Kamis, 31 Mei 2012

Sinode 2012


Misteri Allah – Misteri Manusia


Hari Raya Tritunggal Mahakudus
P. Paulus Tongli, Pr

Pesta hari ini – Hari Raya Tritunggal Mahakudus – agak istimewa dibandingkan dengan hari-hari besar gereja lainnya. Semua hari besar adalah hari peringatan akan suatu peristiwa sejarah. Kita merayakan kelahiran Yesus, kematianNya, kebangkitanNya, kenaikanNya ke Surga, pencurahan Roh Kudus. Namun pada perayaan hari ini kita tidak memperingati suatu kejadian dalam sejarah. Kita merayakan, apa yang dapat dikatakan sebagai refleksi akan kejadian, merayakan suatu inti iman atau dogma yang sulit dipahami oleh banyak orang. Itulah yang terungkap dalam bacaan injil hari ini: “… tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Oleh karena itu marilah kita mencoba menyelami misteri ini berpangkal pada kutipan injil hari ini. Kutipan ini juga menyangkut para murid, dan karenanya juga kita. Kalau intinya adalah misteri, maka juga merupakan misteri kita sendiri.

Misteri Allah
Marilah kita mulai dengan Yesus. Ia kini kembali berada di Galilea. Di sini segalanya telah mulai (bdk. Mat. 4:12st.). Di sini Ia telah mengumpulkan para muridNya (bdk. Mat 4:18-22). Di sini, di atas bukit, Ia telah mewartakan hukum dasar kehidupan kristiani (bdk. Mat 5:1-7:29). Di sini Ia telah mengajar untuk berdoa (bdk. Mat. 6:5-15). Di sini Ia memisahkan diri dari para muridNya. Dan sekali lagi Ia mengutus para muridNya seperti dahulu dilakukannya (bdk. Mat. 9:35st). Ia meminta mereka untuk melakukan semua yang telah dikatakannya, dan untuk mengajar semua orang untuk melakukan perintahNya. 
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”, demikian Ia memulai pembicaraanNya. Inti utama dari warta Yesus adalah selalu warta akan Bapa. Namun di sini Ia menambahkan unsur baru: Bapa yang dipercayaNya tidak meninggalkan Dia di dalam kematian. Bapa telah mengangkat Dia menjadi anakNya (bdk Rom. 1:4), memberikan kepadaNya segala kuasa di Surga dan di Bumi. Oleh karena itu pantaslah bahwa para muridNya tersungkur di hadapanNya: Allah dari allah, terang dari terang, Allah yang benar dari Allah yang benar.
Siapakah Allah itu? Allah adalah Dia yang telah memberikan kepada Yesus semua kuasa di Surga dan di bumi. Itulah warta pertama dari injil hari ini. Dan Ia mengutus muridnya untuk membaptis. Dan kemudian menyusul rumusan trinitaris dari baptisan – bukan hanya dalam nama Yesus Kristus (bdk. Kis. 2:38) – “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Di mana ada baptisan, di situ hadirlah Roh Kudus. Demikianlah sudah terjadi pada baptisan Yesus. Pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (bdk. Mat. 3:16). Dan juga pada rumusan baptisan sekarang ini: “dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus”, demikianlah selalu kembali terulang pada saat pembaptisan. Doa Bapa Kami pada saat Perayaan Ekaristi kadang-kadang diawali dengan ungkapan: “Kita telah menerima Roh Kudus, yang telah menjadikan kita anak-anak Allah …”.
Roh Kudus sekali lagi disebut secara tidak langsung di dalam injil pada kata-kata penutupan: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Dan bagaimana Ia hadir? Bukan lagi secara badani, sebagaimana pada saat hidupNya sebagai manusia. RohNyalah yang seharusnya menjiwai kita. Kekuatan dari atas. Penghibur. Pendamping. Pendamping yang lain. Roh Kudus.
Membaptis dalam nama Yesus Kristus adalah membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus: di mana Yesus ada, di situ hadirlah Allah Tritunggal. Itulah yang harus ditekankan pada pesta Tritunggal Mahakudus ini. Itulah yang kita rayakan.


Misteri Manusia
Tema injil hari ini tidak hanya berkisar pada Allah Tritunggal. Tema tentang para murid, tentang kita manusia, juga muncul di sini. Para murid tinggallah sebelas orang, tidak lagi duabelas. Ia memanggil duabelas orang, duabelas inilah yang dulu diutusnya (bdk. Mat 10:2.5). Kenyataan itu bagaikan sebuah luka, yang muncul karena pengkianatan dan kejatuhan Yudas. Sebuah luka yang memperingatkan akan kesombongan. Sebuah luka yang mengingatkan mereka, bahwa kesetiaan mereka kepada Yesus tergoyahkan. Mereka semua telah melukai kemuridan mereka, mereka pernah melarikan diri, mengambil jarak dari Yesus dan meninggalkan Yesus sendirian dalam derita dan wafatNya.
Itulah manusia. Demikian juga kita. Masing-masing dari antara kita membawa luka-luka kita. Namun Yesus menyembuhkan luka itu. Ia tidak mengganti mereka dan memanggil murid yang baru; Ia membaharui panggilan mereka yang pernah tidak setia, yang bukan tanpa salah. Dan mereka datang apa adanya; membawa serta sejarah hidupnya masing-masing, termasuk luka-luka mereka. Meski demikian mereka tidak mendengar satu tuduhan pun dari mulut Yesus. Demikianlah juga yang terungkap di dalam perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Luk 15:11st. Di sana juga tidak terdapat tuduhan apalagi hukuman.
“Tetapi beberapa orang ragu-ragu”, demikian terungkap lebih lanjut di dalam kutipan injil kita. Demikianlah juga kita. Kita terus mencari, bertanya, dan juga ragu-ragu. Mungkin juga kita gagal – seperti para murid – pada saat derita dan sengsara. “…tetapi beberapa orang ragu-ragu”, juga ragu-ragu akan diri sendiri: apakah aku terpanggil dan diutus? Dengan segala luka karena kelemahan, keraguan dan pengkhianatanku? “Dan ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”, demikianlah bunyi keseluruhan kalimat. Menyembah pada satu sisi – ragu-ragu pada sisi yang lain. Apakah itu merupakan suatu pilihan? Itulah yang terjadi dalam masyarakat kita juga. “Tuhan, barangkali juga kami terlalu banyak berbicara tentang Engkau, dan terlalu sedikit berbicara dengan Engkau!”

Senantiasa – sampai akhir jaman
“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, dengan kalimat ini berakhirlah bukan hanya kutipan injil hari ini, tetapi sekaligus keseluruhan Injil Matius. 
“Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham”, demikian Matius memulai injilnya. “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, demikian ia menutupnya.
Sejarah Yesus Kristus, putera Daud, putera Abraham, berakhir bukan dengan kematianNya pada salib, bukan dengan kebangkitanNya, juga bukan dengan kenaikanNya ke Surga, dengan peninggianNya. SejarahNya adalah sejarah untuk semua bangsa senantiasa sampai akhir jaman. Akan hal inilah kita harus menjadi saksi.

Habit is A Power


Suatu hari rakyat bersorak-sorai menyaksikan kehebatan keahlian memanah seorang panglima yang luar biasa. 100 kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran. Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, “Panglima memang pemanah hebat! Tetapi, itu hanya keahlian yang diperoleh dari kebiasaan yang terlatih.”
Panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, “Tunggu sebentar!” 

Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. 

Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tsb. 

Panglima dan rakyat tercengang. Mereka bersorak-sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati dan hormat, tukang minyak di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, “Itu hanya keahlian yang diperoleh dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian.”

Dalam kisah ini kita dapat belajar bahwa betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is a Power!

Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mugkin menjadi mungkin. Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan karakter sukses. Dan karakter sukses itu hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan seperti: berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas, tanggung jawab, dan terlebih lagi : keintiman kita dengan Tuhan setiap saat…

Keunggulan terjadi berkat sebuah kebiasaan dan disiplin kegigihan. God Bless You All.

Hari RayaTritunggal Mahakudus


Pada hari ini Gereja mengundang kita untuk memeditasikan misteri Tritunggal Mahakudus dan rencana agung Allah Tritunggal Mahakudus bagi kita sejak semula. Hakekat dari rencana ini adalah bahwa dari sejak kekal Allah telah menginginkan sebuah umat yang akan ikut ambil bagian dalam kehidupan dan kasih-Nya. Walaupun dosa masuk ke dalam dunia sejak awal-awal kemanusiaan, yaitu ketika Adam dan Hawa menyalahgunakan kebebasan mereka dan karenanya kehilangan keintiman kasih Allah, rencana abadi Allah tetap berlaku. Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini adalah satu dari sedikit hari-raya/pesta yang didedikasikan kepada sebuah doktrin dan bukannya suatu peristiwa keselamatan. Perayaan ini diawali pada abad pertengahan, di mana ditekankan bahwa hanya ada satu Allah, karena Dia hanya memiliki satu kodrat ilahi; namun ada tiga pribadi.  
Orang-orang Yahudi mempunyai sebuah pernyataan iman-kepercayaan fundamental, yaitu “Shema”: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, YHWH itu esa! Kasihilah YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Untuk mendapatkan ide bagaimana orang Israel harus melakukannya, maka lanjutkanlah bacaan anda sampai dengan ayat ke-7. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, kita tahu bahwa Ul 6:4-7 ini adalah bacaan singkat dari Ibadat Penutup sesudah Ibadat Sore I hari Minggu (Sabtu malam). Apabila kita melanjutkan lagi membacanya sampai dengan Ul 6:9, maka lebih jelas lagi apa yang dilakukan oleh orang Yahudi sampai hari ini berkaitan dengan kepercayaan monotheis mereka.  

