Cari Blog Ini

Rabu, 28 Maret 2012

PERAYAAN-PERAYAAN LITURGIS SELAMA PEKAN SUCI DAN TRIHARI PASKAH


C.H. Suryanugraha, OSC
Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung

Sebelum memasuki masa Trihari Paskah (Triduum Paschale, TP) Gereja mengalami suatu masa tobat dan puasa yang disebut dengan Masa Prapaskah (Tempus Quadragesimae, TQ). Pada hari-hari terakhir Masa Prapaskah dan menjelang Trihari Paskah masih terdapat suatu masa yang cukup penting, yakni Pekan Suci (Hebdomada Sancta, HS). 

Pekan Suci diawali dengan Misa Pengenangan Sengsara Tuhan pada perayaan Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Kamis Putih menjelang Misa Perjamuan [Malam] Tuhan sekaligus merupakan akhir Masa Prapaskah dan Pekan Suci. 

Selama Trihari Paskah Gereja merayakan misteri-misteri terbesar karya penebusan. Perayaan Trihari Paskah merupakan puncak Tahun Liturgi. Rangkaian Trihari Paskah itu dimulai dengan Misa Perjamuan Tuhan padaKamis Putih sore dan berakhir dengan Ibadat Sore II Hari Minggu Paskah. Saat-saat itu Gereja mengenangkan peristiwa penyaliban (sengsara), pemakaman (wafat), dan kebangkitan Kristus. Ada satu garis ritual yang utuh: awal, puncak, dan penutup. 

Tulisan ini hanya ingin menyampaikan kekayaan perayaan-perayaan liturgis Pekan Suci dan Trihari Paskah itu dalam cara yang amat sederhana. Ibaratnya seorang siswa atau mahasiswa yang membuat catatan ringkas hal-hal penting yang perlu diingatnya sebelum menghadapi ujian. Cara ini mungkin akan membantu, mudah dijadikan sebagai pegangan sebelum kita mempersiapkan liturgi-liturgi Pekan Suci dan Trihari Paskah yang biasanya amat menyita pikiran, tenaga, dan waktu kita. Maka dari itu setiap hari liturgis akan dijelaskan secara cukup rinci to the point, lengkap dengan hal-hal penting yang perlu diketahui. Pemaparan beranjak dari makna, ketentuan liturgis, susunan liturgi, bacaan-bacaan liturgis, hingga unsur-unsur khas masing-masing.

Sebuah bagan (lihat berikut ini) akan membantu kita untuk lebih dapat memahami tempat Pekan Suci dan Trihari Paskah (Hari Liturgis) dalam konteks penghitungan waktu profan, waktu sebagaimana kebanyakan orang memahaminya (Hari Umum). Masih banyak yang kurang tepat dalam menghitung. Hari-hari apa saja sesungguhnya yang termasuk dalam masa Pekan Suci dan Trihari Paskah? Kapan Pekan Suci dan Trihari Paskah itu dimulai dan diakhiri? 


Jenis-jenis kegiatan umat, baik yang liturgis maupun paraliturgis, juga kami cantumkan (Kegiatan Liturgis/Paraliturgis). Tentu saja yang kami tampilkan adalah yang kurang lebih ideal, jenis-jenis kegiatan yang sebaiknya dilakukan pada hari-hari tertentu karena mengandung makna yang selaras, tidak rancu, dan menjaga alur perayaan selama beberapa hari liturgis yang istimewa itu. Yang ideal memang tidak atau belum selalu berarti yang dipraktikkan juga oleh umat atau Gereja di paroki-paroki selama Pekan Suci dan Trihari Paskah. Kegiatan-kegiatan liturgis selama Pekan Suci dan Trihari Paskah amat beragam dan kaya simbolisme. Tanpa mengecilkan arti keberadaan yang lain, kegiatan liturgis utama (nomer tebal: 1, 4, 5, 7, 10, 11) yang biasanya dibanjiri umat tentu amat perlu kita perhatikan secara khusus. Meskipun hanya menyebutkan dan tanpa menguraikan, kegiatan-kegiatan paraliturgis juga kami tampilkan, karena kegiatan-kegiatan semacam itu masih dikenal dan dirindukan umat. Terlebih, kegiatan paraliturgis tetap diharapkan membantu penghayatan umat akan perayaan liturgis, terutama spiritualitas yang terkandung di dalamnya. 

Garis-garis terputus di bawah nama Hari Umum menandakan batas antara hari umum yang sebelum dengan yang berikutnya. Masa Trihari Paskah dibingkai dengan garis ganda. Di dalamnya, garis-garis terputus di bawah tulisan Hari Liturgis menandakan batas Hari Umum. Berarti juga bahwa kegiatan-kegiatan liturgis/paraliturgis dapat berlangsung selama masa transisi dari hari yang satu ke hari berikutnya.

Menutup Salib Untuk Apa?

Kapan sih salib mulai ditutup? Sebelum Perayaan Sabda Jum’at Agung atau setelah Misa Kamis Putih atau sebelumnya? Yang jelas dalam Perayaan Sabda pada Jum’at Agung ada upacara pembukaan selubung / tutup / bungkus salib.Dari dokumen liturgi yang ada, kita menemukan surat edaran dari Kongregasi Ibadat Ilahi tentang pedoman Pekan Suci artikel 56 berbunyi:

Sesudah Misa (Kamis Putih, Peringatan Perjamuan Malam Terakhir) altar harus kosong sama sekali. Baiknya setiap salib di Gereja dibungkus dengan kain merah atau ungu, kecuali bila salib-salib itu sudah dibungkus pada hari Sabtu sebelum Minggu V Masa Prapaska. Tidak boleh dinyalakan lampu di depan patung-patung orang kudus (Seri Dokumen Gerejawi no: 71 hal 22).

Jawaban pertama adalah setelah Misa Kamis Putih (in Cena Domini). Gereja bermaksud merenungkan Yesus yang setelah perjamuan terakhir, menderita sengsara. Tuhan Yesus ingin juga kita selalu berjaga, waspada , jangan sampai tertidur. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (bdk.Luk22:39-46 par). Yesus menghadapi salib yang sudah di depan mata.

Saat-saat ini menjadi bagi kita saat untuk berpuasa, bertobat dari segala kejahatan dan dosa. Tuhan Yesus menderita untuk menebus kita dari dosa-dosa. Kita diajak, mari kita menutup mata, menyadari siapakah kita di hadapan Tuhan. Suasana ini berlanjut dari Kamis malam itu, Jum’at Agung pagi ketika kita diundang untuk mengalami jalan salib Tuhan, dan siangnya kita diundang untuk membelalakkan mata, membuka penutup salib satu persatu. Begitu hebat pengabdian Yesus. Dia yang adalah Allah, mengosongkan Diri-Nya, dengan menjadi manusia, mati di kayu salib (bdk.Fil 2:1-11). Tutup salib di buka, dan semakin jelaslah gambar, figure Sang Penebus dosa itu. Suasana puasa dan upaya pertobatan masih sangat nampak dan dilanjutkan pada hari berikutnya, Sabtu sepi. Saat Sang Mempelai diambil, saat sang pengiring berpuasa (bdk.Mrk.2:20 par). Juga pada hari Sabtu bisa diadakan ibadat Tenebre (gelap), yang ingin merenungkan kegelapan makam, saat-saat genting dan gelisah, saat dibutuhkan sebuah cahaya(art 40). Itulah yang kemudian dirayakan pada Malam Paskah, Upacara Cahaya, lilin, Yesus bangkit, menjadi cahaya dalam kegelapan, harapan dalam ketidak pastian.

