sadarilah bahwa “rezeki” yg anda minta itu terutama adalah “Roti Hidup” dalam Ekaristi. (dalam bahasa aslinya (Aram), doa Bapa Kami menggunakan kata “roti” bukan rezeki. Pun,dalam bahasa latin digunakan kata “PANEM” yg berarti roti.)

12. TIDAK MENGUCAPKAN DOA PRESIDENSIAL (yang boleh diucapkan oleh imam saja) doa: “..jgn perhitungkan dosa kami tetapi perhatikanlah iman GerejaMu” Jika Imam mengucapkan “marilah kita mohon damai Tuhan” dsb sebelum doa ini, bukan berarti kita harus ikut mengucapkan doa ini. Ucapkan dalam hati saja KEMUDIAN DIAMINKAN DENGAN IMAN.

13. Sebelum umat menerima Komuni entah berlutut atau berdiri (sesuai dengan konferensi Uskup yang telah disetujui oleh Takhta Suci)  Tanda hormat haruslah dilakukan terlebih dahulu (PUMR 160). Ketika menerima komuni, TATAPLAH terlebih dahulu hosti yg diangkat sebelum ditaruh di lidah/ di tangan anda. AMIN HARUS DIUCAPKAN DENGAN PENUH IMAN. Makanlah segera Hosti didepan hadapan petugas komuni (PUMR 161, RS 92).

14. Tidak perlu ikut menghormat ketika imam menghormati Tabernakel dan altar (juga pada waktu awal misa). Tidak masalah jika anda tetap melakukannya karena merupakan kebiasaaan yg  saleh. Namun kalau anda menghadiri misa di luar negeri, jangan kaget kalau di negara tertentu praktik ini tidak dilakukan.

15. Tanda salib pada saat keluar Gereja, sebenarnya tidak perlu dilakukan. Tanda salib sebelum anda masuk sebenarnya kurang lebih berfungsi seperti wudhu, yaitu untuk menyucikan (dan mengingatkan akan Baptis). Ketika anda selesai misa, Kristus  yang Maha Suci sudah masuk dalam tubuh anda, tidak diperlukan lagi sarana penyucian lain. Namun demikian, tidak ada salahnya kalau dilakukan, asal jangan karena latah, namun harus disertai kesadaran iman, bahwa anda kini diutus untuk mewartakan karya salib Kristus lewat perkataan dan perbuatan.

Anda harus menjadi contoh bagi orang lain. Jangan takut untuk mensosialisasikan hal-hal di atas pada siapa saja yg menghadiri misa bersama anda.
Tambahan :
Info ini BUKAN TPE BARU. TPE yg berlaku tetap TPE 2005.  Coba perhatikan dengan seksama bahwa sama sekali tidak ada yg berubah. Yang ditulis di atas lebih ke arah praktikal, terutama bagaimana sebenarnya menghayati apa yg kita lakukan atau katakan atau nyanyikan setiap kali kita menghadiri Misa.


Nabi Yang Rela Dikambinghitamkan


Di Candi Borobudur, di relief tingkat tiga ke bawah, ada sebuah kisah yang menarik. Inti kisahnya itu demikian, “Ada seorang pendeta yang sedang bertapa dan tinggal di tengah hutan selama 40 hari. Pendeta itu setiap hari makan dan minum dari kekayaan hutan itu. Suatu saat datanglah binatang-binatang hutan: singa, kera dan kelinci, kepada Pendeta untuk mempersembahkan hasil buruannya kepada pendeta itu. Singa sang Raja hutan datang dengan membawa rusa, hasil buruannya. Daging rusa terkenal enak rasanya di antara daging binatang buruan lainnya. Kera pun tak ketinggalan, ia membawa setundun pisang. Akhirnya, kelinci datang kepada pendeta. Kelinci mengatakan begini, “Bapak pendeta, saya tidak memiliki apapun, rumput pun aku kalau bisa hanya bawa sedikit. Bukankah Bapak Pendeta tidak makan rumput? Untuk mengungkapkan rasa cinta saya kepada Bapak Pendeta, saya menyerahkan diriku untuk jadi santapan Bapak pendeta. Sembelihlah diriku.” Bapak Pendeta tak tahan menahan haru, “Kelinciku, betapa besar cinta yang kauberikan kepadaku. Aku tidak akan menyembelihmu. Aku tidak akan marah atau membencimu. Aku mengerti kelemahanmu, dan ketidakberdayaanmu. Mari kita makan bersama persembahan singa dan kera ini” 