Salah satu tugas paling penting dari para nabi adalah membela monotheisme dan penyembahan yang murni. Kalau tidak demikian halnya, maka orang-orang Yahudi akan menyembah banyak dewa sebagaimana dipraktekkan oleh bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Dengan demikian jelaslah mengapa Perjanjian Lama tidak berbicara secara eksplisit tentang Putera (Anak) atau Roh Kudus. Namun demikian, secara implisit ada petunjuk tentang Firman (Sabda) Ilahi dalam Perjanjian Lama, teristimewa dalam kitab-kitab kebijaksanaan, yang dikatakan ada di sisi Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, yang turun ke bumi dan mencari tempat kediaman di tengah-tengah umat-Nya, mengundang mereka ke perjamuan pesta dan untuk mendengarkan sabda-Nya. Roh Kudus diinsinuasikan oleh deskripsi tentang nafas kehidupan penuh kuasa yang diciptakan-Nya, memberikan kepada manusia nafas kehidupan (Kej 2:7) dan menginspirasikan para nabi sehingga mereka penuh dengan Roh-Nya. YHWH dalam Perjanjian Lama bukanlah “Pribadi Pertama” dalam Tritunggal Mahakudus seperti yang kita kenal, melainkan Allah yang mempunyai keberadaan-Nya sendiri, keluar sendiri dengan komunikasi-diri-Nya sendiri dst. Singkatnya, tidak ada embel-embel lain lagi. 

Allah, teristimewa Allah Bapa, itu penuh belas kasihan. Ia dinamis, tidak statis dan Ia tidak kekurangan sesuatu pun pada diri-Nya. Sebagai Allah Ia sempurna tanpa batas. Namun Ia memilih orang-orang Yahudi sebagai umat-Nya, dan Ia ingin menjadi Allah mereka. Akan tetapi kemudian orang-orang Israel mengingkari perjanjian mereka dengan Allah di Sinai dahulu, walaupun mereka mengetahui bahwa Allah mereka itu adalah ‘seorang’ Allah yang pencemburu, yang tidak dapat mentolerir dewa atau ilah lain di samping diri-Nya (Kel 20:5 dsj.). Namun Musa mengetahui benar bahwa “YHWH adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (lihat Kel 34:6). Allah tidaklah seperti kita: pemarah, pendendam dst. Kesetiaan-Nya itu kekal-abadi, walaupun kita sendiri tidak setia. Gambaran yang sama tentang Bapa yang penuh belas kasihan itu kita temukan juga dalam bacaan Injil hari ini: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:16-17). 

Allah Bapa menerima kita sebagaimana apa adanya kita. Dia selalu memandang apa yang baik dalam diri kita dan Ia tidak pernah berputus asa, bahkan ketika kita sendiri berada dalam keadaan berputus asa. Dia tetap menghargai kita dan mengasihi kita, bahkan ketika kita berada dalam keadaan yang paling rendah dan hina-dina sekalipun. Allah Bapa ingin agar kita memiliki hidup ilahi-Nya sendiri dan mengenali hidup ilahi itu dalam diri kita. Dalam perumpamaan “Anak yang hilang” (Luk 15:11-32) sang bapa bahkan tidak memberi kesempatan anaknya yang bungsu itu mengucapkan permohonan maafnya: “Aku tidak layak lagi disebut anak bapa” (Luk 15:19). Anak bungsu itu adalah anaknya dan tetap anaknya, apapun yang telah dilakukannya. 

Bapa surgawi adalah Allah yang senantiasa berkomunikasi, yang selalu mencari kontak. Selama kita tetap berkomunikasi dengan-Nya, maka semua akan baik-baik saja. Putera senantiasa mendengarkan Bapa dan melakukan kehendak-Nya: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Adalah kehendak Bapa untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia sehingga setiap orang yang percaya kepada Putera akan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Sementara Ia mendengarkan Bapa-Nya, melakukan kehendak-Nya, Putera berbicara kepada kita apa yang difirmankan Bapa kepada-Nya. Tergantung kepada kita, apakah kita menerima pesan-Nya dan dengan demikian memperoleh kehidupan kekal sekarang juga atau kalau kita mengeraskan hati kita, menolak pesan Allah, jadi telah berada di bawah hukuman. Putera tidak menghukum seorang pun. Yang diinginkan-Nya hanyalah memberikan anugerah/rahmat-Nya, kehidupan kekal, yang hanya dimungkinkan oleh ketaatan-Nya yang total-lengkap kepada Bapa. Memang dalam bacaan Injil ini Roh Kudus tidak disebutkan secara eksplisit, namun jelas bahwa Roh Kuduslah yang memberikan keterbukaan seseorang akan sabda Putera. 

Kasih timbal-balik antara Bapa dan Putera adalah Roh Kudus. Jadi, Allah Tritunggal Mahakudus dapat digambarkan sebagai sebuah komunitas yang terdiri dari tiga pribadi, dalam komunitas mana ada kasih yang sempurna. Jadi dalam Allah ada kasih yang sempurna, atau kebersamaan yang sempurna, suatu persekutuan (Yunani: koinonia) yang sempurna. 

Semua kebersamaan manusiawi (human togetherness) hanya dapat bersumber dan mengambil contoh dari koinonia Tritunggal Mahakudus, dan Roh Kudus secara khusus yang membuat hidup semua kebersamaan. Berkat yang ditulis Santo Paulus pada akhir bacaan kedua hari ini berbunyi sebagai berikut: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”  (2Kor 13:13). Kita lihat di sini bahwa “kasih” itu teristimewa dipertalikan dengan Bapa, “anugerah” (karunia; rahmat) dipertalikan dengan Yesus Kristus (Putera, Anak) dan “persekutuan” dipertalikan dengan Roh Kudus. Kasih atau belas kasihan (mercy; kerahiman) Bapa ini digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, anugerah Yesus Kristus teristimewa dalam Injil dan persekutuan Roh Kudus dalam bacaan kedua. 

Selama umat di Korintus mau membuka diri bagi dorongan Roh Kudus, maka akan ada pengharapan akan damai sejahtera dan keharmonisan (sehati sepikir) yang dapat diekspresikan secara eksternal oleh mereka dalam wujud ciuman kudus satu sama lain (lihat 2Kor 13:11-12). 

Hari Raya / Hari Besar Liturgi


Hari Besar dalam Gereja sangat erat berkaitan dengan Penanggalan Liturgi. Sebagaimana kita ketahui, Penanggalan Liturgi kita terdiri akan dua lingkaran kehidupan Yesus, yaitu :

lingkaran kelahiran (Adven dan Natal)
lingkaran kebangkitan (Prapaskah dan Masa Paskah)
serta masa biasa di antara kedua lingkaran tersebut. Kita baru saja melewati lingkaran kelahiran, berada dalam masa biasa, sebelum akan masuk dalam lingkaran kebangkitan dengan masa prapaskah yang akan dimulai dengan Hari Rabu Abu. Pada kedua lingkaran masa liturgi itu kita memiliki sejumlah hari-hari yang dipakai untuk merenungkan misteri Kristus penebus. Di luar masa itu kita juga merayakan tokoh-tokoh dan peristiwa tertentu, bersama Bunda Maria dan GerejaNya.
Kita memang memulai tahun liturgi/Penanggalan Liturgi dari Minggu Pertama Adven dan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. 
Penanggalan Liturgi kita terdiri dari dua lingkaran kehidupan Yesus, terdiri dari:
4 minggu Masa Adven,
2 minggu Masa Natal,
minggu masa Prapaskah dan
7 minggu masa Paskah.
Dengan demikian kita memiliki sisa 32 atau 33 Hari Minggu lainnya di luar masa-masa tersebut, dan ini yang disebut sebagai Masa Biasa.
Minggu Paskah adalah Hari Raya paling utama dalam kehidupan Gereja. Hari itulah Gereja merayakannya dengan sangat meriah, melebihi Hari Raya lainnya, karena pada Minggu Paskah itulah seluruh misteri penebusan manusia direnungkan. Sementara pada Hari Minggu dan Hari Raya lainnya, perayaan Gereja tetap mengarah pada misteri keselamatan Paskah. Oleh karena itu Hari Paskah disebut juga sebagai Hari Raya dari segala Hari Raya (solemnity of solemmities, summa sollemnitas).