Jawaban kedua: Salib ditutup pada Sabtu sebelum Minggu ke V Prapaska., alasannya ingin direnungkan peristiwa kematian, suasana pertobatan dan pengampunan sebagai hasil dari kebangkitan. Permenungan ini pada bacaan Injil Minggu kelima prapaska, tahun A dari Yoh 11:1-45 tentang kematian dan kebangkitan Lazarus; Tahun B dari Yoh 12:20-33 tentang Biji gandum yang harus mati agar menghasilkan buah banyak dan Tahun C , Injil Yoh 8 : 1- 11 tentang Pengampunan Wanita Berdosa.

Pekan kelima Prapaskah menjadi pekan terakhir ,menjadi pekan yang lebih intens untuk memasuki Pekan Suci, pekan Sengsara yang diawali dengan Minggu Palma.Permenungan semakin diarahkan pada kematian dan kebangkitan Yesus.Hari Jum’at Agung menjadi hari sunyi, hari meditasi dan refleksi, hari nyepi, tidak ada api / lampu/ lilin di depan patung-patung orang kudus, supaya focus kita adalah Yesus yang menderita , menjalani hukuman disalibkan dan wafat. Tidak ada devosi kepada yang lain. Sembah sujud kita dipusatkan kepada Sang Penebus yang wafat tapi Dia yang bangkit.

Misa Krisma dan Minyak Suci

oleh: Romo William P. Saunders *

Pada pagi hari Kamis Putih, uskup bersama dengan para imam dalam keuskupannya, berkumpul di katedral untuk merayakan Misa Krisma. Misa ini menunjukkan persatuan antara para imam dengan uskup mereka. Dalam Misa Krisma, uskup memberkati tiga macam minyak - minyak katekumen (oleum catechumenorum atau oleum sanctorum), minyak orang sakit (oleum infirmorum) dan minyak krisma (sacrum chrisma) - yang nantinya dipergunakan dalam pelayanan sakramen-sakramen di seluruh wilayah keuskupan sepanjang tahun itu. Tradisi ini berasal dari Gereja Perdana seperti dicatat dalam Sakramentarium Gelasius (dinamakan seturut Paus Gelasius I, wafat tahun 496), tetapi kemudian dimasukkan ke dalam Misa sore Kamis Putih; Paus Pius XII menerbitkan suatu Rangkaian Ibadat yang baru untuk Pekan Suci, di mana ditetapkan kembali suatu perayaan Misa Krisma khusus yang membedakannya dari Misa sore.

Sepanjang Kitab Suci, terdapat berbagai referensi yang menyatakan pentingnya minyak zaitun dalam kehidupan sehari-hari. Minyak dipergunakan untuk memasak, teristimewa dalam membuat roti, yakni bahan makanan pokok (mis Bil 11:7-9); sebagai bahan bakar pelita (mis Mat 25:1-9); dan sebagai unsur penyembuh dalam pengobatan (mis Yes 1:6 dan Luk 10:34). Di samping itu, kaum Yahudi mengurapi kepala tamu mereka dengan minyak sebagai ucapan selamat datang (mis Luk 7:46), memperelok penampilan seseorang (mis Rut 3:3) dan memburat jenazah sebelum dimakamkan (mis Mrk 16:1). Dalam praktek keagamaan, bangsa Yahudi juga mempergunakan minyak untuk mempersembahkan kurban (mis Kel 29:40); mempersembahkan suatu tugu peringatan demi menghormati Tuhan (mis Kej 28:18); dan untuk menguduskan kemah pertemuan, tabut perjanjian, meja, kandil, mezbah pembakaran ukupan, mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan (mis Kel 30:26-29). Penggunaan minyak jelas merupakan bagian dari hidup masyarakat sehari-hari. 

Kitab Suci juga menegaskan simbolisme rohani dari minyak. Misalnya, dalam Mazmur 23:5 kita dapati, “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,” menggambarkan kemurahan dan kekuatan dari Tuhan; dan Mazmur 45:8, “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu,” menggambarkan perutusan istimewa dari Tuhan dan sukacita menjadi hamba-Nya. Lagipula, “diurapi” oleh Tuhan menyatakan bahwa seorang menerima suatu panggilan khusus dari Tuhan dan kuasa Roh Kudus untuk menunaikan panggilan itu. Yesus, dengan menggemakan kata-kata Yesaya, bersabda, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk 4:18). St Paulus menegaskan point ini, “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:21). Sebab itu, simbolisme minyak adalah berlimpah pengudusan, penyembuhan, pemberian kekuatan, tanda perkenanan, dedikasi, penyerahan diri dan kurban.

Berdasarkan warisan ini, Gereja perdana mengadaptasi penggunaan minyak zaitun dalam ritual sakramentalnya. Minyak Katekumen dipergunakan sehubungan dengan Sakramen Baptis. St Hipolitus dalam Tradisi Apostoliknya (215) menulis mengenai suatu “minyak eksorsisme” yang dipergunakan untuk mengurapi para calon baptis menjelang pembaptisan. Praktek ini masih terus dilakukan. Dalam liturgi baptis yang sekarang, imam mendaraskan doa pembebasan dan lalu, dengan minyak katekumen mengurapi orang yang akan dibaptis pada dadanya, seraya mengatakan, “Kami mengurapi engkau dengan minyak keselamatan dalam nama Kristus Juruselamat kita; kiranya Ia menguatkan engkau dengan kuasa-Nya, Ia yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Pengurapan dengan minyak katekumen sesudah doa pembebasan juga dapat dilakukan sepanjang masa katekumenat di salah satu atau beberapa kesempatan. Dalam kedua peristiwa tersebut, pengurapan ini melambangkan kebutuhan manusia akan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan untuk mematahkan belenggu masa lampau dan mengatasi perlawanan dari yang jahat agar ia dapat mengaku imannya, datang pada pembaptisan dan hidup sebagai anak Allah. 

Minyak orang sakit dipergunakan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit (dulu dikenal sebagai Sakramen Terakhir). St Yakobus menulis, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para panatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak 5:14-15). Dalam Tradisi Apostolik oleh St Hipolitus, dicatat satu dari rumusan-rumusan tertua untuk memberkati minyak orang sakit. Juga, pada masa Gereja awali, seorang imam (atau beberapa imam) akan memberkati minyak ini pada saat minyak hendak dipergunakan, suatu tradisi yang masih dilestarikan dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi, dalam Ritus Latin, setidak-tidaknya sejak Abad Pertengahan, para imam menggunakan minyak yang telah diberkati uskup; sebagai contoh, St Bonifasius pada tahun 730 menginstruksikan kepada semua imam di wilayah Jerman untuk hanya menggunakan minyak orang sakit yang telah diberkati uskup. Sekarang, imam mengurapi dahi orang yang sakit seraya mengatakan, “Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus,” dan lalu imam mengurapi kedua tangan si sakit seraya berkata, “Semoga Tuhan membebaskan saudara dari dosa dan membangunkan Saudara di dalam rahmat-Nya.” Bagian tubuh yang lain dapat juga diurapi jika tidak mungkin mengurapi tangan atau jika terdapat suatu kebutuhan khusus lainnya.