Kisah tadi menggambarkan “keberanian kelinci untuk menjadi korban persembahan”. Sulit bagi kita sekarang ini berbicara tentang kepemimpinan yang mau “mengalami korban ketidakadilan, korban fitnah, korban gosip, korban yang dimaki-maki, disalahkan sana-sini.” Gaya hidup kepemimpinan dunia itu bergerak “naik”: menggunakan segala macam cara (senjata, suap, membuat kebijakan yang mencelakakan orang kecil, dsb) untuk mewujudkan kekuasaannya dan dapat mengeruk kekayaan sebanyak mungkin, mau selalu populer karena proyek yang dipimpin sebagai monumen-monumen pribadi, “Wah, dulu gereja ini yang saya yang membangun; merasa paling berguna dan berjasa, “Coba, kalau tidak ada saya, mana mungkin jadi begini!!”. Kualitas pemimpin diukur secara fisik: ada bangunan, dapat mengubah Pemimpin kristiani menurut penilaian dunia itu dituntut prestasi yang nyata dan konkret alias relevan dengan hidup umatnya. Cara kerjanya juga dituntut efisien dan efektif. 

Jalan pikir kepemimpinan dunia itu berkebalikan dengan kepemimpinan kristiani dalam terang Injil. Kenabian kristiani, seperti Yesus, justru kenabian yang berani ditolak, dicurigai, diremehkan oleh keluarganya sendiri dan umat dari tempat Yesus berasal. Itulah yang dialaminya.

Naum kendati Yesus memiliki sikap dan tindakan yang baik toh ditolak. Apalagi seperti diriku. Tidak mudah untuk menjadi nabi yang ketahuan belangnya. Andaikan umat mengetahui belang-belang hitam putihnya hidupku, masihkah ada umat yang mendengarkan atau membaca renungan ini? Barangkali komentar yang akan keluar adalah “Omong kosong!! Perbuatannya sendiri saja tidak mencerminkan perkataannya, kok umatnya justru dituntut begitu. “JARKONI !!” 

Di balik penolakan oleh umat sendiri, sebenarnya terkandung rahmat kepemimpinan yang membebaskan. Semakin kita mewartakan Injil dalam kondisi yang ditolak, semakin nyatalah bahwa pewartaan itu tidak pernah boleh “mengharuskan” melainkan menjadi “peta” atau wawasan agar pendengarnya mampu menentukan pilihan hidupnya. Seorang nabi yang mewartakan dalam kebebasan, selalu siap untuk tidak didengarkan, dicuekin atau ditolak dan dicemooh sebagai omongan “anak baru kemarin sore”. 

Agar dapat menjadi pewarta yang siap ditolak, tidak lain kita mesti bangga akan kelemahan diri kita, sebagaimana telah dicontohkan oleh Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus. Orang yang sadar bahwa dirinya rapuh, pasti tidak akan berbicara dalam level “keharusan” melainkan level “memilih”. Dalam pemimpin itu ada disposisi untuk bersikap rendah hati: rela kehilangan harga diri, rela tidak diperhatikan, dianggap “bakul jamu”. Paulus tidak takut ditolak, karena dalam kelemahan, ia yakin kasih karunia Allah justru akan berlimpah”. 

Itulah gaya hidup Yesus juga, menjadi “guru”, pemimpin, dan raja orang Yahudi, yang “serba rapuh”. Kendati Dia telah mewartakan kerajaan Allah dalam kata (pengajaran) dan perbuatan (menyembuhkan orang sakit buta, lumpuh, ayan, membangkitkan orang mati, mengusir roh jahat, mukjijat2), toh nyatanya Ia tetap ditolak dan akhirnya dibunuh oleh bangsa-Nya sendiri, dengan tuduhan menghojat Allah!! Hebat!! Yesus tidak membela diri untuk memperjuangkan haknya, melainkan membiarkan diri diperlakukan tidak adil. Itulah kepemimpinan kristiani: siap untuk jadi “korban” alias “kambing hitam” untuk menutupi kesalahan orang lain. Yesus tidak menunggu datangnya nasib atau takdir, melainkan memilih menjadi “kambing hitam”, dalam disposisi “jalan salib” sebagai jalan yang harus dilalui oleh seorang pemimpin. Karena itu Ia bagaikan “kelinci” tadi yang memilih menjadi “korban sembelihan”. 

Siapakah kita? Apakah kita akan menjadi “kelinci” yang siap berbuat baik tetapi sekaligus mau berkorban, atau lebih siap untuk “mengkambinghitamkan orang lain” agar kesalahanku ditutupi??