Ada tingkatan kemeriahan Hari Raya, seperti kita merayakan Hari Minggu Paskah di atas Hari Minggu lainnya. Berdasarkan nilai teologisnya, Hari Raya dikelompokkan dalam 4 kategori:

Hari Raya (Solemnity)
Hari dalam Kalender Liturgi yang dikuduskan dan dirayakan terutama untuk memperingati dan merayakan peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, Maria atau para kudus. Ada 16 Hari Raya Utama.
Pesta (Feast)
Perayaan seorang kudus yang utama (para rasul) atau hari yang khusus (Pesta Keluarga Kudus dsb). Ada 25 Pesta.
Peringatan Wajib (Memorial)
Perayaan para kudus lainnya yang oleh Gereja diwajibkan untuk diperingati. Ada sekitar 65 peringatan wajib dalam setahunnya.
Peringatan Fakultatif (Optional Memorial)
Perayaan para kudus lain yang boleh tidak dirayakan.


Kita tentu saja WAJIB merayakan Hari Minggu Paskah dan semua Hari Minggu dan Hari Raya. Pedomannya ada dalam Kitab Hukum Kanonik dalam Kanon nomer 1246 dan 1247.

Kan. 1246 § 1 Hari Minggu, menurut tradisi apostolik, adalah hari dirayakannya misteri paskah, maka harus dipertahankan sebagai hari raya wajib primordial di seluruh Gereja. Begitu pula harus dipertahankan sebagai hari-hari wajib: hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan, Tubuh dan Darah Kristus, Santa Perawan Maria Bunda Allah, Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dan Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Santo Yusuf, Rasul Santo Petrus dan Paulus, dan akhirnya hari raya Semua Orang Kudus.
Kan. 1246 § 2 Namun Konferensi para Uskup dengan persetujuan sebelum- nya dari Takhta Apostolik, dapat menghapus beberapa dari antara hari- hari raya wajib itu atau memindahkan hari raya itu ke hari Minggu.
Kan. 1247 Pada hari Minggu dan pada hari raya wajib lain umat beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga.
Yang mudah dilihat tentu saja Hari Raya Natal ya. Jatuh pada hari apa pun, kita akan merayakannya pada 25 Desember. Hari Raya lainnya ada yang bisa dipindahkan perayaannya pada Hari Minggu sesudahnya. Kalau berdasarkan Kanon 1246(2) itu, kita di Indonesia mendapatkan libur resmi pada Hari Raya Natal dan Hari Raya Kenaikan Tuhan, sehingga kedua Hari Raya itu selalu dirayakan tepat pada tanggalnya, tidak digeser pada Hari Minggu. Tetapi memang ada Hari Raya yang kita rayakan pada hari Minggu sesudahnya kita memiliki 16 Hari Raya, sebagian diantaranya adalah masa Paskah sehingga tanggalnya berubah setiap Tahunnya. Ke-16 Hari Raya itu adalah sebagai berikut:

Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa (Immaculate Conception) – 8 Desember,
Hari Raya Natal – 25 Desember,
Hari Raya Penampakan Tuhan (Epiphany) – 6 Januari,
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus – Kamis sesudah HR Tritunggal Mahakudus (60 Hari sesudah Paskah),
Santo Yusuf – 19 Maret,
Santo Petrus dan Paulus – 29 Juni,
Hari Raya SP Maria Bunda Allah (Theotokos) – 1 Januari,
Hari Raya Kenaikan Tuhan – Kamis 40 hari sesudah Paskah,
Hari Raya SP Maria Diangkat Ke Surga – 15 Agustus,
Hari Raya Semua Orang Kudus – 1 November,
Minggu Palma – Seminggu sebelum Paskah,
Kamis Putih,
Hari Raya Paskah,
Hari Raya Pentakosta – 50 Hari Sesudah Paskah,
Hari Raya Tritunggal Mahakudus – Minggu sesudah Pentakosta,
Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus – Jumat sesudah Minggu Kedua sesudah Pentakosta (70 Hari sesudah Paskah)

Jumat, 25 Mei 2012

Penutupan Bulan Maria 2012


Misa & Adorasi


BERUBAH UNTUK BERBUAH


Hari Raya Pentakosta
P. Sani Saliwardaya, MSC
Sumber Inspirasi:Kis.2:1-11; Gal. 5:16-25; 
Yoh. 15:26-27, 16:12-15

Lima puluh hari sesudah Kebangkitan Yesus dan sepuluh hari sesudah Kenaikan-Nya ke Sorga, Gereja merayakan hari Raya Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas Para Rasul. Peristiwa Pentakosta menjadi titik awal dan titik balik karya perutusan Gereja Purba. Disebut titik awal karena sejak peristiwa Pentakosta itulah, Para Rasul secara terbuka memberikan kesaksian tentang komunitas mereka serta perutusannya. Dan disebut titik balik, karena sejak peristiwa Pentakosta itu pula, mereka secara berani dan terus terang mewartakan Kristus, yang telah dibunuh namun dibangkitkan Allah, sebagai Juru Selamat umat manusia. Peristiwa Pentakosta telah mengubah Para Rasul, hidup dan perutusan mereka. Mengapa mereka bisa berubah? 
Marilah kita sedikit cermati peritiwa Pentakosta itu sendiri yang dikisahkan dalam bacaan I. Ada dua hal menarik yang dikisahkan di sana.
Pertama-tama, peristiwa Pentakosta dilukiskan dengan turunnya Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api atas Para Rasul. Lidah api merupakan simbol dari kehadiran yang bercorak ilahi, yakni kehadiran Allah sendiri. Kita ingat peristiwa Musa di gunung Horeb (bdk. Kel. 3:2-6). Musa mengalami penampakan kehadiran Allah dalam rupa api yang keluar dari semak tetapi tidak menyebabkan kebakaran di sekitarnya. Hal yang mirip juga dialami oleh dua murid Emaus. Dalam kekecewaannya karena kematian Yesus, sang Guru, dua murid ini meninggalkan Yerusalem menuju ke Emaus. Di tengah perjalanannya mereka berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit namun tidak dikenali oleh mereka. Meskipun demikian hati mereka berkobar-kobar ketika berbicara dengan Yesus (bdk. Luk. 23:32).  Berkobar-kobar merupakan gambaran untuk melukiskan api. Roh Kudus yang disimbolkan dengan api merupakan Roh Allah yang mengobarkan dan memberikan semangat baru kepada orang-orang yang berharap dan percaya kepada-Nya. 
Peristiwa yang kedua yang dilukiskan dalam Kis. 2:1-11 adalah Para Rasul berbicara dengan bahasa yang bisa dipahami oleh banyak orang. Peristiwa ini tidaklah harus dimengerti bahwa Para Rasul tiba-tiba menjadi ahli-ahli bahasa yang dapat berbicara dengan aneka bahasa secara lancar. Peristiwa ini mau mengatakan bahwa berkat kehadiran ilahi yang memenuhi hati mereka, Para Rasul dimampukan untuk menyampaikan kembali pengalaman itu dengan bahasa atau cara yang bisa dipahami dan dimengerti oleh banyak orang yang datang menyaksikan peristiwa tersebut. Dengan demikian, yang terjadi adalah berkat kehadiran Allah, mereka dimampukan untuk mengolah pengalaman iman mereka sampai mampu mengungkapkan / menyatakan kembali dengan cara yang mudah ditangkap, dipahami  dan dimengerti oleh banyak orang. Dengan kata lain, berkat kehadiran ilahi, Para Rasul dimampukan untuk membagikan pengalaman imannya sehingga banyak orang yang memahaminya. Pemahaman orang lain akan pengalaman iman Para Rasul itulah yang disebut buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri (bdk. bacaan II). Buah-buah Roh itu adalah bahasa / cara berkomunikasi yang bisa dipahami dan dimengerti oleh banyak orang dan yang dapat mempertemukan dan mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam kelompok-kelompok dan golongan-golongan.  Dengan demikian, Roh Kudus yang mengaruniakan kemampuan berbicara adalah Roh yang menyalakan dan menerangi hati manusia untuk mencari, menemukan dan melaksanakan buah-buah Roh sebagai  bahasa / cara yang dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain agar terjalin kesatuan dan kerukunan. Dalam arti ini, Gereja senantiasa membutuhkan Pentakosta.
Gereja membutuhkan Roh Allah yang mengobarkan dan memberikan semangat baru.
Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kepada para murid-Nya untuk mengutus Penghibur, yakni Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa. Roh Kebenaran inilah yang akan mengajar para murid tentang Kebenaran serta yang akan memberi kesaksian tentang Kristus. Karena itu, Yesus mengajak agar mereka juga harus memberi kesaksian tentang Kristus karena mereka telah hidup bersama-sama dengan Kristus.
Perintah untuk memberi kesaksian tentang Kristus juga diberikan kepada kita. Memberi kesaksian tentang Kristus pertama-tama bukan sekedar berbicara atau membicarakan tentang Kristus, tetapi hidup menurut cara Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, hidup menurut cara Kristus tidaklah mudah; ada banyak tantangan dan godaan di sana. Tetapi apa yang tidak mudah ini bukan berarti tidak bisa dilaksanakan. Kita semestinya berani menghadapi tantangan dan kesulitan tersebut. Masihkah kita memiliki semangat untuk berjuang dan menghadapi tantangan kehidupan kita masing-masing?
Gereja membutuhkan Roh yang menyalakan dan menerangi hati umatnya untuk mencari, menemukan dan melaksanakan buah-buah Roh yang bisa dipahami oleh orang lain.
Dalam kehidupan bersama, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun di dalam Gereja, tidak jarang kita mengalami konflik, kesalah-pahaman satu sama lain. Salah satu penyebab konflik dan kesalah-pahaman itu karena cara kita menyampaikan dan melaksanakan tindakan kita sering tidak bisa ditangkap, dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Kita memiliki kecenderungan untuk mencari cara kita sendiri dan melaksanakannya sendiri. Cara sedemikian ini memang akan terasa lebih gampang dan cepat, tidak perlu berdiskusi dan berdebat serta tidak buang-buang energi. Tetapi dampak negatipnya adalah perselisihan dan perseteruan. Sebagai makhluk sosial, yang hidup bersama dengan orang lain, kita membutuhkan suatu komunikasi, dialog, bertukar pikiran dan perasaan agar terjadi saling pengertian dan pemahaman. Buah-buah Roh Kudus yang positip itu tidak boleh dilaksanakan dengan cara-cara yang negatip. Kita memerlukan pencerahan Roh Kudus untuk membuka dan menerangi hati kita agar kita tidak hanya berfokus pada kepentingan diri kita sendiri.
Sebagaimana Para Rasul berubah karena pemahamannya akan buah-buah Roh Kudus, semoga kita juga mau berubah agar bisa menghasilkan buah-buah Roh Kudus yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Memberi, baru meminta


Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. '' Istri saya sakit,” terdengar suara minta pertolongan. ''Dia sangat membutuhkan dokter segera."
Si dokter menjawab, ''Dapatkah Bapak menjemput saya sekarang ? Mobil saya sedang masuk bengkel.''  
Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. ''Apa ?!!!!!!'' katanya dengan marah. ''Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini ???!!!'
Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep ''memberi sebelum meminta'' yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ini adalah sebuah kisah yang pernah saya baca di sebuah situs terkenal di Indonesia, Kaskus. Sesama kaskuser, saya terlebih dahulu meminta izin mengkopi artikel ini. No Plagiat !
Padahal ''memberi sebelum meminta'' adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain.
Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang. Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang ini pasti dibenci dimana pun-ia berada.
Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.
Terimakasih.

Tinggalkan Telepon Genggam di Rumah


Baru-baru ini saya ikut ambil bagian dalam Misa; tiba-tiba terdengar dering telepon genggam yang segera dimatikan. Hal ini terjadi dan terjadi lagi. Dering tersebut mengganggu orang banyak dan membuyarkan konsentrasi saya. Adakah peraturan mengenai penggunaan telepon genggam di gereja? ~ seorang pembaca
Telepon genggam merupakan trend baru. Semakin banyak saja orang yang memiliki telepon genggam dan terlihat mempergunakannya sementara mereka mengendarai mobil, berjalan kaki, menyusuri lorong-lorong supermarket, atau sekedar berdiri di suatu tempat. Lebih payah lagi, seorang imam teman saya di keuskupan lain, yang adalah imam paroki sebuah gereja yang berbentuk bundar, melihat para remaja di satu sisi gereja menelepon teman-teman mereka yang duduk di seberang, di sisi gereja yang lain. Kita mendengar telepon genggam berdering di pertokoan, di restoran, dan yang menyedihkan dalam perayaan Misa - betapa menjengkelkan. Bagi sebagian orang, telepon genggam yang diselipkan di ikat pinggang atau dalam dompet, atau bahkan dikalungkan di leher, memberikan gengsi tersendiri, teristimewa di kalangan para remaja; namun saya selalu bertanya-tanya, “Siapakah yang membayar pulsa mereka?” Walau telepon genggam sungguh memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam banyak hal, terutama dalam keadaan darurat, orang tidak boleh diperbudak oleh telepon genggam. Mengapakah orang harus selalu terus-menerus dapat dikontak? Seperti segala hal lainnya, ada masa dan saat yang tepat bagi segala sesuatu; dering telepon genggam yang mengganggu, sama sekali tidak dapat dibenarkan membuyarkan kekhidmadan perayaan Misa.
Memang tidak ada peraturan khusus mengenai telepon genggam, namun demikian rasa hormat terhadap Misa akan membantu kita memahami bagaimana menanggapi pertanyaan di atas. Konsili Vatikan Kedua, dalam “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” mengajarkan, “Sebab melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, `terlaksanalah karya penebusan kita'. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati” (No. 2).
Jangan pernah lupa bahwa kita berkumpul bersama sebagai Gereja untuk merayakan Misa agar dapat bersama dengan Tuhan kita, dan bahwa Ia sungguh hadir di antara kita (bdk “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” No. 7). Kristus hadir dalam Sabda Kitab Suci, “sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja.” Setiap orang wajib mendengarkan Sabda dengan seksama dan mencamkannya dalam hati.
Kristus hadir pula dalam imamat kudus yang Ia percayakan kepada para rasul-Nya, yang senantiasa diteruskan hingga hari ini melalui Sakramen Imamat kepada para imam-Nya. Seorang imam bertindak atas nama pribadi Kristus, jadi apabila imam melayani sakramen, Kristus Sendiri yang sesungguhnya melayani sakramen.
Kristus hadir dalam Ekaristi Kudus. Kurban berdarah Kalvari dihadirkan dalam kurban tak berdarah Misa Kudus. Roti dan anggur yang dipersembahkan sungguh diubah, di“transsubstansiasi” menjadi Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya. Kristus hadir secara istimewa bagi kita dalam Ekaristi Kudus; Ia mengundang setiap orang yang menerima Komuni Kudus untuk masuk ke dalam persatuan kudus dengan-Nya.
Kristus hadir dalam diri setiap orang beriman. Namun demikian, kehadiran-Nya ini paling sulit disadari. Kita harus memiliki kehendak untuk memilih Kristus di atas segalanya, dan mengasihi Kristus di atas segalanya. Setiap orang wajib berjuang untuk ikut ambil bagian sepenuhnya dalam perayaan Misa; menjadikan Misa sebagai suatu sembah sujud sejati kepada Allah. Dengan segala beban dan tanggung jawab yang harus dihadapinya tiap-tiap hari, umat beriman wajib memberikan satu jam saja selama seminggu dan mempersembahkan sepenuhnya bagi Allah, demi keselamatan jiwanya sendiri. Benar bahwa setiap orang harus bergulat melawan distraksi-distraksi yang mengganggu konsentrasinya dalam Misa, namun demikian setiap orang wajib melakukan yang terbaik guna melenyapkan sebanyak mungkin distraksi yang mungkin, dan memusatkan perhatian pada Misa Kudus.
Sebab itu, matikanlah telepon genggam. Dalam abad di mana komunikasi dapat dilakukan tanpa kabel, setiap umat beriman hendaknya mempergunakan bentuknya yang pertama, yaitu doa yang khusuk. Bukannya diinterupsi oleh dering telepon genggam, malahan setiap orang perlu menginterupsi hidupnya sehari-hari bagi Tuhan. Kita menjawab panggilan telepon seseorang yang mungkin sifatnya penting, tetapi menjawab panggilan Tuhan dalam Misa Kudus, baik sebagai anggota komunitas Gereja maupun sebagai pribadi, jauh terlebih penting. Jaringan telepon genggam kita dapat menjangkau hubungan internasional, tetapi jaringan ibadah sembah sujud kita dalam Misa Kudus bahkan menjangkau hubungan persekutuan dengan para kudus - yaitu persekutuan kita dengan semua santa dan santo serta para malaikat di surga, jiwa-jiwa di api penyucian dan segenap umat beriman di dunia ini - dan tanpa dibebani biaya roaming! Sebab itu, matikanlah telepon genggam dan biarkan baterainya diisi; dengan demikian baterai jiwa kita juga akan diisi. Marilah kita menjalin komunikasi sejati dengan Tuhan dalam Misa, daripada berkomunikasi dengan sesama, sebab tersedia banyak waktu untuk itu di luar Misa.
Dering telepon genggam yang berbunyi pada waktu Misa, mengganggu orang banyak yang berusaha mengarahkan diri dan memusatkan perhatian pada Tuhan. Dalam beberapa kesempatan, dering telepon yang berbunyi pada saat homili dan saat Doa Syukur Agung sungguh membuyarkan konsentrasi saya. Sebab itu, demi rasa hormat kepada Tuhan dan sesama, telepon genggam wajib dimatikan pada waktu Misa, dan bahkan jauh lebih baik jika ditinggalkan di rumah. Bagi sebagian orang, para dokter misalnya, yang mungkin sedang “dinas jaga”, nada getar sama efektifnya dengan nada dering. Marilah kita mempersembahkan kepada Tuhan perhatian yang penuh tak terbagi; tak ada seorang pun atau suatupun yang pantas mengganggu saat-saat kita yang berharga bersama Tuhan.