Terakhir, minyak krisma merupakan campuran minyak zaitun dan balsam, suatu damar aromatik. Minyak ini berhubungan dengan pengudusan orang. Pada masa Perjanjian Lama, para imam, para nabi dan para raja bangsa Yahudi diurapi. Minyak ini dipergunakan dalam Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan dan Sakramen Tahbisan Suci sebab ketiga sakramen ini menerakan suatu tanda sakramental yang tak terhapuskan. Pemberkatan minyak krisma berbeda dari minyak-minyak lainnya: Uskup menghembus di atas bejana krisma, suatu gerakan yang melambangkan baik Roh Kudus yang turun ke atas minyak yang dikuduskan ini, dan melambangkan kodrat pemberian diri dan pengudusan dari sakramen untuk mana minyak dipergunakan. (Ingat bagaimana Tuhan kita “menghembusi” para rasul pada malam Paskah seraya mengatakan,“Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22). Para konselebran dalam Misa Krisma juga mengulurkan tangan kanan mereka ke arah minyak krisma sementara uskup mendaraskan doa pengudusan, melambangkan bahwa dalam persatuan dengan uskup, mereka “ikut menyandang kewibawaan Kristus Sendiri, untuk membangun, menguduskan dan membimbing Tubuh-Nya,” yakni Gereja (Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, No 2).

Mengenai pembaptisan, St Hipolitus dalam Tradisi Apostolik berbicara mengenai suatu pengurapan sesudah baptis dengan “minyak syukur”. Serupa itu, segera sesudah pembaptisan dalam ritus yang sekarang, imam mengurapi orang yang dibaptis dengan krisma pada puncak kepalanya, seraya mengatakan, “Saudara terkasih, Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, telah melahirkan Saudara kembali dari air dan Roh Kudus dan mengampuni semua dosa Saudara. Saudara sudah diangkat menjadi anak-Nya dan dipersatukan dengan umat-Nya. Sekarang Saudara diurapi dengan Minyak krisma, seperti Kristus diurapi oleh Roh Kudus menjadi imam, nabi dan raja. Semoga Allah berkenan melindungi Saudara, agar Saudara menjadi anggota umat-Nya yang setia, sampai masuk kehidupan yang kekal. Amin.”

Dalam Sakramen Penguatan, uskup mengurapi dahi calon dengan krisma, seraya berkata, “Semoga dimeterai oleh anugerah Allah Roh Kudus.”

Minyak Krisma juga dipergunakan dalam Sakramen Tahbisan Suci. Dalam ritus tahbisan imamat, uskup mengurapi kedua telapak tangan dari masing-masing imam baru dengan krisma. Dalam ritus tahbisan episkopat, uskup yang menahbiskan mengurapi kepala uskup baru.

Terakhir, Minyak Krisma dipergunakan dalam upacara pemberkatan sebuah gereja. Di sini, uskup mengurapi altar, menuangkan minyak krisma di tengah altar dan di masing-masing dari keempat sudutnya. Disarankan agar uskup mengurapi keseluruhan altar. Setelah mengurapi altar, uskup mengurapi dinding-dinding gereja di duabelas atau empat tempat yang ditandai dengan salib.

Sementara Bapa Uskup memberkati ketiga minyak suci ini pada Misa Krisma, hati kita tertuju kepada Tuhan kita yang murah hati, yang menganugerahkan cinta dan belas kasih-Nya yang tak terhingga kepada kita melalui sakramen-sakramen ini. Marilah kita juga berdoa bagi uskup kita dan bagi para imam yang adalah para pelayan sakramen-sakramen di paroki agar mereka senanitasa menjadi abdi-abdi Allah yang bersahaja dan murah hati.

Sumber: www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Senin, 26 Maret 2012

Salib Kristus Teladan dan Sumber Kekuatan Kita

Oleh: Rm. Monang Damanik, Pr
Ketika mengunjungi seorang bapak yang sakit bertahun-tahun, saya sempat mendapat pertanyaan mengenai salib. Bapak itu bertanya: “Apakah ini yang dinamakan salib?  Kalau memang ini salib kapan salib saya ini berakhir?” 
Orang lain bisa jadi juga bertanya seperti itu, misalnya: orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat.   Orang hidup bertetangga, hidup di tengah-tengah masyarakat tidak selalu manis dan indah, kadangkala timbul juga percekcokan, keributan. Apakah ini juga dinamakan salib? 
Akan begitu banyak pertanyaan sekitar salib yang bisa diungkapkan oleh banyak orang.  Apakah salib itu selamanya adalah penderitaan? Siapa yang menjadi sumber teladan dalam menghayati salib di dunia ini?
 