Selasa, 03 Juli 2012

“DIPERLENGKAPI UNTUK SALING MELENGKAPI DI TENGAH KEANEKARAGAMAN”

Hari Minggu Biasa XIII

By:Yohana 
(dari Rukun Angelus)
Pemenang Lomba Membuat Dan Membawakan Renungan

Bacaan Inspirasi : (2 Korintus 8:7,9,13-15)


Ada satu pribahasa trend yang seringkali terdengar, bahkan hingga saat ini “ berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Dalam arti yang sederhana pribahasa ini menggambarkan kehidupan manusia yang saling melengkapi, di tengah keanekaragaman corak latar belakang kehidupan manusia. Dalam kehidupan kita, tidak sedikit sesama manusia mengalami problem kemanusian, sehingga Tuhan menjadikan manusia lebih baik dari satu. Mengapa demikian? Ya, agar kita bisa sadar bahwa begitu berartinya keberadaan kita untuk orang lain, dan manusia tidak dapat hidup sendiri bahkan sesungguhnya diciptakan untuk saling melengkapi dalam segala sesuatu.

Di ayat yang ke 7, dikataka “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini”. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa oleh kasih karunia Tuhan, kita diperlengkapi dalam segala sesuatu. Dan sangat banyak peluang dan kesempatan yang diberikan kepada kita untuk melakukan pelayanan kasih terhadap sesama kita. Namun, apakah yang selama ini menghalangi kita memberi seperti yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya? Apakah kemiskinan dan kekurangan kita? Ketidakmampuan kita mengatur keuangan dengan baik? Sifat kikir kita? Kekuatiran tentag masa depan yang berlebihan? Ataukah kekurang pahaman kita tentang kasih karunia Allah dalam hidup kita?

Di ayat yang ke 9, dikatakan:” Karena kamu telah mengenal kasih Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya karena kemiskinanNya”. Dalam ayat 9 sangat ditekankan bahwa kita pun belajar memberi dengan berpusat pada Allah dan mengingat semua kasih karunia-Nya  bagi kita serta teladan sempurna Kristus, ketika Dia rela meninggalkan segala kekuasaanNya dan keilahianNya dan menjadi manusia hina dan mati di kayu salib bagi kita. Pengorbana Kristus memang sungguh luar biasa, dan kita tidak mampu, dan juga tidak diminta, untuk menjadi sehebat Dia. Kita menyadari bahwa siapa sih kita ini tanpa Dia? Kita dijadikan kaya dan diperlengkapi oleh pengorbanan Kristus sehingga kiranya kitapun ada kerinduan untuk memberi demi kebutuhan orang lain.

Dalam ayat 13-15 dikatakan: “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”. Ya, saya jadi teringat dengan sebuah pujian rohani yang liriknya sangat menyentuh bagi saya, pujian ini dibawakan oleh Band Rohani yang bernama “One Way”, seperti ini liriknya:” Oh betapa indahnya hidup kita jalani tiada waktu terlewat tanpa bahagia, mari lihat keluar terkadang kita lupa kita tak sendiri menikmati indahnya hidup yang diberi Sang Pencipta. Bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar dan hidup dari belas kasihan orang seperti kita, bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa, apa yang telah kita buat karena kita diciptakan untuk berbagi hidup dengan mereka”. Apakah makna dari pujian di atas? Kita selaku umat percaya yang dianugerahkan berbagai keanekaragaman yang mewarnai kehidupan kita di dalam berjemaat. Misalnya ada orang-orang yang hidupnya berkelimpahan dalam hal materi dan ada yang berkekurangan. Dan ada juga orang yang suka mengeluh walaupun kadang masalah atau problem yang dia gumuli itu tidak seberapa. Tapi ada juga orang selalu mensyukuri hidupnya walaupun masalah atau problem tak pernah luput dari kehidupan mereka. Ya, itulah keanekaragaman. Untuk itu, marilah kita saling melengkapi sehingga terwujud keseimbangan di tengah-tengah kehidupan kita. Ketika kita hidup berkelimpahan, tetapi hati kita tertutup rapat bagi sesama, maka itu adalah kelemahan dan kegagalan kita sebagai jemaat Tuhan. Sepatutnya kita patut mengambil contoh dari mereka yang berkekurangan tetapi tetap mensyukuri kehidupan yang diberikan oleh Bapa kita yang di Sorga, itulah kelebihan mereka. Untuk itu marilah dengan pertolongan Roh Kudus kita saling menguatkan karena Allah menginginkan kita memiliki hati yang peduli kepada sesama dan hati yang berkemakmuran. Seperti pujian Rohani di atas, marilah kita membangun kehiduan yang seimbang dalam hal pelayanan kasih di tengah kenyataan dalam beragam perbedaan, dan tetap menghargai perbedaan itu.  Bahkan secara iman, kita harus menjadikan perbedaan sebagai dasar bagi kehidupan orang, percaya untuk hidup saling melengkapi. “Tuhan Yesus Memberkati kita sekalian”. Amin