Hari Raya & Pesta Gerejani


Hari Raya Pentakosta
Pada Hari Raya Pentakosta, Roh Kudus turun atas Bunda Maria dan Para Rasul. Peristiwa ini terjadi lima puluh hari sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati dan sepuluh hari sesudah Yesus naik ke Surga. Pada hari inilah kita merayakan hari lahirnya Gereja! Roh Kudus menerangi pikiran Para Rasul sehingga mereka ingat dan mengerti akan semua yang telah diajarkan Yesus. Roh Kudus juga memberi mereka kekuatan sehingga para murid itu berani pergi dan menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.
St. Petrus, pemimpin Gereja, Paus Pertama kita, berbicara kepada orang banyak yang berkumpul. Ia mewartakan Yesus kepada mereka dan ribuan orang menjadi percaya serta menyerahkan diri untuk dibaptis!

Kita menerima Roh Kudus pertama kali pada saat kita menerima Sakramen Baptis. Kemudian kita dikuatkan dalam Roh Kudus oleh Sakramen Penguatan. Mari kita gunakan karunia-karunia Roh Kudus untuk melayani-Nya dengan lebih baik.


Pesta SP. Maria Mengunjungi Elisabeth
Setiap tanggal 31 Mei kita merayakan Pesta SP Maria mengunjungi Elisabet. Peristiwa ini adalah peristiwa gembira yang kedua dalam Rosario. Setelah Malaikat Gabriel memberitahukan kepada Santa Perawan Maria bahwa ia telah dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Yesus, ia juga memberitahukan kepada Maria bahwa Elisabet, sepupunya, sedang mengandung seorang anak laki-laki pada masa tuanya. Kitab Suci mengatakan bahwa Maria “bersiap-siap dan bergegas" ke rumah Elisabet untuk membantunya. Meskipun Maria baru saja menerima kabar bahwa ia akan menjadi Bunda Sang Juruselamat, ia rela bergegas membantu serta melayani orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Mari meluangkan waktu untuk berdoa rosario setiap hari sepanjang bulan ini bersama seluruh anggota keluarga. Jika kamu tidak dapat mendaraskan rosario seluruhnya, bagaimana jika setidak-tidaknya satu misteri dalam suatu peristiwa saja? Pikirkan, terutama pada bulan ini, untuk membantu serta melayani orang lain seperti yang dilakukan Maria. Mari menjadikannya tujuan agar dapat hidup kudus, sehingga suatu hari kelak kita dapat pergi ke surga dan berbahagia selama-lamanya dengan Yesus dan Maria!
Sumber: Yesaya.com

Mengapa Kita Menghormati Bunda Maria?


Sepanjang bulan Mei, Gereja meminta kita untuk memberi perhatian secara lebih istimewa kepada Santa Perawan Maria, Bunda Allah. Bunda Maria sangat berarti bagi kita karena beberapa alasan:

1. MARIA, GADIS YAHUDI
Pertama-tama karena Bunda Maria adalah Bunda Yesus. Maria adalah seorang gadis belia, mungkin usianya masih belasan tahun, ketika ia menjadi Bunda Yesus.
Kemungkinan besar Maria dilahirkan di kota Sepphoris, yang terletak di sebelah utara Palestina. Sepphoris adalah sebuah kota besar di mana bangsa Yahudi dan bangsa Romawi hidup berdampingan dengan damai. Sepphoris merupakan ibu kota Galilea. Kota itu memiliki banyak rumah yang indah dan bahkan sebuah gedung teater yang besar. Sepphoris hancur luluh dilanda gempa bumi besar ketika Maria masih kanak-kanak. Jadi keluarga Maria pindah beberapa mil jauhnya ke Nazareth, sebuah dusun kecil yang berpenduduk hanya 150 hingga 300 orang.
“Nazareth” dalam bahasa Ibrani mempunyai dua arti yang berbeda. Nazareth bisa berarti “lili, bunga bakung” yang merupakan simbol kehidupan, dapat juga berarti “keturunan”. Keluarganya berasal dari keturunan Raja Daud. Baik itu artinya bunga bakung ataupun keturunan, Nazareth adalah nama yang indah bagi tempat tinggal Maria. Di sanalah Maria bertemu dengan Yusuf, seorang tukang kayu. Kemungkinan Yusuf tidak jauh lebih tua dari Maria. Mereka pun bertunangan. Biasanya, masa pertungangan berlangsung selama satu tahun atau lebih. Si gadis akan menenun dan melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara sang pria akan membangun rumah tempat tinggal mereka. Kisah selanjutnya kita baca setiap tahun pada hari Natal.

2. MARIA, BUNDA ALLAH
Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Yesus juga sungguh Manusia, dan Ia bangga menjadi manusia. Yesus sering menyebut diri-Nya, “Anak Manusia.” Dalam bahasa Ibrani ungkapan tersebut berarti “manusia”. Karena Yesus tidak dapat dibagi menjadi dua: Yesus yang Allah dan Yesus yang Manusia, maka bunda-Nya juga disebut Bunda Allah.

3. MARIA, BUNDA KITA
Menjelang ajal-Nya di salib, Yesus memberikan Bunda Maria kepada kita untuk menjadi bunda kita juga. Yesus melakukannya ketika Ia menyerahkan Bunda Maria ke dalam pemeliharaan St. Yohanes, Rasul. Yesus berkata, " Inilah ibumu." Artinya Tuhan telah mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya sendiri. Ingatlah, ketika Yesus bangkit dari antara orang mati, Ia berkata, “Aku akan pergi kepada Allah-Ku dan Allah-mu, kepada Bapa-Ku dan Bapa-mu.” Jadi kita mempunyai Bapa dan Bunda yang sama dengan Yesus. Dengan demikian kita semua menjadi saudara dan saudari-Nya. Kita semua merupakan suatu keluarga yang mengagumkan!

Tunjukkanlah hormatmu kepada Bunda Maria. Ia membawa kita kepada Putera-nya, Yesus.
Sumber: Yesaya.com

Minggu, 20 Mei 2012

Dunia tanpa kekuatan

Sore ini saya membaca sebuah tulisan yang ada di kaos saya yang berbunyi “dunia tanpa kekuatan”
Bisa dibayangkan jika dunia tanpa kekuatan itu?
Saya membaca tulisan itu dan terlintas apa kekuatan dunia ini, dan yang pertama nyantol di otak saya adalah “cinta”, “spiritualitas” dan Allah. Cinta, spiritual dan Allah sendiri adalah kekauatan dunia ini.

Dunia saat ini memang telah mengalami “krisis” akan kekuatan-kekuatan ini karena dunia telah dililit oleh kepentiangan pribadi akan kepuasan dirinya sendiri, jika hal ini terus dibiarkan maka dunia pasti akan hancur dan kedamaian hilang dari atas dunia ini.
Kita bisa melihat kejadian-kejadian yang muncul hari-hari ini akan banyaknya perampokan dan pembunuhan demi pemenuhan kepuasan diri sendiri yaitu akan kebutuhan uang untuk pemenuhan diri sendiri ini. Cinta, spiritualitas, kemanusiaan dan Allah seolah telah dihilangkan dan tidak lagi dianggap keberadaannya.

Lalu bagaimana untuk mengatasi keadaan yang demikian ini? yaitu keadaan dimana dunia kehilangan kekuatannya yaitu cinta, kemanusiaan, spiritualitas dan Allah?
Memang ini bukan hal mudah karena setiap orang masih memiliki ego dan ingin memenuhi egonya ini, tapi saya yakin dari sekian banyak orang di dunia ini pasti ada yang ingin tetap menghadirkan cinta, kemanusiaan, spiritual dan Allah di dunia ini.
Cara menghadirkan kekuatan- kekuatan dunia ini adalah dengan banyak hal. Salah satu contohnya adalah rekan-rekan dalam FB (Face Book) yang berusaha menghadirkan cinta, kemanusiaan, spiritualitas dan Allah dalam kancah kehidupan di dunia ini, mereka ada dengan membentuk blog-blog rohari, membentuk ruang-ruang curhat dalam terang iman, membentuk milis dan membentuk kelompok-kelompok yang bisa menghadirkan kekuatan-kekuatan dunia ini. Saya yakin usaha ini akan menghasilkan buah yang berlimpah dan bisa dirasakan oleh banyak orang yang masih mau disapa oleh kekuatan-kekuatan dunia ini.

Bahkan saya sendiri telah memperoleh manfaat dan kegunaan dari apa yang dihadirkan oleh milis, kelompok atau blog-blog dalam dunia maya ini, saya menemukan pribadi-pribadi hebat yang terus berjuang dalam menghadirkan kekuatan dunia ini. Sokongan mereka sangat besar, salah satunya yaitu membantu pelayanan dan karya yang kami lakukan.

Saya menemukan pribadi-pribadi hebat yang mau menghadirkan kekuatan dunia dengan mencetak buku dengan tulisan dari rekan-rekan di FB, lalu mencetak kalender inspirasi yang hasilnya bisa dipakai untuk membangun sekolah bambu Atma Brata di kampung sawah Cilincing dan juga untuk membantu anak-anak kampung sawah ini serta lansia yang ada di sekitar kami.