Arti salib 
Kata “salib” dalam bahasa Indonesia berarti “dua batang kayu bersilang,” “kayu bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi,” atau “tanda silang.” Istilah akrab lainnya adalah “kayu palang.” Akan tetapi, kalau dikaitkan dengan pribadi Yesus, salib bukanlah sebatas pengertian yang duniawi, melainkan begitu bermakna. Salib yang awalnya adalah tanda yang hina menjadi tanda yang dipuja; dari tanda kekalahan menjadi lambang kehormatan, kemenangan, kemuliaan. Bahkan dalam The Story of Christianity (Michael Collins & Matthew A. Price)  salib menjadi tanda kemenangan sudah terbukti dalam sejarah Gereja. Cerita singkatnya, dengan tanda salib Kaisar Konstantinus Agung, penguasa kekaisaran Romawi, mampu mengalahkan musuh-musuhnya, membangun kebebasan religius dan mengakhiri kekafiran.  
Dari Yang Biasa Menjadi Luar Biasa
Pada mulanya peristiwa penyaliban merupakan suatu peristiwa yang biasa. Waktu itu sudah sangat biasa orang dihukum gantung hingga mati pada sebuah salib. Peristiwa penyaliban dianggap sebagai penyingkiran dan penyiksaan paling konyol bagi mereka yang melanggar hukum. Penyaliban itu hukuman yang paling sadis dan menjijikan. 
Namun, peristiwa itu menjadi amat menghebohkan ketika ada seseorang yang tidak sepatutnya dihukum dengan cara itu. Seorang tokoh memang selalu menciptakan cerita. Unsur “Who” inilah yang akan menentukan sebuah kisah menjadi begitu besar. Orang biasa disalibkan lalu meninggal adalah hal yang biasa. Menjadi kegemparan dan keterkejutan dunia ketika yang disalibkan dan wafat itu, bukan orang biasa, seorang tokoh besar, seorang hero (pahlawan). 
Begitu juga kisah yang dialami Yesus Kristus, dua ribu tahun yang lalu. Yesus Kristus itu bukanlah seorang yang jahat atau pemberontak seperti kebanyakan orang melaksanakan hukuman itu. Orang itu tulus dan benar, yang disanjung dan dimuliakan. Malah orang ini dianggap sebagai Tuhan. Orang inilah yang mengubah makna sebuah salib dari alat penyiksa yang hina menjadi alat pembebas siksaan. Penderitaan, sakit yang dialami-Nya adalah juga penderitaan kita.
Bagaimana menghadapi Salib?
Pada masa sekarang ini, salib telah menjelma dalam pelbagai bentuk hidup manusia. Masalah, kesulitan, derita, dan penyakit seringkali diidentikkan dengan salib dalam hidup manusia. Tiap orang, tiap keluarga, tiap pilihan hidup memiliki salibnya sendiri. Tidak ada satu pun pilihan hidup tanpa salib. Hanya, bentuk dan beratnya tidak sama. Kalau begitu, tiap manusia tidak mungkin meluputkan dirinya dari salib dalam hidup dan kerja sehari-hari. Selagi hayat dikandung badan, salib tetap ada. Bagaimanakah manusia dapat belajar untuk menghadapi dan memanggul salib dalam hidup-Nya? Tanpa proses pembelajaran rohani manusia akan kehilangan pegangan dalam hidup dan karyanya. 
Bagaimana saya, kita semua, seharusnya memanggul salib? Yang perlu diperhatikan adalah pembentukan sikap manusia dalam menghadapi dan memanggul salib. Apakah salib masih mendatangkan nilai dan hikmah dalam hidup manusia? Kerelaan dan jiwa besar sangat diperlukan dalam menghadapi salib kehidupan. Menjadi sedih atau susah dalam menghadapi masalah dalam hidup sama sekali bukan sikap arif, karena kesedihan atau kesusahan tidak pernah membantu manusia untuk keluar dari permasalahan. Malahan, kesedihan dan kesusahan yang berkepanjangan akan mendatangkan dampak samping dalam hidup manusia. Lalu, mau apa dan bagaimana?                     
Belajar dari Sang Guru
Salib di atas permukaan bumi bersifat sementara  dan akan mendatangkan hikmah kalau manusia mengambil sikap yang tepat dan benar menghadapi salib. Kacamata positif perlu segera dikenakan supaya manusia dapat memetik makna positif yang ditawarkan oleh salib dalam hidup manusia. Sebagai tantangan, salib pada dasarnya akan menguji dan melatih kesabaran dan daya tahan kita sebagai manusia. 
William Chang dalam sebuah artikel ”Salib Bagian Hidup”, mengatakan bahwa Salib tidak lagi dipandang sebagai beban hidup, tetapi bagian integral dalam hidup manusia yang dapat menjadi jalan penuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup. Di dunia kita terdapat banyak jalan yang dicari dan ditempuh anak manusia. Namun, salib memang bukan jalan yang biasanya lebar, licin, halus, namun jalan yang sempit, berkerikil, dan terkadang sulit dilewati. Jalan ini dapat dilukiskan sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Salib tiap manusia akan terasa lebih bermakna kalau dikaitkan dengan salib, tempat Sang Guru yaitu Tuhan Yesus, mengakhiri hidup-Nya. Kesadaran ini akan memungkinkan kita menerima dan memanggul salib dalam hidup dan perjuangan sehari-hari. Salib kita cukup sering tak seberapa berat kalau dibandingkan dengan salib Sang Guru yang harus dipikul menjelang ajal-Nya. Darah Sang Guru tertumpah dengan memanggul salib. Namun, Dia tidak putus asa, sekalipun mengeluh dalam iman kepercayaan akan kuasa Bapa Surgawi. Masa depan masih terpampang di hadapan kita setelah memanggul salib bersama Sang Guru. Bukankah tiada mahkota tanpa salib? Tiada Minggu kebangkitan tanpa salib Jum’at Agung? 
     
Pesta Salib Suci: 14 September
Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci pada 14 September, yang biasa juga disebut Pesta Salib Suci. Perayaan Liturgis ini berasal dari Yerusalem sekitar abad IV, tepatnya sebagai hari peringatan ditemukannya Kayu Salib Yesus Kristus. Salib Yesus Kristus ini ditemukan oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung. Sebuah gereja dibangun di sana sebagai penghormatan terhadap Salib Tuhan.
    
Setiap tanggal 14 September, Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Namun, jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, tingkatnya naik menjadi setara dengan Minggu, yakni menjadi Hari Raya Salib Suci. Pemuliaan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan.  
Selamat Berpesta Salib Suci tanggal 14 September. Mari kita terus mencari dan menemukan makna dan pengharapan di balik salib. 
Sumber:
Michael Collins dan Matthew A. Price, The Story of Christianity, Yogyakarta, Kanisius, 2006.
Mgr, Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta, Obor, 2004. 
William Chang, “Salib Bagian Hidup”, dalam SALIB: SIMBOL TEROR, TEROR SIMBOL, editor Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha, Bandung, SangKris 2003.       
W.J.S.Poerwadarmint a, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1983.





Oleh: Rm. Monang Damanik, Pr

Ketika mengunjungi seorang bapak yang sakit bertahun-tahun, saya sempat mendapat pertanyaan mengenai salib. Bapak itu bertanya: “Apakah ini yang dinamakan salib? Kalau memang ini salib kapan salib saya ini berakhir?” 

Orang lain bisa jadi juga bertanya seperti itu, misalnya: orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Orang hidup bertetangga, hidup di tengah-tengah masyarakat tidak selalu manis dan indah, kadangkala timbul juga percekcokan, keributan. Apakah ini juga dinamakan salib? 

Akan begitu banyak pertanyaan sekitar salib yang bisa diungkapkan oleh banyak orang. Apakah salib itu selamanya adalah penderitaan? Siapa yang menjadi sumber teladan dalam menghayati salib di dunia ini?



Arti salib 

Kata “salib” dalam bahasa Indonesia berarti “dua batang kayu bersilang,” “kayu bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi,” atau “tanda silang.” Istilah akrab lainnya adalah “kayu palang.” Akan tetapi, kalau dikaitkan dengan pribadi Yesus, salib bukanlah sebatas pengertian yang duniawi, melainkan begitu bermakna. Salib yang awalnya adalah tanda yang hina menjadi tanda yang dipuja; dari tanda kekalahan menjadi lambang kehormatan, kemenangan, kemuliaan. Bahkan dalam The Story of Christianity (Michael Collins & Matthew A. Price) salib menjadi tanda kemenangan sudah terbukti dalam sejarah Gereja. Cerita singkatnya, dengan tanda salib Kaisar Konstantinus Agung, penguasa kekaisaran Romawi, mampu mengalahkan musuh-musuhnya, membangun kebebasan religius dan mengakhiri kekafiran. 

Dari Yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Pada mulanya peristiwa penyaliban merupakan suatu peristiwa yang biasa. Waktu itu sudah sangat biasa orang dihukum gantung hingga mati pada sebuah salib. Peristiwa penyaliban dianggap sebagai penyingkiran dan penyiksaan paling konyol bagi mereka yang melanggar hukum. Penyaliban itu hukuman yang paling sadis dan menjijikan. 