Banyak hal terus dan terus bisa dilaksanakan untuk menghadirkan cinta, kemanusiaan, spiritual dan Allah yang masih berpihak pada dunia ini.
Sungguh kehadiran pribadi-pribadi ini adalah nyata dan ada sehingga dunia tidak akan kehilangan kekuatannya.
Dunia tanpa kekuatan akan tersingkir dan tergantikan dengan

dunia yang penuh kekuatan,
dunia akan dipenuhi cinta,
dunia akan dipenuhi rasa kemanusiaan,
dunia akan dipenuhi spiritual akan keillahian dan
dunia akan dipenuhi dengan Allah yang masih mengasihi dunia ini.

Saya tetap yakin dengan berani menghadirkan kekuatan-kekuatan dunia yaitu cinta, kemanuisaan, piritual dan Allah maka dunia akan bisa terselamatkan dan banyak orang akan kembali pada hakekatnya sebagai pribadi istimewa.

Jika setiap orang merasakan cinta, dimanusiakan, dipenuhi spiritual dan dekat dengan Allah maka dunia akan menjadi ruang yang nyaman serta kejahatan akan tersingkirkan.

Seperti apa yang boleh kami lakukan, walaupun kecil dan sederhana, ini bisa menghadirkan wajah dunia yang lebih baik, anak-anak bisa tersenyum karena kegembiraan, orang tua bisa lega dan lebih tenang karena memiliki pekerjaan walaupun sederhana sebagai penjit atau pedagang dengan modal kecil, lansia boleh lebih santai dalam hidup karena ada sedikit bingkisan nasi murah setiap hari, lingkungan lebih bersih karena ada pengolahan limbah plastik untuk digunakan sebagai bahan pembuatan tas, dompet dan aneka kerajinan lain.

Sungguh dengan bergandeng tangan dalam kebersamaan semua menjadi lebih baik dan dunia dipenuhi kembali dengan kekuatannya.

Cinta, kemanusiaan, spiritual dan Allah sendiri.

Jika keempat unsur kekuatan ini ada maka dunia akan menjadi lebih baik.

Mari kita berusaha menghadirkannya dalam kehidupan kita dan kehidupan sekitar kita.

“Dunia tanpa kekuatan” akan diganti dengan “Dunia dengan kekuatan”
“Dunia tanpa cinta” akan diganti dengan “dunia dengan cinta”

Salam dalam kebersamaan menghadirkan kekuatan dunia yaitu cinta, kemanusiaan, spiritual dan Allah agar dunia menjadi lebih baik.

petrusp

MEMBERI-Menjadikan Dunia Lebih Baik untuk Orang Lain & untuk Diri Sendiri

Pada tanggal 19 Maret 2011 yang lalu, kebetulan tidak ada kegiatan hari itu, saya memutuskan untuk ke toko buku Gramedia di jalan matraman Raya, 46-48 Jakarta. Di sini saya membeli beberapa buku. Ketika saya tengah menunggu di antrean kasir dengan beberapa buku belanjaan, tepat di depan saya ada seorang anak gadis kecil berjilbab yang tiba di meja kasir dengan tiga buku yang mau ia beli. Dari penampilannya, ia bukan anak dari seorang yang berada. Sambil memperhatikan pesan sms yang masuk, saya melirik ke kaki gadis kecil itu, ia memakai sandal jepit yang tampak kusam dan menipis. Saya bisa merasakan kegugupannya. Petugas kasir menghitung harga semua buku itu, dan ternyata uang gadis kecil itu tidak mencukupi untuk membeli ketiga buku itu. Gadis kecil itu buru-buru memutuskan untuk membatalkan satu buku. Pada penghitungan ke dua, kedua buku yang tersisa masih terlalu besar jumlahnya.

Pada titik ini, orang-orang di belakang saya bertanya-tanya apa yang menyebabkan tertahannya antrean. Bahkan, petugas kasir yang riang tampak mulai cemberut dan menjadi sedikit tak sabar. Yang terburuk, tampaknya gadis kecil itu akan berhenti mencoba membeli ketiga buku. Tanpa banyak kata, atas dorongan naluri, saya segera bertindak, merogoh ke dalam tas, mengambil dompet dan mengeluarkan uang kertas 20 ribu rupiah. “Cukupkah ini baginya untuk mendapatkan kedua buku itu?”, tanya saya dalam hati. Ternyata 20 puluh ribu rupiah cukup untuk menutupi kekurangannya, bahkan masih ada sisanya. Gadis kecil itu menatap sekilas ke saya, dengan malu-malu dan bergumam: “Terima kasih ya Om”…(hehehehe, saya dipanggil om.com), Saya pun menganggukan kepala, sambil menyentuh bahunya sejenak dan kemudian membiarkan dia berlalu di depan saya. Tiba-tiba seorang wanita cantik berkacamata di belakang saya menepuk bahu saya dan berkata: “Anda mengembalikan keyakinan saya akan sifat alami manusia”. Sadar dan tahu juga wanita cantik ini tentang apa yang saya lakukan… hehhehehe..

Saudara-saudariku, apa yang saya ceritakan di atas, bukan mau menunjukkan bahwa saya orang yang baik hati. Sebenarnya saya malu dengan semua kesempatan saat saya seharusnya memberi, tetapi kesempatan itu tidak saya lihat dan saya gunakan untuk memberi. Saya tidak memberikan uang kepada gadis kecil itu agar saya dikenal. Saya melakukanya hanya semata untuk membantu gadis kecil yang saya rasa akan mendapatkan manfaat bila memiliki dan membaca buku-buku itu, dan tentu saja dia merasa gembira karena telah memiliki buku yang mungkin ia inginkan selama ini.

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa kita tidak bisa memberikan kepada orang lain, tanpa mendapat pengaruh positif untuk diri sendiri. Saya percaya bahwa sebagai pribadi yang dicintai Allah, apa yang telah diberikan Tuhan kepada saya adalah juga untuk dibagikan kepada yang lain. Dan bila kita memiliki pola pikir yang melimpah, maka kita tidak perlu kuatir akan kehabisan. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak yang kita terima untuk diberikan kembali. Dalam hal ini rahasia dari memberi adalah: “saat Anda menjadikan dunia lebih baik untuk orang lain, Anda membuat dunia lebih baik untuk diri Anda sendiri.”

Salam dan GBU

YusTL pr

Misa Syukur & Ramah Tamah Yubelium


Cinta dan Kehilangan


Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami Macintosh satu tahun sebelumnya, dan  saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.  Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?
Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.  Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya.  Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.  Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.  Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang  menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia.  Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.  Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa
yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46