Namun, peristiwa itu menjadi amat menghebohkan ketika ada seseorang yang tidak sepatutnya dihukum dengan cara itu. Seorang tokoh memang selalu menciptakan cerita. Unsur “Who” inilah yang akan menentukan sebuah kisah menjadi begitu besar. Orang biasa disalibkan lalu meninggal adalah hal yang biasa. Menjadi kegemparan dan keterkejutan dunia ketika yang disalibkan dan wafat itu, bukan orang biasa, seorang tokoh besar, seorang hero (pahlawan). 

Begitu juga kisah yang dialami Yesus Kristus, dua ribu tahun yang lalu. Yesus Kristus itu bukanlah seorang yang jahat atau pemberontak seperti kebanyakan orang melaksanakan hukuman itu. Orang itu tulus dan benar, yang disanjung dan dimuliakan. Malah orang ini dianggap sebagai Tuhan. Orang inilah yang mengubah makna sebuah salib dari alat penyiksa yang hina menjadi alat pembebas siksaan. Penderitaan, sakit yang dialami-Nya adalah juga penderitaan kita.

Bagaimana menghadapi Salib?

Pada masa sekarang ini, salib telah menjelma dalam pelbagai bentuk hidup manusia. Masalah, kesulitan, derita, dan penyakit seringkali diidentikkan dengan salib dalam hidup manusia. Tiap orang, tiap keluarga, tiap pilihan hidup memiliki salibnya sendiri. Tidak ada satu pun pilihan hidup tanpa salib. Hanya, bentuk dan beratnya tidak sama. Kalau begitu, tiap manusia tidak mungkin meluputkan dirinya dari salib dalam hidup dan kerja sehari-hari. Selagi hayat dikandung badan, salib tetap ada. Bagaimanakah manusia dapat belajar untuk menghadapi dan memanggul salib dalam hidup-Nya? Tanpa proses pembelajaran rohani manusia akan kehilangan pegangan dalam hidup dan karyanya. 

Bagaimana saya, kita semua, seharusnya memanggul salib? Yang perlu diperhatikan adalah pembentukan sikap manusia dalam menghadapi dan memanggul salib. Apakah salib masih mendatangkan nilai dan hikmah dalam hidup manusia? Kerelaan dan jiwa besar sangat diperlukan dalam menghadapi salib kehidupan. Menjadi sedih atau susah dalam menghadapi masalah dalam hidup sama sekali bukan sikap arif, karena kesedihan atau kesusahan tidak pernah membantu manusia untuk keluar dari permasalahan. Malahan, kesedihan dan kesusahan yang berkepanjangan akan mendatangkan dampak samping dalam hidup manusia. Lalu, mau apa dan bagaimana? 

Belajar dari Sang Guru

Salib di atas permukaan bumi bersifat sementara dan akan mendatangkan hikmah kalau manusia mengambil sikap yang tepat dan benar menghadapi salib. Kacamata positif perlu segera dikenakan supaya manusia dapat memetik makna positif yang ditawarkan oleh salib dalam hidup manusia. Sebagai tantangan, salib pada dasarnya akan menguji dan melatih kesabaran dan daya tahan kita sebagai manusia. 

William Chang dalam sebuah artikel ”Salib Bagian Hidup”, mengatakan bahwa Salib tidak lagi dipandang sebagai beban hidup, tetapi bagian integral dalam hidup manusia yang dapat menjadi jalan penuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup. Di dunia kita terdapat banyak jalan yang dicari dan ditempuh anak manusia. Namun, salib memang bukan jalan yang biasanya lebar, licin, halus, namun jalan yang sempit, berkerikil, dan terkadang sulit dilewati. Jalan ini dapat dilukiskan sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Salib tiap manusia akan terasa lebih bermakna kalau dikaitkan dengan salib, tempat Sang Guru yaitu Tuhan Yesus, mengakhiri hidup-Nya. Kesadaran ini akan memungkinkan kita menerima dan memanggul salib dalam hidup dan perjuangan sehari-hari. Salib kita cukup sering tak seberapa berat kalau dibandingkan dengan salib Sang Guru yang harus dipikul menjelang ajal-Nya. Darah Sang Guru tertumpah dengan memanggul salib. Namun, Dia tidak putus asa, sekalipun mengeluh dalam iman kepercayaan akan kuasa Bapa Surgawi. Masa depan masih terpampang di hadapan kita setelah memanggul salib bersama Sang Guru. Bukankah tiada mahkota tanpa salib? Tiada Minggu kebangkitan tanpa salib Jum’at Agung? 



Pesta Salib Suci: 14 September

Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci pada 14 September, yang biasa juga disebut Pesta Salib Suci. Perayaan Liturgis ini berasal dari Yerusalem sekitar abad IV, tepatnya sebagai hari peringatan ditemukannya Kayu Salib Yesus Kristus. Salib Yesus Kristus ini ditemukan oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung. Sebuah gereja dibangun di sana sebagai penghormatan terhadap Salib Tuhan.



Setiap tanggal 14 September, Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Namun, jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, tingkatnya naik menjadi setara dengan Minggu, yakni menjadi Hari Raya Salib Suci. Pemuliaan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan. 

Selamat Berpesta Salib Suci tanggal 14 September. Mari kita terus mencari dan menemukan makna dan pengharapan di balik salib. 

Sumber:

Michael Collins dan Matthew A. Price, The Story of Christianity, Yogyakarta, Kanisius, 2006.

Mgr, Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta, Obor, 2004. 

William Chang, “Salib Bagian Hidup”, dalam SALIB: SIMBOL TEROR, TEROR SIMBOL, editor Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha, Bandung, SangKris 2003. 

W.J.S.Poerwadarmint a, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1983.

Mengenal Kitab Suci Katolik

oleh: Sr. Mary Ann Strain, C.P.


Apa itu Kitab Suci?
Kitab Suci disebut juga Alkitab. Istilah "Kitab Suci" lebih akrab di hati umat Katolik. Karena Allah dan Sabda-Nya adalah suci, maka kitab yang memuat sabda-Nya disebut Kitab Suci. Sedangkan "Alkitab", berasal dari bahasa Arab yang artinya sang kitab, lebih akrab di hati umat Protestan. Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh penulis manusia dengan ilham dari Allah. Buku-buku tersebut berisi tulisan tentang wahyu Tuhan dan rencana keselamatan umat manusia. 

Berapa jumlah kitab dalam Kitab Suci? 
Menurut Gereja Katolik, Kitab Suci terdiri dari 72 atau 73 kitab, tergantung dari cara kita menghitungnya. Perinciannya adalah 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru; jumlah seluruhnya 73 kitab. Namun, karena Konsili Trente (tahun 1545-1563) menghitung Kitab Ratapan sebagai bagian dari Kitab nabi Yeremia, maka jumlah kitab menjadi 72 saja. 

Kitab-kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam beberapa bentuk literatur yang berbeda. Penting bagi kita mengenali bentuk-bentuk literatur yang berbeda tersebut ketika membaca Kitab Suci, sama halnya penting bagi kita mengenali bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam suatu surat kabar. Misalnya, ketika membaca surat kabar kita harus tahu apakah kita sedang membaca bagian editorial, atau berita, atau iklan.

Apa itu Perjanjian Lama? 
Perjanjian Lama, atau Kitab-kitab Yahudi, merupakan tulisan tentang hubungan Tuhan dengan Israel, "bangsa pilihan". Ditulis antara tahun 900 SM hingga 160 SM. Ke-46 kitab dalam Perjanjian Lama dapat dibagi dalam empat bagian: 5 Kitab Pentateukh, 16 Kitab Sejarah, 7 Kitab Puitis dan Hikmat, serta 18 Kitab Para Nabi.

Sebagian besar Perjanjian Lama dipengaruhi oleh literatur negara-negara tetangga Israel di Timur Tengah. Untuk menceritakan kisah-kisah mereka sendiri, bangsa Israel meminjam kebudayaan bangsa-bangsa sekitarnya serta meniru bentuk-bentuk literatur mereka.

Apa itu Pentateukh? 
Pentateukh adalah kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama, yaitu:

5 Kitab Pentateukh:

1 Kejadian Kej 
2 Keluaran Kel 
3 Imamat Im 
4 Bilangan Bil 
5 Ulangan Ul 
Banyak kisah-kisah Kitab Suci yang terkenal ditemukan dalam kitab-kitab Pentateukh termasuk kisah penciptaan, Adam dan Hawa, bahtera Nuh serta kisah-kisah lain tentang asal-mula bangsa Israel dan pelarian mereka di bawah pimpinan Musa dari perbudakan Mesir.

Sepuluh Perintah Allah dan hukum-hukum lainnya menyangkut hidup dan ibadat bangsa Israel juga didapati dalam Kitab Pentateukh. Oleh sebab itu, Kitab Pentateukh disebut juga Kitab Hukum atau Kitab Taurat.

Apa itu Kitab Sejarah? 
Sesuai namanya, Kitab Sejarah berisi kisah tentang sejarah bangsa Israel serta campur tangan Allah dalam sejarah mereka. 
16 Kitab Sejarah:
1 Yosua Yos 
2 Hakim-hakim Hak 
3 Rut Rut 
4 1 Samuel 1 Sam 
5 2 Samuel 2 Sam 
6 1 Raja-raja 1 Raj 
7 2 Raja-raja 2 Raj 
8 1 Tawarikh 1 Taw 
9 2 Tawarikh 2 Taw 

10 Ezra Ezr 

11 Nehemia Neh 

12 Tobit Tob 
13 Yudit Ydt 
14 Ester Est 
15 1 Makabe 1 Mak 
16 2 Makabe 2 Mak 

* 7 Kitab yang termasuk Deuterokanonika 
Kisah-kisah tentang para tokoh terkenal, baik pria maupun wanita, dalam sejarah Israel dapat ditemukan dalam kitab-kitab ini, termasuk tentang Raja Daud dan Raja Salomo, juga Debora, Yudit, Ratu Ester. Kitab-kitab Sejarah mengungkapkan suatu pola hubungan yang menarik antara Tuhan dengan Bangsa Pilihan-Nya. Apabila mereka setia pada Tuhan dan pada hukum-hukum-Nya, maka hidup mereka sejahtera dan Tuhan melindungi mereka dari para musuh. Tetapi, apabila mereka menyembah allah-allah lain dan hidup penuh cela di hadapan Tuhan, dengan kata lain mengatakan kepada-Nya, "Kami tidak membutuhkan Engkau," maka bencana datang susul-menyusul menimpa mereka.

Apa itu Kitab Puitis dan Hikmat? 
Ada tujuh Kitab Puitis dan Hikmat yang agak berbeda dalam gaya literatur serta isinya. Termasuk di dalamnya adalah Mazmur, yaitu doa-doa yang ditulis dalam bentuk puitis. Terdapat kitab-kitab tentang bagaimana mencapai hidup bahagia, seperti Amsal dan Putera Sirakh. Kidung Agung, salah satu puisi cinta paling sensual yang pernah ditulis, menggambarkan kasih mesra Tuhan yang begitu besar bagi umat-Nya. 

7 Kitab Puitis dan Hikmat:
1 Ayub Ayb 
2 Mazmur Mzm 
3 Amsal Ams 
4 Pengkotbah Pkh 
5 Kidung Agung Kid 
6 Kebijaksanaan Salomo Keb 
7 Putera Sirakh Sir 

Apa itu Kitab Para Nabi? 
Kitab Para Nabi berisi tulisan-tulisan para nabi besar Israel. Peran para nabi adalah menjaga agar Bangsa Terpilih tetap setia pada perjanjian yang telah mereka buat dengan Tuhan dan membawa mereka kembali apabila mereka menyimpang dari Tuhan. Tulisan-tulisan yang amat berpengaruh ini menggambarkan dengan jelas ganjaran jika mereka setia dan hukuman jika mereka tidak setia. Di samping itu, secara misterius, kitab-kitab para nabi menubuatkan kedatangan Sang Mesias dan memberikan gambaran tentang-Nya. Kelahiran Yesus di Betlehem dari seorang perawan, pewartaan-Nya bagi mereka yang sakit, miskin, dan tertindas, juga wafat-Nya yang ngeri, semuanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab para nabi. 

18 Kitab Para Nabi:
1 Yesaya Yes 
2 Yeremia Yer 
3 Ratapan Rat 
4 Barukh Bar 
5 Yehezkiel Yeh 
6 Daniel Dan 
7 Hosea Hos 
8 Yoel Yl 
9 Amos Am 
10 Obaja Ob 
11 Yunus Yun 
12 Mikha Mi 
13 Nahum Nah 
14 Habakuk Hab 
15 Zefanya Zef 
16 Hagai Hag 
17 Zakharia Za 
18 Maleakhi Mal 

Apa itu Perjanjian Baru? 
Perjanjian Baru terdiri dari dua puluh tujuh kitab yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani antara tahun 50 M hingga 140 M. Perjanjian Baru meliputi Injil, Kisah Para Rasul, Epistula atau Surat-surat dan Kitab Wahyu. Tema inti Perjanjian Baru adalah Yesus Kristus; pribadi-Nya, pesan-Nya, sengsara-Nya, wafat serta kebangkitan- Nya, identitas-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan dan hubungan-Nya dengan kita sebagai Tuhan dan saudara. 

Mengapa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani?
Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani karena pada waktu itu bahasa Yunani merupakan bahasa percakapan yang paling umum dipergunakan di wilayah Laut Tengah.

Apa itu Injil?
Injil merupakan turunan kata Arab yang artinya Kabar Gembira. Dalam bahasa Yunani 'euaggelion' ; dalam bahasa Latin 'evangelium' . Ada empat Injil. Masing-masing Injil menceritakan kisah hidup, ajaran-ajaran, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus:
4 Injil
1 Matius Mat 
2 Markus Mrk 
3 Lukas Luk 
4 Yohanes Yoh 
Ketiga Injil pertama: Matius, Markus dan Lukas disebut Injil Sinoptik. Sinoptik berasal dari kata Yunani yang artinya 'satu pandangan', sebab ketiga Injil tersebut mirip dalam struktur maupun isinya. Injil Yohanes, meskipun tidak bertentangan dengan Injil Sinoptik, berbeda dalam struktur dan mencakup beberapa kisah dan perkataan-perkataan Yesus yang tidak ditemukan dalam Injil Sinoptik. 