20 Mei 2012


Saudara dan Saudariku yang terkasih,
Menjelang hari Komunikasi Sedunia tahun 2012, saya ingin berbagi dengan anda beberapa permenungan tentang salah satu aspek dari proses komunikasi manusia yang meskipun penting, sering diabaikan, dan kini tampaknya sangat perlu untuk diingat. Ini menyangkut hubungan antara keheningan dan kata: dua aspek komunikasi yang perlu dipertahankan agar tetap berimbang, untuk diterapkan  secara bergantian dan diintegrasikan satu sama lain jika ingin mencapai dialog yang otentik dan hubungan kedekatan yang mendalam di antara manusia. Ketika kata dan keheningan terpisah satu dengan yang lain, komunikasi menjadi putus entah karena keterpisahan itu menimbulkan kebingungan atau  karena, sebaliknya, menciptakan suasana dingin. Namun apabila mereka saling melengkapi, komunikasi memperoleh nilai dan makna.
Keheningan adalah unsur utuh dari komunikasi;  tanpa keheningan, kata yang kaya pesan tak akan ada. Dalam keheningan, kita lebih mampu mendengar dan memahami diri kita sendiri, gagasan-gagasan dapat lahir dan mencapai kedalaman makna. Dalam keheningan, kita memahami dengan lebih jelas apa yang ingin kita katakan, apa yang kita harapkan dari orang lain dan bagaimana mengungkapkan diri. Dengan  keheningan, kita membiarkan  orang berbicara  dan mengungkapkan dirinya; dan  kita mencegah diri kita terpatok pada kata-kata dan gagasan kita sendiri tanpa ditelaah secara memadai. Dengan demikian, ruang yang diciptakan untuk saling mendengar dan membangun hubungan manusiawi menjadi lebih mungkin.
Seringkali dalam keheningan, misalnya, kita melihat adanya komunikasi paling otentik antara orang yang sedang jatuh cinta: gerak-gerik, ekspresi wajah dan bahasa tubuh adalah tanda-tanda   mereka mengungkapkan dirinya bagi yang lain. Kegembiraan, kecemasan dan penderitaannya dapat dikomunikasikan semuanya dalam keheningan. Sesungguhnya bagi mereka, keheningan merupakan cara mengungkapkan diri yang sangat kuat. Maka keheningan membuka jalan bagi komunikasi yang lebih aktif,  yang bila disertai kepekaan dan kemampuan untuk mendengar, ia mampu mewujudkan takaran dan kodrat hubungan yang benar oleh mereka yang terlibat dalamnya. Ketika pesan dan informasi melimpah ruah, keheningan menjadi hakiki untuk membedakan mana yang  penting dan mana yang tidak berguna atau sekuder. Permenungan yang lebih mendalam membantu kita menemukan  jalinan antara peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan, mengevalusasi, menganalisis pesan dan hal ini memungkinkan kita berbagi pendapat yang bijaksana dan relevan, sehingga melahirkan suatu stuktur  otentik mengenai pengetahuan yang kita miliki bersama. Agar hal ini terjadi, perlu dikembangkan lingkungan yang sesuai, sejenis ‘ekosistem' yang mempertahankan keseimbangan antara keheningan, kata-kata, gambar dan suara.
Proses komunikasi pada saat ini sebagian besar  dipicu oleh  pertanyaan pencarian jawaban. Mesin pencari dalam jejaringan sosial telah menjadi titik awal komunikasi bagi banyak orang yang mencari saran, gagasan, informasi dan jawaban. Di zaman kita, internet lebih menjadi sebuah forum untuk pertanyaan dan jawaban. Memang, manusia zaman kini sering diterpa dengan  jawaban-jawaban untuk pertanyaan yang tidak pernah mereka ajukan dan kebutuhan yang tidak pernah mereka sadari. Bila kita mengenal dan berfokus pada pertanyaaan-pertanyaan yang sungguh-sungguh penting, maka keheningan adalah suatu modal berharga yang memampukan kita untuk  memiliki ketrampilan membedakan secara tepat  berhadapan dengan meningkatnya stimulus dan data  yang kita terima. Bagaimanapun juga, di tengah kerumitan dan keragaman dunia komunikasi, banyak orang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan utama tentang keberadaan manusia:  siapakah saya? Apa yang dapat saya tahu? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang boleh saya harapkan? Hal ini penting untuk memberikan jawaban kepada mereka yang seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan serupa dan membuka kemungkinan untuk sebuah dialog yang mendalam- melalui sarana kata-kata dan tukar pikiran- tetapi juga  melalui panggilan untuk permenungan yang hening; sesuatu yang seringkali lebih berharga ketimbang jawaban yang tergesa-gesa, sekaligus memberikan kemungkinan kepada para pencari jawaban menjangkau kedalaman diri dan membuka diri bagi jalan menuju pengetahuan yang telah diukir Allah dalam sanubari manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan  yang senantiasa dilontarkan ini menunjukkan kegelisahan manusia yang tiada hentinya mencari kebenaran- dari yang terpenting hingga yang kurang penting- yang dapat memberikan makna dan harapan bagi kehidupan mereka. Kaum laki-laki dan perempuan tidak boleh merasa puas dengan tukar pikiran dan pengalaman hidup yang dangkal dan meragukan tanpa mempertanyakannya. Kita semua sedang  mencari kebenaran dan memendam kerinduan yang sama lebih dari masa yang pernah ada: "ketika manusia berbagi informasi, mereka telah berbagi diri mereka, pandangan mereka tentang dunia, harapan dan gagasan mereka" (Pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011).
Kita perlu menaruh perhatian terhadap berbagai jenis website (laman), aplikasi dan jejaring sosial yang dapat membantu manusia zaman ini menemukan waktu untuk permenungan dan pertanyaan sejati sekaligus  menciptakan ruang untuk keheningan  dan kesempatan untuk berdoa, meditasi, atau syering Sabda Allah. Melalui kalimat-kalimat yang singkat namun padat, seringkali tidak lebih panjang dari sebuah ayat dalam Kitab Suci, sebuah pemikiran yang mendalam dapat dikomunikasikan, asalkan mereka yang terlibat dalam percakapan itu tidak mengabaikan perlunya pertumbuhan hidup batin mereka sendiri. Tidak mengherankan bahwa  berbagai tradisi agama yang berbeda  menganggap kesendirian dan keheningan sebagai suatu keadaan  yang membantu manusia menemukan kembali diri mereka dan kebenaran yang memberikan makna bagi segala hal. Allah dalam wahyu Kitab Suci berbicara juga tanpa kata-kata: ‘seperti yang terungkap oleh Salib Kristus, Allah juga berbicara melalui keheningan. Keheningan Allah, pengalaman berjarak dari Allah yang mahakuasa adalah tahapan yang menentukan dalam perjalanan duniawi Putra Allah, Sabda yang menjelma . . . .keheningan Allah memperkaya kata-kata-Nya yang disampaikan sebelumnya. Dalam masa-masa kegelapan seperti inilah, Dia berbicara melalui rahasia keheningan-Nya" (Verbum Domini,21). Dalam keheningan Salib, kasih Allah dihidupi sedemikian sehingga menjadi sebuah pemberian yang paling utama. Setelah kematian Kristus, ada keheningan besar di atas bumi dan pada hari Sabtu Suci, ketika sang Raja meninggal ... Allah wafat dalam daging  dan membangkitkan mereka yang telah wafat sejak berabad-abad yang lalu" ( bacaan pada Hari Sabtu Suci); suara Allah bergema kembali, dipenuhi kasih bagi umat manusia.
Jika Allah berbicara kepada kita, bahkan dalam keheningan, kita pada gilirannya menemukan dalam keheningan kemungkinan berbicara dengan Allah dan tentang Allah. "kita membutuhkan keheningan untuk kontemplasi yang mengantar kita kepada titik dimana  sang Sabda, yaitu Sabda penebusan, lahir. (Homili, Perayaan Ekaristi bersama para anggota Komisi Teologi Internasional, 6 Oktober 2006). Apabila kita berbicara tentang kebesaran Allah, bahasa yang kita pergunakan tidak selalu memadai, dan dengan demikian, kita perlu membuka ruang untuk kontemplasi dalam keheningan. Dari kontemplasi itu, lahirlah dengan segala kekuatan batin, kerinduan yang mendesak akan perutusan, suatu kebutuhan  ‘mengkomunikasikan apa yang telah kita lihat dan dengar" sehingga semua orang memperoleh persekutuan dengan Allah. (1 Yoh 1:3). Kontemplasi  hening menyelimuti kita di dalam sumber cinta kasih yang  menuntun kita bertemu dengan sesama sehingga kita dapat merasakan penderitaan mereka dan  menyampaikan kepada mereka terang Kristus, amanat kehidupan dan karunia penyelamatan-Nya yang penuh kasih.
Kata dan keheningan: belajar berkomunikasi adalah belajar untuk mendengar dan merenung sebagaimana berbicara. Hal ini terutama penting bagi mereka yang  terlibat dalam karya evangelisasi: baik keheningan maupun kata adalah unsur hakiki, bagian utuh karya komunikasi Gereja demi pembaruan karya pewartaan Kristus zaman ini.  Kepada  Bunda Maria,  yang dalam keheningannya "mendengarkan Sabda dan menjadikannya mekar" (Doa pribadi di Loreto, 1 September 2007),  saya mempercayakan semua karya evangelisasi yang Gereja laksanakan melalui sarana komunikasi sosial.

 Vatikan, 24 Januari 2012, Pesta Santo Fransiskus dari Sales

Paus Benediktus XVI.

Pengajaran Dasar Bunda Maria



Walaupun hingga kini belum diakui secara resmi oleh Bunda Gereja (Magisterium, Kolegium Para Uskup Gereja Katolik seluruh dunia di bawah pimpinan Paus sebagai uskup Roma), umat Kristen Katolik juga menyebut Bunda Maria Penebus Serta (Coredemtrix =penebus serta, kawan atau rekan penebus). Dengan gelar penebus serta tidak berarti kita memiliki dua penebus, penebus dan juru selamat kita hanya Yesus Kristus (Lihat Yoh 14:6; Kis 4:12; Mat 20:28; Mrk 10:45; 1Tim 2:6). Maria mendapat Gelar Penebus serta karena ia memegang peranan yang sangat penting dalam sejarah keselamatan. Bila kita perhatikan Lukas 1:38 "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." disini jelas bahwa Maria mau mengandung Yesus yang adalah Juruselamat dan Penebus (dengan segala konsekuensinya bahkan Penderitaan dan kepedihan "dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri" Luk 2:35), Maria bisa saja menolak, karena setiap manusia dikaruniai kehendak bebas (bdk Ul 30:19), nah inilah yang menjadikan Maria sebagai penebus serta, karena ketidaktaatan manusia akan kehendak Allah "ditebus" dengan Ketaatan Maria kepada kehendak Allah. Itulah sebabnya para Bapa Gereja mengatakan bahwa Maria adalah Hawa yang baru (a new Eve) hal itu diungkapkan oleh St. Justinus Martir dan Irenaeus pada Abad ke 2 bahkan St. Hieronimus mengatakan "Per Evam mors, per Mariam vita" Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria.