Banyak kisah Kitab Suci yang terkenal tentang Yesus ditemukan dalam Injil, termasuk kisah kelahiran-Nya di Betlehem, kisah-kisah tentang Yesus menyembuhkan mereka yang sakit, juga perumpamaan- perumpamaan, misalnya perumpamaan tentang Anak yang Hilang.

Apa itu Kisah Para Rasul?
Kisah Para Rasul ditulis oleh St. Lukas sekitar tahun 70 M hingga 75 M. Kitab ini berisi catatan tentang iman, pertumbuhannya dan cara hidup Gereja Perdana. Kisah Kenaikan Yesus ke surga, turunnya Roh Kudus atas Gereja pada hari Pentakosta, kemartiran St. Stefanus dan bertobatnya St. Paulus, semuanya dapat ditemukan dalam kitab ini.

Apa itu Epistula?
Epistula atau Surat-surat merupakan bagian terbesar dari Perjanjian Baru. Epistula dibagi dalam dua kelompok: Surat-surat Paulus dan Surat-surat Apostolik lainnya. Semua surat mengikuti format penulisan surat pada masa itu. Setiap surat biasanya diawali dengan salam dan identitas pengirim serta penerima surat. Selanjutnya adalah doa, biasanya dalam bentuk ucapan syukur. Isi surat adalah penjelasan terperinci tentang ajaran-ajaran Kristiani, biasanya menanggapi keadaan penerima surat. Bagian berikutnya dapat berupa pembicaraan tentang rencana perjalanan misi penulis surat dan diakhiri dengan nasehat-nasehat praktis dan salam perpisahan.

Surat-surat Paulus ditulis oleh St. Paulus atau salah seorang muridnya; tak lama sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, yaitu antara tahun 54 M hingga 80 M. Surat-surat tersebut menggambarkan perkembangan awal ajaran dan praktek Kristiani. 

14 Surat Paulus
1 Roma Rom 
2 1 Korintus 1 Kor 
3 2 Korintus 2 Kor 
4 Galatia Gal 
5 Efesus Ef 
6 Filipi Flp 
7 Kolose Kol 
8 1 Tesalonika 1 Tes 
9 2 Tesalonika 2 Tes 
10 1 Timotius 1 Tim 
11 2 Timotius 2 Tim 
12 Titus Tit 
13 Filemon Flm 
14 Ibrani Ibr 

Surat-surat Apostolik dimaksudkan untuk ditujukan, bukan kepada suatu komunitas atau individu tertentu, tetapi kepada pembaca yang lebih universal. Surat-surat Apostolik ditulis oleh beberapa penulis antara tahun 65 M hingga 95 M.
7 Surat Apostolik
1 Yakobus Yak 
2 1 Petrus 1 Pet 
3 2 Petrus 2 Pet 
4 1 Yohanes 1 Yoh 
5 2 Yohanes 2 Yoh 
6 3 Yohanes 3 Yoh 
7 Yudas Yud 

Apa itu Kitab Wahyu?
Kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, yaitu Kitab Wahyu, ditulis sekitar sesudah tahun 90 M. Dengan banyak bahasa simbolik, Kitab Wahyu menyajikan kisah pertarungan antara Gereja dengan kekuatan-kekuatan jahat yang berakhir dengan kemenangan Yesus. Meskipun Kitab Wahyu menuliskan peringatan-peringat an yang mengerikan akan apa yang terjadi di masa mendatang, Kitab Wahyu pada pokoknya merupakan pesan pengharapan bagi Gereja. 

sumber : "Ask a Catholic: What is the Bible?" by Mary Ann Strain, C.P.; www.cptryon. org 

tambahan: 1. "Awal Persahabatan dengan Kitab Suci" oleh I. Marsana Windhu; Penerbit Kanisius; 2. "Mempertanggungjawa bkan Iman Katolik buku Kesatu" oleh Dr. H. Pidyarto O.Carm; Penerbit Dioma


Minggu Palma

Minggu Palma pertama! Ketika itu seluruh penduduk kota tumplak
memadati tepi-tepi jalan raya. Dengan ranting daun palma, mereka
melambaikan tangan mereka. Jubah-jubah bertebaran di jalan-jalan
bagaikan permadani berwarna-warni. Mereka melompat. Mereka menari.
Mereka berteriak. Hosana!

Itulah ketika Yesus memasuki kota. Menunggang keledai. Bukan kuda
putih atau kereta kencana. Hosana!

Ada satu ketika, untuk waktu yang lama, saya melihat peristiwa di
Minggu Palma pertama itu sebagai ironi semata. Tentang kemunafikan
manusia, plintat-plintutnya massa, yang hari ini berteriak "Hosana!",
lalu esok harinya berteriak "Salibkan Dia!" dengan semangat dan gairah
yang sama. Tentang harapan-harapan mesiani yang melambung tinggi
tetapi, ah, amat dangkalnya; harapan bahwa Yesus akan muncul sebagai
panglima perang mandrasakti yang akan membebaskan seluruh bangsa dari
cengkeraman penjajah Roma dengan kekuatan senjata dan bahasa kuasa.

Sebab itu, saya selalu memahami Minggu Palma yang pertama itu sekadar
sebagai keramaian massa yang murahan, seperti pawai-pawai yang sering
saya saksikan. Yang hari ini hiruk-pikuk dan ramai setengah mati,
seolah-olah seluruh kota sesak bertabur bunga. Akan tetapi, keesokan
harinya senyap dan mati, cuma menyisakan timbunan sampah di sudut-
sudutnya.

Namun, kesan saya tentang Minggu Palma pertama itu kini tak lagi
begitu. Saya tahu, saya tak boleh menilai sebuah peristiwa di masa
lalu dengan kacamata saya sekarang ini. Saya harus belajar menghargai
makna sebuah peristiwa dalam konteksnya, bukan dalam konteks saya
saja.

Dan apakah yang saya peroleh? Membayangkan apa yang terjadi di Minggu
Palma pertama itu, mengingatkan saya kepada Emily Dickinson yang
pernah berteriak, "Ambillah semuanya yang ada padaku, namun berikanlah
kepadaku ekstase, rasa gembira yang meluap-luap!" Saya juga lalu
teringat pada sebuah kalimat dalam Jesus Christ, Superstar, bagian
dari nyanyian massa ketika Minggu Palma itu, yang begini bunyinya,
"Wahai Kristusku, Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat
lambaian tanganku?" ("Christ, You know I love you. Did You see I
waved?")

Minggu Palma adalah ketika mereka dalam ekstase, menyambut Yesus.
Minggu Palma adalah ketika mereka menyatakan cinta mereka kepada
Yesus, dengan lambaian daun palma.

Namun, kalau begitu, apakah pentingnya hal itu bagi Anda dan saya?