Dalam hal ini Maria tidak ikut menebus seperti Yesus, tetapi maria membuka jalan sehingga karya Penebusan itu terjadi. Kerjasama yang erat antara Allah dan Maria membuat karya keselamatan itu terjadi karena itulah Maria mendapat gelar Penebus serta atau Rekan Penebus (Co Redemptrix)

Ada anggapan bahwa Kita akan semakin sulit mengerti gelar Maria sebagai Coredemtrix bila kita berhadapan dengan gelar Maria "dikandung tanpa noda dosa" (dogma: Maria Immaculate Conception).Dogma Maria "dikandung tanpa noda dosa asal" maksudnya bahwa sejak Maria dikandung oleh ibunya (St. Anna), Maria telah dilindungi atau ditebus secara istimewa oleh Allah sehingga ia tidak terkena dosa asal Adam-Hawa agar layak menjadi ibu Juru Selamat Yesus Kristus. Masalah: Kita percaya bahwa karya penebusan Yesus Kristus itu bersifat universal. Maksudnya, semua orang, tanpa kecuali, sejak Adam dan Hawa, ditebus Yesus dari dosa asal. Tapi kita yakin bahwa Maria sudah bebas dari dosa asal, maka Maria tidak terkena karya penebusan Yesus. Akibat lebih lanjut karya penebusan Yesus tidak universal. Persoalan ini dijelaskan Gereja dengan mengatakan bahwa karya penebusan Yesus Kristus tidak dibatasi ruang dan waktu. Yesus sudah mulai menebus secara sebelum Ia menjelma menjadi manusia. Ia sudah menebus ibuNya Maria dari noda dosa asal sebelum supaya layak menjadi BundaNya, dan dengan demikian karya penebusan Yesus tatap universal. Kalau kita percaya bahwa sebagai Allah karya penebusan Yesus bisa saja tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa saja sudah mulai berkarya secara efektif sebelum menjelma menjadi manusia. Tapi dalam hubungan dengan gelar coredemtrix, bagaimana kita bisa mengerti kalau Maria juga sudah ikut menebus bersama Yesus sejak sebelum Ia menjadi menusia? --> Terhadap masalah ini pertama-tama kita harus melihat bahwa Maria tidak ikut menebus seperti Yesus. lalu hubungannya dengan Dogma Maria dikandung tidak bernoda asal adalah sbb: Maria dikandung tidak bernoda untuk mengantisipasi kelahiran Yesus sehingga Maria sejak dalam kandungan ibunya bebas dari noda dosa sehingga Maria menikmati karya penebusan itu terlebih dahulu (untuk lebih jelasnya lihat Maria disebut tabut perjanjian, Maria dikandung tanpa Noda Dosa (Immaculata) & Maria Diangkat ke Surga). tetapi Maria itu tetap seorang manusia dan dengan demikian ia memiliki kehendak bebas untuk memutuskan sesuatu (bdk Ul 30:19). lalu Maria memilih taat kepada kehendak Allah dengan mau dan bersedia melahirkan Yesus, maka ketika ia menyetujui untuk mengandung Yesus maka ia setuju untuk bekerjasama dengan Allah dalam mewujudkan karya keselamatan dengan hal inilah ia disebut Rekan Penebus 

(Penebus Serta / Co-Redemptor)a

Kekudusan dan Pelayanan

Hari Minggu Paskah VII
P. Paulus Tongli, Pr
Sumber Inspirasi: Yoh 17:11-19


Ada dua gejala yang mewarnai kecenderungan bertindak mayoritas orang yang sering kita jumpai. Gejala pertama biasa disebut gejala formalisme agama, yaitu suatu kecenderungan untuk melihat agama sebagai suatu rangkaian tindakan kultis untuk pengudusan diri terpisah dari sikap sosial. Pengudusan pribadi diperoleh melalui ibadat-ibadat kultis berupa doa dan persembahan. Gejala lain adalah yang biasa disebut relativisme agama, yaitu suatu kecenderungan untuk melihat agama sebagai hal yang sekunder berhadapan dengan sikap sosial. Yang terpenting dalam gejala kedua ini adalah sikap sosial, dengan prinsip “karyaku adalah doaku”. Sabda Yesus di dalam bacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan pemahaman kita akan agama yang benar, atau lebih tepat lagi iman yang benar. Dalam renungan ini saya ingin mengajak kita untuk memusatkan perhatian pada ayat ini: “aku menguduskan diriKu bagi mereka supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” (Yoh 17:19). Penyerahan diri dalam pelayanan tanpa melupakan pentingnya pengudusan pribadi merupakan dua sisi dari satu koin agama yang sejati. Kutipan ini terdiri dari 3 bagian: (1) bagi mereka (2) Aku menguduskan diriku, dan (3) supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. 

Bagian (1) “bagi mereka”: Yesus menyerahkan diri secara total demi keselamatan orang lain. Ia menunjukkan tujuan hidupnya dengan mengatakan “Aku datang agar mereka memiliki hidup, dan memilikinya dalam segala kelimpahannya” (Yoh 10:10). Yesus memiliki kuasa yang dahsyat, tetapi ia menggunakan kuasa itu lebih untuk menolong orang lain daripada untuk kepentingannya sendiri. Ketika orang lapar di tempat yang terpencil, ia memperbanyak roti untuk memberi mereka makan, tetapi ketika ia sendiri lapar di padang gurun, ia tidak ingin menggunakan kuasa-Nya untuk mengubah batu menjadi roti bagi dirinya sendiri. Ketika ia lelah dan membutuhkan istirahat, ia naik ke dalam perahu dan menuju ke tempat yang sunyi, tetapi ketika ia tiba di sana, ia menemukan begitu banyak orang yang telah tiba lebih dahulu untuk mencari Dia. Melihat begitu banyak orang yang seperti kawanan domba tanpa gembala, ia dengan segera mengubah rencana-Nya untuk beristirahat dan mulai melayani mereka. Perhatian untuk yang lain merupakan ciri hidup dan pelayanan-Nya. 

Pemahaman bahwa injil menuntut setiap orang Kristen aktif mengusahakan kesejahteraan material dan spiritual mereka yang kurang beruntung telah membangkitkan gerakan yang biasa disebut gerakan injil sosial atau yang di Amerika Latin muncul dalam bentuk teologi pembebasan (meskipun istilah ini sedikit bernada politis). Mereka yang terlibat dalam usaha untuk mengikis kemiskinan dan penderitaan di dalam lingkungannya memantulkan roh belaskasihan dan pengingkaran diri di dalam diri sesama, sebagaimana yang mereka lihat dan terima dari Yesus. Bagian (1) pada pernyataan Yesus ini menekankan bahwa keprihatinan akan orang lain merupakan inti dari kabar gembira Kristus. 

Bagian (2): “Aku menguduskan diri-Ku” menekankan bahwa pengudusan diri (pribadi) juga merupakan unsur penting di dalam hidup kristiani dan menjadi dasar bagi keprihatinan akan orang lain. Yesus selalu hadir bagi orang lain, namun Ia tidak lupa untuk menguduskan diri sendiri. Ia senantiasa menjalin hubungan yang akrab dengan Bapa, yang mengutus-Nya. Berulangkali diungkapkan bahwa Ia mencari tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35. 6:31 dll), atau semalam-malaman Ia berdoa kepada Bapa (Luk 6:12). Memang ada bahaya, bahwa orang begitu terlibat di dalam pelayanan kepada orang lain, tetapi lupa memperhatikan hidup pribadi dan persatuan batin dengan Allah (penyucian diri). Bagaimana mungkin orang melakukan pekerjaan Tuhan tetapi melupakan Tuhan dari pekerjaan? Orang yang secara aktif membantu orang lain harus juga aktif memelihara hubungan batiniah dengan Allah demi pengudusan diri. Bila tidak demikian, orang akan tersesat di dalam hutan aktivitas. Injil sosial dalam arti yang benar haruslah berdasarkan injil personal akan keintiman dengan Tuhan. 

Dan kini bila kita memperhatikan lingkungan sekitar kita, apa gerangan yang kita lihat? Kita melihat begitu banyak orang Kristen yang begitu tekun mengusahakan penyelamatan dan pengudusan pribadi tetapi lupa untuk mewujudkan pengudusan pribadi itu di dalam keprihatinan dan perhatian kepada mereka yang kurang beruntung. Orang Kristen yang demikian hanya mengusahakan injil pribadi dan menyangkal injil social. Mereka hanya melihat satu sisi dari kepingan mata uang. Kita juga mengenal orang-orang yang begitu terlibat di dalam usaha untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian social tetapi menganggap doa, ke gereja dan aktivitas kerohanian lainnya sebagai hal membuang-buang waktu. Orang Kristen yang demikian hanya mengusahakan injil sosial tetapi mengabaikan injil pribadi. 

Yang mana dari keduanya yang lebih baik, injil sosial atau injil pribadi? Tidak ada satu pun yang lebih baik bila orang hanya memilih salah satu dan mengabaikan yang lainnya. Dalam hal ini bukanlah perkara pilihan entah yang satu atau yang lainnya. Di sini tidak ada pilihan antara keduanya, tetapi yang satu mengandaikan yang lainnya. Jadi bagi kita orang yang rajin atau secara teratur beribadat, pergi ke gereja, bahaya terdapat pada terlalu memusatkan diri pada usaha untuk mencapai keselamatan dan kekudusan diri sendiri sehingga lupa untuk prihatin akan yang lain. Renungkanlah kata-kata Henry van Dyke berikut ini: Orang yang berjalan sendirian mencari surga untuk menyelamatkan jiwanya, mungkin hanya akan sibuk mencari jejak. Ia ada di dalam bahaya tidak sampai pada tujuan; tetapi orang yang berjalan di dalam cinta mungkin akan berjalan jauh, 

tetapi Allah akan mengantar dia ke tempat orang-orang terberkati. 

Cari Blog Ini