***

Jawab saya begini, Saudara. Bolehkah saya bertanya: kapankah terakhir
kali Anda mengalami ekstase, rasa gembira yang meluap-luap, ketika
Anda mengalami perjumpaan dengan Dia?

Atau, kapan terakhir kali Anda menyatakan cinta Anda kepada-Nya secara
nyata, walaupun tidak harus hanya dengan lambaian daun palma?

Bukankah mesti kita akui, bahwa penghayatan agamaniah kita selama ini
terasa begitu formal, begitu verbal, dan begitu rasional? Begitu
resmi, sehingga terasa mati. Cuma sarat dengan kata-kata, tetapi tanpa
rasa dan tanpa makna. Penuh dengan konsep-konsep yang masuk akal,
namun tidak menggugah dan tidak menyentuh hati.

Paling sedikit di Minggu Palma pertama itu, mereka merasa bebas dari
berbagai kekangan formalitas, dan menyatakan kesukacitaan mereka
dengan spontan, dan oleh karena itu dengan autentik.

Tak ada dalam liturgi resmi, bahwa mereka mesti menggelar jubah-jubah
mereka. Tak ada dalam skenario, bahwa mereka mesti membawa dan
melambai-lambaikan daun palma. Tak ada dalam peraturan, bahwa mereka
mesti berteriak "Hosana!" Tak ada rapat panitia atau seminar sehari
untuk memperdebatkan bagaimana cara dan bentuk yang terbaik untuk
menyambut Yesus yang besok akan memasuki kota. Tidak ada!

Yang ada hanyalah hati yang meluap-luap dengan sukacita. Dan kemudian
tindakan-tindakan yang sekadar menuruti getaran hati dan dorongan hati
nurani, bahkan naluri!

Yang ada hanyalah teriakan yang amat spontan, "Wahai Kristusku,
Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat lambaian tanganku?"
Tanpa rekayasa.

***

Menurut hemat saya, segi-segi inilah yang telah hilang dalam
spiritualitas dan religiositas kita. Autentisitas dan spontanitas.

Kita telah terjebak dalam sikap yang terlalu mengagungkan rasio. Tanpa
sadar, kita telah menjadi murid-murid Descartes. Cogito ergo sum. Aku
berpikir, karena itu aku ada.

Saya tidak menyangkali pentingnya akal. Keunikan manusia dibandingkan
dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan adalah bahwa manusia adalah
makhluk yang berpikir. Sebab itu, manfaatkanlah akal dan pergunakanlah
rasio Anda semaksimal mungkin!

Juga dalam sikap dan tindak agamaniah kita. Saya tidak pernah
beranggapan bahwa iman mesti bertentangan dengan akal. Atau, bahwa
iman datang dari Tuhan, sedang akal datang dari setan. O, sama sekali
tidak! Kita harus, begitu kata Yesus, mengasihi Tuhan juga dengan
sepenuh akal budi kita. Omong kosong kalau ada yang mengatakan bahwa
ia bisa mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun, yang ingin saya katakan adalah: betapa pun kita memanfaatkan
rasio dan akal, keduanya bukanlah segala-galanya. Ada kenyataan-
kenyataan yang melampaui akal. Yang tidak dapat dipahami dan tidak
dapat dijelaskan hanya dengan akal. Bukan karena ia irasional, namun
karena ia transrasional. Artinya: bukan karena ia bertentangan dengan
akal, melainkan karena ia melampaui akal.

Justru itulah hal paling indah dan paling dalam pada kehidupan
manusia. Komitmen manusia kepada sesuatu, sehingga ia rela berkorban
apa saja bahkan sampai melepas nyawa, tak pernah terbina jika ia hanya
memahaminya secara akaliah. Komitmen hanya terbentuk apabila secara
emosional ia benar-benar meyakininya sebagai soal hidup dan mati.

Dan kemudian, alangkah hambar dan dangkalnya cinta, bila orang cuma
mengikuti logika akal, dan tak bersedia mendengarkan getaran hati.

Iman juga begitu. Bila ia sekadar menyapa kepala, tapi tak pernah
meresap ke hati, ia akan seperti benih yang terjatuh di tanah yang
tipis dan berbatu-batu. Tumbuh sebentar, kemudian kering lalu luruh.

***

Di pihak lain, tentu juga sama salahnya mengatakan bahwa iman hanyalah
emosional belaka. Yang membuat orang menjadi sentimentil, lalu sama
sekali kehilangan rasionalitas dan objektivitasnya. Iman yang seperti
ini adalah ibarat balon. Semarak dan meriah di luarnya, tapi di
dalamnya kosong. Atau sebentar mengembang, kemudian segera mengempis.

Jadi persoalan kita adalah bagaimana memadukan antara keduanya. Bukan
memilih salah satu.

Minggu Palma pertama ternyata tidak dapat bertahan lama. Sebabnya
telah saya katakan di atas. Ia cuma berhenti pada ekstase. Pada emosi.

Mungkin kalimat terakhir ini dapat membantu kita dalam memadukan
antara "rasio" dan "rasa": sungguh amat mungkin menanggapi dan
menghayati Injil (atau apa saja) dengan serius, tanpa membuat kita
bersikap terlalu serius.

Bukalah pintu bagi getaran hati! Toh serius tak mesti membuat kita tak
lagi bisa tertawa, bercanda, atau mencinta.

Diambil dari:
Judul buku: Mengapa Harus Salib
Penulis: Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.
Penerbit: Gloria Graffa
Halaman: 11 -- 17

Minggu, 25 Maret 2012

Jadwal Ibadat Tobat

Jadwal Ibadat Tobat
 Gereja Katedral Makassar 

Senin & Selasa
26 & 27 Maret 2012
Pukul 18.30 WITA 



dan dilanjutkan dengan pengakuan dosa pribadi 

Jumat, 23 Maret 2012

Jadwal Misa Gereja Katedral Makassar

JADWAL PERAYAAN
PEKAN SUCI
&
HARI RAYA PASKAH


* HARI RAYA PALMA
* SABTU, 31 MARET 2012 : PKL 18.30 WITA
* MINGGU, 1 APRIL 2012 : PKL 06.30 WITA
PKL 08.30 WITA
PKL 11.00 WITA
PKL 16.30 WITA
PKL 18.30 WITA

* KAMIS PUTIH, 5 APRIL 2012 : PKL 16.30 WITA
PKL 19.30 WITA

* JUMAT AGUNG, 6 APRIL 2012 : PKL 15.00 WITA
PKL 18.30 WITA
* SABTU SUCI, 7 APRIL 2012 : PKL 18.00 WITA
PKL 21.30 WITA

* MINGGU PASKAH, 8 APRIL 2012 : PKL 06.30 WITA
PKL 08.30 WITA
PKL 11.00 WITA
PKL 16.30 WITA
PKL 18.30 WITA

NB:
* Parkir Mobil di sepanjang Jalan Thamrin dan Motor di
   halaman Frateran Don Bosco Jl. Kajaolalido No. 10.
* Demi menjaga keamanan diharapkan umat tidak membawa tas
   besar atau barang-barang yang mencurigakan karena sebelum
    masuk gereja akan diadakan pemeriksaan